Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   
ISLAM BUKAN HANYA SEKDAR WACANA AKADEMIS!!

Swara Ditpertais: No. 6 Th. II, 6 April 2004

ISLAM BUKAN HANYA SEKEDAR WACANA AKADEMIS!!

Keterbelakangan umat Islam menurut para pemikir Islam, salah satu di antaranya diakibatkan oleh karena masih terjadinya gap yang begitu tajam antara ajaran Islam dengan praktek para umatnya. Keadaan ini menggambarkan adanya dua hal. Pertama, problem cara berfikir (mod of thought), yang berkaitan dengan pemahaman terhadap sumber hukum Islam yang terlalu kaku, rigid dan tidak kontekstual. Problem metodologis ini jelas memerlukan pencerahan (enlightment) dengan adanya pemahaman yang lebih membumi dan realistis. Kedua, Islam hanya diletakkan dalam kerangka kajian akademik dan tidak diintegrasikan dengan pengamalan sehari-hari di lapangan. Untuk membaca fenomena ini sangatlah mudah, yakni banyaknya orang yang secara pemahaman keislaman sudah "ampuh," akan tetapi nihil ketika mengamalkan di lapangan.

Banyak sudah orang yang mengeluhkan masih belum pulihnya krisis ekonomi, semakin tajamnya segregasi antar kelompok dan golongan, makin meningkatnya angka korupsi dan nepotisme, padahal sosok (dibalik itu semua) pemimpin negeri ini sebagian dipenuhi oleh orang "ampuh" seperti di atas. Lalu mengapa peristiwa ini kok bisa terjadi? Hal ini tidak lain dikarenakan Islam yang dipahaminya dikerangkakan dalam kajian akademik ansich, tidak integrated. Butir-butir di atas merupakan perasan dari simposium "Pemikiran Islam Kontemporer" yang diselenggarakan akhir tahun lalu kerjasama Ditperta dengan STAIN Bengkulu.

Beberapa pembicara dalam simposium tersebut antara lain Masdar F. Mas'udi, Dr. Masykuri Abdillah, Dr. Rohimin, Moqsith Ghazali, MA dan Drs. Rumadi, MA. Masdar dalam papernya mengisyaratkan masih terjadinya pemahaman yang sempit tentang kategorisasi studi keislaman. Menurutnya kategorisasi studi keislaman, yakni Akidah, Syari'ah dan Akhlak (realitas, praktis) mestinya dipahami secara totalitas. Karena istilah tersebut selama ini seringkali masih dipahami secara personal. Kalau kita berbicara akhlak, misalnya, maka identik dengan sifat kesabaran, qanaah. Padahal akhlak mestinya dipahami dalam konteks kehidupan bermasyarakat secara luas.

(selengkapnya baca edisi cetak Swara Ditpertais)