|
Swara
Ditpertais: No.
3 Th. I, 24 November 2003
|
MAKNA
SOSIALISASI PENGOLAHAN DATA EMIS (KILAS BERITA)
Tujuan
diadakannya sosialisasi pengolahan data Emis (Education Management Information
System) pada dasarnya mengarah pada suatu komitmen Ditpertais untuk selalu
meningkatkan kualitas pendidikan Tinggi Agama Islam. Kegiatan yang diadakan
di Bekasi pada tanggal 15-17 September 2003 ini, menurut ketua panitia
(Drs. Mizan Sya'roni, M.A) mempunyai beberapa target spesifik antara lain.
Pertama, berupaya meningkatkan kemampuan pegawai yang menangani masalah
pendidikan, terutama dalam rangka realisasi aplikasi informasi pendidikan
secara on line. Kedua, terwujudnya SDM yang berkualitas sesuai dengan
tantangan dan tuntutan perkembangan tehnologi informasi modern.
Di
samping itu, secara umum kegiatan ini mempunyai target ideal , yakni tersedianya
pegawai yang terampil dan berdedikasi tinggi. Dengan adanya pegawai yang
terampil, maka diharapkan ke depan PTAI akan benar-benar mendapatkan pengakuan
(justifikasi) sebagai Peguruan Tinggi yang terbaik.
Kegiatan
yang diikuti oleh UIN/STAIN dan PTAIS Se-Jawa, Kalimantan, NTT dan NTB
ini di buka langsung oleh Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam. Dalam
sambutannya, Bapak Direktur H. Arief Furqan, M.A, Ph.D mengingatkan kepada
seluruh peserta supaya lebih serius. Karena kegiatan menuntut adanya akuntabilitas,
terlebih karena kegiatan ini terlaksana dengan memakai uang rakyat, oleh
karena itu mohon untuk lebih pro aktif dan bertanya kalau belum paham.
Karena kalau kita tidak dapat mempertanggung jawabkannya, maka jangan
harap akan dapat kepercayaan untuk mendapatkan pendanaan lagi.
Menurut
Pak Direktur kita seringkali "klabakan" dalam hal data, bahkan
seringkali kalau ditanyai DPR berapa jumlah PTAI yang ada, kita tidak
dapat memberikan data yang komprehensif, apalagi kalau jawabannya tidak
tahu, kan tidak lucu. Data ini pada gilirannya juga bisa digunkan menjadi
landasan untuk meminta dan mendapatkan anggaran, jadi data harus akurat.
Apalagi dewasa ini kebijakan Pemerintah tidak lagi membedakan PTAIS dan
Negeri, jadi, tolong anda serius untuk mendata Perguruan Tinggi masing-masing.
Tidak boleh hanya "klaim data", akan tetapi buktinya tidak ada.
Belum
lagi dewasa ini kita juga dihadapkan kepada persoalan begitu membludaknya
Prodi (program studi). Untuk membuka Program Studi, harus mendapatkan
izin lebih dahulu. Jangan meminta izin, akan tetapi program telah jalan.
Mengapa harus izin? Untuk menjaga mutu. Lulusan kita itu sudah banyak
dikeluhkan oleh para DPR. Masak ada yang bilang kita itu hanya mencetak
"ahli agama terjemahan". Itu namanya tantangan buat kita, bagaimana
mampu menghasilkan out put yang direspon positif oleh masyarakat.
Esensi
kegiatan sosialisasi ini, secara umum berupaya mendesain laporan secara
digital, dengan memanfaatkan tehnologi tinggi melalui internet. Jadi data
PTAI bisa ditransfer ke dalam bentuk database, sehingga kalau ada masalah,
bisa langsung dicek. Karena semuanya menggunakan perangkat komputer, maka,
PTAI harus mempersiapkan SDM yang mampu mengirimkan data yang benar. Jadi,
semua pengumuaman, baik pengumuman beasiswa, bantuan dll, akan ditransfer
melalui website.
Di akhir sambutannya Bapak Direktur H. Arief Furqan, M.A, Ph.D mengharapkan
agar tahun depan semua PTAI sudah mulai mengirimkan datanya melalui internet.
Karena kalau tidak laporan, berarti sudah hilang dari peredaran. Kalau
sudah hilang dari peredaran itu sama saja artinya PTAI yang bersangkutan
tidak membutuhkan bantuan pendanaan.
Dari
beberapa narasumber yang ada seperti Bapak Masyhuri, M.Pd, memberikan
kritikan bahwa masyarakat kita (termasuk civitas akademika), belum termasuk
dalam kategori masyarakat yang mementingkan data dan informasi (data minded
dan information minded). Data dan informasi dianggap sebagai sesuatu yang
tidak ada signifikansinya. Padahal, kalau kita mau membuat kebijakan pendidikan,
maka pijakannya tidak lain adalah data dan informasi. Kalau data dan informasinya
tidak akurat atau salah, maka ibarat dokter resepnya tidak akan "ampuh"
untuk digunakan. Narasumber lainnya Dra. Imas Maesaroh, M.Si, juga memberikan
masukan yang menarik. Yakni paradigma baru dalam memandang perpustakaan.
Sebagai gudangnya ilmu.
Pembicara
lain yang tampil adalah Rosidin, Rudi, dkk yang menyampaikan materi seputar
bagaimana caranya mentransfer data melalui internet. Acara sosialisasi
ini ditutup oleh Drs. Mundzier Suparta, M.A, yang kembali mengingatkan
agar peserta memanfaatkan pertemuan ini secara optimal, untuk selanjutnya
dikembangkan di kampusnya masing-masing.***
|