|
Swara Ditpertais: No.
12 Th. II, 31 Juli 2004
|
PENINGKATAN
KUALITAS DOSEN:
Sebuah Tawaran Sistem Manajemen Efektif Dan
Pembelajaran Aktif Di (PTAI)
Ada
semacam stereotyping di masyarakat kita, bahwa pendidikan Islam selalu
diasosiasikan dengan lembaga pendidikan terbelakang. Hal ini tidak dipungkiri
karena pendidikan Islam terutama pendidikan tingginya, sering tidak menelurkan
lulusan (educational output) yang memadai, tidak memiliki kemampuan komprehensif-kompetitif
terutama dalam bidang ilmu pengetahuan (science) dan tidak memiliki kompetensi
profesional seperti yang dituntut dunia kerja (work force). Kondisi keterbelakangan
yang selalu dilekatkan ini menempatkan lembaga pendidikan Islam bukan
sebagai kelas utama (the first class) tetapi kelas kedua (the second class).
Hal ini bisa dilihat secara nyata setiap memasuki tahun ajaran baru dimana
para lulusan sekolah menengah atas baik yang umum maupun Islam selalu
berlomba untuk bisa diterima di Perguruan tinggi umum di perguruan tinggi
agama Islam walaupun belakangan ini banyak perguruan tinggi agama Islam
yang menawarkan beragam program studi ilmu pengetahuan umum. Dengan kata
lain, mereka rata-rata masuk perguruan tinggi agama Islam negeri seperti
UIN, IAIN, dan STAIN setelah mereka tahu tidak diterima atau tidak akan
diterima di perguruan tinggi negeri umum seperti UI, UGM, ITB, IPB, UNAIR,
dan sejenisnya.
Keterbelakangan
lembaga pendidikan tinggi agama islam tentunya tidak bisa dipungkiri dari
rendahnya kualitas program pre-service (program reguler untuk mahasiswa
D1,D2,D3 ataupun S1) yang dikelolanya. Bagi kebanyakan mahasiswa yang
mengikuti program seperti ini , kelas tak ubahnya kegiatan belajar-mengajar
yang meliputi datang, duduk, mendengarkan ceramah, melihat dosen menulis
dipapan tulis, lalu mengingat atau bahkan mengcopy (meniru apa adanya)
informasi yang dipresentasikan dosen. Dalam situasi pembelajaran seperti
ini hampir tidak ada kesempatan bagi mahasiswa untuk menuangkan kreatifitasnya
(rasa, cipta dan karsa), mengaktualisasikan potensi diri untuk berinovasi,
ataupun berbagi diri (sharing) untuk sedini mungkin mengoptimalkan kemampuan
mengidentifikasi, merumuskan, mendiagnosa, dan sebisa mungkin memecahkan
masalah (problem solving). Demikian juga para dosen kurang, atau bahkan
hampir tidak, dibekali dengan metodologi yang cukup untuk membawakan materi
kuliah yang inovatif dan belajar aktif (active learning). Pikiran para
dosen selalu dipenuhi dengan upaya mengajarkan apa yang ada dalam kurikulum
dan sebisa mungkin mengejar target mata kuliah yang telah dirumuskan dalam
kurikulum. Mereka hampir tidak berpikir akan upaya meyakinkan mahasiswa
untuk belajar di kelas dan relevansinya dengan kondisi perubahan sosial
yang ada di masyarakat sekitar kelas, suatu kondisi nyata yang akan segera
ditemui mahasiswa setelah keluar dari ruang kelas. Dengan kata lain, karena
selalu berpikir bahwa kurikulum adalah target yang harus dipenuhi dari
proses pembelajaran, para dosen lupa akan tugas mulianya mensiasati (strategize)
relevansi dan kontekstualisasi kurikulum dengan kondisi sosial yang ada
di masyarakat. Kondisi seperti ini kalau dibiarkan berlalu tanpa ada sentuhan
pemecahan masalah tentunya dari tahun ketahun akan menelurkan kualitas
lulusan yang serumpun, mirip dan sama.
Disamping
masalah rendahnya kualitas belajar mengajar pada program pre-service,
keterbelakangan lembaga pendidikan Islam juga tidak bisa dilepaskan dari
faktor pengelolaan (management) secara makro maupun mikro. Secara makro,
dibandingkan dengan Thailand yang mendapatkan jatah 20,1 persen dan Philipina
15,1 persen, suntikan subsidi dana dari pemerintah untuk pelaksanaan Pendidikan
hanya berkisar 7,8 persen dari keseluruhan jumlah APBN (Anggaran perbelanjaan
Negara) (sumber data World Bank 2003). Tidak tersedianya dana yang memadai
dari pemerintah untuk pengelolaan pendidikan tentunya berdampak pada menurunnya
kualitas pendidikan. Sekalipun demikian, kita tidak dapat menyalahkan
kecilnya subsidi Pendidikan sebagai satu-satunya sumber permasalahan.
Sekecil apapun subsidi tersebut kalau kita bisa mengelolanya dengan baik
sesuai standar total quality management (TQM), kita pasti bisa mengantarkan
sistem pengelolaan kampus untuk menunjang pembelajaran aktif. Apalagi
kampus telah memberikan mandat otonomi pengelolaan pembelajaran (decentralized
management) termasukl salah satu didalamnya adalah pendanaan, tentunya
kampus tidak bisa lagi mengkambinghitamkan dengan mengambil alasan minimnya
subsidi pendidikan dari pemerintah pusat sebagai faktor yang berdampak
pada tidak efektifnya sistem pengelolaan kampus dalam rangka menunjang
sistem pembelajaran efektif.
Sedangkan
secara mikro, para pengelola Pendidikan tinggi agama Islam lupa bahwa
kampus itu beda dengan lembaga-lembaga bukan pendidikan (non educational
institution) lainnya. Manajemen pengelolaan kampus secara teoritis diupayakan
untuk memfasilitasi terselenggaranya pembelajaraan yang efektif dan inovatif,
akan tetapi, pada prekteknya para pengelola hanya taken for granted bahwa
manajemen institusi pendidikan itu sama dengan manajemen institusi lainnya.
Mereka, para pengelola, kurang dibekali dengan manajemen modern profesional
yang mencerminkan manajemen berbasis kampus (campus based management)
dan pola kepemimpinan modern (modern leadership model) yang mampu memberikan
fasilitas dan servis efektif-efisien demi terwujudnya sistem dan proses
pembelajaran aktif di kampus.
Dari
identifikasi permasalahan keterbelakangan Pendidikan Tinggi Agama Islam
baik dari sisi sistem manajemen maupun pembelajaran seperti secara singkat
dideskripsi di atas, CDIE (Center For Developing Islam Education) Fakultas
Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga bersama dengan Direktorat Jenderal Kelembagaan
Agama Islam, Depag RI baru-baru ini menyelenggarakan TOT bagi para CPNS-dosen
UIN, IAIN dan STAIN se Indonesia tentang sistem manajemen efektif dan
pembelajaran aktif Pendidikan Tinggi Agama Islam.
Beberapa
materi yang ditawarkan dalam TOT ini secara berurutan dirumuskan secara
berurutan antara lain sebagai berikut adalah (1) sistem manajemen efektif
perguruan tinggi Islam, (2) sistem pembelajaran aktif perguruan tinggi
agama Islam, dan (3) action research. Kegiatan ini dilaksanakan dalam
tiga angkatan, yakni pada tanggal 19 Juli 2004 yang diikuti 55 orang,
angkatan kedua 19 Agustus s/d 17 September 2004 sebanyak 55 peserta dan
angkatan ketiga 19 September s/d 18 oktober 2004 sebanyak 56 peserta.
Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan para calon dosen dan dosen
yang mengikuti workshop ini akan mendapatkan pengetahuan awal bagaimana
cara pengajaran yang baik kepada para mahasiswanya (GJA-Alv).
|