|
Swara
Ditpertais: No.
9 Th. II, 15 Juni 2004 |
KEBIJAKAN BARU DIRJEN BAGAIS :
Diversifikasi
Penelitian Upaya Mendekatkan Penelitian Dengan Problem Masyarakat
Meskipun
kebijakan untuk memberikan support penelitian kepada PTAI telah lama dilaksanakan,
namun hingga kini masih jarang diketemukan hasil penelitian di PTAI yang
mumpuni. Karya magnum opus, hasil temuan Clifford Geertz, misalnya —
terlepas dari kelebihan dan kekurangannya—tidak pernah lagi muncul
ke permukaan. Lebih dari itu, penelitian yang ada, seringkali kehilangan
relevansi dengan problematika yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Adanya
gap antara hasil penelitian PTAI dengan problem masyarakat, mendorong
Ditperta untuk melakukan kebijakan baru mengenai desain penelitian di
PTAI. Dalam pertemuan yang membahas kebijakan penelitian tersebut hadir
H. Arief Furqan, M.A, Ph.D (Direktur Pertais), Prof. Dr. Rusmin Tumanggor
(UIN Jakarta), Cik Hasan Bisri, M.S.i(Peneliti senior IAIN Bandung), Anas
Saidi, M.A (dari LIPI), Jufri Dolong, M.M (Kasubdit), dan Marzuki Wahid,
M.A (Kasi Penelitian). Rekomendasi yang muncul dari acara tersebut antara
lain. Pertama, perlu adanya diversifikasi penelitian. Selama ini penelitian
yang ada cenderung ke arah pure research, untuk itu perlu dikembangkan
corak penelitian yang lebih beragam, dengan stressing pada upaya memberikan
solusi terhadap problem di masyarakat. Ragam penelitian yang perlu dikembangkan
antara lain, Policy Research (penelitian kebijakan), Participatory Action
Research (PAR), Penelitian bidang ilmu, Developmental Research, dan Penelitian
Kemitraan (tujuan model dari penelitian ini adalah mendorong PTAI agar
bermitra dengan lembaga yang lain dalam melakukan penelitian).
Upaya
yang kedua, adalah melakukan peningkatan mutu hasil penelitian melalui
Bantuan Penelitian (Grant), yakni Penelitian Kompetitif Terpadu. Mekanisme
penelitian model ini, sebagaimana dijelaskan oleh Drs. Marzuki Wahid,
M.A, dimulai dengan menyeleksi proposal yang terbaik, terus diseminarkan,
mengadakan pelatihan penelitian, asistensi penelitian sampai dengan proses
penerbitan dengan alokasi sekitar sepuluh orang. Secara umum arah baru
peneiltian yang ingin dikedepankan adalah adanya sinergitas antara pendidikan,
penelitian dengan pengabdian masyarakat yang selama ini terkesan berjalan
sendiri-sendiri.
Dengan
desain baru tersebut, maka harapan akan lahirnya penelitian yang bersifat
realistis tidak “ngawang-ngawang” akan bisa dipenuhi. Untuk
menghasilkan output penelitian yang bagus, upaya tersebut di atas memanglah
tidak cukup. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yang antara lain adalah
karena lemahnya kapasitas dosen dalam bidang penelitian, baik aspek metodologi
dan desain penelitian yang diterapkan. Keadaan tersebut diperparah lagi
dengan iklim akademik yang tidak kondusif dalam mengembangkan bakat penelitian
dan masih minimnya dukungan finansial PTAI untuk penelitian. Sebagai akibatnya,
etos dosen dalam meneliti juga mengalami “kelesuan” yang cukup
berat. Apalagi penelitian masih dianggap sebagai dunia lain (the others),
tidak terintegrasi dalam pribadi sebagai dosen (pengajar). Semoga dengan
rumusan baru kebijakan penyelenggaraan penelitian di PTAI oleh Ditjen
Bagais akan dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu dan
kebudayaan, terutama peningkatan mutu pendidikan di PTAI serta dapat membantu
memberikan solusi terhadap problem yang sedang dihadapi oleh masyarakat
(Gja).
|