|
Swara
Ditpertais: No.
3 Th. I, 24 Nopember 2003
|
Meneropong
Kegiatan Pasca Orientasi Manajerial bagi PTAIS
Kegiatan orientasi
bagi PTAIS yang telah dilaksanakan di tiga wilayah Indonesia baru-baru
ini, banyak mendapatkan respon yang positif dari para peserta. Terutama,
materi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dirasa sangat urgen dalam
rangka mencapai target quality education. Sebagaimana diketahui, kegiatan
ini secara garis besar adalah berupaya meningkatkan wawasan dan kemampuan
pimpinan PTAIS dalam melakukan pengelolaan lembaga Pendidikan Tinggi Agama
Islam secara lebih profesional dan visioner. Dengan demikian, maka para
pimpinan PTAIS, akan dapat memiliki kompetensi dalam meng-handle PTAIS,
sesuai dengan kondisi dan tantangan yang ada. Terlebih pasca disahkannya
UU Sisdiknas tahun 2003 yang meletakkan mutu pendidikan sebagai bingkai
(frame work) yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apapun bentuk sekolahan,
baik swasta ataupun negeri, hanya soal pilihan (choices). Akan tetapi,
yang paling penting adalah harus bisa menawarkan mutu yang menjanjikan.
Oleh karena itu, ada sesi khusus yang disampaikan oleh Direktur Jenderal
Kelembagaan Agama Islam, Prof. Dr. A. Qodri Azizy, M.A. tentang arah kebijakan
PTAI ke depan. Begitupula masukan dari H. Arief Furqan, MA, P.hD mengenai
arah dan pengembangan PTAI ke depan. Menurut Dirjen, sudah semestinya
para penyelenggara PTAI mengadakan evaluasi diri, apakah keberadaan PTAI
yang banyak itu sudah match dengan kepentingan masyarakat (pasar), atau
tidak? Apakah profil mereka sudah seperti yang kita harapkan atau (diharapkan
masyarakat), terutama bagaimana setelah lulus? Kalau keilmuwan yang mereka
miliki tidak mampu menjadikan mereka "hidup", ataupun survive,
apalagi tidak bisa bertarung dengan lulusan Nasional dan Internasional,
maka itu bisa menjadi sebuah indikator akan kegagalan. Oleh karena itu,
perlu dipikirkan design kurikulum baru yang mengkaji Islam untuk Hidup
di Indonesia, bukan di "dunia yang lain". Untuk mengkaji alam
fikiran lain, bisa dipertajam lagi pada tingkat S.2 ataupun S.3, akan
tetapi untuk S.1, cukup untuk memberikan dasar alam fikir ke-Indonesiaan.
|