Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   
Memetakan Wacana Keislaman


Swara Ditpertais: No. 14 Th. II, 31 Agustus 2004

INDIKATOR GENDER

Pengarustamaan gender (gender mainstreaming) menjadi tema sentral dalam setiap kajian dan seminar. Hal ini menunjukkan bahwa discourse mengenai gender sampai detik ini masih merupakan “pekerjaan rumah” yang belum terselesaikan secara tuntas dan komprehensif. Baik dalam aspek pemahaman, maupun aplikasi di lapangan. Kenyataan inilah yang membuat Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam melalui Subdit Penelitian selalu memberikan support kepada lembaga pusat studi gender/wanita untuk secara terus-menerus melakukan sosialisasi tentang gender. Belum lama ini seminar tentang gender baru saja dilaksanakan di hotel Sofyan Cikini, pada tanggal 17-19 bulan Agustus yang lalu.

Pada pertemuan pengurus gender atau pusat studi wanita PTAI pada tahun sebelumnya ada semacam gagasan untuk memberikan “quota” dan skala prioritas terhadap penelitian yang mempunyai misi dalam memperjuangkan gerakan gender. Maka, pada tahun ini isu yang muncul adalah bagaimana melihat indikator gender dalam setiap aktifitas kehidupan. Dengan model pendekatan indikator gender semacam ini, maka akan dapat menjadi salah alat ukur (measurement tools) sejauhmanakah sensifitas gender yang ada pada masing-masing lembaga. Dengan demikian, komitmen terhadap perjuangan gender dapat diukur. Upaya untuk memperjuangkan gerakan gender dengan sistem “qouta” tidak lain merupakan afirmatif action, agar ada perjuangan dan kesempatan yang sederajat (equal dan fair).

Bapak Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D dalam sambutannya mengingatkan agar pertemuan ini dapat menjadi wahana evaluasi bersama bagi para pengurus gender di PTAI, sejauhmanakah hasil perjuangan mereka selama ini. Dan yang paling penting adalah motivasi dalam memperjuangkan kesetaraan gender ini tidak mengalami distorsi dan deviasi. Yakni dilandasi oleh semangat hanya sekedar mencari funding. Karena diakui atau tidak, pembahasan tentang gender memiliki daya tarik tersendiri bagi para pemberi donor.

Dalam kesempatan tersebut tampil para pembicara antara Dr. Musdah Mulia, APU, Noryamin Aini, dll yang secara umum berpendapat bahwa untuk dapat menerapkan pengarustamaan gender dengan baik, setiap lembaga melalui orang-orang yang terlibat di dalamnya agar selalu meningkatkan kapasitasnya melalui kegiatan pelatihan dan pembelajaran, baik formal maupun informal. Dalam konteks ini dosen memiliki peran yang sangat vital sebagai perancang kurikulum. Memang pada gilirannya mendesign kurikulum yang memiliki muatan gender menjadi suatu keniscayaan. Karena lingkaran ketidakadilan gender dapat dipotong melalui jalur ini.

Dengan mengutip pendapat Tony Beck dalam bukunya A Quick Guide to Using Gender-Sensitive Indicators, dapatlah diketahui beberapa area kunci untuk indikator sensitifitas gender. Indikator gender ini dirancang sebagai daftar periksa untuk memberikan panduan yang luas dimana indikator spesifik dapat dibuat, sesuai dengan konteks penggunaannya. Pengkajian atas indikator-indikator tersebut akan dapat berguna dalam menetapkan konteks pekerjaan pengarustamaan gender di Indonesia, antara lain; komposisi dan perubahan populasi, penyebaran perumahan dan geografis, rumah tangga dan keluarga, status pernikahan, kesuburan, latar belakang pendidikan formal dan non-formal, kesehatan, pelyanan, akses terhadap lahan, kegiatan ekonomi dan keikutsertaannya dalam lapangan kerja, hak dan hukum dan kekuatan politik, kekerasan terhadap perempuan, gender dan makroekonomi. Indikator tersebut dapatlah digunakan dengan disusuaikan dengan karakter setiap --pemerintah-- yang tentu saja berbeda. Dengan indikator gender ini diharapkan akan dapat menggugah kesadaran gender masyarakat pada semua lembaga yang ada. (Adib,Gja)