Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   
PRAKTEK SISTEM EVALUASI PROGRAM STUDI (EVAPRODI) BAGI PTAI


Swara Ditpertais: No. 19 Th. II, 15 November 2004

PRAKTEK SISTEM EVALUASI PROGRAM STUDI (EVAPRODI) BAGI PTAI

Orientasi sistem Evaprodi merupakan follow up dari agenda sebelumnya, yakni pertemuan PR I, IAIN/UIN dan PK I STAIN di Cipayung Bogor beberapa waktu yang lalu. Menurut Nifasri, M.Pd dalam laporannya menyebutkan bahwa kegiatan ini adalah dalam rangka memenuhi agenda kewajiban dari KMA No. 394, dan KMA 156, point utamanya adalah perlu adanya laporan. Untuk itu, Ditperta menciptakan software sendiri yang akan membantu keseragaman laporan. Tahun depan diharapkan PTAI sudah bisa melaporkan proses belajar mengajarnya. Tahun 2004 baru 210 orang dari Perguruan Tinggi Agama Islam yang dapat diberikan pelatihan, mungkin akan dikembangkan pada tahun berikutnya. Sengaja yang diundang di sini adalah mereka-mereka yang secara tehnis menguasai operasionalisasi komputer. Kegiatan sosialisai ini merupakan representasi Kopertais wilayah Jawa Timur dan Wilayah Timur Indonesia atau wilayah IV dan VIII. Dengan kegiatan ini diharapkan para peserta yang ada nantinya akan dapat “menularkan” kepada yang lain. Kegiatan ini secara kebetulan dilaksanakan pada bulan Ramadhan, meskipun mungkin akan sangat menyita energi dan fikiran, namun karena kegiatan ini dalam rangka mencari ilmu, sebagian peserta merasakannnya sebagai bagian dari rangkaian ibadah, demikian pengamatan dari panitia.

Menurut keterangan Prof. Dr. M. Ridwan Nasir, M.A atas nama tuan rumah berpendapat bahwa eksistensi KBK masih dianggap relevan dan penting, karena ia mempunyai sasaran pokok antara lain sebagai orientasi academic-humanistic (mengembangkan potensi pasca intelektualitas/disamping pandai juga berakhlak), sebagai wahana rekayasa sosial, dan orientasi pemanfaatan tehnologi sebagaimana apa yang sedang kita lakukan sekarang ini; yakni praktek langsung untuk mengevaluasi prodi dengan memanfaatkan perangkat komputer.

Pak Ridwan yang juga merupakan Rektor IAIN Surabaya sekaligus Koordinator Kopertais wilayah IV menjelaskan bahwa dewasa ini tidak ada lagi dikotomi antara Negeri dan Swasta, karena yang membedakan adalah sejauhmana kualitas dan hasil lulusan yang akan dicapai. Pada kesempatan yang sama Dr. Nursamad Kamba, M.A atas nama direktur Perta mengingatkan kepada para peserta agar lebih serius mengikuti kegiatan ini, serta memintakan permohonan maaf Direktur yang tidak bisa hadir dalam acara tersebut.

Menurut Dr. Nursamad, M.A tugas pemerintah dalam menangani pendidikan, terutama PTAI semakin luas medannya dan juga semakin rumit, terlebih dengan adanya transformasi beberapa IAIN ke arah UIN dan juga dari STAIN ke IAIN. Beberapa PTAIN yang lain juga sudah dan sedang “ancang-ancang” mengajukan perubahan yang sama. Keadaan ini menyiratkan perlu adanya alat kontrol yang dapat mengimbangi keberadaan PTAI yang lebih cepat dan efisien, khususnya dalam rangka membuat regulasi menyangkut dua hal; peningkatan kualitas dan penjaminan mutu (quality assurance) bagi PTAI.

Sepanjang tahun 2004 ini telah banyak kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas PTAI, baik pertemuan para pimpinan PTAI, pembidangan ilmu termasuk memperkenalkan dan menggunakan sistem evaluasi berbasis ICT (Information communication technology) yang dikenal dengan Evaprodi.

Dalam rangka menjamin mutu menurut Kasubdit Akademik dan Kelembagaan Dr. Nursamad, terus terang kami agak “kewalahan” untuk dapat membaca seluruh laporan yang Anda kirimkan, karena memang begitu banyaknya. Untuk itu, kami melakukan langkah terobosan dengan mensinergikan bentuk laporan melalui perangkat komputer. Cara ini kami tempuh, supaya laporan tidak lagi dikirim secara manual (dalam bentuk buku). Pengiriman laporan secara fisik (bentuk buku) telah mengakibatkan ruangan kami penuh dengan tumpukan buku-buku laporan. Oleh karenanya agar lebih simple, laporan tersebut dapat diwadahi dalam bentuk CD-ROM atau dengan mengirimkannya melalui e-mail kepada kami, sehingga akan lebih efektif dan efisien. Melalui sistem Evaprodi ini akan terlihat jelas mana saja prodi yang jelek, sudah standar dan yang sudah bagus. Apa yang dilakukan ini sangatlah strategis, oleh karena itu kami harapkan dukungan dari berbagai pihak. Kami anggap program akan berhasil dengan indikasi yang sangat sederhana yakni Anda faham dan mampu mengoperasionalkan laporan, demikian ungkap kasubdit. Jadi tidak saja programmernya yang mengetahuinya, tapi juga para pengguna nantinya. Kalu masih belum jelas, jangan malu untuk bertanya kepada programernya, kecuali kalau programernya juga bingung.

Manfaat dari kegiatan ini pada dasarnya akan kembali kepada PTAI yang bersangkutan, karena - suka atau tidak suka - mereka akan dituntut, dan wajib untuk bisa melaporkan data PTAI masing-masing. Kalau tidak bisa melaporkan, maka akan dianggap tidak ada. Kalau tidak ada, maka implikasinya tidak berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Karena program ini masih baru, maka akan diadakan sosialisasi secara terus menerus dan bahkan telah dibuka sebuah komunitas sebagai jembatan berkomunikasi, seandainya diketemukan kesulitan-kesulitan yakni melalui http//groups.yahoo.com/group/evaprodi. (Aal,Adib).