Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   
PEMBUKAAN KERJASAMA LUAR NEGERI


Swara Ditpertais: No. 14 Th. II, 31 Agustus 2004

PEMBUKAAN KERJASAMA LUAR NEGERI:
LANGKAH STRATEGIS MENINGKATKAN KUALITAS PTAI

Persoalan utama yang dihadapi oleh Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dewasa ini antara lain yang paling pokok adalah masih rendahnya kualitas akademik PTAI. Kondisi semacam ini dapat dibuktikan dengan masih rendahnya mutu lulusan dan rendahnya kontribusi PTAI terhadap pengembangan keilmuan. Kalau saja kita melakukan perbandingan dengan Universitas-Universitas yang ada di Luar Negeri, dua agenda PTAI (mutu lulusan dan pengembangan keilmuan) akan terlihat “tertinggal” dengan pengembangan keilmuan yang ada di Universitas-Universitas Luar Negeri. Secara obyektif harus diakui, bahwa Perguruan Tinggi Agama Islam di lingkungan Direktorat PTAI perlu segera berbenah dan lebih meningkatkan program Islamic Studies yang sudah ada.

Untuk menjawab persoalan ini Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam melalui Subdit Kerjasama Luar Negeri membuka hubungan kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia. Perlunya membuka hubungan ini, sebagaimana dijelaskan Affandi Muchtar, didasarkan pada tantangan ke depan Perguruan Tinggi Agama Islam, dituntut harus mampu mensinergikan antara peranan PTAI dengan kebutuhan pasar bebas dan globalisasi pendidikan. Di samping itu, Direktorat PTAI dengan banyak melakukan kerjasama luar negeri akan dapat berintrospeksi diri akan kekurangberhasilan PTAI mencapai dua agenda PTAI dimaksud.

Kekurangberhasilan ini, lanjut Affandi Muchtar,-- jika dikaji secara filosofis—lebih banyak diakibatkan kurang optimalnya keseriusan dari segenap sivitas akademik PTAI dalam mengejar ketertinggalan yang sangat berarti bagi eksistensi PTAI ke depan. Oleh karena itu, Pentingnya melakukan kerjasama dengan Universitas-Universitas yang lebih maju adalah untuk meningkatkan kualitas PTAI ke depan agar lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

Jika melihat kenyataan yang ada sekarang ini, banyak dosen PTAI yang dikirim belajar di Barat dan Timur Tengah telah menguasai metodologi dan materi studi, tetapi kendala terhadap penguasaan metodologi dan materi-materi keilmuan hasil studi Ulama abad pertengahan belum mendapatkan perhatian yang serius dari PTAI. Tentu saja, pihak Direktorat PTAI memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk Peningkatkan Mutu PTAI. Pembukaan kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia dimaksud telah dimulai dengan kegiatan berupa Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia. Pentingnya melakukan kegiatan berupa Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia karena kegiatan ini merupakan bagian strategis untuk keberhasilan peningkatan kualitas akademik PTAI.

Dasar pemikiran inilah yang mendorong Bagian Proyek Kerjasama Luar Negeri untuk melakukan kegiatan berupa Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia. Kegiatan membuka hubungan kerjasama ini, menurut Pimpro Subdit Kerjasama Luar Negeri, Reni Hidayati, “diharapkan dapat meningkatkan kemajuan Perguruan Tinggi Agama Islam.” Peserta Technical Mission Kerjasama Malaysia ini akan bertugas : meningkatkan kerjasama dengan Universitas-Universitas di Malaysia; membuka hubungan kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia; melaporkan hasil pelaksanaan tugas secara tertulis kepada Direktur Jenderal Agama Islam Cq Pemimpin bagian Proyek Peningkatan Kerjasama Luar Negeri.

Oleh karena itu, dalam rangka memperbaiki kinerja PTAI meningkatkan kualitas lulusan dan melakukan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, Direktorat PTAI telah melakukan hubungan kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Malaysia. Keberhasilan melakukan hubungan Kerjasama ini juga dapat dijadikan sebagai program lanjutan untuk mensetandarkan program Islamic Studies PTAI dengan program-program unggulan Islamic Studies yang berkembang di Barat dan Timur Tengah.

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendesak di atas, Subdit Kerjasama Luar Negeri telah melakukan upaya Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia dengan melibatkan para pengelola PTAI. Tujuan dari pemberian kesempatan ini untuk meningkatkan kualitas akademik PTAI. Mengapa hubungan kersama ini perlu dibangun dengan melakukan Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia? Karena sudah saatnya dibutuhkan para pengelola PTAI yang benar-benar memahami bagaimana meningkatkan kualitas dan mutu pengelolaan PTAI. Yang menjadi perhatian utama dalam membangun hubungan kerjasama ini adalah memenuhi ketertinggalan para lulusan dan pengembangan keilmuan yang dikembangkan di Barat dan Timur Tengah.

Sesuai dengan penegasan Direktur PTAI, Arief Furchan, penilaian seperti ini bukan menjelek-jelekkan diri sendiri, tetapi dalam rangka instropeksi diri untuk lebih baik melaksanakan program kegiatan berikutnya. Kegagalan mencapai dua tujuan pokok pendidikan tinggi seperti di atas, akan menjadi sangat ironis jika dibandingkan dengan banyaknya lulusan PTAI. Dengan banyaknya para lulusan ini seolah-oleh telah menghasilkan para sarjana yang semuanya siap (pakai) menjawab problem masyarakat. Artinya segala urusan dan permasalahan keagamaan yang berkembang di masyarakat akan dapat diselesaikan dan terjawab sesuai dengan spesifikasi bidang keahlian yang ditekuni di PTAI.

Hingga sekarang ini, kapasitas intelektual dan keilmuan para dosen PTAI menunjukkan lain, banyak dari para dosen yang belum sanggup menjawab setiap permasalahan keagamamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Pada umumnya dari mereka ini setelah kembali ditengah-tengah masyarakat hanya berorientasi pada hal-hal yang tidak produktif dan lemah di bidang pengembangan ilmu-ilmu keislaman.
Jika realitasnya demikian, maka harus ada perubahan dan penanganan secara serius dari pihak pengelola PTAI. Sehingga masyarakat benar-benar yakin akan kehadiran para ilmuwan muslim dari Perguruan Tinggi Agama Islam. Namun yang terjadi sekarang ini, justru banyak masyarakat mengabaikan keilmuan para lulusan PTAI. Banyak masyarakat yang menggantungkan segala persoalan keagamaannya kepada pesantren. Sedangkan secara institusi, dalam masalah-masalah keagamaan, masyarakat masih menoleh ke lembaga keagamaan lain di luar PTAI. Dalam bahasa lain—nothing to do—dengan output PTAI.

Beberapa usaha menjawab problem ini telah dilakukan oleh direktorat PTAI, di antaranya langkah-langkah yang sudah ditempuh oleh Direktorat PTAI melalui Subdit Kerjasama Luar Negeri dengan melakukan Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia. Alasan dilakukan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan dan mengembangkan kemajuan PTAI.

Upaya di atas merupakan komitmen dan concern kami (Ditpertais) melalui, subdit Kerjasama Luar Negeri yang selalu berupaya memfasilitasi segala bentuk aktifitas yang berujung kepada peningkatan kualitas PTAI. Sehingga dengan segala upaya yang diamanahkan kepada kami, kami telah berusaha menjalankannya semaksimal mungkin dengan melakukan semua yang telah ditetapkan dalam SK Dirjen Baga Islam Departemen Agama RI,” demikian tegas Reni Hidayati mengakhiri perbincangan dengan Crew Swara Ditpertais. (Ubay)