|
Swara
Ditpertais: No.
5 Th. II, 24 Februari 2004
|
PROGRAM
INTERDISCIPLINARY ISLAMIC STUDIES
Pada
tanggal 12-13 Januari 2004, ditperta bserta rombongan melakukan kunjungan
ke IALF Bali. Kunjungan ini difokuskan untuk melihat dari dekat program
krjasama Departemen Agama-McGill tahun 2003. Dari awal pelaksanaan program
ini diproiritaskan untuk menggembleng calon-calon intelektual, mahasiswa
Interdisciplinary Islamic Studies pada program Pascasarjana UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta dan IAIN Sunan KAlijaga Yogyakarta. Seblum
memasuki program tersebut mereka diberi kursus Bahasa Inggris secara
intensif. Kegiatan ini diikuti oleh 33 orang dari jumlah keseluruhan
36 orang.
Menurut
Khaeroni, M.Si., selaku pimpinan proyek pada program ini, "Kunjungan
kami mengadakan peertemuan dengan peserta kursus adalah untuk memberikan
penjelasan berkenaan hak-hak yang akan diterima oleh peserta selama
enam bulan mengikuti kursus, antara lauin meliputi living cost dan
bantuan transposrt Jakarta-Bali PP."
Dalam
Kegiatan ini, berdasarkan alokasi anggaran yang tersedia pada DIP bagian
proyek Peningkatan Kerjasama Departemen Agama-McGill Tahun 2003, bahwa
living cost yang diterima oleh peserta sebesar Rp 500.000 (lima
ratus ribu rupiah) per orang setiap bulan. Masalah ini sudah disosialisasikan
nelalui surat Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam No. Dt.II.III/5/PP.00.9/J1163/03
tanggal 16 Desember 2003, perihal Kursus Intensif Bahasa Inggris di
IALF Bali.
"Meskipun
pihak pengelola proyek telah mengupayakan penambahan living cost,
sebanyak 13 peserta menilai living cost sebesar Rp 750.000
dinilai masih belum memadai," demikian tambah Khaeroni.
Tujuan
dari kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan peserta program agar lebih
intensif mengikuti perkuliahan di program studi Interdisciplinary Islamic
Studies pada program pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagaimana diketahui, program ini akan
diproyeksikan sebagai kelas internasional dengan dosen-dosen tamu dari
berbagai universitas di Barat.
Proses
seleksi para peserta kursus ini cukup ketat. Mereka benar-benar diambil
dari pendaftar yang berkualitas, terutama kemampuan berbahasa Inggris,
karena mereka nantinya harus mampu membaca literatur-literatur yang
rata-rata berbahasa Inggris, disamping bahasa Arab tentunya."Oleh
karena itu, dalam program ini disamping menjaring mereka yang menguasai
bahasa Inggris, juga ditekankan agar menguasai bahasa Arab," demikian
tegas Khaeroni.***
|