Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Model Kerja Pengabdian pada Masyarakat PTAI


Swara Ditpertais: No. 27 Th. III, 02 Mei 2005

MODEL KERJA PENGABDIAN PADA MASYARAKAT PTAI

Keberadaan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Salah satu pertanyaan penting adalah apa yang dapat dirasakan masyarakat dari PTAI? Pertanyaan ini menjadi pembahasan serius dalam lokakarya yang diadakan oleh subdit penelitian Pengabdian Masyarakat dan kemasyarakatan, 3 Mei 2005 di Wisma Sejahtera, Cipete. Pertanyaan ini sangat terkait dengan konstribusi PTAI terhadap masyarakat. Oleh karena itu, Arief Furqan, Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, dalam pembukaannya menegaskan, bahwa sudah saatnya PTAI melakukan pengabdian pada masyarakat yang benar-benar dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Selain Arief Furqan, pada yang bertema: “Konsultasi dan Evaluasi Penyelenggaraan Pengabdian pada Masyarakat pada UIN, IAIN, STAIN, PTAIS” ini juga menghadirkan tiga pemandu dari LSM. Kehadiran Totok Raharjo, Masykur Maskub, dan Elyasa KH Darwis sebagai pemandu, bukan untuk menghegemoni atau menggurui para peserta, tetapi diakui oleh ketiganya sendiri untuk memberikan pengalaman kerja di LSM kepada para peserta. Dan sebaliknya, dari ketiga pemandu berharap akan dapat mengambil pengalaman dari peserta utusan PTAI yang hadir dalam kegiatan ini.

Ketiga narasumber memberikan dasar filosofis yang sama tentang pentingnya melakukan pemberdayaan kepada masyarakat. Demikian ini didasarkan pada kondisi masyarakat yang masih memprihatinkan, walaupun di satu sisi memiliki potensi kemajuan yang dapat digerakkan, namun di sisi lain potensi ini terpendam. Pemerintah dinilai belum secara serius memperhatikan nasib masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi, politik dan sosial budaya.

Harus diakui selama ini model-model pendampingan dan pemberdayaan di tengah masyarakat banyak dilakukan oleh LSM, baik lokal maupun nasional. Tentu saja, pola pendampingan dan pemberdayaanyang dilakukan oleh pihak LSM ini bertujuan menggerakkan potensi masyarakat yang masih terpendam, baik potensi masyarakat di bidang politik, ekonomi dan peran-peran sosial masyarakat yang lebih berperadaban.

Menurut Muslim A. Kadir, pola pengabdian pada masyarakat PTAI selama ini dilakukan tanpa mempunyai arah yang jelas bahkan seolah-olah berjalan sendiri, tidak terkait sama sekali dengan Tridarma Perguruan Tinggi, serta secara holistik terlepas dari konstruk epistimologi, paradigma dan visi tertentu yang dipilih sebagai acuan seluruh gerak dan dinamika kegiatannya.

Lebih lanjut menurut pakar Filsafat Islam dari STAIN Kudus, Muslim A. Kadir, “Paradigma dan pendekatan dalam KKN konvensional adalah model top down sehingga tidak mendidik, terkesan banyak menggurui dan masyarakat lokasi KKN dipandang sebagai objek semata, bukan sebagai subyek pembangunan.” Harus diakui,masyarakat tidak memerlukan pamer kepintaran dan evaluasi dari pihak PTAI. Yang dibutuhkan adalah bagaimana potensi yang ada selama ini dapat digerakkan sehingga masyarakat akan maju dan membangun peradaban dengan kulturnya sendiri. Paradigma menggerakkan masyarakat dan membangun peradaban masyarakat dengan kulturnya sendiri seperti ini yang menjadi model kerja LSM. Oleh karena itu, menurut Muharrom, tidak ada salahnya jika model pengabdian pada masyarakat di lingkungan PTAI, mengambil model-model kerja pengabdian pada masyarakat yang selama ini dilakukan oleh LSM. (Ubay)