Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Metode Penelitian Kritis dan Prinsip-prinsip Participatory Action Research (PAR)


Swara Ditpertais: No. 24 Th. III, 03 Februari 2005

(Pojok Rabu-an)
MEMBANTU MENGANGKAT CITRA BANGSA INDONESIA MELALUI PENDIDIKAN

Dewasa ini ada kesan seolah-olah nothing to do kontribusi dunia Pendidikan Tinggi di Indonesia terhadap perbaikan bangsa ini ke depan, tidak terkecuali Perguruan Tinggi Islam. Ketika bangsa ini terkena krisis multidimensional, Perguruan Tinggi belum mampu menunjukkan peranannya, terutama dalam hal menyediakan alumnus yang handal. Sebagian dari masyarakat yang mampu lebih memilih menyekolahkan anaknya ke luar negeri sebagai alternatif daripada di dalam negeri. Kenyataan ini juga pararel dengan prestasi Pendidikan Tinggi di Indonesia yang semakin merosot saja rankingnya di tingkat Asia. Ini menunjukkan adanya problem kualitas Pendidikan Tinggi yang tidak tertangani dengan baik. Harus pula diakui bahwa bangsa kita (Indonesia) juga belum banyak memiliki Perguruan Tinggi yang bertaraf Internasional dan dikagumi oleh bangsa lain untuk belajar ke negara kita. Bahkan sekarang ini Perguruan Tinggi di Indonesia telah dianggap “sebelah mata” oleh negara tetangga yang dulunya justru pernah (sempat) berguru ke negara kita. Mengapa kita harus menelan pil pahit ini? Sungguh keadaan ini menyadarkan kepada kita semua agar mau bekerja ekstra keras guna mengangkat bangsa ini lebih bermartabat dan berwibawa.

Sesunggunya apa yang sedang dihadapi oleh bangsa ini adalah rendahnya kualitas bangsa Indonesia (SDM). Hal ini sebagaimana tergambar dalam laporan HDI (Human Development Index) yang menempatkan Indonesia jauh di bawah negara berkembang lainnya. Sedangkan berbicara mengenai SDM, maka yang paling bertanggungjawab salah satu diantaranya adalah Perguruan Tinggi. Karena lewat institusi inilah ribuan sarjana telah dinyatakan cakap untuk memiliki kompetensi tertentu. Namun, sayang sekali lulusan yang dihasilkan tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan. Mereka hanya diberi selembar ijazah-- sebagai tanda kelulusan—tanpa disertai skill yang memadai. Dan anehnya masyarakat kita—untuk tidak mengatakan seluruhnya—sebagian telah terkena sindrom gelar akademik yang dapat dicapai dengan cara mudah, efektif, dan efisien, meskipun tanpa proses perkuliahaan yang memadai. Di sinilah perguruan tinggi pada akhirnya hanya menjadi fenomena “pemberi gelar” tanpa diikuti intelectual effect kepada mahasiswa yang bersangkutan.

Problem lain yang cukup krusial dalam lapangan Perguruan Tinggi adalah belum terintegrasinya character bulilding atau moralitas out put Perguruan Tinggi. Ini merupakan kesempatan emas bagi PTAI dan PAI pada PTU untuk dapat mengisi harapan tersebut. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D bahwa segela pekerjaan yang dilakukan harus dapat membuat pekerjaan tersebut memiliki artikulasi (arti penting) bagi bangsa ini.

Dalam kaitan ini, Ditperta memasuki model anggaran baru tahun 2005, sudah mempersiapkan diri dengan membuat regulasi yang dapat memaksa PTAI, baik negeri maupun swasta agar bekerja untuk mencapai sasaran tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu akan disiapkan alat monitoring kepada PTAI, apa saja yang telah mereka hasilkan. Karena kalau setiap Perguruan Tinggi telah mencanangkan visi (tujuan) tentu ada misi (langkah) yang telah ditempuh. Direktorat Perguruan Tinggi akan menagih hasil yang mereka janjikan. Semoga saja yang tagih dan menagih ada kerjasama yang baik. Karena kita mestinya takut, karena terbelakang dalam dunia pendidkan dan keilmuan. Dua hal yang mestinya dikuasai oleh umat Islam agar tidak menjadi kaum marginal, dan kurang diperhitungkan. (Alfan,Gja)