|
Swara Ditpertais: No. 14 Th. II, 31 Agustus 2004
|
MEMETAKAN
WACANA KEISLAMAN
(Islam Emansipatoris)
Sebagaimana
diketahui bahwa wacana (discourse), bagaimana menempatkan Islam dalam
zaman yang terus mengalami pergerakan mengalami perkembangan yang cukup
signifikan. Ada beberapan labeling yang belakangan ini muncul ke permukaan,
yakni Islam liberal dan Islam emansipatoris. Kemunculan nama-nama ini
bukanlah sesuatu hal yang baru, karena sebelumnya juga sudah banyak tawaran
yang muncul, antara lain Islam transformatif (Moeslim Abdurrahman), Islam
Aktual (Jalaluddin Rahmat), dan beberapa nama lain. Inti dari semuanya
adalah ingin menempatkan hubungan yang pas (viabel) antara Islam dengan
dinamika yang terus berubah. Apalagi ketika ajaran Islam dibawa ke arah
arus formalisme dan tekstualisme Islam. Sebagaimana kemunculan Islam Liberal
yang mencoba merespon kecenderungan pemahaman Islam yang bersifat simbolik-tekstual,
maka munculnya Islam emansipatoris juga membawa misi dan reasoning yang
berbeda. Berikut ini merupakan elaborasi dari paper Masdar Farid Masúdi
dalam sebuah seminar di PTAI yang mencoba merekam peta wacana ke Islam
di Indonesia, beserta penjelasan tawaran Islam emansipatoris.
Seperti
halnya Islib (Islam Liberal), Islam emansipatoris juga mencoba memetakan
wacana keislaman yang ada. Sebagian ada semacam “titik temu”
dengan wacana yang dipetakan oleh Islib, dan sebagian lagi tentu tidak.
Kalau persis ketemu dari A sampai Z, namanya duplikasi. Islam emansipatoris
memetakan wacana keislamana yang ada sebagai berikut . Pertama, kelompok
Islam Skriptualistik, tekstualistik, dan formalistik, yaitu Islam yang
fokusnya atau titik mula dan titik akhirnya adalah teks. Teks berfungsi
sebagai Alpha dan omeganya dan perananya adalah sentral: dari teks dan
berakhir kepada teks. Sejarah Islam model ini panjang sekali. Bisa dikatakan
bahwa dunia Islam ini adalah dunia skriptualis sehingga ada benarnya Nashr
Hamid Abu Zaid mengatakan bahwa salah satu dari tiga peradaban adalah
peradaban teks, yaitu peradaban yang dikuasai Islam. Realitas ini telah
memancing wacana yang sangat kritis terhadap teks yang pada intinya ingin
mendekonstruksikan teks itu sendiri. Wacana yang paling populer adalah
wacana Mohammad Arkoun dan Al-Jabiri yang berguru pada ahli dekonstruksi
barat.
Bagi
orang seperti Arkoun, yang tidak hidup di dunia ketiga (negara berkembang)
melainkan dunia pertama (Perancis), melihat masyarakat Islam atau masyarakat
teks yang tidak maju dibandingkan masyarakat yang tidak mengenal teks
(Islam) pastilah “gregetan”. Dalam benaknya muncul keyakinan
adanya something wrong atau sebuah paradoks yang luar biasa seriusnya,
yaitu masyarakat yang teksnya begitu suci dan diagungkan ternyata tidak
maju, sebaliknya masyarakat yang tidak hidup di atas teks suci seperti
barat ternyata bisa maju luar biasa. Kebetulan ada teori-teori dekonstruksi
dari lingkungannya, sehingga pada akhirnya dia mengambil posisi dekonstruksi
teks.
Ìni
adalah pola keislaman yang begitu kuat. Kita semua cukup merasakan kegetiran
pemikir seperti Arkoun dkk. Pertanyaannya adalah apakah dengan mengahncurkan
otoritas teks itu lalu akan selesai, dan langsung naik kelas seperti orang
barat yang tidak pernah merujuk pada teks? Ini merupakan pertanyaan yang
kritis juga. Meskipun sebenarnya mengatakan masyarakat barat tidak pernah
bertolak dari teks, tidak sepenuhnya benar, karena apa yang menjadi obsesi
Derrida dan Foucault juga berangkat dari adanya dominasi teks juga. Namun
demikian dominasi teks yang terjadi tidak sesakral dan se-hegemonik umat
Islam sehingga dekonstruksi yang ditawarkan lebih memungkinkan, sedangkan
tawaran yang sama pada umat Islam bisa jadi lebih sulit, kalau tidak boleh
dikatakan mustahil.
Salah
satu sebab penting dalam hal ini adalah kenyataan bahwa dunia Islam yang
terbelakang atau pasca terjajah sedang tidak memiliki kebanggaan internal.
Hampir tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan. Dari sudut kemajuan ilmu
atau politik misalnya, tidak ada sistem politik negara Islampun yang dapat
dijadikan rujukan. Paling banter Malaysia, meskipun lebih baik dari lainnya,
menurut kapasitasnya dia hanyalah the best of the west. Mungkin juga Irak
memiliki kelebihan tertentu, tetapi lagi-lagi kelebihannya tak sebanding
dengan kelebihan politik di luar Islam. Demikian juga dunia intelektual,
seni dan kebudayaan juga sulit ditemukan. Lebih-lebih jika kita lihat
pada aspek-aspek yang lebih sublim dari itu.
Nah,
satu-satunya yang dibanggakan umat Islam adalah teksnya yang suci itu:
Alqurán yang diakui sebagai satu-satunya teks yang otentik dari
Tuhan, La yamassuhu illa al-muthahharun, bukan hanya oleh umat Islam tetapi
juga oleh orientalis. Mereka mengakui Al-quran sebagai ke-ilahian dari
Tuhan yang tidak dimiliki komunitas agama lain, baik komunitas injil,
Zabur, mapun Taurat.
Jadi,
satu-satunya yang bisa dibanggakan umat Islam hanyalah otentisitas teksnya
yang suci itu. Kalau satu-satunya yang dibanggakan harus dihancurkan atau
didekonstruksi, maka secara “psikologi” terlalu berat untuk
ditanggung umat Islam, sehingga tak sadar seringkali orang menjadi fanatik
terhadap teks dan sangat curiga terhadap orang yang ingin mempertanyakan
teks. Inilah realitasnya. Langkah radikal terhadap teks yang begitu diagungkan
seringkali membuat terpental dan tidak lagi didengarkan umat. Ini problem
psikologis umat yang susah dibongkar meskipun dengan olok-olok yang teramat
sangat.
Apa yang ditawarkan Arkoun dan pemikir yang se-arus dengannnya menjadi
tidak begitu bermanfaat sebagai pemicu perumusan masa depan. Apa yang
ditawarkan Ahmad Khalafullah lebih menjanjikan karena lebih empatik. Dekonstruksi
yang dilakukannya tidak diarahkan pada teks itu sendiri melainkan pada
teori dan metodologi lama, disertai metode baru dan aplikasinya pada teks.
Langkah ini lebih positif dan menjajnjikan. Sehingga upaya yang lebih
strategis didekonstruksi adalah metodologi, bukan teks itu sendiri.
Problem
yang lebih serius dalam wacana Islam skripturalsitik, tekstualistik dan
formalistik adalah bahwa teks yang mejadi pijakan tidak hanya teks primer
(Al-Quran) tapi juga teks sekunder (al Hadits) dan teks tersier turut
tersakralisasi. Dekonstruksi pada sakralitas teks yang berlapis-lapis
ini menjadi penting dilakukan. Dalam komunitas pesantren atau NU misalnya,
otoritas teks yang dihayati sesungguhnya bukanlah teks primer ataupun
sekunder, tapi tertier. Ini bisa dilihat dari jantungnya fiqh: Bahtsul
masail. Standar kebenaran tidak dicari pada teks dengan otoritas tinggi
seperti Al-quran, Hadits atau Madzhab Empat, tapi pada otoritas ulama
pada tingkatan yang paling rendah yaitu ashhab muttafaqálaihi wa
al-rafií.
Contoh
mutakhirnya adalah bahtsul masail pada pra Munas 25-28 Juni 2002 lalu.
Masalah-masalah yang diangkat pada saat itu adalah masalah-masalah ashriyah
(kontemporer) yang tidak ada rujukannnya di kitab kuning seperti hutang
negara, korupsi dan money politic. Karena persoalan-persoalan ini tidak
dibahas dalam rujukan standar (al-kutub al-mu’tabarah), sebagian
peserta mengusulkan untuk tidak dibahas. Persoalan seperti ini jelas tidak
bisa dirujuk dalam qaul, tapi dalam manhaj. Akhirnya harus ada keberanian
untuk mentolerir rujukan kitab yang putih (bukan kitab kuning). Money
politic apakah harus dikembalikan pada negara atau bagaimana? Menurut
Kiai Sahal, uang ini adalah uang hilang (luqathah) sehingga harus dikembalikan
pada pemiliknya. Kalau kita terbatas hanya pada teks atau qaul sebenarnya
kita telah menutupi diri pada falsafah al-hukm. Ketika kita “terbelenggu”
pada teks partikular, bukan berarti seluruh teks menjadi tidak absah.
Tapi kalau kita terbelenggu pada teks partikular dan kita ingin membebaskan
diri darinya, rupanya kita kembali kepada teks yang fundamental. Ini beberapa
pilihan dalam proses pembebasan diri dari teks.
Kedua,
Islam Ideologis. Yaitu Islam yang berangkat tidak dari memuja teks tapi
dari pilihan kebenaran yang diideologikan. Teks menjadi sekunder dan yang
primer adalah ideologinya. Pola Islam ini menggunakan teks sebagai pembenaran,
legitimasi, dan justifikasi. Biasanya sikap ideologis ini pemicunya adalah
kepentingan kekuasaan sehingga subur dalam wacana politik. Kalau kita
runut sejarahnya adalah sekte-sekte Islam seperti Syiah, Khawarij, dan
status quo Sunni. Sikapnya menjadi Fundamental. Barangakali dalam konteks
sekarang adalah barat yang diidentifikasikan sebagai kristen. Islam Fundamentalis
ada disini dalam konteks ideologis.
Ketiga,
Islam modernis. Visi modernisme dalam Islam adalah bagaimana kita melakukan
rekonsiliasi teologis terhadap realitas modern. Modernitas adalah fakta
yang given. Islam fundamental berpusat pada kebenaran ideologis, sedangkan
Islam modernis berpusat pada kebenaran yang didefinisikan orang lain.
Ini kelompok dominan yang menjadi pemilik kebenaran. Islam modernis adalah
Islam yang sedang melakukan justifikasi dan peneyusaian teologis (islah)
terhadap fakta-fakta kemodernan. Inilah realitas sesungguhnya, yang mana
seorang muslim tidak bisa lari dan hanya bisa melakukan penyesuaian-penyesuaian.
Karena itu, isu Islam modernis adalah isu-isu modernisme itu sendiri,
sedangkan musuhnya dalah siapa saja yang melawan realitas dominan itu
sendiri.
Ketiga
kelompok Islam ini tidak berbeda yakni tidak memberikan Liberation, bahkan
kadang-kadang Islam Modernis memeperlakukan Islam Fundamentalis persis
sama dengan tindakan Islam Fundamentalis itu sendiri. Pilihannnya hanya
menghancurkan. Adapun Islam Ideologis yang muncul dengan isu Barat-Islam,
Palestina, Osama bin Laden sebagai justifikasinya, adalah kelompok-kelompok
radikal dan kelompok lemah yang terpinggirkan yang tidak bisa menyelamatkan
eksistensi diri kecuali hanya dengan cara radikal. Tidak mungki orang
begitu radikal jika tidak ada persoalan yang begitu serius. Pertanyaannya
adalah kenapa kelompok dominan tidak berupaya berempati dengan kelompok
pinggiran?rasa empati inilah yang tidak dimiliki teologi dominan sehingga
tidak ada ruang untuk pemeberian maaf dan dialog.
Ketika
umat Islam berada dalam problem ketidak berdayaan dan keterbelakangan
yang total, maka hanya satu yang dibanggakan, yaitu teks suci itu. Pilihannnya
adalah apakah teks harus ditinggalkan atau bagaimana? Bukankah orang lain
bisa bangkit tanpa teks, walaupun sebenarnya modernisme baratpun sebenarnya
merujuk pada teks-teks Yunani Kuno sebagai acuan penegmbangan dan penyesuainnya.
Dan seorang muslim jelas tidak bisa go to hell begitu saja, karena dengan
meninggalkan teks beraqrti a historis.
Pilihan
yang diambil dengan pemetaan yang ada adalah istilah yang disebut Emansipatoris.
Pada perspektif dasarnya emansipatoris ini tidak bisa lepas dari sejarah
teori kritis, yang mana rujukannya ada beberapa macam dari aliran sangat
kiri, kiri dalam, dan kiri luar, sehingga disebut Islam Kritis. Kritis
di sini bukan berarti bertanya terus atau rengkel.
Kritisisme
ada dua elemen. Pertama : realitas material, sebuah pemikiran yang mempertanyakan
ideologi hegemonik yang bertolak pada kehidupan riil dan materiil atau
mempertanyakan hegemoni bertolak pada realitas empirik. Kedua, Visi transformatif,
memiliki komitmen pada perubahan struktur (relasi-relasi), baik relasi
kekuasaan dalam dunia produktif (majikan-buruh), maupun relasi hegemonik
dalam hubungan pemberi dan penerima narasi (ulama-umat)., maupun relasi
politik(penguasa-rakyat).
Berbeda
dengan paradigma Islam lainnya, titik tolak Islam Emansipatoris adalah
problem kemanusiaan, bukan teks suci (teks-ide) sebagaimana Islam skriptualis,
ideologis, maupun modernis. Teks-teks suci disini sub-ordinat terhadap
pesan moral, etik ataupun spritual, sehingga ia tidak dipahami sebagai
undang-undang, melainkan sebagai sinar pembebasan. Pada teoritisasi perubahan,
watak transformatif Islam emansipatoris akan didefinisikan sebagai landasan
bagi misi Islam Emansipatoris berupa aksi pembebasan. Dan aksi ini tentu
akan diterapkan pada problem kemanusiaan yang riil tadi. Memang secara
integral, Islam Emansipatoris tidak akan berhenti pada dekonstruksi dan
pembongkaran teks yang membuat kita linglung, tapi teks dijadikan sebagai
wahana pembebasan. Karena realitas dominasi tidak hanya wacana, melainkan
juga dominasi yang bersifat riil dan materiil. (Adib, Gja-IM). |