Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Dewan Redaksi Swara Ditpertais

Swara Ditpertais: No. 5 Th. II, 24 Februari 2004

MENGGAGAS CORAK PENELITIAN NON POSITIVISTIK

Karena terlalu dominannya kecenderungan positivisme dalam arus penelitian di PTAI, maka baru-baru ini Ditpertais bekerjasama dengan Puslit IAIN Walisongo mengadakan workshop penelitian non-positivistik, yang diselenggarakan tanggal 4-8 Januari 2004. Workshop ini dibimbing langsung oleh para pakar peneliti dari UGM, antara lain Prof. Dr. Nasikun, Dr. Heru Nugroho, dan Dr. Sri Ahimsaputra. Selain itu, worksho ini dipandu oleh dua orang fasilitator dari LP3ES (Enceng Sobirin) dan dari LIPI (Anas Saidi, MA). Acara ditutup hari Kamis, 8 Januari, oleh Dirjen Bagais, Prof. Dr. A. Qodri Azizy, M.A.

Dalam sebuah penelitian, pemahaman teori-teori sosial menjadi sebuah kewajiban, karena posisi teori itu sendiri akan membantu dalam membaca ralitas sosial. Ibarat memasuki "hutan belantara" memahami teori-teori sosial bukanlah suatu pekerjaan yang ringan, karena ia terus mengalami perubahan. Sebagai dampaknya dalam memahami realitas dengan memakai teori yang selalu berubah tersebut bisa "mrucut", miss-match karena teori itu sendiri menurut Anthony Giddens terus berkembang. Demikian antara lain pesan Dr. Heru Nugroho kepada para peserta. Oleh karena itu, tambahnya, jangan sampai teori teori menjadi sesuatu yang membelenggu, dan mengideologi. Berangkat dari tema workshop penelitian non positivistik ini, terkesan adanya perlawanan terhadap positivisme.

Kenapa positivisme dianggap gagal?

Kegagalan ini, apakah lantaran faktor ideologis, politis atau foktor yang lain. Menurut Dr. Ahimsaputra, positivisme swbwtulnya mrupakan logika scince (ilmu) berupa ilmu alam yang memiliki berbagai metodenya, termasuk metode pembuktian yang tehniknya bisa melalui supervey dan eksperimentasi. Tujuannya adalah mencari kecnderungan atau hukum alam (natural law), sehingga teori menjadi sebuah kebenaran. Dan postulat-postulat menjadi kepastian.

Persoalan muncul ketika ilmu-ilmu sosial kemudian ingin mendapatkan kepastian sebagai ilmu alam (eksak), padahal subject matter yang dihadapi berbeda-beda, yang satu bersifat pasti sedangkan lainnya berupa perilaku. Perilaku alam dan manusia tentu dua hal yang berbeda. Angin brtiup disebabkan tekanan udara berbeda-beda, di semua arah pasti akan sama. Dalam ilmu alam hal ini disebut causality (sebab-akibat), yang kemudian sering "dijiplak" oleh ilmu-ilmu sosial. Misalnya, mengapa sampai terjadi krisis ekonomi? Jawwabnya adalah karena korupsi, merosotnya nilai tukar rupiah dsb.

Persoalannya adalah bagaimana ketika standar ilmu alam yang pasti tersebut diarahkan manusia yang Imultidimensional? .........(selanjutnya baca edisi cetak Swara Ditpertais)