Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Penyempurnaan Rancangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) PTAI oleh Team Pakar

Swara Ditpertais: No. 3 Th. I, 24 Nopember 2003

Penyempurnaan Rancangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) PTAI oleh Team Pakar

Dalam kehidupan akademik, keberadaan kurikulum memegang peranan yang sangatlah penting. Salah satu di antaranya adalah sebagai alat acuan guna mencapai sasaran pendidikan sesuai dengan bidang keilmuwan yang diharapkan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau ada statement yang mengatakan bahwa "potret" dari hasil pendidikan, baik dan buruknya out put mahasiswa dapat dicandra melalui design kurikulum apa yang diajarkan oleh mereka. Karena ibarat kehidupan, eksistensi kurikulum adalah udara segar yang kita hirup. Jadi, kalau udaranya kotor-- tidak bersih--, maka jelas akan mempengaruhi kesehatan kita.Atas dasar pemikiran itulah, dan juga menyadari adanya beberapa "keluhan" dari berbagai lapisan masyarakat berkaitan lulusan PTAI yang kurang memiliki basis kompetensi yang memuaskan, maka Ditpertais memfasilitasi beberapa kali pertemuan yang tujuannya tidak lain untuk memperbaiki kualitas pendidikan dengan mengadakan kajian ulang terhadap kurikulum yang sudah ada melalui pendekatan kurikulum berbasis kompetensi (KBK).

Kajian ulang di atas, dilakukan dengan menghimpun KBK PTAI dan kurikulum inti masing-masing prodi pada PTAI supaya semakin terarah (well-focused). Dengan demikian, diharapkan ke depan PTAI akan lebih maksimal dalam menjawab tantangan dan dinamika masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan cepat (massif). Pertemuan yang berkaitan dengan pembenahan kurikulum itu sendiri sudah beberapa kali diadakan, bahkan sudah menghasilkan semacam draft rancangan KBK yang telah didiskusikan oleh para pimpinan dan ketua prodi pada UIN, IAIN dan STAIN. Dan pertemuan yang dilakukan pada awal bulan oktober 2003 di hotel Setiabudi baru-baru ini merupakan follow up dalam rangka mempertajam dan mem- final kan rancangan KBK yang sudah ada oleh team Pakar.

Oleh karena itu, secara spesifik pertemuan yang diadakan di Hotel Setiabudi kali ini, menurut Kasubdit Ditpertais (Drs. Badri H.E, M.Pd) mempunyai tujuan untuk menghimpun masukan-masukan dari berbagai pemikiran pakar untuk menyempurnakan KBK PTAI yang sudah ada.

Dalam pertemuan tersebut Dirjen Bagais (Prof. A. Qodri Azizy, M.A, Ph.D) memberikan beberapa pengarahan antara lain bahwa forum ini harus bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, karena kalau ingin memperbaiki lulusan PTAI salah satu di antara solusinya adalah dengan peyempurnaan kurikulum. Dan hal ini nantinya akan banyak dirasakan manfaatnya oleh generasi berikutnya. Untuk lebih membumikan kajian keilmuwan di PTAI, Pak. Qodri mengusulkan agar prodi-prodi yang masih memakai istilah arab segera diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, akan tetapi tentu tetap harus mengacu pada landasan keilmuwan yang ada, seperti Muammalah, Jinayah Siyasah . Begitu pula prodi-prodi yang masih overlap kompetensi kajiannya, seperti Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan Kependidikan Islam (KPI) yang tidak jelas perbedaannya, Bahasa dan Sastra Arab dan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan lain sebagainya.***