| Swara
Ditpertais: No.
7 Th. II, 13 Mei 2004 |
Mensikapi
Perubahan Sistem Anggaran Tahun 2005
Belum
lama ini Ditjend Bagais mempunyai acara besar, selama kurang lebih tiga
hari (12-16 April) untuk melakukan pembahasan kooordinasi penyusunan anggaran
di lingkungan Ditjend Bagais. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh elemen
di lingkungan Dirjend Bagais (Ditpertais, Pekapontren, Mapenda, Penamas)
baik pejabat pusat maupun pejabat di daerah di seluruh wilayah Indonesia.
Acara ini dihadiri langsung oleh Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam
Prof. A. Qodri Azizy, Ph.D. Dalam sambutannya Bapak Dirjend mengingatkan
bahwa sebetulnya masing-masing elemen yang ada di Bagais dapat disinergikan
antara satu dengan lainnya. Artinya satu sama lain dapat mengisi, dan
tidak terjadi dikotomisasi. Perguruan Tinggi (Perta) misalnya, dapat melakukan
kerjasama dengan Mapenda, Penamas, Pontren dalam merumuskan berbagai programnya.
Karena di lapangan seringkali diketemukan fakta bahwa masing-masing pada
kerja sendiri-sendiri, bahkan ada kecenderungan untuk menegasikan antara
satu dengan yang lainnya atau dianggap sebagai “lain dunia”.
Salah
kaprah ini tentu perlu segera untuk diluruskan. Penamas misalnya, dalam
beberapa hal dapat bersentuhan dan bekerjasama dengan fakultas dakwah
dalam merumuskan beberapa persoalan penyakit sosial masyarakat. Begitupula
dengan Mapenda dengan fakultas Tarbiyahnya. Kanwil dengan jajarannya yang
ada dapat pula merumuskan, profile apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi
kebutuhan tenaga kerja meraka dan begitu pula sebaliknya. Saya berharap
kegiatan ini akan sukses, dengan indikatornya adalah adanya hasil yang
kongkret.
Sebelumya
Bpk Sekertaris Dirjen, Mundzier Suparta, M.A, juga memberikan beberapa
harapanya terhadap kegiatan ini. Menurutnya kegiatan merupakan momentum
yang sangat tepat untuk mengantisipasi adanya sistem anggaran yang telah
berubah dan akan berakhir pada akhir tahun 2004 ini. Karena pada tahun
2005 ini kita akan memasuki sistem baru, yakni anggaran yang berbasis
kinerja. Untuk itu, (mumpung) pada hari ini pada “kumpul”
semua, perlu adanya pembicaraan sinkronisasi dan koordinasi program. Begitupula
perlu difikirkan apa yang perlu dilakukan setelah program tersebut dilaksanakan
(what next). Dalam konteks ini, maka evaluasi menjadi sangat penting,
karena pada dasarnya evaluasi akan menjadi semacam bahan “acuan”
atau referensi untuk merancang apa yang perlu dilakukan ke depan. Tanpa
adanya evaluasi, maka akan terjadi stagnasi dalam sebuah program kegiatan.
Dengan
diadakannya forum ini, secara tidak langsung, telah menunjukkan bahawa
Bagais berusaha bergerak lebih pro-aktif dan responsif terhadap perubahan
dinamika yang ada, terutama kemauan untuk mengadakan evaluasi demi perbaikan
ke depan, dengan stressing utamanya adalah meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat. **** |