Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   
Memetakan Wacana Keislaman


Swara Ditpertais: No. 15 Th. II, 17 September 2004

POTRET KEGIATAN SARANA DAN PRASARANA DALAM MEMBANTU KUALITAS PTAI

Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 451 Perguruan Tinggi Agama Islam yang tersebar di hampir seluruh Ibu Kota Propinsi dan sejumlah Kabupaten, bahkan sampai ke pelosok Kota Kecamatan. Dari jumlah tersebut terdapat tiga dalam bentuk Universitas Negeri (UIN), 12 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan 33 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), selebihnya merupakan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta yang berjumlah 403 PTAIS. Berbeda dengan PTAIN (UIN, IAIN dan STAIN) yang sudah pasti dapat bantuan anggaran dari Pemerintah (baik, dalam bentuk DIP, DIK’S, serta terkadang masih minta bantuan ke orang tua wali mahasiswa) .Sedangkan PTAIS memiliki salah satu kelemahan permanen di bidang sarana dan prasarana sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar, karena minimnya anggaran.

Tidaklah mengherankan kalau Ditpertais melalui subdit sarana lebih banyak memberikan atensi kepada PTAIS. Hal ini sesuai dan sejalan dengan kebijakan Dirjen Bagais memberikan prioritas untuk dana bantuan kepada PTAIS. Apalagi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar dari PTAIS belum mampu mencukupi kebutuhannya secara mandiri. Karena pada umumnya hanya sekedar menggandalkan dana yang dihasilkan dari sumbangan para wali mahasiswa dan atau masyarakat luas. Di antara kegiatan untuk membantu melengkapi kekurangan dari PTAIS antara lain dengan memberikan dana bantuan operasional PTAIS, bantuan buku perpustakaan, bantuan laboratorium bahasa, bantuan laboratorium micro teaching, bantuan komputer, mesin fotocopy dan OHP untuk membantu kegiatan proses belajar mengajar.

Hanya saja, bantuan yang diberikan memang tidaklah bisa merata dan mampu mengcover seluruh kebutuhan PTAIS yang ada. Dapat dibayangkan bahwa untuk bantuan micro teaching misalnya, hanya sekitar 2 persen dari PTAIS yang ada, sedangkan laboratorium hanya 5 persen dari jumlah PTAIS yang ada. Memang dilematis, kalau PTAIS tidak dibantu, mereka akan menyelenggarakan pendidikan dengan fasilitas yang apa adanya dan “asal-asalan”, kalaupun mau dibantu semua, tentu dananya tidak mencukupi.

Namun ada semacam target, bahwa bantuan tersebut diupayakan digilir, sehingga pada tahun 2010 nanti semuanya akan mendapatkan bantuan. Kita berharap dengan adanya upaya peningkatan anggaran pendidikan sejumlah 20 persen dari APBN, akan dapat mempercepat (accelerate) bantuan sarana dan prasarana di PTAIS, tentu dengan selektif dan terencana. Artinya ada semacam maping mana saja PTAIS yang memiliki potensi dan semangat tumbuh besar, dan PTAIS mana yang memang pekerjaanya al-yadus sufla, alias tidak kreatif, inovatif karena, memiliki “mental” meminta-minta. Namun memang PTAIS harus dapat perhatian serius, dengan kondisi serba terbatas, mereka bisa survive. Meskipun ini juga jelek, karena mereka itu adalah tipikal pendidikan yang maju tidak mampu, akan tetapi hanya bertahan hidup atau berjalan di tempat sudah pasti mampu, tapi tentu dengan penyelenggaran pendidikan apa adanya. Mau diapakan mereka ini, kalau tidak dibatasi dan juga dibantu. Sudah terlalu banyak PTAIS yang hanya sekedar ingin berdiri dan tidak punya orientasi. Harus ada regulasi untuk membatasi pertumbuhan Perguruan Tinggi Islam yang modalnya “bonek” dan al-yadus sufla. (Adib, Gja)