|
Swara Ditpertais: No. 18 Th. II, 29 Oktober 2004
|
METODE
PEMBELAJARAN TAFSIR
(Pembelajaran Berbasis Out Put/Hasil)
Ketika
seseorang (mahasiswa) mempelajari matakuliah tertentu, pada dasarnya point
yang ingin dicapai atau diraih adalah adanya perubahan pemahaman dari
kondisi sebelumnya. Hal ini tidak lain karena esensi belajar itu sendiri
adalah suatu proses perubahan. Ini berarti jika seseorang belajar, akan
tetapi tidak menghasilkan perubahan dalam dirinya, maka perbuatannya tersebut
adalah sia-sia (wasting time). Sebagaimana diketahui, belajar berasal
dari bahasa Arab tersusun dari ain, lam dan mim yang bermakna dasar bekas
(ada atsar-nya). Dengan demikian proses belajar (taklim) dapat dikatakan
berhasil, jika ilmu yang dipelajari itu tidak saja berbekas di dalam jiwa,
lebih dari itu berbekas dalam karya dan kerja seseorang. Jadi hasil pembelajaran
itu sendiri merupakan kombinasi antara pengetahuna teoritis dan praksis
serta amaliah seseorang dalam kesehariannya dalam menanggapi berbagai
situasi yang melingkupinya.
Ilmu
Tafsir dalam banyak hal masih dianggap matakuliah “angker”
dan menakutkan bagi sebagian mahasiswa. Mereka yang dapat mengikuti atau
faham dengan matakuliah ini biasanya dikarenakan sudah memiliki basic
pemahaman sebelumnya, katakanlah dari pondok pesantren. Namun demikian,
tidak jarang mereka yang telah mengenyam kitab kuning atau berasal dari
pesantren juga mengalami kesulitan untuk menangkap hasil dari matakuliah
ilmu tafsir. Untuk itu perlu ada rekayasa dalam pembelajaran ilmu tafsir
agar mudah dipahami oleh para mahasiswa. Ada beberapa komponen yang dapat
mempengaruhi hasil belajar di ilmu tafsir, antara lain: kualitas mahasiswa
yang bersangkutan, mutu atau penguasaan dosen terhadap matakuliah, dan
metodologi pembelajaran yang rigid atau kaku. Di antara beberapa variabel
tersebut, metodologi pembelajaran sangatlah strategis untuk dijadikan
sebagai alat pemicu perubahan.
Oleh
karena itu, Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam (Ditpertais) memfasilitasi
beberapa agenda kegiatan workshop pembelajaran tafsir. Stressing atau
yang menjadi titik tekan dari kegiatan ini adalah tercapainya hasil yang
jelas, yakni mahasiswa (object) akan lebih paham terhadap matakuliah yang
ada. Beberapa narasumber yang terlibat Hadir dalam acara tersebut antara
lain Prof. Dr.Azhar Arsyad, M.A, Prof. Dr. Muin Umar, Prof.Dr. Andi Rasdianah,
M.A dan Drs Rinduan Zein,M.A. Dari workshop ini terlihat adanya beberapa
terobosan dalam pemberian metode pembelajaran tafsir, seperti pola pembelajaran
perkuliahaan dan presentasi makalah dengan point-point penyampaian materi
antara lain sebagai berikut; adanya terjemahan kosa kata dalam bahasa
Indonesia, tafsir mufradat, analisa nahwu dan balaghah, sebab nuzul ayat,
syarah ayat, pokok kandungan ayat, petunjuk atau pelajaran yang dapat
diambil dari ayat, serta kesimpulan.
Untuk
mencapai hasil sebagaimana dimaksudkan, dalam proses pembelajaan ilmu
tafsir tidak saja metodenya yang tepat, akan tetapi juga penguasaan metode
oleh tenaga pengajar dan kesiapan para mahasiswa .(Adib, Gja).
|