|
Swara Ditpertais: No. 27 Th. III, 02 Mei 2005
|
AKUNTABILITAS DAN TRASPARANSI PROSES SELEKSI PERMOHONAN BEASISWA (Wawancara dengan Direktur Pertais dan Kasubdit Ketenagaan)
Direktorat
Perguruan Tinggi Agama Islam untuk anggaran tahun 2005 memberikan subsidi
pendidikan kepada mahasiswa program pasca sarjana untuk strata S2 dan
S3. Bantuan pendidikan ini bertujuan untuk meringankan beban bagi yang
melanjutkan studi di Program Pascasarjana. Namun, karena sifatnya sebagai
bentuk bantuan, maka tidak bisa menanggung semua biaya keseluruhan pendidikan
dan penelitian. Keseluruhan berkas yang masuk sampai batas waktu usulan
berdasarkan sumber dari subdit ketenagaan mencapai 1835 proposal.
Swara Ditperta, diwakili oleh Ubaidillah Achmad, pada edisi ini melakukan
wawancara khusus dengan Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, Arief Furqan
dan M. Jufri Dolong, Kasubdit Ketenagaan, seputar proses bantuan beasiswa
untuk dosen dan pengelola PTAI. Dasar dari wawancara ini, karena banyaknya
pihak-pihak tertentu yang menanyakan transparansi dan akuntabilitas proses
seleksi proposal bantuan beasiswa.
Wawancara ini diharapkan dapat menjawab keraguan masyarakat akademik terhadap
proses seleksi tersebut.
Swara Ditperta :
Ada anggapan bahwa standar penerimaan beasiswa tidak jelas? Bagaimana
menurut Bapak?
Direktur Perta :
Kami kira tidak demikian. Sebab, selama ini kita telah memberikan beasiswa
didasarkan pada kriteria yang ketat. Dan kriteria ini tetap kita pertahankan
sampai sekarang. Misalnya, Indeks Prestasi (IP) akan diambil dari rata-rata
yang tertinggi, Universitas atau Perguruan Tinggi tempat belajar harus
bermutu, seperti UIN, UI, UGM, dan IAIN. Bagi yang sudah semester akhir
dan belum pernah memperoleh beasiswa dari Ditperta Islam akan diprioritaskan
. Disamping standar kriteria dimaksud, juga ditekankan bagi mereka yang
mengajar di salah satu PTAIS di bawah Koordinasi Ditperta. Selama ini,
yang mendapatkan beasiswa masih terbatas pada dosen yang mengabdikan ilmunya
di PTAI.
Swara Ditperta:
Bagaimana menangani banyaknya proposal yang masuk?
Direktur Perta:
Pertama yang perlu diingat, sekarang ini Ditperta Islam akan menambah
jumlah penerima beasiswa lebih banyak dibanding dengan tahun lalu. Sampai
pada akhir penutupan penerimaan proposal yang masuk di Ditperta Islam,
proposal yang sedang diproses mencapai 1835 pemohon. Diperkirakan jumlahnya
akan di tambah melebihi rencana semula. Namun hingga sekarang belum jelas
jumlah pastinya. Adapun terkait dengan banyaknya proposal yang masuk,
kita akan menggunakan sistem komputerisasi. Ini untuk memudahkan pengecekan
terhadap proposal yang masuk. Sehingga, semua kriteria pemohon dapat dicek
secara langsung dalam sistem yang sudah terprogram.
Swara Ditperta:
Pada anggaran 2004, diumumkan via internet, namun ada beberapa nama penerima
beasiswa, sampai sekarang belum mengambil uangnya?
Direktur Perta:
APBN berlaku untuk satu tahun fiskal berjalan. Sehingga, seluruh uang
negara sesuai batas waktu yang sudah ditentukan yang tidak bisa dilaksanakan
kami kembalikan ke kas Negara.
Swara Ditperta :
Rencana ke depan?
Direktur Perta :
Rencana ke depan program pemberian beasiswa Ditperta Islam ingin seperti
beasiswa yang diberikan pihak Dikti, yaitu beasiswa penuh bagi mahasiswa
program pascasarjana.
Untuk memperkuat petikan wawancara dengan Direktur Perguruan Tinggi Agama
Islam di atas, Swara Ditperta melakukan wawancara dengan M. Jufri Dolong,
Kasubdit Ketenagaan (Kasubdit III), yang menangani bantuan beasiswa Direktorat
Perguruan Tinggi Agama Islam. Berikut petikan hasil wawancara di maksud.
Swara Ditperta :
Tercatat proposal permohonan beasiswa sudah mencapai 1835?
Kasubdit III :Benar. Dan semua akan dievaluasi. Kami benar-benar bekerja
sebagai pelayan masyarakat akademik. Oleh karena itu, dalam evaluasi ini,
kami akan mengklasifikasi sesuai dengan perioritas IP Komulatif yang tertinggi,
Universitas atau Perguruan Tinggi tempat belajar harus bermutu sesuai
yang disebut Direktur dalam wawancara di atas.
Swara Ditperta :
Format seleksinya seperti apa?
Kasubdit III :
Format seleksi yang kami lakukan melanjutkan tahun anggaran sebelumnya.
Dan tetap didasarkan pada akuntabilitas kinerja Direktorat.
Swara Perta :
Bagaimana publik akan percaya?
Kasubdit III :
Inilah tantangan kami untuk meyakinkan publik.
Swara Ditperta :
Buktinya ?
Kasubdit III :
Pertama, Sekarang ini bagi yang belum berkesempatan mendapatkan beasiswa,
disebabkan tidak memenuhi kualifikasi penerimaan beasiswa Ditperta Islam,
akan dikirimi tembusan dengan menunjukkan alasannya, mengapa permohonannya
belum bisa dipenuhi. Kedua, Penilaian sudah dilakukan melalui lintas Direktorat.
Ketiga, Sudah dipublikasikan melalui Internet.
Swara Ditperta :
Mengapa harus ada balasan untuk pemohon yang belum berkesempatan mendapatkan
beasiswa?
Kasubdit III :
Alasannya sangat sederhana, untuk menghindari fitnah atau image yang buruk
tentang kinerja staf Ditperta. Kedepan untuk memudahkan informasi diharapkan
setiap pemohon dapat mencantumkan alamat e-mail mereka.
Swara Ditperta :
Apa target memberikan bantuan?
Kasubdit III :
Prinsip bantuan untuk meringankan beban bagi yang melanjutkan studi S2,
S3. Sebagai bentuk bantuan tentu tidak seluruhnya memenuhi seluruh kebutuhan.
|