|
Swara Ditpertais: No. 15 Th. II, 17 September 2004
|
POTRET
KEGIATAN SARANA DAN PRASARANA DALAM MEMBANTU KUALITAS PTAI
Saat
ini di Indonesia terdapat sekitar 451 Perguruan Tinggi Agama Islam yang
tersebar di hampir seluruh Ibu Kota Propinsi dan sejumlah Kabupaten, bahkan
sampai ke pelosok Kota Kecamatan. Dari jumlah tersebut terdapat tiga dalam
bentuk Universitas Negeri (UIN), 12 Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
dan 33 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), selebihnya merupakan
Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta yang berjumlah 403 PTAIS. Berbeda
dengan PTAIN (UIN, IAIN dan STAIN) yang sudah pasti dapat bantuan anggaran
dari Pemerintah (baik, dalam bentuk DIP, DIK’S, serta terkadang
masih minta bantuan ke orang tua wali mahasiswa) .Sedangkan PTAIS memiliki
salah satu kelemahan permanen di bidang sarana dan prasarana sebagai penunjang
kegiatan belajar mengajar, karena minimnya anggaran.
Tidaklah
mengherankan kalau Ditpertais melalui subdit sarana lebih banyak memberikan
atensi kepada PTAIS. Hal ini sesuai dan sejalan dengan kebijakan Dirjen
Bagais memberikan prioritas untuk dana bantuan kepada PTAIS. Apalagi kenyataan
di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar dari PTAIS belum mampu mencukupi
kebutuhannya secara mandiri. Karena pada umumnya hanya sekedar menggandalkan
dana yang dihasilkan dari sumbangan para wali mahasiswa dan atau masyarakat
luas. Di antara kegiatan untuk membantu melengkapi kekurangan dari PTAIS
antara lain dengan memberikan dana bantuan operasional PTAIS, bantuan
buku perpustakaan, bantuan laboratorium bahasa, bantuan laboratorium micro
teaching, bantuan komputer, mesin fotocopy dan OHP untuk membantu kegiatan
proses belajar mengajar.
Hanya
saja, bantuan yang diberikan memang tidaklah bisa merata dan mampu mengcover
seluruh kebutuhan PTAIS yang ada. Dapat dibayangkan bahwa untuk bantuan
micro teaching misalnya, hanya sekitar 2 persen dari PTAIS yang ada, sedangkan
laboratorium hanya 5 persen dari jumlah PTAIS yang ada. Memang dilematis,
kalau PTAIS tidak dibantu, mereka akan menyelenggarakan pendidikan dengan
fasilitas yang apa adanya dan “asal-asalan”, kalaupun mau
dibantu semua, tentu dananya tidak mencukupi.
Namun
ada semacam target, bahwa bantuan tersebut diupayakan digilir, sehingga
pada tahun 2010 nanti semuanya akan mendapatkan bantuan. Kita berharap
dengan adanya upaya peningkatan anggaran pendidikan sejumlah 20 persen
dari APBN, akan dapat mempercepat (accelerate) bantuan sarana dan prasarana
di PTAIS, tentu dengan selektif dan terencana. Artinya ada semacam maping
mana saja PTAIS yang memiliki potensi dan semangat tumbuh besar, dan PTAIS
mana yang memang pekerjaanya al-yadus sufla, alias tidak kreatif, inovatif
karena, memiliki “mental” meminta-minta. Namun memang PTAIS
harus dapat perhatian serius, dengan kondisi serba terbatas, mereka bisa
survive. Meskipun ini juga jelek, karena mereka itu adalah tipikal pendidikan
yang maju tidak mampu, akan tetapi hanya bertahan hidup atau berjalan
di tempat sudah pasti mampu, tapi tentu dengan penyelenggaran pendidikan
apa adanya. Mau diapakan mereka ini, kalau tidak dibatasi dan juga dibantu.
Sudah terlalu banyak PTAIS yang hanya sekedar ingin berdiri dan tidak
punya orientasi. Harus ada regulasi untuk membatasi pertumbuhan Perguruan
Tinggi Islam yang modalnya “bonek” dan al-yadus sufla. (Adib,
Gja)
|