Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   
Mendobrak "Kebekuan" Pemikiran Islam Sejati di Indonesia


Swara Ditpertais: No. 19 Th. II, 15 November 2004

Mendobrak “Kebekuan” Pemikiran Islam Sejati di Indonesia

Kajian dan orientasi pemikiran Islam di Indonesia dinggap tidak mempunyai proyek yang jelas. Bahkan secara sinis intelektualisme Indonesia sering disebut “intelektualisme musiman”. Ketika sedang “musim postmodernisme” semua orang bicara tentang postmodernisme, di sana-sini digelar berbagai diskusi tentang postmo. Ketika tiba-tiba muncul tokoh Mohammed Arkoun dalam belantara pemikiran Islam di Indonesia, semua orang berbicara tentang Arkoun. Hal yang sama juga terjadi pada Hassan Hanafi dan Abed al-Jabiri serta tema-tema seperti civil society, HAM, demokrasi, feminisme dan sebagainya. Singkatnya, tidak ada sesuatu yang menjadi “proyek pemikiran bersama”, karenanya, pemikiran Islam di Indonesia belum mampu memberi kontribusi orisinal bagi kepentingan dunia Islam secara keseluruhan. Sebenarnya pada akhir 80-an dan awal 90-an sudah mulai muncul arah yang baik seperti tema tentang “Islam transformatif”, namun sayangnya tema ini kembali surut tanpa sebab yang jelas. Bahkan, pada akhir 90-an dan awal 2000-an ini energi kebangsaan kita seluruhnya tersedot untuk urusan politik, sehingga hampir-hampir tidak ada perkembangan pemikiran yang berarti.

Di satu sisi, keberadaan Perguruan Tinggi Agama Islam dianggap kurang mempelopori gerakan pemikiran Islam di Indonesia. Bahkan, pemikiran keislaman yang ada bersifat datar, dan terkesan “mengulang-ulang”. Tidaklah mengherankan kalau oleh beberapa pengamat berpendapat bahwa studi Islam yang berkembang di PTAI cenderung bersifat konservatif.

Dalam rangka memberikan shock therapy terhadap gelombang pemikiran keislaman di PTAI, Ditperta memfasilitasi beberapa kegiatan Simposium Pemikiran Islam Kontemporer di PTAIN, yang salah satu diantaranya adalah simposium yang baru saja dilaksanakan di STAIN Ternate. Dalam kesempatan tersebut Pak Direktur menjelaskan bahwa tugas pokok dari Perguruan Tinggi adalah menjelaskan dan mengkaji trend pemikiran yang sedang berkembang di masyarakat. Bukan sekedar bikin kontroversi, tapi mampu menjelaskan duduk perkara suatu persoalan secara ilmiah, jernih dan netral. Jadi, kalau tidak mendukung dengan suatu pemikiran yang sedang ngetrend tidak lantas disimpulkan Perguruan Tinggi tersebut bersifat konservatif. Lebih lanjut Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D mengemukakan bahwa misi yang diemban Perguruan Tinggi adalah Islam yang bersifat moderat, tidak terlalu ekstrim kekanan atau kekiri.

Kegiatan simposium ini dilaksanakan selama dua hari, mulai dari hari Jumat-Sabtu, 22-24 Oktober 2004 yang lalu. Beberapa pembicara yang tampil antara lain Prof Dr. Masykuri Abdillah, M.A, KH. Husein Muhammad, Drs. Rumadi, MA dan Drs. Abd. Moqsith Ghazali, MA. Dua nama yang terakhir ini dikenal sebagai motor penggerak Jaringan Islam Liberal di Indonesia. Melalui simposium ini diharapkan akan dapat menjadi “terapi kejutan” bagi khazanah keilmuan di PTAI agar lebih progresif dan kontekstual (Mizan Sy).