|
Swara Ditpertais: No. 24 Th. III, 03 Februari 2005
|
POTRET
PENDIDIKAN TINGGI AGAMA ISLAM
DI INDONESIA (Pandangan Orang Luar)
Pengantar
: Dalam tulisan ini akan dipaparkan salah satu pendapat dan pengamatan
dari orang luar dalam mencermati keberadaan Perguruan Tinggi Agama Islam
(PTAI) secara objektif. Overview dari outsider ini barangkali bisa dijadikan
sebagai salah satu masukan bagaimana idealnya menempatkan PTAI di tengah-tengah
tantangan global seperti sekarang ini. Berikut ini merupakan petikan yang
dirangkum dari pendapatnya Frans Magnis Suseno. Menurutnya Islam Indonesia
sekarang ini berada dalam posisi bagus (exellence position) karena sebagian
besar sudah lama menempuh kebijakan keterbukaan yang perlu untuk dipertahankan
dan dikembangkan. Pendidikan Tinggi Islam mestinya menghasilkan orang-orang
intelektual maupun ahli-ahli kelas wahid Internasional yang sepenuhnya
terlibat dalam komunikasi lintas agama dan lintas benua. Untuk itu, perlu
dikembangkan suasana keterbukaan ke dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam.Selanjutnya
dapat dibaca argumennya di bawah ini.
Dunia
Pendidikan Tinggi seringkali masih disalahpahami sebagai tempat untuk
memperisapkan diri dalam mencari pekerjaan oleh masyarakat. Padahal keberadaan
Pendidikan Tinggi tidaklah sekedar untuk mencari kerja. Konsep ini dulu
pernah diujicobakan dan diistilahkan dengan konsep link and match-nya.
Hal ini dikarenakan dunia Pendidikan Tinggi pada dasarnya merupakan wahana
intelektualitas bangsa.
Pendidikan
Tinggi, selain mendidik orang yang kemudian diharapkan menyumbang sesuatu
bagi kehidupan masyarakat, dunia pendidikan Tinggi, dunia universitas
dan pendidikan akademik, juga merupakan salah satu tempat, barangkali
yang terpenting untuk memajukan ilmu-ilmu. Selain itu dunia pendidikan
Tinggi adalah tempat dimana para intelektual tertajam berdiskursus merangsang
kreativitas/pemikiran baru dan pemikiran kritis atau mampu mendekonstruksi
terhadap pemikiran palsu (in the old fashion).
Oleh
karena itu tujuan pendidikan adalah luas. Harus ada semacam keseimbangan
antara pencapaian kompetensi (ilmiah) yang state of the art (yang terbaik
yang tersedia di pasar dunia). Tetapi, sekaligus dunia pendidikan tinggi
menyediakan ruang diskursus bebas.
Mencermati
Keberadaan Pendidikan Tinggi Islam
Ada
suatu ancaman yang perlu bayak mendapatkan perhatian bagi semua agama.
Bahaya itu adalah perpektif ke belakang dan atau ke masa lampau. Perspektif
ini tak dapat dihindari karena agama tidak boleh dipotong dari akarnya,
dan akarnya selalu di masa lampau. Karena itu, setiap agama bergulat dengan
tantangan untuk menyesuaikan diri tentang tuntutan dan tantangan zaman
dengan tetap setia pada akar-akarnya. Maka jelasnya, baik sikap yang semata-mata
konservatif maupun yang semata-mata progresif tidak memadai. Umat beragama
harus dua-duanya.
Akan
tetapi, bagi Islam tantangan kita sekarang di tahun 2005, pada permulaan
abad ke 21 adalah lebih besar. Islam ditantang untuk tidak menutup diri
(ekslusif), tidak berfokus pada dirinya sendiri, melainkan membuka diri
dalam komunikasi intelektual, cultural dan ilmiah (dan tentu juga,politis,
ekonomis). Agama dalam konteks jaringan dengan dunia Internasional, akan
menjadi partner dengan dunia lain dalam menentukan arah abad ke-21.
Dalam
hal ini cina dapat menjadi contoh. Cina adalah salah satu budaya tertua
di dunia. Tetapi permulaan modernitas mereka ketiduran. Modernitas dimulai
di Eropa. Cina, meskipun tidak langsung menjadi jajahan, namun di abad
ke-19 direndahkan dan dieksploitasi oleh Eropa. Dan di abad ke-20 Cina
mengalami pergolakan-pergolakan luar biasa. Akan tetapi cina seakan-akan
tidak dendam, tidak mengeluh, melainkan berbuat. Sejak Deng Xiao Ping
mengambil alih kekuasaan tahun 1970-an, mereka setiap tahun mengirim ratusan
ribu mahasiswa ke universitas-universitas terbaik di seluruh dunia, termasuk
ke AS, yang menurut ideology komunis merupakan induk “kapitalisme
dunia”. Sekarang, Cina yang beberapa tahun lalu merupakan Negara
berkembang, sekarang justru menjadi nomor wahid dalam pengembangan ilmu
pengetahuan, dalam perekonomian dan sepenuhnya diakui dunia Internasional.
Hal itu menjadi mungkin karena mereka penuh percaya diri (fully confidence),
membuka diri dan mau belajar dari dunia. Sekarang tak ada Negara di dunia,
termasuk AS, yang dapat mengabaikan Cina.
Dunia
Islam perlu waspada jangan menutup diri. Mengapa itu perlu disebutkan?
Karena dunia Islam sekarang merasa terpojok secara Internasional. Prasangka-prasangka
anti Islam-berkaitan dengan perang melawan teror-memang ada. Tetapi jangan
karena itu dunia Islam menutup diri, menjadi defensif, “mengeluh”
serta mencari sumber segala masalah yang dialami di luar dirinya sendiri
(meskipun sebenarnya memang banyak berasal di luar dari itu). Mengapa?
Karena lantas dunia Islam tidak akan berkembang. Jadi dunia Islam jangan
lumpuh oleh perasaan bahwa kami disalahpahami, bahwa ada konspirasi anti
Islam dan lain sebagainya. Benar atau tidak, menunggu perbaikan sikap
dunia lain tidak berguna. Dunia Islam justru harus fokus terhadap kelemahan
sendiri, bukan untuk lumpuh karenanya, melainkan untuk mengatasinya, tanpa
tergantung dari luar. Seperti Cina, begitu pula dunia Islam harus mengatasi
prasangka-prasangka itu dengan membuka diri, mengembangkan diri, menangani
secara percaya diri masalah-masalah yang dihadapi.
Pararel
dengan kondisi sebagaimana disebut di atas, hal ini berarti dunia pendidikan
Islam harus-- dalam pandangan penulis-- memilih sikap terbuka. Melalui
dunia pendidikan tinggi kaum intelektual muslim menjadi partisipan dalam
komunikasi intelektual sedunia, mereka ikut dalam diskursus-diskursus
(misalnya tentang hubungan Internasional, tentang tatanan masyarakat yang
adil, demokratis, maju berdasarkan jaminan hak-hak asasi manusia, tentang
masalah lingkungan hidup, tentang tantangan-tantangan etika Internasional
seperti cloning, genetic food dll.
Dengan
demikian, maka pendidikan tinggi dunia Islam dengan sendirinya perlu segera
untuk mengambil sikap landak terhadap dunia luar yang kelihatan kurang
simpatik karena sikap defensif tidak efektif. Yang perlu adalah meneruskan
keterbukaan dan komunikasi, menjalin hubungan institusional dan pribadi
dengan dunia akademik di lain Negara. Perlu dibangun sikap mau belajar
“sampai ke Cina”.
Pendidikan
Tinggi Islam mestinya menghasilkan orang-orang intelektual maupun ahli-ahli
kelas wahid Internasional yang sepenuhnya terlibat dalam komunikasi lintas
agama dan lintas benua. Untuk itu, perlu dikembangkan suasana keterbukaan
ke dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam. Islam di Indonesia berada dalam
posisi bagus karena sebagian besar sudah lama menempuh kebijakan keterbukaan
dan diskursif itu. Sikap itu perlu dipertahankan dan dikembangkan (Ubaidillah
Achmad). |