|
Swara Ditpertais: No. 14 Th. II, 31 Agustus 2004
|
INDIKATOR
GENDER
Pengarustamaan
gender (gender mainstreaming) menjadi tema sentral dalam setiap kajian
dan seminar. Hal ini menunjukkan bahwa discourse mengenai gender sampai
detik ini masih merupakan “pekerjaan rumah” yang belum terselesaikan
secara tuntas dan komprehensif. Baik dalam aspek pemahaman, maupun aplikasi
di lapangan. Kenyataan inilah yang membuat Direktorat Perguruan Tinggi
Agama Islam melalui Subdit Penelitian selalu memberikan support kepada
lembaga pusat studi gender/wanita untuk secara terus-menerus melakukan
sosialisasi tentang gender. Belum lama ini seminar tentang gender baru
saja dilaksanakan di hotel Sofyan Cikini, pada tanggal 17-19 bulan Agustus
yang lalu.
Pada
pertemuan pengurus gender atau pusat studi wanita PTAI pada tahun sebelumnya
ada semacam gagasan untuk memberikan “quota” dan skala prioritas
terhadap penelitian yang mempunyai misi dalam memperjuangkan gerakan gender.
Maka, pada tahun ini isu yang muncul adalah bagaimana melihat indikator
gender dalam setiap aktifitas kehidupan. Dengan model pendekatan indikator
gender semacam ini, maka akan dapat menjadi salah alat ukur (measurement
tools) sejauhmanakah sensifitas gender yang ada pada masing-masing lembaga.
Dengan demikian, komitmen terhadap perjuangan gender dapat diukur. Upaya
untuk memperjuangkan gerakan gender dengan sistem “qouta”
tidak lain merupakan afirmatif action, agar ada perjuangan dan kesempatan
yang sederajat (equal dan fair).
Bapak
Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam H. Arief Furqan, M.A, Ph.D dalam
sambutannya mengingatkan agar pertemuan ini dapat menjadi wahana evaluasi
bersama bagi para pengurus gender di PTAI, sejauhmanakah hasil perjuangan
mereka selama ini. Dan yang paling penting adalah motivasi dalam memperjuangkan
kesetaraan gender ini tidak mengalami distorsi dan deviasi. Yakni dilandasi
oleh semangat hanya sekedar mencari funding. Karena diakui atau tidak,
pembahasan tentang gender memiliki daya tarik tersendiri bagi para pemberi
donor.
Dalam
kesempatan tersebut tampil para pembicara antara Dr. Musdah Mulia, APU,
Noryamin Aini, dll yang secara umum berpendapat bahwa untuk dapat menerapkan
pengarustamaan gender dengan baik, setiap lembaga melalui orang-orang
yang terlibat di dalamnya agar selalu meningkatkan kapasitasnya melalui
kegiatan pelatihan dan pembelajaran, baik formal maupun informal. Dalam
konteks ini dosen memiliki peran yang sangat vital sebagai perancang kurikulum.
Memang pada gilirannya mendesign kurikulum yang memiliki muatan gender
menjadi suatu keniscayaan. Karena lingkaran ketidakadilan gender dapat
dipotong melalui jalur ini.
Dengan
mengutip pendapat Tony Beck dalam bukunya A Quick Guide to Using Gender-Sensitive
Indicators, dapatlah diketahui beberapa area kunci untuk indikator sensitifitas
gender. Indikator gender ini dirancang sebagai daftar periksa untuk memberikan
panduan yang luas dimana indikator spesifik dapat dibuat, sesuai dengan
konteks penggunaannya. Pengkajian atas indikator-indikator tersebut akan
dapat berguna dalam menetapkan konteks pekerjaan pengarustamaan gender
di Indonesia, antara lain; komposisi dan perubahan populasi, penyebaran
perumahan dan geografis, rumah tangga dan keluarga, status pernikahan,
kesuburan, latar belakang pendidikan formal dan non-formal, kesehatan,
pelyanan, akses terhadap lahan, kegiatan ekonomi dan keikutsertaannya
dalam lapangan kerja, hak dan hukum dan kekuatan politik, kekerasan terhadap
perempuan, gender dan makroekonomi. Indikator tersebut dapatlah digunakan
dengan disusuaikan dengan karakter setiap --pemerintah-- yang tentu saja
berbeda. Dengan indikator gender ini diharapkan akan dapat menggugah kesadaran
gender masyarakat pada semua lembaga yang ada. (Adib,Gja)
|