|
Swara
Ditpertais: No.
5 Th. II, 24 Februari 2004
|
MENGGAGAS
CORAK PENELITIAN NON POSITIVISTIK
Karena
terlalu dominannya kecenderungan positivisme dalam arus penelitian di
PTAI, maka baru-baru ini Ditpertais bekerjasama dengan Puslit IAIN Walisongo
mengadakan workshop penelitian non-positivistik, yang diselenggarakan
tanggal 4-8 Januari 2004. Workshop ini dibimbing langsung oleh para pakar
peneliti dari UGM, antara lain Prof. Dr. Nasikun, Dr. Heru Nugroho, dan
Dr. Sri Ahimsaputra. Selain itu, worksho ini dipandu oleh dua orang fasilitator
dari LP3ES (Enceng Sobirin) dan dari LIPI (Anas Saidi, MA). Acara ditutup
hari Kamis, 8 Januari, oleh Dirjen Bagais, Prof. Dr. A. Qodri Azizy, M.A.
Dalam
sebuah penelitian, pemahaman teori-teori sosial menjadi sebuah kewajiban,
karena posisi teori itu sendiri akan membantu dalam membaca ralitas sosial.
Ibarat memasuki "hutan belantara" memahami teori-teori sosial
bukanlah suatu pekerjaan yang ringan, karena ia terus mengalami perubahan.
Sebagai dampaknya dalam memahami realitas dengan memakai teori yang selalu
berubah tersebut bisa "mrucut", miss-match karena teori
itu sendiri menurut Anthony Giddens terus berkembang. Demikian antara
lain pesan Dr. Heru Nugroho kepada para peserta. Oleh karena itu, tambahnya,
jangan sampai teori teori menjadi sesuatu yang membelenggu, dan mengideologi.
Berangkat dari tema workshop penelitian non positivistik ini, terkesan
adanya perlawanan terhadap positivisme.
Kenapa
positivisme dianggap gagal?
Kegagalan
ini, apakah lantaran faktor ideologis, politis atau foktor yang lain.
Menurut Dr. Ahimsaputra, positivisme swbwtulnya mrupakan logika scince
(ilmu) berupa ilmu alam yang memiliki berbagai metodenya, termasuk
metode pembuktian yang tehniknya bisa melalui supervey dan eksperimentasi.
Tujuannya adalah mencari kecnderungan atau hukum alam (natural law),
sehingga teori menjadi sebuah kebenaran. Dan postulat-postulat menjadi
kepastian.
Persoalan
muncul ketika ilmu-ilmu sosial kemudian ingin mendapatkan kepastian sebagai
ilmu alam (eksak), padahal subject matter yang dihadapi berbeda-beda,
yang satu bersifat pasti sedangkan lainnya berupa perilaku. Perilaku alam
dan manusia tentu dua hal yang berbeda. Angin brtiup disebabkan tekanan
udara berbeda-beda, di semua arah pasti akan sama. Dalam ilmu alam hal
ini disebut causality (sebab-akibat), yang kemudian sering "dijiplak"
oleh ilmu-ilmu sosial. Misalnya, mengapa sampai terjadi krisis ekonomi?
Jawwabnya adalah karena korupsi, merosotnya nilai tukar rupiah dsb.
Persoalannya
adalah bagaimana ketika standar ilmu alam yang pasti tersebut diarahkan
manusia yang Imultidimensional? .........(selanjutnya baca edisi cetak
Swara Ditpertais)
|