|
Swara Ditpertais: No. 19 Th. II, 15 November 2004
|
PRAKTEK
SISTEM EVALUASI PROGRAM STUDI (EVAPRODI) BAGI PTAI
Orientasi
sistem Evaprodi merupakan follow up dari agenda sebelumnya, yakni pertemuan
PR I, IAIN/UIN dan PK I STAIN di Cipayung Bogor beberapa waktu yang lalu.
Menurut Nifasri, M.Pd dalam laporannya menyebutkan bahwa kegiatan ini
adalah dalam rangka memenuhi agenda kewajiban dari KMA No. 394, dan KMA
156, point utamanya adalah perlu adanya laporan. Untuk itu, Ditperta menciptakan
software sendiri yang akan membantu keseragaman laporan. Tahun depan diharapkan
PTAI sudah bisa melaporkan proses belajar mengajarnya. Tahun 2004 baru
210 orang dari Perguruan Tinggi Agama Islam yang dapat diberikan pelatihan,
mungkin akan dikembangkan pada tahun berikutnya. Sengaja yang diundang
di sini adalah mereka-mereka yang secara tehnis menguasai operasionalisasi
komputer. Kegiatan sosialisai ini merupakan representasi Kopertais wilayah
Jawa Timur dan Wilayah Timur Indonesia atau wilayah IV dan VIII. Dengan
kegiatan ini diharapkan para peserta yang ada nantinya akan dapat “menularkan”
kepada yang lain. Kegiatan ini secara kebetulan dilaksanakan pada bulan
Ramadhan, meskipun mungkin akan sangat menyita energi dan fikiran, namun
karena kegiatan ini dalam rangka mencari ilmu, sebagian peserta merasakannnya
sebagai bagian dari rangkaian ibadah, demikian pengamatan dari panitia.
Menurut
keterangan Prof. Dr. M. Ridwan Nasir, M.A atas nama tuan rumah berpendapat
bahwa eksistensi KBK masih dianggap relevan dan penting, karena ia mempunyai
sasaran pokok antara lain sebagai orientasi academic-humanistic (mengembangkan
potensi pasca intelektualitas/disamping pandai juga berakhlak), sebagai
wahana rekayasa sosial, dan orientasi pemanfaatan tehnologi sebagaimana
apa yang sedang kita lakukan sekarang ini; yakni praktek langsung untuk
mengevaluasi prodi dengan memanfaatkan perangkat komputer.
Pak
Ridwan yang juga merupakan Rektor IAIN Surabaya sekaligus Koordinator
Kopertais wilayah IV menjelaskan bahwa dewasa ini tidak ada lagi dikotomi
antara Negeri dan Swasta, karena yang membedakan adalah sejauhmana kualitas
dan hasil lulusan yang akan dicapai. Pada kesempatan yang sama Dr. Nursamad
Kamba, M.A atas nama direktur Perta mengingatkan kepada para peserta agar
lebih serius mengikuti kegiatan ini, serta memintakan permohonan maaf
Direktur yang tidak bisa hadir dalam acara tersebut.
Menurut
Dr. Nursamad, M.A tugas pemerintah dalam menangani pendidikan, terutama
PTAI semakin luas medannya dan juga semakin rumit, terlebih dengan adanya
transformasi beberapa IAIN ke arah UIN dan juga dari STAIN ke IAIN. Beberapa
PTAIN yang lain juga sudah dan sedang “ancang-ancang” mengajukan
perubahan yang sama. Keadaan ini menyiratkan perlu adanya alat kontrol
yang dapat mengimbangi keberadaan PTAI yang lebih cepat dan efisien, khususnya
dalam rangka membuat regulasi menyangkut dua hal; peningkatan kualitas
dan penjaminan mutu (quality assurance) bagi PTAI.
Sepanjang
tahun 2004 ini telah banyak kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan
kualitas PTAI, baik pertemuan para pimpinan PTAI, pembidangan ilmu termasuk
memperkenalkan dan menggunakan sistem evaluasi berbasis ICT (Information
communication technology) yang dikenal dengan Evaprodi.
Dalam
rangka menjamin mutu menurut Kasubdit Akademik dan Kelembagaan Dr. Nursamad,
terus terang kami agak “kewalahan” untuk dapat membaca seluruh
laporan yang Anda kirimkan, karena memang begitu banyaknya. Untuk itu,
kami melakukan langkah terobosan dengan mensinergikan bentuk laporan melalui
perangkat komputer. Cara ini kami tempuh, supaya laporan tidak lagi dikirim
secara manual (dalam bentuk buku). Pengiriman laporan secara fisik (bentuk
buku) telah mengakibatkan ruangan kami penuh dengan tumpukan buku-buku
laporan. Oleh karenanya agar lebih simple, laporan tersebut dapat diwadahi
dalam bentuk CD-ROM atau dengan mengirimkannya melalui e-mail kepada kami,
sehingga akan lebih efektif dan efisien. Melalui sistem Evaprodi ini akan
terlihat jelas mana saja prodi yang jelek, sudah standar dan yang sudah
bagus. Apa yang dilakukan ini sangatlah strategis, oleh karena itu kami
harapkan dukungan dari berbagai pihak. Kami anggap program akan berhasil
dengan indikasi yang sangat sederhana yakni Anda faham dan mampu mengoperasionalkan
laporan, demikian ungkap kasubdit. Jadi tidak saja programmernya yang
mengetahuinya, tapi juga para pengguna nantinya. Kalu masih belum jelas,
jangan malu untuk bertanya kepada programernya, kecuali kalau programernya
juga bingung.
Manfaat
dari kegiatan ini pada dasarnya akan kembali kepada PTAI yang bersangkutan,
karena - suka atau tidak suka - mereka akan dituntut, dan wajib untuk
bisa melaporkan data PTAI masing-masing. Kalau tidak bisa melaporkan,
maka akan dianggap tidak ada. Kalau tidak ada, maka implikasinya tidak
berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Karena program ini masih baru,
maka akan diadakan sosialisasi secara terus menerus dan bahkan telah dibuka
sebuah komunitas sebagai jembatan berkomunikasi, seandainya diketemukan
kesulitan-kesulitan yakni melalui http//groups.yahoo.com/group/evaprodi.
(Aal,Adib).
|