Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Penyempurnaan Rancangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) PTAI oleh Team Pakar

Swara Ditpertais: No. 9 Th. II, 15 Juni 2004


MODERNISASI PERPUSTAKAAN
(Pelatihan Tenaga Teknis Perpustakaan UIN, IAIN, dan STAIN
seluruh Indonesia di Surabaya)

Salah satu indikator maju dan tidaknya sebuah Pergurun Tinggi, dapat dilihat dari sejauhmanakah kelengkapan dan layanan perpustakaan yang ada. Sosok Perguruan Tinggi yang bermutu pasti akan mempunyai berbagai macam literatur atau sumber refferensi keilmuan yang lengkap dan dengan di backup pelayanan tenaga teknis perpustakaan yang juga profesional. Dua hal ini agaknya yang coba dikejar oleh Ditpertais dengan melakukan “Orientasi Tenaga Teknis Perpustakaan bagi PTAI” di IAIN Surabaya tanggal 13 s/d17 Juni 2004. Kegiatan orientasi/pelatihan tenaga tehnis perpustakaan ini dibuka langsung oleh Dirjen Bagais Prof. A. Qodri Azizy, Ph.D. Dalam pidatonya Pak Dirjen, mengingatkan akan optimalisasi peran tenaga tehnis perpustakaan untuk dapat membantu mendinamisir kampus dengan memberikan layanan informasi dan mengkases buku-buku yang bermutu tinggi.

Kegiatan ini dilakukan agak cukup lama,--sekitar empat hari-- dengan stressing utamanya adalah memberikan bekal kepada para pustakawan agar dapat meningkatkan skill-nya mengikuti perkembangan tehnologi informasi dalam layanannya. Sebagaimana diketahui kemajuan tehnologi informasi sangatlah cepat dan bersifat massif. Cepatnya kemajuan tehnologi informasi ini, harus bisa ditangkap aspek positifnya, yakni dengan mengintergrasikannya kedalam layanan perpustakaan. Oleh karena itu adaptasi dan penggunaan TI (Information Technology) menjadi sesuatu yang tidak dapat ditunda-ditunda lagi. Sebagaimana diketahui dalam trend layanan informasi global dewasa ini, kemajuan TI telah melahirkan institusi-institusi layanan baru yang dapat memperpendek ruang-gerak manusia dan menambah efisiensi. Kegagalan perpustakaan untuk mengikuti kemajuan akselerasi TI dapat berakibat fatal, yakni menjadi sumber informasi yang usang, lamban dan tidak up to date.

Oleh karena itu, dengan orientasi ini diharapkan para pengelola perpustakaan akan lebih giat lagi mengejar ketertingglan dan yang lebih penting lagi mampu memberikan layanan yang berbasis tehnologi informasi. Dalam pelatihan ini, supaya goals yang diharapkan dapat terwujud, maka banyak dilibatkan para pembicara yang memang terampil dalam bidangnya, terutama para master dalam bidang perpustakaan (Master Libray), dan berbagai pakar komputer. Kegiatan ini diikuti setidaknya 40 orang pustakawan atau tenaga tehnis pengelola perpustakaan utusan dari seluruh UIN, IAIN dan STAIN se-Indonesia.

Pasca kegiatan ini terutama setelah memperoleh berbagai materi seperti, maksimalisasi kemajuan Internet untuk proses pemilihan dan koleksi, Pengembangan dan Pembudayaan Network Cataloging dan Copy cataloging antar perpustakaan, Pengolahan data koleksi, Pengelolaan otamasi Perpustakaan Universitas, dan berbagai materi lainnya, mereka diharapkan akan dapat menambah credit point citra layanan perpustakaan PTAIN dewasa ini. Apalagi ditengah-tengah kemajuan tehnologi informasi, langkah modernisasi perpustakaan merupakan jawaban yang harus segera direalisir. Karena kalau langkah ini tidak segera ditempuh, maka perpustakaan akan tidak ubahnya menjadi sebuah “musium kosong” di mana buku-buku yang disediakan mengalami “beban aktualitas”, baik dari segi penemuan dan keilmiahannya. Keadaan ini tentu saja kalau dibiarkan (tidak dintisipasi), akan berdampak kepada seluruh civitas akademika, dengan ditandai mandegnya penemuan, dan kreatiifitas berfikir para mahasiswanya. Semoga saja tidak demikian adanya, karena sebagai “jantungya” Perguruan Tinggi, perhatian terhadap perpustakaan menjadi, kewajiban bagi siapapun yang menjadi pimpinan di PTAI. (Gja)