Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

MAKNA SOSIALISASI PENGOLAHAN DATA EMIS (KILAS BERITA)

Swara Ditpertais: No. 3 Th. I, 24 November 2003

MAKNA SOSIALISASI PENGOLAHAN DATA EMIS (KILAS BERITA)

Tujuan diadakannya sosialisasi pengolahan data Emis (Education Management Information System) pada dasarnya mengarah pada suatu komitmen Ditpertais untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan Tinggi Agama Islam. Kegiatan yang diadakan di Bekasi pada tanggal 15-17 September 2003 ini, menurut ketua panitia (Drs. Mizan Sya'roni, M.A) mempunyai beberapa target spesifik antara lain. Pertama, berupaya meningkatkan kemampuan pegawai yang menangani masalah pendidikan, terutama dalam rangka realisasi aplikasi informasi pendidikan secara on line. Kedua, terwujudnya SDM yang berkualitas sesuai dengan tantangan dan tuntutan perkembangan tehnologi informasi modern.

Di samping itu, secara umum kegiatan ini mempunyai target ideal , yakni tersedianya pegawai yang terampil dan berdedikasi tinggi. Dengan adanya pegawai yang terampil, maka diharapkan ke depan PTAI akan benar-benar mendapatkan pengakuan (justifikasi) sebagai Peguruan Tinggi yang terbaik.

Kegiatan yang diikuti oleh UIN/STAIN dan PTAIS Se-Jawa, Kalimantan, NTT dan NTB ini di buka langsung oleh Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam. Dalam sambutannya, Bapak Direktur H. Arief Furqan, M.A, Ph.D mengingatkan kepada seluruh peserta supaya lebih serius. Karena kegiatan menuntut adanya akuntabilitas, terlebih karena kegiatan ini terlaksana dengan memakai uang rakyat, oleh karena itu mohon untuk lebih pro aktif dan bertanya kalau belum paham. Karena kalau kita tidak dapat mempertanggung jawabkannya, maka jangan harap akan dapat kepercayaan untuk mendapatkan pendanaan lagi.

Menurut Pak Direktur kita seringkali "klabakan" dalam hal data, bahkan seringkali kalau ditanyai DPR berapa jumlah PTAI yang ada, kita tidak dapat memberikan data yang komprehensif, apalagi kalau jawabannya tidak tahu, kan tidak lucu. Data ini pada gilirannya juga bisa digunkan menjadi landasan untuk meminta dan mendapatkan anggaran, jadi data harus akurat.
Apalagi dewasa ini kebijakan Pemerintah tidak lagi membedakan PTAIS dan Negeri, jadi, tolong anda serius untuk mendata Perguruan Tinggi masing-masing. Tidak boleh hanya "klaim data", akan tetapi buktinya tidak ada.

Belum lagi dewasa ini kita juga dihadapkan kepada persoalan begitu membludaknya Prodi (program studi). Untuk membuka Program Studi, harus mendapatkan izin lebih dahulu. Jangan meminta izin, akan tetapi program telah jalan. Mengapa harus izin? Untuk menjaga mutu. Lulusan kita itu sudah banyak dikeluhkan oleh para DPR. Masak ada yang bilang kita itu hanya mencetak "ahli agama terjemahan". Itu namanya tantangan buat kita, bagaimana mampu menghasilkan out put yang direspon positif oleh masyarakat.

Esensi kegiatan sosialisasi ini, secara umum berupaya mendesain laporan secara digital, dengan memanfaatkan tehnologi tinggi melalui internet. Jadi data PTAI bisa ditransfer ke dalam bentuk database, sehingga kalau ada masalah, bisa langsung dicek. Karena semuanya menggunakan perangkat komputer, maka, PTAI harus mempersiapkan SDM yang mampu mengirimkan data yang benar. Jadi, semua pengumuaman, baik pengumuman beasiswa, bantuan dll, akan ditransfer melalui website.
Di akhir sambutannya Bapak Direktur H. Arief Furqan, M.A, Ph.D mengharapkan agar tahun depan semua PTAI sudah mulai mengirimkan datanya melalui internet. Karena kalau tidak laporan, berarti sudah hilang dari peredaran. Kalau sudah hilang dari peredaran itu sama saja artinya PTAI yang bersangkutan tidak membutuhkan bantuan pendanaan.

Dari beberapa narasumber yang ada seperti Bapak Masyhuri, M.Pd, memberikan kritikan bahwa masyarakat kita (termasuk civitas akademika), belum termasuk dalam kategori masyarakat yang mementingkan data dan informasi (data minded dan information minded). Data dan informasi dianggap sebagai sesuatu yang tidak ada signifikansinya. Padahal, kalau kita mau membuat kebijakan pendidikan, maka pijakannya tidak lain adalah data dan informasi. Kalau data dan informasinya tidak akurat atau salah, maka ibarat dokter resepnya tidak akan "ampuh" untuk digunakan. Narasumber lainnya Dra. Imas Maesaroh, M.Si, juga memberikan masukan yang menarik. Yakni paradigma baru dalam memandang perpustakaan. Sebagai gudangnya ilmu.

Pembicara lain yang tampil adalah Rosidin, Rudi, dkk yang menyampaikan materi seputar bagaimana caranya mentransfer data melalui internet. Acara sosialisasi ini ditutup oleh Drs. Mundzier Suparta, M.A, yang kembali mengingatkan agar peserta memanfaatkan pertemuan ini secara optimal, untuk selanjutnya dikembangkan di kampusnya masing-masing.***