Metode Penelitian Kritis dan Prinsip-prinsip Participatory Action Research (PAR)
Swara Ditpertais: No. 24 Th. III, 03 Februari 2005
(Pojok
Rabu-an)
MEMBANTU MENGANGKAT CITRA BANGSA INDONESIA MELALUI PENDIDIKAN
Dewasa
ini ada kesan seolah-olah nothing to do kontribusi dunia Pendidikan Tinggi
di Indonesia terhadap perbaikan bangsa ini ke depan, tidak terkecuali
Perguruan Tinggi Islam. Ketika bangsa ini terkena krisis multidimensional,
Perguruan Tinggi belum mampu menunjukkan peranannya, terutama dalam hal
menyediakan alumnus yang handal. Sebagian dari masyarakat yang mampu lebih
memilih menyekolahkan anaknya ke luar negeri sebagai alternatif daripada
di dalam negeri. Kenyataan ini juga pararel dengan prestasi Pendidikan
Tinggi di Indonesia yang semakin merosot saja rankingnya di tingkat Asia.
Ini menunjukkan adanya problem kualitas Pendidikan Tinggi yang tidak tertangani
dengan baik. Harus pula diakui bahwa bangsa kita (Indonesia) juga belum
banyak memiliki Perguruan Tinggi yang bertaraf Internasional dan dikagumi
oleh bangsa lain untuk belajar ke negara kita. Bahkan sekarang ini Perguruan
Tinggi di Indonesia telah dianggap “sebelah mata” oleh negara
tetangga yang dulunya justru pernah (sempat) berguru ke negara kita. Mengapa
kita harus menelan pil pahit ini? Sungguh keadaan ini menyadarkan kepada
kita semua agar mau bekerja ekstra keras guna mengangkat bangsa ini lebih
bermartabat dan berwibawa.
Sesunggunya
apa yang sedang dihadapi oleh bangsa ini adalah rendahnya kualitas bangsa
Indonesia (SDM). Hal ini sebagaimana tergambar dalam laporan HDI (Human
Development Index) yang menempatkan Indonesia jauh di bawah negara berkembang
lainnya. Sedangkan berbicara mengenai SDM, maka yang paling bertanggungjawab
salah satu diantaranya adalah Perguruan Tinggi. Karena lewat institusi
inilah ribuan sarjana telah dinyatakan cakap untuk memiliki kompetensi
tertentu. Namun, sayang sekali lulusan yang dihasilkan tersebut masih
jauh dari apa yang diharapkan. Mereka hanya diberi selembar ijazah-- sebagai
tanda kelulusan—tanpa disertai skill yang memadai. Dan anehnya masyarakat
kita—untuk tidak mengatakan seluruhnya—sebagian telah terkena
sindrom gelar akademik yang dapat dicapai dengan cara mudah, efektif,
dan efisien, meskipun tanpa proses perkuliahaan yang memadai. Di sinilah
perguruan tinggi pada akhirnya hanya menjadi fenomena “pemberi gelar”
tanpa diikuti intelectual effect kepada mahasiswa yang bersangkutan.
Problem
lain yang cukup krusial dalam lapangan Perguruan Tinggi adalah belum terintegrasinya
character bulilding atau moralitas out put Perguruan Tinggi. Ini merupakan
kesempatan emas bagi PTAI dan PAI pada PTU untuk dapat mengisi harapan
tersebut. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Perguruan Tinggi
Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D bahwa segela pekerjaan yang dilakukan
harus dapat membuat pekerjaan tersebut memiliki artikulasi (arti penting)
bagi bangsa ini.
Dalam
kaitan ini, Ditperta memasuki model anggaran baru tahun 2005, sudah mempersiapkan
diri dengan membuat regulasi yang dapat memaksa PTAI, baik negeri maupun
swasta agar bekerja untuk mencapai sasaran tujuan yang telah ditetapkan.
Untuk itu akan disiapkan alat monitoring kepada PTAI, apa saja yang telah
mereka hasilkan. Karena kalau setiap Perguruan Tinggi telah mencanangkan
visi (tujuan) tentu ada misi (langkah) yang telah ditempuh. Direktorat
Perguruan Tinggi akan menagih hasil yang mereka janjikan. Semoga saja
yang tagih dan menagih ada kerjasama yang baik. Karena kita mestinya takut,
karena terbelakang dalam dunia pendidkan dan keilmuan. Dua hal yang mestinya
dikuasai oleh umat Islam agar tidak menjadi kaum marginal, dan kurang
diperhitungkan. (Alfan,Gja)