Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Metode Penelitian Kritis dan Prinsip-prinsip Participatory Action Research (PAR)


Swara Ditpertais: No. 24 Th. III, 03 Februari 2005

POTRET PENDIDIKAN TINGGI AGAMA ISLAM
DI INDONESIA (Pandangan Orang Luar)

Pengantar : Dalam tulisan ini akan dipaparkan salah satu pendapat dan pengamatan dari orang luar dalam mencermati keberadaan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) secara objektif. Overview dari outsider ini barangkali bisa dijadikan sebagai salah satu masukan bagaimana idealnya menempatkan PTAI di tengah-tengah tantangan global seperti sekarang ini. Berikut ini merupakan petikan yang dirangkum dari pendapatnya Frans Magnis Suseno. Menurutnya Islam Indonesia sekarang ini berada dalam posisi bagus (exellence position) karena sebagian besar sudah lama menempuh kebijakan keterbukaan yang perlu untuk dipertahankan dan dikembangkan. Pendidikan Tinggi Islam mestinya menghasilkan orang-orang intelektual maupun ahli-ahli kelas wahid Internasional yang sepenuhnya terlibat dalam komunikasi lintas agama dan lintas benua. Untuk itu, perlu dikembangkan suasana keterbukaan ke dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam.Selanjutnya dapat dibaca argumennya di bawah ini.

Dunia Pendidikan Tinggi seringkali masih disalahpahami sebagai tempat untuk memperisapkan diri dalam mencari pekerjaan oleh masyarakat. Padahal keberadaan Pendidikan Tinggi tidaklah sekedar untuk mencari kerja. Konsep ini dulu pernah diujicobakan dan diistilahkan dengan konsep link and match-nya. Hal ini dikarenakan dunia Pendidikan Tinggi pada dasarnya merupakan wahana intelektualitas bangsa.

Pendidikan Tinggi, selain mendidik orang yang kemudian diharapkan menyumbang sesuatu bagi kehidupan masyarakat, dunia pendidikan Tinggi, dunia universitas dan pendidikan akademik, juga merupakan salah satu tempat, barangkali yang terpenting untuk memajukan ilmu-ilmu. Selain itu dunia pendidikan Tinggi adalah tempat dimana para intelektual tertajam berdiskursus merangsang kreativitas/pemikiran baru dan pemikiran kritis atau mampu mendekonstruksi terhadap pemikiran palsu (in the old fashion).

Oleh karena itu tujuan pendidikan adalah luas. Harus ada semacam keseimbangan antara pencapaian kompetensi (ilmiah) yang state of the art (yang terbaik yang tersedia di pasar dunia). Tetapi, sekaligus dunia pendidikan tinggi menyediakan ruang diskursus bebas.

Mencermati Keberadaan Pendidikan Tinggi Islam

Ada suatu ancaman yang perlu bayak mendapatkan perhatian bagi semua agama. Bahaya itu adalah perpektif ke belakang dan atau ke masa lampau. Perspektif ini tak dapat dihindari karena agama tidak boleh dipotong dari akarnya, dan akarnya selalu di masa lampau. Karena itu, setiap agama bergulat dengan tantangan untuk menyesuaikan diri tentang tuntutan dan tantangan zaman dengan tetap setia pada akar-akarnya. Maka jelasnya, baik sikap yang semata-mata konservatif maupun yang semata-mata progresif tidak memadai. Umat beragama harus dua-duanya.

Akan tetapi, bagi Islam tantangan kita sekarang di tahun 2005, pada permulaan abad ke 21 adalah lebih besar. Islam ditantang untuk tidak menutup diri (ekslusif), tidak berfokus pada dirinya sendiri, melainkan membuka diri dalam komunikasi intelektual, cultural dan ilmiah (dan tentu juga,politis, ekonomis). Agama dalam konteks jaringan dengan dunia Internasional, akan menjadi partner dengan dunia lain dalam menentukan arah abad ke-21.

Dalam hal ini cina dapat menjadi contoh. Cina adalah salah satu budaya tertua di dunia. Tetapi permulaan modernitas mereka ketiduran. Modernitas dimulai di Eropa. Cina, meskipun tidak langsung menjadi jajahan, namun di abad ke-19 direndahkan dan dieksploitasi oleh Eropa. Dan di abad ke-20 Cina mengalami pergolakan-pergolakan luar biasa. Akan tetapi cina seakan-akan tidak dendam, tidak mengeluh, melainkan berbuat. Sejak Deng Xiao Ping mengambil alih kekuasaan tahun 1970-an, mereka setiap tahun mengirim ratusan ribu mahasiswa ke universitas-universitas terbaik di seluruh dunia, termasuk ke AS, yang menurut ideology komunis merupakan induk “kapitalisme dunia”. Sekarang, Cina yang beberapa tahun lalu merupakan Negara berkembang, sekarang justru menjadi nomor wahid dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dalam perekonomian dan sepenuhnya diakui dunia Internasional. Hal itu menjadi mungkin karena mereka penuh percaya diri (fully confidence), membuka diri dan mau belajar dari dunia. Sekarang tak ada Negara di dunia, termasuk AS, yang dapat mengabaikan Cina.

Dunia Islam perlu waspada jangan menutup diri. Mengapa itu perlu disebutkan? Karena dunia Islam sekarang merasa terpojok secara Internasional. Prasangka-prasangka anti Islam-berkaitan dengan perang melawan teror-memang ada. Tetapi jangan karena itu dunia Islam menutup diri, menjadi defensif, “mengeluh” serta mencari sumber segala masalah yang dialami di luar dirinya sendiri (meskipun sebenarnya memang banyak berasal di luar dari itu). Mengapa? Karena lantas dunia Islam tidak akan berkembang. Jadi dunia Islam jangan lumpuh oleh perasaan bahwa kami disalahpahami, bahwa ada konspirasi anti Islam dan lain sebagainya. Benar atau tidak, menunggu perbaikan sikap dunia lain tidak berguna. Dunia Islam justru harus fokus terhadap kelemahan sendiri, bukan untuk lumpuh karenanya, melainkan untuk mengatasinya, tanpa tergantung dari luar. Seperti Cina, begitu pula dunia Islam harus mengatasi prasangka-prasangka itu dengan membuka diri, mengembangkan diri, menangani secara percaya diri masalah-masalah yang dihadapi.

Pararel dengan kondisi sebagaimana disebut di atas, hal ini berarti dunia pendidikan Islam harus-- dalam pandangan penulis-- memilih sikap terbuka. Melalui dunia pendidikan tinggi kaum intelektual muslim menjadi partisipan dalam komunikasi intelektual sedunia, mereka ikut dalam diskursus-diskursus (misalnya tentang hubungan Internasional, tentang tatanan masyarakat yang adil, demokratis, maju berdasarkan jaminan hak-hak asasi manusia, tentang masalah lingkungan hidup, tentang tantangan-tantangan etika Internasional seperti cloning, genetic food dll.

Dengan demikian, maka pendidikan tinggi dunia Islam dengan sendirinya perlu segera untuk mengambil sikap landak terhadap dunia luar yang kelihatan kurang simpatik karena sikap defensif tidak efektif. Yang perlu adalah meneruskan keterbukaan dan komunikasi, menjalin hubungan institusional dan pribadi dengan dunia akademik di lain Negara. Perlu dibangun sikap mau belajar “sampai ke Cina”.

Pendidikan Tinggi Islam mestinya menghasilkan orang-orang intelektual maupun ahli-ahli kelas wahid Internasional yang sepenuhnya terlibat dalam komunikasi lintas agama dan lintas benua. Untuk itu, perlu dikembangkan suasana keterbukaan ke dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam. Islam di Indonesia berada dalam posisi bagus karena sebagian besar sudah lama menempuh kebijakan keterbukaan dan diskursif itu. Sikap itu perlu dipertahankan dan dikembangkan (Ubaidillah Achmad).