Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   
Memetakan Wacana Keislaman


Swara Ditpertais: No. 14 Th. II, 31 Agustus 2004

MENUJU MAHASISWA PROFESIONAL
(Aspek Koperasi Mahasiswa, Kepemimpinan dan Jurnalistik)

Koperasi mahasiswa merupakan wahana usaha bagi para mahasiswa di lingkungan kampus. Koperasi mahasiswa dibentuk dari, oleh dan untuk anggota, karena itu keberadaannya merupakan wujud dari kreatifitas para Mahasiswa khususnya dalam bidangusaha. Sebagaimana lazimnya suatu Koperasi, koperasi mahasiswa juga bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya, dalam hal ini anggota “pelaku kegiatan” yang sudah semastinya mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi di tubuh koperasi mahasiswa itu sendiri. Karena koperasi mahasiswa dijalankan oleh suatu pengurus dan pengawas yang keduanya dibentuk dan bertanggungjawab kepada anggota melalui RAT (Rapat Anggota Tahunan). Dari sini, tampak sekali mahasiswa mempuyai power yang cukup strategis dalam memajukan koperasi mahasiswa itu sendiri. Oleh karena itu, jika peran anggota kurang optimal maka jalanya kegiatan kegiatan atau usahanya pun akan lambat sebagaimana yang terjadi sekarang ini, demikian apa yang diungkapkan Prof. Dr. Armei Arief, M.A, dalam acara “ Orientasi Manajemen Kewirausahaan, Kepemimpinan dan Jurnalistik Mahasiswa PTAI se-Indonesia” pertengahan Agustus 2004.

Acara ini dilihat dari temanya merupakan kombinasi dari tiga acara secara bersamaan, yakni pembahasan mengenai koperasi, jurnalistik dan kepemimpinan mahasiswa. Untuk jurnalistik tampil Asrori S Karni dengan makalahnya yang berbicara seputar bagaimana mengemas dan mendapatkan berita melalui reportasi dengan judul “ Tehnik Investigasi Berita”. Menurut mantan ketua Formasi (Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia) yang kini bekerja di dunia pers ini, menyatakan bahwa dalam melaporkan berita (reportase), ada empat unsur pertanyaan harus dipenuhi, what, who, when, where dan how. Namun, untuk bentuk reportase yang bersifat mencari berita tersembunyi (searching the hidden news) atau bersifat investigatif, maka ia tidak saja sekedar memenuhi unsur berita (5 W + 1 H) seperti di atas, akan tetapi ia berupaya “membongkar” kebenaran yang selama ini tertutup atau sengaja ditutupi. Corak investigatif semacam ini sebetulnya merupakan roh dalam sebuah pemberitaan. Tidaklah mengherankan kalau Carl Bernstein—mantan reporter Washignton Post—berpendapat every journalist should be investigative journalist”.

Minimal ada tiga macam reportase yang bersifat investigatif. Pertama, original investigatif reporting, yakni reportase investigatif yang murni dilakukan seorang reporter. Kedua, Interpretatif Investigatif Reporting, yakni investigasi untuk menjabarkan isi dokumen yang sulit dipahami dengan formula aslinya (seperti hasil audit BPK, dll). Ketiga, Reporting on Investigations, yaitu berita tentang hasil investigasi orang atau lembaga lain.

Pada kesempatan lain, Prof Zaini Muchtarom memberikan sebuah refleksi kritis, perenungan terhadap organisasi intra dan eksra mahasiswa. Dalam makalahnya Prof. Zaini mencermati bagaimana menempatkan kepemimpinan mahasiswa dalam era reformasi dan perubahan sosial (lihat. elaborasi makalahnya dalam halaman lain). Bapak Dirjen Bagais, Prof A. Qodri Azizy, Ph.D dalam sambutannya memberikan pengantar secara “umum” mengenai kegiatan ini. Menurut Pak Dirjen untuk meraih kesuksesan, dapat ditempuh melalui konsep yang Beliau sebut dengan singkatan DWTESSOPS (Dreams, Weakness, Threats/challangges, Expectation, Strentghs, Struggles, Opportunities, Prayer (spirituality/faith), dan Sucess). Penjabaran dari beberapa aspek tersebut, di atas menurut Pak Dirjen lebih lanjut idealnya diikuti dengan langkah perjuangan sebagai berikut; antara lain (pengenalan diri, komitmen untuk merubah diri, tujuan dan rencana tindakan, menejemen waktu, memanfaatkan kesempatan, komunikasi yang tepat, jaga kesehatan, belajar dan belajar (mau mendenganrkan dan belajar dari orang lain), merenung (berdzikir), berdoá (faith/spirituality), self marketing (penampilan), berani mengambil sikap/keputusan, evaluasi, jalan keluar yang harus diambil, istiqamah dan sabar.

Dengan adanya kegiatan ini, sebagaimana diharapkan oleh Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D, para mahasiwa yang dipilih dan diundang menjadi peserta, akan dapat menjadi “motivator” bagi mahasiswa lain di kampusnya masing-masing, terutama dalam aspek peningkatan menejemen pengelolaan koperasi secara profesional, pers kampus dan kepemimpinan. (Adib, Gja)