|
Swara
Ditpertais: No.
3 Th. I, 24 November 2003
|
ARAH
KEBIJAKAN PUSAT STUDI WANITA BAGI PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM
Baru-baru ini Ditpertais mengadakan pertemuan lokakarya PSW Perguruan
Tinggi Agama Islam ini di wisma Haji (Jalan Jaksa, tanggal 10-12 Oktober).
Kegiatan ini didesain untuk menghasilkan semacam draft tawaran kebijakan
Ditpertais mengenai pemberdayaan perempuan melalui PSW/PSG untuk PTAI
ke depan. Menurut keterangan Marzuki Wahid, kegiatan ini diibaratkan sebagai
badan pekerjanya, sedangkan forum pertemuan PSW se-Indonesia di Banjarmasin
merupakan sidang umumnya. Oleh karena itu pertemuan ini sangatlah strategis
guna mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibawa ke dalam pertemuan Banjarmasin,
yang acaranya dibuka pada tanggal 13 Oktober, sehari setelah penutupan
lokakarya ini.
Kasubdit
Penelitian Bapak Jufri Dolong, M.M, dalam sambutannya mengatakan bahwa
lokakarya ini merupakan kegiatan rutin yang dibiayai oleh Subdit penelitian.
Kegiatan yang mengundang 19 utusan dari PSW/PSG di lingkungan PTAI ini
menghadirkan narasumber tunggal Dr. Musdah Mulia, APU. Kegiatan lokakarya
ini dibuka langsung oleh Direktur Pertais, Bapak. H. Arief Furqan, M.A,
Ph.D. Dalam pengarahannya Pak Arief menjelaskan bahwa Beliau sangat concern
dan menganggap forum ini sangatlah penting untuk mendiskusikan kesetaraan
gender. Memang ada pro dan kontra dalam masalah gender. Ada yang berasumsi
bahwa semua hal yang berasal dari Barat itu mesti bagus. Dan ada pula
yang "alergi" semua hal yang datang dari Barat Oleh karena itu,
dibutuhkan orang yang mampu menjelaskan duduk perkaranya. Dan PSW ini
salah satu komponen yang dapat memberikan pencerahan (enligthment) dan
penjelasan kepada masyarakat luas. Penjelasan atau klarifikasi ini penting
terutama kepada mereka-mereka yang masih salah paham ataupun yang "paham"nya
masih salah, dalam memandang permasalahan gender.
Pak
Arief Furqan dalam pengarahannya mengharapkan agar dalam kegiatan ini
dapat dijelaskan secara jelas (clearly and distinctive) bagaimana posisi
gender dalam Islam, supaya tidak ada kesan bahwa kita hanya bisa "mencomot"
(mengekor) dengan Barat. Begitupula diharapkan forum ini mampu merumuskan
kebijakan apa yang perlu dibuat oleh Ditpertais untuk gender di PTAI ini.
Karena pada dasarnya Andalah (baca; para pengelola PSW) yang paham situasi
riil di lapangan. Apa yang anda lakukan, dan apa yang harus kami lakukan.
Jadi kita saling mengisi, pesan Pak Arief kepada peserta lokakarya.
Mengenai
kendala pendanaan yang seringkali menggelayuti keberadaan PSW, Pak Arief
memberikan solusi agar bisa menjalin kerjasama dengan para funding, di
samping saya nanti akan memberikan pressure kepada para Rektor dan Ketua
STAIN, supaya memberikan atensi khusus kepada PSW dan sejenisnya. Akan
tetapi, jangan sampai terjebak kepada materi semata, karena bagi saya
ruh PSW itu perjuangan.
Komitmen
Bapak Direktur, terhadap pemberdayaan perempuan ini terlihat sangat jelas,
sehingga merupakan modal politik bagi peserta untuk merumuskan secara
sistematis tentang arah kebijakan Ditpertais, mau kemana dan kaya apa?
Tentu perlu ada rumusan yang jelas dan bisa dilaksanakan.
Sedangkan
Ibu Musdah Mulia, APU dalam penyampaian materinya yang berjudul "Relasi
Gender di PTAI; Kenyataan dan Kemestian di masa Mendatang" menyebutkan
bahwa sensifitas Gender di Indonesia dan PTAI pada khususnya masih sangat
memprihatinkan. Menurutnya dari struktur anatomi yang ada di PTAI terlihat
bahwa dari 13 IAIN yang ada hampir 100 persen Rektornya adalah laki-laki
(maskulin, begitupula dari 33 STAIN hanya satu yang merupakan wanita.
Bu Musdah, yang banyak menyajikan data ketimpangan gender di PTAI ini
menekankan adanya perpektif gender yang harus dimiliki oleh setiap orang.
Menurut
Musdah Mulia, PSW harus bisa menjadi semacam instansi yang dapat melakukan
"koreksi" terhadap pengembangan ilmu yang sangat maskulin, begitupula
merespon isu-isu yang mengemuka di masyarakat, terutama "ketimpangan",
dalam keluarga, perkawinan dll.
Dalam
rapat pleno lokakarya ini telah dihasilkan rekomendasi dan tawaran kebijakan
Ditpertais untuk PTAI dalam pengembangan kesetaraan gender ke depan. Salah
satu platform yang mendasarinya adalah perlunya penyadaran akan sensifitas
gender di PTAI. Dan yang paling penting adalah back up dari Ditpertais
dengan memberikan treatmen khusus kepada PSW melalui pembukaan subdit
khusus bagi PSW, at least, prioritas penelitian yang mensyaratkan adanya
komitmen kesadaran gender di dalamnya. Kita tunggu saja bagaimana perkembangan
selanjutnya.***
|