Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

ARAH KEBIJAKAN PUSAT STUDI WANITA BAGI PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM

Swara Ditpertais: No. 3 Th. I, 24 November 2003

ARAH KEBIJAKAN PUSAT STUDI WANITA BAGI PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM

Baru-baru ini Ditpertais mengadakan pertemuan lokakarya PSW Perguruan Tinggi Agama Islam ini di wisma Haji (Jalan Jaksa, tanggal 10-12 Oktober). Kegiatan ini didesain untuk menghasilkan semacam draft tawaran kebijakan Ditpertais mengenai pemberdayaan perempuan melalui PSW/PSG untuk PTAI ke depan. Menurut keterangan Marzuki Wahid, kegiatan ini diibaratkan sebagai badan pekerjanya, sedangkan forum pertemuan PSW se-Indonesia di Banjarmasin merupakan sidang umumnya. Oleh karena itu pertemuan ini sangatlah strategis guna mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibawa ke dalam pertemuan Banjarmasin, yang acaranya dibuka pada tanggal 13 Oktober, sehari setelah penutupan lokakarya ini.

Kasubdit Penelitian Bapak Jufri Dolong, M.M, dalam sambutannya mengatakan bahwa lokakarya ini merupakan kegiatan rutin yang dibiayai oleh Subdit penelitian. Kegiatan yang mengundang 19 utusan dari PSW/PSG di lingkungan PTAI ini menghadirkan narasumber tunggal Dr. Musdah Mulia, APU. Kegiatan lokakarya ini dibuka langsung oleh Direktur Pertais, Bapak. H. Arief Furqan, M.A, Ph.D. Dalam pengarahannya Pak Arief menjelaskan bahwa Beliau sangat concern dan menganggap forum ini sangatlah penting untuk mendiskusikan kesetaraan gender. Memang ada pro dan kontra dalam masalah gender. Ada yang berasumsi bahwa semua hal yang berasal dari Barat itu mesti bagus. Dan ada pula yang "alergi" semua hal yang datang dari Barat Oleh karena itu, dibutuhkan orang yang mampu menjelaskan duduk perkaranya. Dan PSW ini salah satu komponen yang dapat memberikan pencerahan (enligthment) dan penjelasan kepada masyarakat luas. Penjelasan atau klarifikasi ini penting terutama kepada mereka-mereka yang masih salah paham ataupun yang "paham"nya masih salah, dalam memandang permasalahan gender.

Pak Arief Furqan dalam pengarahannya mengharapkan agar dalam kegiatan ini dapat dijelaskan secara jelas (clearly and distinctive) bagaimana posisi gender dalam Islam, supaya tidak ada kesan bahwa kita hanya bisa "mencomot" (mengekor) dengan Barat. Begitupula diharapkan forum ini mampu merumuskan kebijakan apa yang perlu dibuat oleh Ditpertais untuk gender di PTAI ini. Karena pada dasarnya Andalah (baca; para pengelola PSW) yang paham situasi riil di lapangan. Apa yang anda lakukan, dan apa yang harus kami lakukan. Jadi kita saling mengisi, pesan Pak Arief kepada peserta lokakarya.

Mengenai kendala pendanaan yang seringkali menggelayuti keberadaan PSW, Pak Arief memberikan solusi agar bisa menjalin kerjasama dengan para funding, di samping saya nanti akan memberikan pressure kepada para Rektor dan Ketua STAIN, supaya memberikan atensi khusus kepada PSW dan sejenisnya. Akan tetapi, jangan sampai terjebak kepada materi semata, karena bagi saya ruh PSW itu perjuangan.

Komitmen Bapak Direktur, terhadap pemberdayaan perempuan ini terlihat sangat jelas, sehingga merupakan modal politik bagi peserta untuk merumuskan secara sistematis tentang arah kebijakan Ditpertais, mau kemana dan kaya apa? Tentu perlu ada rumusan yang jelas dan bisa dilaksanakan.

Sedangkan Ibu Musdah Mulia, APU dalam penyampaian materinya yang berjudul "Relasi Gender di PTAI; Kenyataan dan Kemestian di masa Mendatang" menyebutkan bahwa sensifitas Gender di Indonesia dan PTAI pada khususnya masih sangat memprihatinkan. Menurutnya dari struktur anatomi yang ada di PTAI terlihat bahwa dari 13 IAIN yang ada hampir 100 persen Rektornya adalah laki-laki (maskulin, begitupula dari 33 STAIN hanya satu yang merupakan wanita. Bu Musdah, yang banyak menyajikan data ketimpangan gender di PTAI ini menekankan adanya perpektif gender yang harus dimiliki oleh setiap orang.

Menurut Musdah Mulia, PSW harus bisa menjadi semacam instansi yang dapat melakukan "koreksi" terhadap pengembangan ilmu yang sangat maskulin, begitupula merespon isu-isu yang mengemuka di masyarakat, terutama "ketimpangan", dalam keluarga, perkawinan dll.

Dalam rapat pleno lokakarya ini telah dihasilkan rekomendasi dan tawaran kebijakan Ditpertais untuk PTAI dalam pengembangan kesetaraan gender ke depan. Salah satu platform yang mendasarinya adalah perlunya penyadaran akan sensifitas gender di PTAI. Dan yang paling penting adalah back up dari Ditpertais dengan memberikan treatmen khusus kepada PSW melalui pembukaan subdit khusus bagi PSW, at least, prioritas penelitian yang mensyaratkan adanya komitmen kesadaran gender di dalamnya. Kita tunggu saja bagaimana perkembangan selanjutnya.***