Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   
MENUJU KESIAPAN MANAJEMEN BERBASIS KAMPUS :


Swara Ditpertais: No. 18 Th. II, 29 Oktober 2004

METODE PEMBELAJARAN TAFSIR
(Pembelajaran Berbasis Out Put/Hasil)

Ketika seseorang (mahasiswa) mempelajari matakuliah tertentu, pada dasarnya point yang ingin dicapai atau diraih adalah adanya perubahan pemahaman dari kondisi sebelumnya. Hal ini tidak lain karena esensi belajar itu sendiri adalah suatu proses perubahan. Ini berarti jika seseorang belajar, akan tetapi tidak menghasilkan perubahan dalam dirinya, maka perbuatannya tersebut adalah sia-sia (wasting time). Sebagaimana diketahui, belajar berasal dari bahasa Arab tersusun dari ain, lam dan mim yang bermakna dasar bekas (ada atsar-nya). Dengan demikian proses belajar (taklim) dapat dikatakan berhasil, jika ilmu yang dipelajari itu tidak saja berbekas di dalam jiwa, lebih dari itu berbekas dalam karya dan kerja seseorang. Jadi hasil pembelajaran itu sendiri merupakan kombinasi antara pengetahuna teoritis dan praksis serta amaliah seseorang dalam kesehariannya dalam menanggapi berbagai situasi yang melingkupinya.

Ilmu Tafsir dalam banyak hal masih dianggap matakuliah “angker” dan menakutkan bagi sebagian mahasiswa. Mereka yang dapat mengikuti atau faham dengan matakuliah ini biasanya dikarenakan sudah memiliki basic pemahaman sebelumnya, katakanlah dari pondok pesantren. Namun demikian, tidak jarang mereka yang telah mengenyam kitab kuning atau berasal dari pesantren juga mengalami kesulitan untuk menangkap hasil dari matakuliah ilmu tafsir. Untuk itu perlu ada rekayasa dalam pembelajaran ilmu tafsir agar mudah dipahami oleh para mahasiswa. Ada beberapa komponen yang dapat mempengaruhi hasil belajar di ilmu tafsir, antara lain: kualitas mahasiswa yang bersangkutan, mutu atau penguasaan dosen terhadap matakuliah, dan metodologi pembelajaran yang rigid atau kaku. Di antara beberapa variabel tersebut, metodologi pembelajaran sangatlah strategis untuk dijadikan sebagai alat pemicu perubahan.

Oleh karena itu, Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam (Ditpertais) memfasilitasi beberapa agenda kegiatan workshop pembelajaran tafsir. Stressing atau yang menjadi titik tekan dari kegiatan ini adalah tercapainya hasil yang jelas, yakni mahasiswa (object) akan lebih paham terhadap matakuliah yang ada. Beberapa narasumber yang terlibat Hadir dalam acara tersebut antara lain Prof. Dr.Azhar Arsyad, M.A, Prof. Dr. Muin Umar, Prof.Dr. Andi Rasdianah, M.A dan Drs Rinduan Zein,M.A. Dari workshop ini terlihat adanya beberapa terobosan dalam pemberian metode pembelajaran tafsir, seperti pola pembelajaran perkuliahaan dan presentasi makalah dengan point-point penyampaian materi antara lain sebagai berikut; adanya terjemahan kosa kata dalam bahasa Indonesia, tafsir mufradat, analisa nahwu dan balaghah, sebab nuzul ayat, syarah ayat, pokok kandungan ayat, petunjuk atau pelajaran yang dapat diambil dari ayat, serta kesimpulan.

Untuk mencapai hasil sebagaimana dimaksudkan, dalam proses pembelajaan ilmu tafsir tidak saja metodenya yang tepat, akan tetapi juga penguasaan metode oleh tenaga pengajar dan kesiapan para mahasiswa .(Adib, Gja).