Penyempurnaan Rancangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) PTAI oleh Team Pakar
Swara
Ditpertais: No.
9 Th. II, 15 Juni 2004
REINTEGRASI PENDIDIKAN ISLAM
Mencari Format Baru Hubungan Antara Pondok Pesantren, Madrasah dan PTAI
Selama
ini ada semacam dugaan bahwa lembaga pendidikan, baik pesantren, madrasah
dan PTAI berjalan sendiri-sendiri. Kesan inilah yang coba diangkat dalam
sarasehan pendidikan Islam oleh STAIN Cirebon dengan mengundang Dirjen
Bagais Prof. A. Qodri Azizy, M.A, sebagai pembicara utama (key note speaker).
Pembicara lain yang tampil adalah Dr. Imron Jauhari, MA.g yang sekaligus
membuka acara tersebut.
Ide
dasar dari kegiatan sarasehan ini adalah berupaya merevitalisasi sistem
pendidikan Islam yang integrated antara satu dengan yang lain. Sinkronisasi
ini dirasa penting untuk memberikan pemahaman bahwa kontribusi masing-masing
lembaga pendidikan, baik pesantren, madrasah, bahkan sampai dengan tingkat
Perguruan Tinggi Agama Islam sangatlah penting. Acara yang dipandu oleh
Prof. Dr. Maksum Muchtar, M.A ini terlihat sangat hidup, dengan ditandai
banyaknya pertanyaan dan antusiasme para peserta. Terutama, dari kalangan
pengasuh pondok pesantren yang memberikan feedback terhadap pendapat Dirjen,
terutama pandangannya bahwa kalau umat Islam mau maju, maka “banyak
pemahaman ke-Islaman yang perlu diluruskan lebih dahulu”.
Karena
dari pemahaman keislaman yang keliru tersebut, maka akan membentuk cara
pandang yang salah kaprah. Kita diberi tahu bahwa Islam memberikan jaminan
untuk kehebatan (hasanah) di dunia dan akherat. Dan bukankah al-Qurán
sendiri telah menegaskan bahwa Islam berjanji untuk mengentaskan dari
kehidupan gelap menuju yang gemilang (yukhrijuhum min al-zhulumat ila
al-nur)?
Kita
juga diberi tahu dalam al-Qurán yang menegaskan bahwa umat Islam
sebagai khayr ummah ? Namun harus dimaknai yang bagaimana? Itu kewajiban
kita. Sangat keliru dan menyesatkan, jika ayat tersebut dimaknai sebagai
pembelaan dan pelipur lara (justifikasi) terhadap keterbelakangan di dunia
dan di akherat kelak. Oleh karena itu, kalau ada yang menyatakan bahwa
dunia ini adalah neraka (penjara) buat umat Islam dan surganya orang kafir,
itu termasuk orang yang tersesat tadi. Dan juga sangat keliru, kalau khayr
umah itu secara otomatis akan terwujud dengan bermalas-malasan, bodoh
dan miskin. Tidaklah mengherankan kalau ada statemant yang menyatakan
al-Islam mahjub bil al-muslimin. Al-Qurán yang kita pahami dan
kita imani adalah sebagai petunjuk umat manusia hudan li al-nas, olah
karena itu ketika umat lain mengikuti al-Qurán, kemudian mereka
menikmati kesuksesan dunia, sementara kita tidak mengikutinya dan tidak
menikmati kesuksesan dunia, maka jangan heran.
Mengakhiri
pesannya terhadap para peserta sarasehan, Dirjen Bagais mengingatkan agar
masing-masing elemen pendidikan yang ada, secara bersama-sama membenahi
cara pemahaman keislaman yang masih salah tersebut. Sebagai akademisi,
begitu juga para ulama’, kita harus mampu menterjemahkan dan sekaligus
mentransformasikan ajaran menjadi nilai dan kemudian mengajarkan nilai
untuk dipraktekkan dalam kehidupan sebagai landasan, etika, hukum, jalan
dan sekaligus tujuan (Gja).