|
Swara Ditpertais: No.
12 Th. II, 31 Juli 2004
|
DOSEN
HARUS MERUPAKAN PENELITI
(Jurnal Sebagai Wahana Aktualisasi)
Dalam
rangka merealisir PTAI yang berkualitas dan mampu memberikan kontribusi
terhadap pengembangan keilmuan, maka Direktorat Perguruan Tinggi Agama
Islam, sebagaimana tercantum dalam visinya, selalu berupaya semaksimal
mungkin memberikan “rangsangan” agar PTAI dapat memerankan
dirinya sebagai agent of social change (agen perubahan sosial). Untuk
menjadi sebuah Perguruan Tinggi yang dapat diajadikan sebagai sumber rujukan
dan tidak kelihatan stagnan, maka peran publikasi karya ilmiah sangatlah
strategis dan penting. Penerbitan karya ilmiah yang dinamis dalam sebuah
perguruan tinggi mencerminkan adanya habit academic dan hidupnya tradisi
ilmiah di kampus tersebut.
Dalam
rangka memback up upaya tersebut, Ditperta melalui kegiatan rutin subdit
kerjasama luar negeri dan publikasi baru-baru ini melaksanakan kegiatan
konsultasi penyelenggaraan akreditasi jurnal. Melalui kegiatan ini antara
lain kita berusaha memfasilitasi upaya pengembangan jurnal, lebih fokusnya
adalah membicarakan bagaimana agar supaya jurnal yang ada di PTAI dapat
terakreditasi dengan baik. Sebagaimana diketahui perkembangan dan pertembuhan
jurnal di PTAI sangatlah mengesanakan. Dimulai dari era tahun 80-an dimana
saat itu dikenal jurnal al-Jami’ah IAIN Yogya, Studi Islamika (IAIN
Jakarta). Dan dilanjutkan pada tahun 90-an dimana hampir di seluruh PTAI
(STAIN dan IAIN) menerbitkan juri penerbitan jurnal di PTAI. Kegiatan
ini melibatkan pakar yang berkompetens, yakni dari Diknas dan LIPI.
Menurut
Kasubdit Kerjasama Luar Negeri dan Publikasi, Affandi Mochtar, M.A, pada
dasarnya diadakanya kegiatan ini tidak lain adalah memanfaatkan momentum
untuk saling bertemu khususnya dalam membahas akreditasi jurnal. Tujuan
yang diinginkan adalah munculnya jurnal yang berkualitas dan terakreditasi,
bahkan diharapkan perkembangan selanjutnya bisa menyentuh pada basis atau
level fakultas. Tentu saja harapan ini merupakan kerja keras dan usaha
kolektif seluruh civitas akademika. Dewasa ini di beberapa PTAI telah
memiliki jurnal bertaraf Internasional seperti Ihya Ulumudin IAIN Semarang.
Keberadaan jurnal internasional ini disamping dikemas dalam bahasa Inggris,
Arab dan Perancis, ia juga menampilkan kontributor (pakar, akademisi)
dari universitas luar negeri.
Namun
dari perkembangan jurnal yang cukup massif tersebut baru sekitar 20 persen
jurnal di PTAI yang telah terakreditasi. Kondisi sangatlah ironis, menunjukan
bahwa kualitas jurnal di PTAI masih perlu didongkrak lagi. Dari 20 persen
itupun hanya dua jurnal yang mendapatkan nilai A, lainya B dan C. Untuk
itulah dengan adanya forum konsultasi ini, Kasubdit berharap akan dapat
mendorong kualitas jurnal, disamping itu dapat dijadikan forum untuk sharing
mengenai problem dan kendala apa yang sedang dihadapi, dan kiat apa saja
untuk mendapatkan akreditasi yang memuaskan.
Direktur Perta H. Arief Furqan, M.A, Ph.D, dalam pertemuan tersebut menyatakan
bahwa kegiatan ini merupkan agenda yang cukup serius, yakni berbicara
mengenai akreditasi jurnal yang secara umum akan dapat bermanfaat bagi
perkembangan dunia intelektual. Forum konsultasi akreditasi jurnal ini
dilaksanakan tidak lain untuk meningkatkan kualitas dan mutu lulusan PTAIN.
Arief juga berharapa agar pemberian financial support kepada PTAIN
dapat dimanfaatkan se-optimal mungkin. Karena ke depan kita akan melibatkan
swasta dalam pemberian bantuan.Hal ini sesuai dengan amanat UU Sisdiknas
2003, dimana pendidikan tidak lagi dibedakan antara negeri dan swasta,
karena keduanya juga ikut memberikan sumbangan terhadap upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa. Perguruan Tinggi Negeri mestinya mensyukuri, dia sudah
mempunyai dana DIP dan DIKs, tidak seperti swasta yang harus banting-tulang
mencari dana untuk peningkatan kualitas pendidikanya. Ibaratnya, Perguruan
Tinggi Negeri (IAIN/UIN/STAIN, ditinggal tidur saja oleh para pemimpinya
pasti akan dapat anggaran, tegas Direktur. Namun sayang, di lapangan
masih saja ditemukan fenomena IAIN/STAIN yang “justru” berebut
kursi jabatan, ini terutama terjadi di STAIN. Mereka lupa bahwa tugas
mereka itu adalah memberikan ilmu, mengajar, dan kegiatan akademik lainnya.
Ini tolong agar diperhatikan, kalau mereka masih saja diributkan dengan
perebutan jabatan, inilah yang mengakibatkan DIP mereka diturunkan atau
daripada pemerintah memberikan bantuan kepada mereka-mereka yang suka
berebut jabatan, maka akan lebih baik kalau dikasihkan saja kepa Perguruan
Tinggi yang mempunyai komitmen terhadap pengembangan keilmuan.
Mengapa
penerbitan di sebuah Perguruan Tinggi penting untuk dilakukan? Penerbitan
merupakan salah satu penciri adanya dinamika intelektual di kampus tersebut,
disamping itu menunjukkan adanya perkembangan keilmuan. Kita sering menemukan
adanya pemimpin Perguruan Tinggi yang tidak menganggap penting sebuah
penerbitan, setidaknya program ini tidak menjadi skala prioritas.
Dengan
adanya pertemuan ini diharapkan akan menjadi jembatan untuk melakukan
koordinasi masing-masing pengurus jurnal, sekaligus mendapatkan laporan
kendala apa saja yang menjadi hambatan bagi pengembangan jurnal di daerah.
Apalagi di tengah-tengah potret keberadaan Perguruan Tinggi Agama Islam
yang juga belum berfungsi sebagaimana mestinya. Perguruan tinggi masih
berfungsi sebagai wahana untuk mengajar, belum sampai pada tahap Research
University.
Direktur
membandingkan ketika melakukan kunjungan ke Canada beberapa waktu yang
lalu, dosen yang ada disana betul-betul menampilkan dirinya sebagai researcher
(peneliti) dan pengajar secara bersamaan. Apa yang diberikan kepada mahasiswa
adalah hasil pengembangan keilmuan, bukan sekedar mentransfer buku sebagaimana
yang terjadi disini, apalagi menghafalkan “diktat” seorang
dosen. Mereka bangga dengan hasil temuan yang mereka lakukan, bahkan dalam
setiap mengajar mereka diharuskan mengambil referensi dari karya oramg
lain.
Memang
perguruan tinggi idealnya mampu menjadi problem solver terhadap problematika
yang terjadi di masyarakat. Disinilah penelitian yang dipublikasikan melalui
jurnal dapat menjadi media untuk mengaktualisasikan diri dalam pengembangan
keilmuan. Untuk mengelola jurnal agar --paling tidak terakreditasi--dibutuhkan
keseriusan. Kita seringkali terjebak oleh cover yang bagus tapi lupa isinya.
Semoga pertemuan konsultasi ini akan membawa manfaat bersama, khususnya
perkembangan jurnal di masing-masing PTAI (Adib, Gja).
|