Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Metode Penelitian Kritis dan Prinsip-prinsip Participatory Action Research (PAR)


Swara Ditpertais: No. 23 Th. II, 02 Januari 2005

MENCERMATI SASARAN PEMBERDAYAAN DITPERTA
(Bekerja untuk mencapai sasaran)

Perubahan selalu menjadi “kata kunci” bagi siapapun, termasuk dalam konteks ini adalah keinginan Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam untuk mencanangkan penanganan perbaikan pendidikan bagi PTAI, baik swasta maupun negeri. Terlebih tahun 2005 ini kita telah dihadapkan pada perubahan anggaran dengan telah ditiadakannya mekanisme Pimpro dan Benpro dan tidak adanya dikotomi kegiatan rutin dan proyek. Dengan adanya PMA (Peraturan Menteri Agama) tentang Pedoman Dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara di lingkungan Departemen Agama, peraturan tersebut dicermati secara serius oleh direktur dengan mengadakan pertemuan rutin setiap hari Rabu pagi dengan para kasubdit. Pertemuan ini juga membahas hal-hal lain, seperti pembahasan mengenai instrumen evaluasi bagi kompetensi dosen, mekanisme mengevaluasi keberhasilan kegiatan, memverifikasi kegiatan dan lain sebagainya.

Dalam pertemuan setiap Rabu tersebut salah satu isu pentingnya adalah penjelasan grand design Ditperta serta sasaran yang akan dicapai. Diantara beberapa sasaran pemberdayaan Ditperta yang ditetapkan adalah, kepemimpinan dan menejemen, kurikulum, proses belajar mengajar, mutu dosen, fasilitas dan lingkungan kampus, kesiapan belajar mahasiswa, kerjasama antar lembaga, Efektifitas dan efisiensi penggunaan dana, penelitian dan penerbitan, pengabdian pada masyarakat dan kegiatan mahasiswa.

Dalam mensikapi kegiatan yang ditetapkan, menurut Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D kita harus memilik ukuran keberhasilan itu seperti apa? Untuk memiliki ukuran keberhasilan, maka perlu menetapkan sasaran. Karena kalau tidak memiliki sasaran dan ukuran keberhasilan, jangan-jangan kita tidak pernah tahu kapan kita akan mencapai keberhasilan tersebut. Demikian pula setelah ditetapkan sasaran, maka disusunlah kegiatan atau program apa yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut. Ukuran keberhasilan kita (Ditperta) menurut Direktur sangatlah simpel, yakni taercapainya sasaran yang telah kita tetapkan, yakni mutu lulusan PTAI dan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan. Inilah yang disebut sebagai menejemen berbasis hasil (out put), yakni lebih menekankan sasaran apa yang akan dicapai. Pertemuan Rabuan ini, merupakan sarana efektif untuk men-share, problem yang sedang dihadapi (Subdit) bersama dengan direktur. [Adib Gja]