|
Swara Ditpertais: No. 19 Th. II, 15 November 2004
|
Mendobrak
“Kebekuan” Pemikiran Islam Sejati di Indonesia
Kajian
dan orientasi pemikiran Islam di Indonesia dinggap tidak mempunyai proyek
yang jelas. Bahkan secara sinis intelektualisme Indonesia sering disebut
“intelektualisme musiman”. Ketika sedang “musim postmodernisme”
semua orang bicara tentang postmodernisme, di sana-sini digelar berbagai
diskusi tentang postmo. Ketika tiba-tiba muncul tokoh Mohammed Arkoun
dalam belantara pemikiran Islam di Indonesia, semua orang berbicara tentang
Arkoun. Hal yang sama juga terjadi pada Hassan Hanafi dan Abed al-Jabiri
serta tema-tema seperti civil society, HAM, demokrasi, feminisme dan sebagainya.
Singkatnya, tidak ada sesuatu yang menjadi “proyek pemikiran bersama”,
karenanya, pemikiran Islam di Indonesia belum mampu memberi kontribusi
orisinal bagi kepentingan dunia Islam secara keseluruhan. Sebenarnya pada
akhir 80-an dan awal 90-an sudah mulai muncul arah yang baik seperti tema
tentang “Islam transformatif”, namun sayangnya tema ini kembali
surut tanpa sebab yang jelas. Bahkan, pada akhir 90-an dan awal 2000-an
ini energi kebangsaan kita seluruhnya tersedot untuk urusan politik, sehingga
hampir-hampir tidak ada perkembangan pemikiran yang berarti.
Di
satu sisi, keberadaan Perguruan Tinggi Agama Islam dianggap kurang mempelopori
gerakan pemikiran Islam di Indonesia. Bahkan, pemikiran keislaman yang
ada bersifat datar, dan terkesan “mengulang-ulang”. Tidaklah
mengherankan kalau oleh beberapa pengamat berpendapat bahwa studi Islam
yang berkembang di PTAI cenderung bersifat konservatif.
Dalam
rangka memberikan shock therapy terhadap gelombang pemikiran keislaman
di PTAI, Ditperta memfasilitasi beberapa kegiatan Simposium Pemikiran
Islam Kontemporer di PTAIN, yang salah satu diantaranya adalah simposium
yang baru saja dilaksanakan di STAIN Ternate. Dalam kesempatan tersebut
Pak Direktur menjelaskan bahwa tugas pokok dari Perguruan Tinggi adalah
menjelaskan dan mengkaji trend pemikiran yang sedang berkembang di masyarakat.
Bukan sekedar bikin kontroversi, tapi mampu menjelaskan duduk perkara
suatu persoalan secara ilmiah, jernih dan netral. Jadi, kalau tidak mendukung
dengan suatu pemikiran yang sedang ngetrend tidak lantas disimpulkan Perguruan
Tinggi tersebut bersifat konservatif. Lebih lanjut Direktur Perguruan
Tinggi Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D mengemukakan bahwa misi
yang diemban Perguruan Tinggi adalah Islam yang bersifat moderat, tidak
terlalu ekstrim kekanan atau kekiri.
Kegiatan
simposium ini dilaksanakan selama dua hari, mulai dari hari Jumat-Sabtu,
22-24 Oktober 2004 yang lalu. Beberapa pembicara yang tampil antara lain
Prof Dr. Masykuri Abdillah, M.A, KH. Husein Muhammad, Drs. Rumadi, MA
dan Drs. Abd. Moqsith Ghazali, MA. Dua nama yang terakhir ini dikenal
sebagai motor penggerak Jaringan Islam Liberal di Indonesia. Melalui simposium
ini diharapkan akan dapat menjadi “terapi kejutan” bagi khazanah
keilmuan di PTAI agar lebih progresif dan kontekstual (Mizan Sy).
|