Membuat Audio Semi Dokumenter Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam
Swara
Ditpertais: No.
9 Th. II, 15 Juni 2004
QUO
VADIS ARAH PENGEMBANGAN PTAI KE DEPAN
(Hasil Pertemuan Rektor UIN, IAIN, dan Ketua STAIN seluruh Indonesia
di Palu)
Untuk
memajukan PTAI, maka peran pimpinan PTAI, Rektor ataupun ketua STAIN
menjadi sangatlah penting. Sebagai leader yang berada di garda depan,
para pimpinan PTAI seringkali menjadi “sumber rujukan”
dalam setiap keputusannya. Untuk itu, pertemuan Rektor IAIN, UIN dan
Ketua STAIN seluruh Indonesia untuk yang sekian kalinya diadakan,
setelah sebelumnya diadakan di Jakarta akhir tahun lalu. Kegiatan
ini tidak lain dimaksudkan untuk memberikan shock therapy akan tanggungjawab
mereka dalam memajukan eksistensi PTAI dalam kostelasi pendidikan,
baik secara nasional maupun Internasional. Upaya ini menemukan “titik
temu” kalau dikaitkan dengan kebijakan Dirjen Bagais yang mengajak
seluruh civitas akademika, melalui lembaga pendidikan yang ada agar
pada tahun 2004 ini, harus memulai untuk membuat reformasi radikal
bahkan revolusi dalam penelusuran pemahaman dan praktek Islam, sehingga
Islam dapat tampil seperti janjinya, memberi hasanah di dunia akhirat
dan membangun khaira ummah. Dengan kata lain kita perlu dapat mewujudkan
umat yang individunya kaya makmur serta taat beribadah.
Pertemuan
para pimpinan PTAI kali ini diadakan di Palu pada awal bulan Juni
yang lalu. Para pembicara yang tampil adalah Dirjen Bagais (Prof.
A. Qodri Abdillah Azizy, Ph.D) yang memberikan pengarahan dan sekligus
membuka acara. Sedangkan Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam (Ditpertais
Depag RI) H. Arief Furqan yang menyampaikan papernya tentang Rencana
Strategis Pengembangan PTAI. Kemudian pada hari berikutnya disusul
oleh penyampaian materi dari Dirjen Dikti ( namun tidak hadir), Prof.
Amin Abdullah dan Prof Dr. Imam Suprayogo.
Secara
umum kegiatan ini juga mengingatkan akan fungsi Tri Dharma Perguruan
Tinggi yang harus dielaborasi sedemikian rupa sehingga berhasil membangun
khaira ummah, yang berarti bukan hanya lepas dari krisis namun sanggup
menjadi umat yang maju dan mempunyai sistem ( sosial, ekonomi, pendidikan,
hukum, dan lain-lain) yang mampu menjadi contoh dan panutan dunia.
Saatnya kita juga sadar kekeliruan taqlid kita kepada para pendahulu
kita dalam pemahaman dan praktek Islam, baik di Indonesia maupun di
dunia Islam lainnya termasuk dunia Arab. Namun karya masa lalu tetap
mempunyai nilai yang sangat tinggi, terutama sekali dalam proses historical
continuity. Kita pelajari sejarah Islam atau umat Islam silam dan
sirah Nabi. Kita pelajari wahyu Allah yang kita miliki. Dan kita pelajari
pula keadaan masyarakat Indonesia. Untuk kemudian kita mampu menghadirkan
Islam di Indonesia.
Untuk
mewujudkan keinginan-keinginan mulia tersebut, semua elemen umat ini
harus harus duduk bersama merumuskan puikiran-pikiran cemerlang, dan
pertemuan ini merupakan momentum strategis untuk melakukan kerja-kerja
positif tersebut guna pengembangan syiar Islam dan institusi keagamaan
Islam lainnya. Terlebih keberadaan UIN/IAIN dan STAIN harus menunjukkan
artikulasi yang berbeda dengan yang lainnya. Karena UIN/IAIN dan STAIN
bukanlah sekedar Majelis Taklim, seperti di Kampung-kampung yang hanya
menyampaikan pengajian yang bersifat rutin, namun lebih dari itu ketiga
institusi keagamaan Islam ini harus mampu meningkatkan kualitas dan
daya saingnya sehingga diminati bahkan bila perlu menjadi primadona
para “kutu buku” yang haus akan ilmu pengetahuan. Kita
harus sadar bahwa dunia yang akan kita tuju adalah dunia yang tidak
dapat lepas dari pluralitas di segala aspek. Dalam kegiatan pertemuan
tersebut, dibentuk tiga komisi yang masing-masing berisi komisi standar
mutu, kinerja dan alih status. (GJA)