|
Swara Ditpertais: No. 14 Th. II, 31 Agustus
2004
|
PEMBUKAAN
KERJASAMA LUAR NEGERI:
LANGKAH STRATEGIS MENINGKATKAN KUALITAS PTAI
Persoalan
utama yang dihadapi oleh Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dewasa ini
antara lain yang paling pokok adalah masih rendahnya kualitas akademik
PTAI. Kondisi semacam ini dapat dibuktikan dengan masih rendahnya mutu
lulusan dan rendahnya kontribusi PTAI terhadap pengembangan keilmuan.
Kalau saja kita melakukan perbandingan dengan Universitas-Universitas
yang ada di Luar Negeri, dua agenda PTAI (mutu lulusan dan pengembangan
keilmuan) akan terlihat “tertinggal” dengan pengembangan keilmuan
yang ada di Universitas-Universitas Luar Negeri. Secara obyektif harus
diakui, bahwa Perguruan Tinggi Agama Islam di lingkungan Direktorat PTAI
perlu segera berbenah dan lebih meningkatkan program Islamic Studies yang
sudah ada.
Untuk
menjawab persoalan ini Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam melalui
Subdit Kerjasama Luar Negeri membuka hubungan kerjasama dengan Kementerian
Pendidikan Tinggi Malaysia. Perlunya membuka hubungan ini, sebagaimana
dijelaskan Affandi Muchtar, didasarkan pada tantangan ke depan Perguruan
Tinggi Agama Islam, dituntut harus mampu mensinergikan antara peranan
PTAI dengan kebutuhan pasar bebas dan globalisasi pendidikan. Di samping
itu, Direktorat PTAI dengan banyak melakukan kerjasama luar negeri akan
dapat berintrospeksi diri akan kekurangberhasilan PTAI mencapai dua agenda
PTAI dimaksud.
Kekurangberhasilan
ini, lanjut Affandi Muchtar,-- jika dikaji secara filosofis—lebih
banyak diakibatkan kurang optimalnya keseriusan dari segenap sivitas akademik
PTAI dalam mengejar ketertinggalan yang sangat berarti bagi eksistensi
PTAI ke depan. Oleh karena itu, Pentingnya melakukan kerjasama dengan
Universitas-Universitas yang lebih maju adalah untuk meningkatkan kualitas
PTAI ke depan agar lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.
Jika
melihat kenyataan yang ada sekarang ini, banyak dosen PTAI yang dikirim
belajar di Barat dan Timur Tengah telah menguasai metodologi dan materi
studi, tetapi kendala terhadap penguasaan metodologi dan materi-materi
keilmuan hasil studi Ulama abad pertengahan belum mendapatkan perhatian
yang serius dari PTAI. Tentu saja, pihak Direktorat PTAI memiliki tanggung
jawab yang lebih besar untuk Peningkatkan Mutu PTAI. Pembukaan kerjasama
dengan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia dimaksud telah dimulai dengan
kegiatan berupa Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia. Pentingnya
melakukan kegiatan berupa Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia
karena kegiatan ini merupakan bagian strategis untuk keberhasilan peningkatan
kualitas akademik PTAI.
Dasar
pemikiran inilah yang mendorong Bagian Proyek Kerjasama Luar Negeri untuk
melakukan kegiatan berupa Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia.
Kegiatan membuka hubungan kerjasama ini, menurut Pimpro Subdit Kerjasama
Luar Negeri, Reni Hidayati, “diharapkan dapat meningkatkan kemajuan
Perguruan Tinggi Agama Islam.” Peserta Technical Mission Kerjasama
Malaysia ini akan bertugas : meningkatkan kerjasama dengan Universitas-Universitas
di Malaysia; membuka hubungan kerjasama dengan Kementerian Pendidikan
Tinggi Malaysia; melaporkan hasil pelaksanaan tugas secara tertulis kepada
Direktur Jenderal Agama Islam Cq Pemimpin bagian Proyek Peningkatan Kerjasama
Luar Negeri.
Oleh
karena itu, dalam rangka memperbaiki kinerja PTAI meningkatkan kualitas
lulusan dan melakukan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, Direktorat PTAI
telah melakukan hubungan kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Malaysia.
Keberhasilan melakukan hubungan Kerjasama ini juga dapat dijadikan sebagai
program lanjutan untuk mensetandarkan program Islamic Studies PTAI dengan
program-program unggulan Islamic Studies yang berkembang di Barat dan
Timur Tengah.
Untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendesak di atas, Subdit Kerjasama Luar Negeri
telah melakukan upaya Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama Malaysia
dengan melibatkan para pengelola PTAI. Tujuan dari pemberian kesempatan
ini untuk meningkatkan kualitas akademik PTAI. Mengapa hubungan kersama
ini perlu dibangun dengan melakukan Pemberangkatan Technical Mission Kerjasama
Malaysia? Karena sudah saatnya dibutuhkan para pengelola PTAI yang benar-benar
memahami bagaimana meningkatkan kualitas dan mutu pengelolaan PTAI. Yang
menjadi perhatian utama dalam membangun hubungan kerjasama ini adalah
memenuhi ketertinggalan para lulusan dan pengembangan keilmuan yang dikembangkan
di Barat dan Timur Tengah.
Sesuai
dengan penegasan Direktur PTAI, Arief Furchan, penilaian seperti ini bukan
menjelek-jelekkan diri sendiri, tetapi dalam rangka instropeksi diri untuk
lebih baik melaksanakan program kegiatan berikutnya. Kegagalan mencapai
dua tujuan pokok pendidikan tinggi seperti di atas, akan menjadi sangat
ironis jika dibandingkan dengan banyaknya lulusan PTAI. Dengan banyaknya
para lulusan ini seolah-oleh telah menghasilkan para sarjana yang semuanya
siap (pakai) menjawab problem masyarakat. Artinya segala urusan dan permasalahan
keagamaan yang berkembang di masyarakat akan dapat diselesaikan dan terjawab
sesuai dengan spesifikasi bidang keahlian yang ditekuni di PTAI.
Hingga
sekarang ini, kapasitas intelektual dan keilmuan para dosen PTAI menunjukkan
lain, banyak dari para dosen yang belum sanggup menjawab setiap permasalahan
keagamamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Pada umumnya
dari mereka ini setelah kembali ditengah-tengah masyarakat hanya berorientasi
pada hal-hal yang tidak produktif dan lemah di bidang pengembangan ilmu-ilmu
keislaman.
Jika realitasnya demikian, maka harus ada perubahan dan penanganan secara
serius dari pihak pengelola PTAI. Sehingga masyarakat benar-benar yakin
akan kehadiran para ilmuwan muslim dari Perguruan Tinggi Agama Islam.
Namun yang terjadi sekarang ini, justru banyak masyarakat mengabaikan
keilmuan para lulusan PTAI. Banyak masyarakat yang menggantungkan segala
persoalan keagamaannya kepada pesantren. Sedangkan secara institusi, dalam
masalah-masalah keagamaan, masyarakat masih menoleh ke lembaga keagamaan
lain di luar PTAI. Dalam bahasa lain—nothing to do—dengan
output PTAI.
Beberapa
usaha menjawab problem ini telah dilakukan oleh direktorat PTAI, di antaranya
langkah-langkah yang sudah ditempuh oleh Direktorat PTAI melalui Subdit
Kerjasama Luar Negeri dengan melakukan Pemberangkatan Technical Mission
Kerjasama Malaysia. Alasan dilakukan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan
dan mengembangkan kemajuan PTAI.
Upaya
di atas merupakan komitmen dan concern kami (Ditpertais) melalui, subdit
Kerjasama Luar Negeri yang selalu berupaya memfasilitasi segala bentuk
aktifitas yang berujung kepada peningkatan kualitas PTAI. Sehingga dengan
segala upaya yang diamanahkan kepada kami, kami telah berusaha menjalankannya
semaksimal mungkin dengan melakukan semua yang telah ditetapkan dalam
SK Dirjen Baga Islam Departemen Agama RI,” demikian tegas Reni Hidayati
mengakhiri perbincangan dengan Crew Swara Ditpertais. (Ubay)
|