Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Menu Utama

Swara Ditpertais: No. 5 Th. II, 24 Februari 2004

ISLAM MEREBUT KESEJAHTERAAN DUNIA: PERAN DAN TANGGUNG JAWAB AKADEMISI PTAI

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini kompetisi menjadi ide sekaligus praktik yang nyata. Dan kemampuan iptek menjadi prasyarat utama untuk dapat berkompetisi. Sayangnya ketika negara-negara lain Barat sudah maju, ternyata kita masih saja terpuruk dan ketinggalan jauh. Kita hanya mempunyai "tiket", tapi tidak bisa ikut bertanding dalam konstelasi global. Anehnya negara yang maju, seperti kelompok Barat (Eropa Barat, Amerika Utara, dan termasuk Australia) dan Timur (Jepang), secara jelas mereka bukanlah muslim.

Ketika badai krisis melanda Asia, Indonesia menderita paling parah. Dan ketika negara-negara lain telah sembuh dari krisis, Indonesia belum sama sekali. Kalau kita jujur, sebelum diterpa krisis, Indonesia yang mayoritasnya muslim tergolong terbelakang dibandingkan dengan negara-negara yang merdekanya seusia. Ini dapat dilihat dari GNP dan sampai akhir-akhir ini dilihat dari segi HDI (Human Developmnent Index). Untuk HDI, Indonesia berada di urutan ke 112; sementara itu Vietnam berada di urutan ke 109. Dan krisispun sampai kini belum lepas dari kita. Sulit bagi kita untuk dapat menjelaskan kepada anak-anak kita mengapa kita berada di belakang Vietnam, negara yang baru saja merdeka? Ini realitas. Ini harus kita sadari bersama. Kita harus tahu dan paham terhadap diri kita sendiri; man arafa nafsahu fa-qad arafa Rabbah.

Islam Dan Problem Pemahaman: Tanggung jawab Akademisi

Terhadap kenyataan keterbelakangan di atas Prof. Dr. Qodri Azizy, M.A, dalam pertemuan pimpinan STAIN, UIN dan IAIN di hotel Sofyan baru-baru ini menyatakan adanya beberapa kemungkinan. Pertama, agama mayoritas kita (Islam) salah, sehingga tidak berperan untuk membimbing bangsa kita; atau Kedua, pemahaman terhadap Islam yang salah, sehingga prakteknya tidak terwujud dengan baik. Karena di Barat, agama mereka dapat berperan besar untuk memajukan kehidupan mereka. Jadi, kesimpulannya Islam yang salah atau kita yang salah dalam memahami Islam atau malah mengingkari Islam itu sendiri?

Prof. Dr. Qodri mengingatkan akan tanggung jawab para akademisi untuk ikut memperbaiki keadaan tersebut. Karena kenyataan bahwa terjeratnya krisis, akarnya tidak lain adalah krisis etika. Dan Islam sama sekali belum dapat menunjukkan kemampuan memberikan landasan etika dalam kehidupan umatnya. Ketika kita menyebut Islam, berarti mencakup pemahaman dan realisasi ajarannya. Sedangkan realisasi ini diawali dari metode dan pendekatan pengajaran dan praktek ajarannya. Dan ketika kita berbicara mengenai pemahaman dan realisasi Islam, berarti di atas 75% adalah wilayah yang menjadi tanggung jawab kita para akademisi ilmu-ilmu keislaman.

Dengan demikian, apakah tidak seharusnya kita segera menyadari dan dengan jujur merasa bahwa kita ikut bertanggung jawab atas kegagalan menyebarkan Islam? Dan berarti telah gagal pula melaksanakan tugas kita? Kesadaran dan kejujuran seperti ini bukan untuk frustasi dan bunuh diri, bukan untuk mengelak tanggungjawab, bukan untuk membubarkan UIN/IAIN/STAIN, bukan untuk mundur dari tugas sebagai dosen yang digaji oleh uang rakyat, atau sejenisnya. Namun untuk mengevaluasi apa yang telah, sedang dan akan kita kerjakan sebagai akademisi ilmu-ilmu keislaman. Kita teliti, dimana letak kegagalan? Kita teliti dimana kesalahan kita? Kita teliti pemahaman dan pemaknaan yang selama kita taqlidi dan jalankan untuk menemukan kesalahan atau ketidaktepatan. Kita teliti metode dan pendekatan yang selama ini kita lakukan.

Kalau umat Islam terbelakang dan salah, berarti Islamnya salah atau pemahamannya yang salah. Kita diberitahu bahwa Islam memberi jaminan untuk kebaikan (Hasanah) di dunia dan di akhirat. Bukankah Al-qurán sendiri yang menegaskan umat Islam sebagai Khayr Ummah? (QS:Ali Imran:110). Namun harus dimaknai bagaimana?itu kewajiban kita. Sangat keliru dan sangat bertentangan dengan ajaran Al-qurán itu sendiri jika ayat tersebut dimaknai sebagai ayat "pelipur lara" keterbelakangan di dunia dan khayalan untuk di akhirat kelak. Dan sangat keliru pula jika Khayr Ummah itu otomatis terwujud dengan bermalas-malas, bodoh, dan miskin. Kita diberi tahu al-Islam Mahjub bi al-Muslimin. Dan kita sadar betul, bahwa Alquran yang kita miliki dan kita imani adalah memberi petunjuk kepada umat manusia (Hudan lil-al-nas). Ini berarti bukan hanya untuk umat Islam, namun bagi siapa saja yang mau mengikutinya. Dan ketika umat lain mengikuti Al-qurán, kemudian mereka yang menikmati kesuksesan dunia, sementara kita tidak mengikutinya dan tidak dapat menikmati kesuksesan dunia, ini semakin menampar kredibelitas kita sebagai akademisi ilmu-ilmu keIslaman.

Pak Dirjen dalam kesempatan pertemuan para Rektor IAIN/UIN dan Ketua STAIN tersebut mengingatkan bahwa sebagai akademisi, yang juga berarti ulama, kita harus menterjemahkan dan sekaligus mentransformasikan ajaran menjadi nilai dan kemudian mengajarkan nilai untuk dapat dipraktekkan dalam kehidupan sebagai landasan etika, hukum, dan jalan sekaligus tujuan. Ini tugas dan kewajiban kita yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak, baik sebagai ulama maupun sebagai pemakan gaji uang rakyat. Ini sebagai konsekwensi ulama dan penerima gaji dari uang rakyat. Dan harus kita lakukan.

Tahun 2004: Reformasi Radikal

Untuk itu pada tahun 2004 ini menurut Pak Qodri kita harus membuat reformasi radikal dalam pelurusan pemahaman dan praktek Islam, sehingga Islam dapat tampil sebagaimana janjinya, memberi hasanah dunia-akhirat dan dapat membangun Khayr Ummah. Semoga apa yang diharapkan oleh Pak Dirjen dapat dijadikan sebagai bahan renungan dan inspirasi untuk dilaksanakan. Dan yang paling penting adalah IAIN/UIN/STAIN tidak turun statusnya menjadi "majlis taklim" semata, sesuatu yang tentu tidak kita inginkan. ***