|
Swara
Ditpertais: No.
6 Th. II, 6 April 2004
|
ISLAM
BUKAN HANYA SEKEDAR WACANA AKADEMIS!!
Keterbelakangan
umat Islam menurut para pemikir Islam, salah satu di antaranya diakibatkan
oleh karena masih terjadinya gap yang begitu tajam antara ajaran Islam
dengan praktek para umatnya. Keadaan ini menggambarkan adanya dua hal.
Pertama, problem cara berfikir (mod of thought), yang berkaitan
dengan pemahaman terhadap sumber hukum Islam yang terlalu kaku, rigid
dan tidak kontekstual. Problem metodologis ini jelas memerlukan pencerahan
(enlightment) dengan adanya pemahaman yang lebih membumi dan
realistis. Kedua, Islam hanya diletakkan dalam kerangka kajian akademik
dan tidak diintegrasikan dengan pengamalan sehari-hari di lapangan.
Untuk membaca fenomena ini sangatlah mudah, yakni banyaknya orang yang
secara pemahaman keislaman sudah "ampuh," akan tetapi nihil
ketika mengamalkan di lapangan.
Banyak
sudah orang yang mengeluhkan masih belum pulihnya krisis ekonomi, semakin
tajamnya segregasi antar kelompok dan golongan, makin meningkatnya angka
korupsi dan nepotisme, padahal sosok (dibalik itu semua) pemimpin negeri
ini sebagian dipenuhi oleh orang "ampuh" seperti di atas.
Lalu mengapa peristiwa ini kok bisa terjadi? Hal ini tidak lain dikarenakan
Islam yang dipahaminya dikerangkakan dalam kajian akademik ansich,
tidak integrated. Butir-butir di atas merupakan perasan dari
simposium "Pemikiran Islam Kontemporer" yang diselenggarakan
akhir tahun lalu kerjasama Ditperta dengan STAIN Bengkulu.
Beberapa
pembicara dalam simposium tersebut antara lain Masdar F. Mas'udi, Dr.
Masykuri Abdillah, Dr. Rohimin, Moqsith Ghazali, MA dan Drs. Rumadi,
MA. Masdar dalam papernya mengisyaratkan masih terjadinya pemahaman
yang sempit tentang kategorisasi studi keislaman. Menurutnya kategorisasi
studi keislaman, yakni Akidah, Syari'ah dan Akhlak (realitas, praktis)
mestinya dipahami secara totalitas. Karena istilah tersebut selama ini
seringkali masih dipahami secara personal. Kalau kita berbicara akhlak,
misalnya, maka identik dengan sifat kesabaran, qanaah. Padahal
akhlak mestinya dipahami dalam konteks kehidupan bermasyarakat secara
luas.
(selengkapnya
baca edisi cetak Swara Ditpertais)
|