|
Swara Ditpertais: No. 27 Th. III, 02 Mei 2005
|
MENGUSUNG GERAKAN KRITIS DI PTAI
Tidak
mudah mengubah paradigma kegiatan di lingkungan PTAI. Salah satu paradigma
yang sulit dirubah di lingkungan PTAI adalah terkait dengan pola pengabdian
masyarakat yang menggantungkan pada proyek pemerintah, dengan model pendekatan
top down, terkesan banyak menggurui, masyarakat dipandang sebagai objek
bukan sebagai subyek pembangunan. Demikian ini yang justru menyebabkan
tidak efektifnya tridarma perguruan tinggi.
Tidak efektifnya tridarma perguruan tinggi inilah yang menjadi latar belakang
diselenggarakannya pada tanggal 3 Mei 2005 di Wisma Sejahtera, Cipete,
kegiatan Temu Pengelola Pengabdian pada Masyarakat di lingkungan PTAI.
Banyak hal terkait dengan pengabdian masyarakat di lingkungan PTAI yang
belum dapat dilaksanakan. Bahkan, terkesan kita abaikan. Hal yang menyebabkan
kurang berfungsinya pengabdian pada masyarakat di lingkungan PTAI, sebagaimana
diakui oleh peserta dari Porwokerto, karena kecenderungan paham kemapanan
yangsudah tertanam ditengah birokrasi.
Oleh karena itu, kita perlu mengusung gerakan kritis di PTAI. Karena,
sebagaimana ditegaskan Totok Raharjo, salah satu nara sumber dalam kegiatan
ini, jika tidak menggunakan cara seperti ini, selamanya pengabdian pada
masyarakat di lingkungan PTAI akan berjalan lamban dan sangat elitis.
Pengabdian masyarakat yang menggantungkan pada proyek pemerintah, dengan
model pendekatan top down, terkesan banyak menggurui. Masyarakat dipandang
sebagai objek bukan sebagai subyek pembangunan.
Secara konkrit, ditegaskan oleh Direktur Lakpesdam NU, bahwa melakukan
pengabdian pada masyarakat dapat menggunakan pola-pola yang selama ini
efektif, yaitu dengan membentuk forum warga, pengelompokan warga pada
suatu wilayah atau sektor kepentingan tertentu yang mengorganisasi diri
untuk tujuan tertentu. Antara lain penyediaan ruang bagi warga yang berada
pada posisi marginal, penguatan solidaritas warga, penyelesaianpersoalan
warga, penguatan posisi warga dalam pengambilan keputusan publik, pemberdayaan
ekonomi warga.
Terbentuknya forum warga karena masalah yang bersifat internal, eksternal,
atau internal-eksternal. Masalaha internal itu antara lain, kebutuhan
peningkatan ekonomi warga, hasrat partisipasi nyata dalam proses pembangunan.
Masalah eksternal seperti adanya program pemerintah atau pengusaha yang
memerlukan partisipasi warga. Sedangkan, prinsip-prinsip yang harus ada
pada forum warga ialah : Partisipatoris, transparan, inklusif, pemihakan
kepada pihak marginal, transformatif, lokalitas. (Ubay)
|