|
Swara
Ditpertais: No.
5 Th. II, 24 Februari 2004
ISLAM
MEREBUT KESEJAHTERAAN DUNIA: PERAN DAN TANGGUNG JAWAB AKADEMISI PTAI
Dalam
era globalisasi seperti sekarang ini kompetisi menjadi ide sekaligus praktik
yang nyata. Dan kemampuan iptek menjadi prasyarat utama untuk dapat berkompetisi.
Sayangnya ketika negara-negara lain Barat sudah maju, ternyata kita masih
saja terpuruk dan ketinggalan jauh. Kita hanya mempunyai "tiket",
tapi tidak bisa ikut bertanding dalam konstelasi global. Anehnya negara
yang maju, seperti kelompok Barat (Eropa Barat, Amerika Utara, dan termasuk
Australia) dan Timur (Jepang), secara jelas mereka bukanlah muslim.
Ketika
badai krisis melanda Asia, Indonesia menderita paling parah. Dan ketika
negara-negara lain telah sembuh dari krisis, Indonesia belum sama sekali.
Kalau kita jujur, sebelum diterpa krisis, Indonesia yang mayoritasnya
muslim tergolong terbelakang dibandingkan dengan negara-negara yang merdekanya
seusia. Ini dapat dilihat dari GNP dan sampai akhir-akhir ini dilihat
dari segi HDI (Human Developmnent Index). Untuk HDI, Indonesia berada
di urutan ke 112; sementara itu Vietnam berada di urutan ke 109. Dan krisispun
sampai kini belum lepas dari kita. Sulit bagi kita untuk dapat menjelaskan
kepada anak-anak kita mengapa kita berada di belakang Vietnam, negara
yang baru saja merdeka? Ini realitas. Ini harus kita sadari bersama. Kita
harus tahu dan paham terhadap diri kita sendiri; man arafa nafsahu fa-qad
arafa Rabbah.
Islam
Dan Problem Pemahaman: Tanggung jawab Akademisi
Terhadap
kenyataan keterbelakangan di atas Prof. Dr. Qodri Azizy, M.A, dalam pertemuan
pimpinan STAIN, UIN dan IAIN di hotel Sofyan baru-baru ini menyatakan
adanya beberapa kemungkinan. Pertama, agama mayoritas kita (Islam) salah,
sehingga tidak berperan untuk membimbing bangsa kita; atau Kedua, pemahaman
terhadap Islam yang salah, sehingga prakteknya tidak terwujud dengan baik.
Karena di Barat, agama mereka dapat berperan besar untuk memajukan kehidupan
mereka. Jadi, kesimpulannya Islam yang salah atau kita yang salah dalam
memahami Islam atau malah mengingkari Islam itu sendiri?
Prof.
Dr. Qodri mengingatkan akan tanggung jawab para akademisi untuk ikut memperbaiki
keadaan tersebut. Karena kenyataan bahwa terjeratnya krisis, akarnya tidak
lain adalah krisis etika. Dan Islam sama sekali belum dapat menunjukkan
kemampuan memberikan landasan etika dalam kehidupan umatnya. Ketika kita
menyebut Islam, berarti mencakup pemahaman dan realisasi ajarannya. Sedangkan
realisasi ini diawali dari metode dan pendekatan pengajaran dan praktek
ajarannya. Dan ketika kita berbicara mengenai pemahaman dan realisasi
Islam, berarti di atas 75% adalah wilayah yang menjadi tanggung jawab
kita para akademisi ilmu-ilmu keislaman.
Dengan
demikian, apakah tidak seharusnya kita segera menyadari dan dengan jujur
merasa bahwa kita ikut bertanggung jawab atas kegagalan menyebarkan Islam?
Dan berarti telah gagal pula melaksanakan tugas kita? Kesadaran dan kejujuran
seperti ini bukan untuk frustasi dan bunuh diri, bukan untuk mengelak
tanggungjawab, bukan untuk membubarkan UIN/IAIN/STAIN, bukan untuk mundur
dari tugas sebagai dosen yang digaji oleh uang rakyat, atau sejenisnya.
Namun untuk mengevaluasi apa yang telah, sedang dan akan kita kerjakan
sebagai akademisi ilmu-ilmu keislaman. Kita teliti, dimana letak kegagalan?
Kita teliti dimana kesalahan kita? Kita teliti pemahaman dan pemaknaan
yang selama kita taqlidi dan jalankan untuk menemukan kesalahan atau ketidaktepatan.
Kita teliti metode dan pendekatan yang selama ini kita lakukan.
Kalau
umat Islam terbelakang dan salah, berarti Islamnya salah atau pemahamannya
yang salah. Kita diberitahu bahwa Islam memberi jaminan untuk kebaikan
(Hasanah) di dunia dan di akhirat. Bukankah Al-qurán sendiri yang
menegaskan umat Islam sebagai Khayr Ummah? (QS:Ali Imran:110). Namun harus
dimaknai bagaimana?itu kewajiban kita. Sangat keliru dan sangat bertentangan
dengan ajaran Al-qurán itu sendiri jika ayat tersebut dimaknai
sebagai ayat "pelipur lara" keterbelakangan di dunia dan khayalan
untuk di akhirat kelak. Dan sangat keliru pula jika Khayr Ummah itu otomatis
terwujud dengan bermalas-malas, bodoh, dan miskin. Kita diberi tahu al-Islam
Mahjub bi al-Muslimin. Dan kita sadar betul, bahwa Alquran yang kita miliki
dan kita imani adalah memberi petunjuk kepada umat manusia (Hudan lil-al-nas).
Ini berarti bukan hanya untuk umat Islam, namun bagi siapa saja yang mau
mengikutinya. Dan ketika umat lain mengikuti Al-qurán, kemudian
mereka yang menikmati kesuksesan dunia, sementara kita tidak mengikutinya
dan tidak dapat menikmati kesuksesan dunia, ini semakin menampar kredibelitas
kita sebagai akademisi ilmu-ilmu keIslaman.
Pak
Dirjen dalam kesempatan pertemuan para Rektor IAIN/UIN dan Ketua STAIN
tersebut mengingatkan bahwa sebagai akademisi, yang juga berarti ulama,
kita harus menterjemahkan dan sekaligus mentransformasikan ajaran menjadi
nilai dan kemudian mengajarkan nilai untuk dapat dipraktekkan dalam kehidupan
sebagai landasan etika, hukum, dan jalan sekaligus tujuan. Ini tugas dan
kewajiban kita yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak,
baik sebagai ulama maupun sebagai pemakan gaji uang rakyat. Ini sebagai
konsekwensi ulama dan penerima gaji dari uang rakyat. Dan harus kita lakukan.
Tahun
2004: Reformasi Radikal
Untuk
itu pada tahun 2004 ini menurut Pak Qodri kita harus membuat reformasi
radikal dalam pelurusan pemahaman dan praktek Islam, sehingga Islam dapat
tampil sebagaimana janjinya, memberi hasanah dunia-akhirat dan dapat membangun
Khayr Ummah. Semoga apa yang diharapkan oleh Pak Dirjen dapat dijadikan
sebagai bahan renungan dan inspirasi untuk dilaksanakan. Dan yang paling
penting adalah IAIN/UIN/STAIN tidak turun statusnya menjadi "majlis
taklim" semata, sesuatu yang tentu tidak kita inginkan. ***
|