|
Swara Ditpertais: No. 14 Th. II, 31 Agustus 2004
|
MENUJU
MAHASISWA PROFESIONAL
(Aspek Koperasi Mahasiswa, Kepemimpinan dan Jurnalistik)
Koperasi
mahasiswa merupakan wahana usaha bagi para mahasiswa di lingkungan kampus.
Koperasi mahasiswa dibentuk dari, oleh dan untuk anggota, karena itu keberadaannya
merupakan wujud dari kreatifitas para Mahasiswa khususnya dalam bidangusaha.
Sebagaimana lazimnya suatu Koperasi, koperasi mahasiswa juga bertujuan
untuk mensejahterakan anggotanya, dalam hal ini anggota “pelaku
kegiatan” yang sudah semastinya mengetahui hal-hal apa saja yang
terjadi di tubuh koperasi mahasiswa itu sendiri. Karena koperasi mahasiswa
dijalankan oleh suatu pengurus dan pengawas yang keduanya dibentuk dan
bertanggungjawab kepada anggota melalui RAT (Rapat Anggota Tahunan). Dari
sini, tampak sekali mahasiswa mempuyai power yang cukup strategis dalam
memajukan koperasi mahasiswa itu sendiri. Oleh karena itu, jika peran
anggota kurang optimal maka jalanya kegiatan kegiatan atau usahanya pun
akan lambat sebagaimana yang terjadi sekarang ini, demikian apa yang diungkapkan
Prof. Dr. Armei Arief, M.A, dalam acara “ Orientasi Manajemen Kewirausahaan,
Kepemimpinan dan Jurnalistik Mahasiswa PTAI se-Indonesia” pertengahan
Agustus 2004.
Acara
ini dilihat dari temanya merupakan kombinasi dari tiga acara secara bersamaan,
yakni pembahasan mengenai koperasi, jurnalistik dan kepemimpinan mahasiswa.
Untuk jurnalistik tampil Asrori S Karni dengan makalahnya yang berbicara
seputar bagaimana mengemas dan mendapatkan berita melalui reportasi dengan
judul “ Tehnik Investigasi Berita”. Menurut mantan ketua Formasi
(Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia) yang kini bekerja di dunia pers
ini, menyatakan bahwa dalam melaporkan berita (reportase), ada empat unsur
pertanyaan harus dipenuhi, what, who, when, where dan how. Namun, untuk
bentuk reportase yang bersifat mencari berita tersembunyi (searching the
hidden news) atau bersifat investigatif, maka ia tidak saja sekedar memenuhi
unsur berita (5 W + 1 H) seperti di atas, akan tetapi ia berupaya “membongkar”
kebenaran yang selama ini tertutup atau sengaja ditutupi. Corak investigatif
semacam ini sebetulnya merupakan roh dalam sebuah pemberitaan. Tidaklah
mengherankan kalau Carl Bernstein—mantan reporter Washignton Post—berpendapat
every journalist should be investigative journalist”.
Minimal
ada tiga macam reportase yang bersifat investigatif. Pertama, original
investigatif reporting, yakni reportase investigatif yang murni dilakukan
seorang reporter. Kedua, Interpretatif Investigatif Reporting, yakni investigasi
untuk menjabarkan isi dokumen yang sulit dipahami dengan formula aslinya
(seperti hasil audit BPK, dll). Ketiga, Reporting on Investigations, yaitu
berita tentang hasil investigasi orang atau lembaga lain.
Pada
kesempatan lain, Prof Zaini Muchtarom memberikan sebuah refleksi kritis,
perenungan terhadap organisasi intra dan eksra mahasiswa. Dalam makalahnya
Prof. Zaini mencermati bagaimana menempatkan kepemimpinan mahasiswa dalam
era reformasi dan perubahan sosial (lihat. elaborasi makalahnya dalam
halaman lain). Bapak Dirjen Bagais, Prof A. Qodri Azizy, Ph.D dalam sambutannya
memberikan pengantar secara “umum” mengenai kegiatan ini.
Menurut Pak Dirjen untuk meraih kesuksesan, dapat ditempuh melalui konsep
yang Beliau sebut dengan singkatan DWTESSOPS (Dreams, Weakness, Threats/challangges,
Expectation, Strentghs, Struggles, Opportunities, Prayer (spirituality/faith),
dan Sucess). Penjabaran dari beberapa aspek tersebut, di atas menurut
Pak Dirjen lebih lanjut idealnya diikuti dengan langkah perjuangan sebagai
berikut; antara lain (pengenalan diri, komitmen untuk merubah diri, tujuan
dan rencana tindakan, menejemen waktu, memanfaatkan kesempatan, komunikasi
yang tepat, jaga kesehatan, belajar dan belajar (mau mendenganrkan dan
belajar dari orang lain), merenung (berdzikir), berdoá (faith/spirituality),
self marketing (penampilan), berani mengambil sikap/keputusan, evaluasi,
jalan keluar yang harus diambil, istiqamah dan sabar.
Dengan
adanya kegiatan ini, sebagaimana diharapkan oleh Direktur Perguruan Tinggi
Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D, para mahasiwa yang dipilih dan
diundang menjadi peserta, akan dapat menjadi “motivator” bagi
mahasiswa lain di kampusnya masing-masing, terutama dalam aspek peningkatan
menejemen pengelolaan koperasi secara profesional, pers kampus dan kepemimpinan.
(Adib, Gja)
|