Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Membuat Audio Semi Dokumenter Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam

Swara Ditpertais: No. 9 Th. II, 15 Juni 2004

QUO VADIS ARAH PENGEMBANGAN PTAI KE DEPAN
(Hasil Pertemuan Rektor UIN, IAIN, dan Ketua STAIN seluruh Indonesia di Palu)

Untuk memajukan PTAI, maka peran pimpinan PTAI, Rektor ataupun ketua STAIN menjadi sangatlah penting. Sebagai leader yang berada di garda depan, para pimpinan PTAI seringkali menjadi “sumber rujukan” dalam setiap keputusannya. Untuk itu, pertemuan Rektor IAIN, UIN dan Ketua STAIN seluruh Indonesia untuk yang sekian kalinya diadakan, setelah sebelumnya diadakan di Jakarta akhir tahun lalu. Kegiatan ini tidak lain dimaksudkan untuk memberikan shock therapy akan tanggungjawab mereka dalam memajukan eksistensi PTAI dalam kostelasi pendidikan, baik secara nasional maupun Internasional. Upaya ini menemukan “titik temu” kalau dikaitkan dengan kebijakan Dirjen Bagais yang mengajak seluruh civitas akademika, melalui lembaga pendidikan yang ada agar pada tahun 2004 ini, harus memulai untuk membuat reformasi radikal bahkan revolusi dalam penelusuran pemahaman dan praktek Islam, sehingga Islam dapat tampil seperti janjinya, memberi hasanah di dunia akhirat dan membangun khaira ummah. Dengan kata lain kita perlu dapat mewujudkan umat yang individunya kaya makmur serta taat beribadah.

Pertemuan para pimpinan PTAI kali ini diadakan di Palu pada awal bulan Juni yang lalu. Para pembicara yang tampil adalah Dirjen Bagais (Prof. A. Qodri Abdillah Azizy, Ph.D) yang memberikan pengarahan dan sekligus membuka acara. Sedangkan Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam (Ditpertais Depag RI) H. Arief Furqan yang menyampaikan papernya tentang Rencana Strategis Pengembangan PTAI. Kemudian pada hari berikutnya disusul oleh penyampaian materi dari Dirjen Dikti ( namun tidak hadir), Prof. Amin Abdullah dan Prof Dr. Imam Suprayogo.

Secara umum kegiatan ini juga mengingatkan akan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus dielaborasi sedemikian rupa sehingga berhasil membangun khaira ummah, yang berarti bukan hanya lepas dari krisis namun sanggup menjadi umat yang maju dan mempunyai sistem ( sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, dan lain-lain) yang mampu menjadi contoh dan panutan dunia. Saatnya kita juga sadar kekeliruan taqlid kita kepada para pendahulu kita dalam pemahaman dan praktek Islam, baik di Indonesia maupun di dunia Islam lainnya termasuk dunia Arab. Namun karya masa lalu tetap mempunyai nilai yang sangat tinggi, terutama sekali dalam proses historical continuity. Kita pelajari sejarah Islam atau umat Islam silam dan sirah Nabi. Kita pelajari wahyu Allah yang kita miliki. Dan kita pelajari pula keadaan masyarakat Indonesia. Untuk kemudian kita mampu menghadirkan Islam di Indonesia.

Untuk mewujudkan keinginan-keinginan mulia tersebut, semua elemen umat ini harus harus duduk bersama merumuskan puikiran-pikiran cemerlang, dan pertemuan ini merupakan momentum strategis untuk melakukan kerja-kerja positif tersebut guna pengembangan syiar Islam dan institusi keagamaan Islam lainnya. Terlebih keberadaan UIN/IAIN dan STAIN harus menunjukkan artikulasi yang berbeda dengan yang lainnya. Karena UIN/IAIN dan STAIN bukanlah sekedar Majelis Taklim, seperti di Kampung-kampung yang hanya menyampaikan pengajian yang bersifat rutin, namun lebih dari itu ketiga institusi keagamaan Islam ini harus mampu meningkatkan kualitas dan daya saingnya sehingga diminati bahkan bila perlu menjadi primadona para “kutu buku” yang haus akan ilmu pengetahuan. Kita harus sadar bahwa dunia yang akan kita tuju adalah dunia yang tidak dapat lepas dari pluralitas di segala aspek. Dalam kegiatan pertemuan tersebut, dibentuk tiga komisi yang masing-masing berisi komisi standar mutu, kinerja dan alih status. (GJA)