Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

DOSEN HARUS MERUPAKAN PENELITI


Swara Ditpertais
: No. 12 Th. II, 31 Juli 2004

DOSEN HARUS MERUPAKAN PENELITI
(Jurnal Sebagai Wahana Aktualisasi)

Dalam rangka merealisir PTAI yang berkualitas dan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan, maka Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, sebagaimana tercantum dalam visinya, selalu berupaya semaksimal mungkin memberikan “rangsangan” agar PTAI dapat memerankan dirinya sebagai agent of social change (agen perubahan sosial). Untuk menjadi sebuah Perguruan Tinggi yang dapat diajadikan sebagai sumber rujukan dan tidak kelihatan stagnan, maka peran publikasi karya ilmiah sangatlah strategis dan penting. Penerbitan karya ilmiah yang dinamis dalam sebuah perguruan tinggi mencerminkan adanya habit academic dan hidupnya tradisi ilmiah di kampus tersebut.

Dalam rangka memback up upaya tersebut, Ditperta melalui kegiatan rutin subdit kerjasama luar negeri dan publikasi baru-baru ini melaksanakan kegiatan konsultasi penyelenggaraan akreditasi jurnal. Melalui kegiatan ini antara lain kita berusaha memfasilitasi upaya pengembangan jurnal, lebih fokusnya adalah membicarakan bagaimana agar supaya jurnal yang ada di PTAI dapat terakreditasi dengan baik. Sebagaimana diketahui perkembangan dan pertembuhan jurnal di PTAI sangatlah mengesanakan. Dimulai dari era tahun 80-an dimana saat itu dikenal jurnal al-Jami’ah IAIN Yogya, Studi Islamika (IAIN Jakarta). Dan dilanjutkan pada tahun 90-an dimana hampir di seluruh PTAI (STAIN dan IAIN) menerbitkan juri penerbitan jurnal di PTAI. Kegiatan ini melibatkan pakar yang berkompetens, yakni dari Diknas dan LIPI.

Menurut Kasubdit Kerjasama Luar Negeri dan Publikasi, Affandi Mochtar, M.A, pada dasarnya diadakanya kegiatan ini tidak lain adalah memanfaatkan momentum untuk saling bertemu khususnya dalam membahas akreditasi jurnal. Tujuan yang diinginkan adalah munculnya jurnal yang berkualitas dan terakreditasi, bahkan diharapkan perkembangan selanjutnya bisa menyentuh pada basis atau level fakultas. Tentu saja harapan ini merupakan kerja keras dan usaha kolektif seluruh civitas akademika. Dewasa ini di beberapa PTAI telah memiliki jurnal bertaraf Internasional seperti Ihya Ulumudin IAIN Semarang. Keberadaan jurnal internasional ini disamping dikemas dalam bahasa Inggris, Arab dan Perancis, ia juga menampilkan kontributor (pakar, akademisi) dari universitas luar negeri.

Namun dari perkembangan jurnal yang cukup massif tersebut baru sekitar 20 persen jurnal di PTAI yang telah terakreditasi. Kondisi sangatlah ironis, menunjukan bahwa kualitas jurnal di PTAI masih perlu didongkrak lagi. Dari 20 persen itupun hanya dua jurnal yang mendapatkan nilai A, lainya B dan C. Untuk itulah dengan adanya forum konsultasi ini, Kasubdit berharap akan dapat mendorong kualitas jurnal, disamping itu dapat dijadikan forum untuk sharing mengenai problem dan kendala apa yang sedang dihadapi, dan kiat apa saja untuk mendapatkan akreditasi yang memuaskan.

Direktur Perta H. Arief Furqan, M.A, Ph.D, dalam pertemuan tersebut menyatakan bahwa kegiatan ini merupkan agenda yang cukup serius, yakni berbicara mengenai akreditasi jurnal yang secara umum akan dapat bermanfaat bagi perkembangan dunia intelektual. Forum konsultasi akreditasi jurnal ini dilaksanakan tidak lain untuk meningkatkan kualitas dan mutu lulusan PTAIN. Arief juga berharapa agar pemberian financial support kepada PTAIN dapat dimanfaatkan se-optimal mungkin. Karena ke depan kita akan melibatkan swasta dalam pemberian bantuan.Hal ini sesuai dengan amanat UU Sisdiknas 2003, dimana pendidikan tidak lagi dibedakan antara negeri dan swasta, karena keduanya juga ikut memberikan sumbangan terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Perguruan Tinggi Negeri mestinya mensyukuri, dia sudah mempunyai dana DIP dan DIKs, tidak seperti swasta yang harus banting-tulang mencari dana untuk peningkatan kualitas pendidikanya. Ibaratnya, Perguruan Tinggi Negeri (IAIN/UIN/STAIN, ditinggal tidur saja oleh para pemimpinya pasti akan dapat anggaran, tegas Direktur. Namun sayang, di lapangan masih saja ditemukan fenomena IAIN/STAIN yang “justru” berebut kursi jabatan, ini terutama terjadi di STAIN. Mereka lupa bahwa tugas mereka itu adalah memberikan ilmu, mengajar, dan kegiatan akademik lainnya. Ini tolong agar diperhatikan, kalau mereka masih saja diributkan dengan perebutan jabatan, inilah yang mengakibatkan DIP mereka diturunkan atau daripada pemerintah memberikan bantuan kepada mereka-mereka yang suka berebut jabatan, maka akan lebih baik kalau dikasihkan saja kepa Perguruan Tinggi yang mempunyai komitmen terhadap pengembangan keilmuan.

Mengapa penerbitan di sebuah Perguruan Tinggi penting untuk dilakukan? Penerbitan merupakan salah satu penciri adanya dinamika intelektual di kampus tersebut, disamping itu menunjukkan adanya perkembangan keilmuan. Kita sering menemukan adanya pemimpin Perguruan Tinggi yang tidak menganggap penting sebuah penerbitan, setidaknya program ini tidak menjadi skala prioritas.

Dengan adanya pertemuan ini diharapkan akan menjadi jembatan untuk melakukan koordinasi masing-masing pengurus jurnal, sekaligus mendapatkan laporan kendala apa saja yang menjadi hambatan bagi pengembangan jurnal di daerah. Apalagi di tengah-tengah potret keberadaan Perguruan Tinggi Agama Islam yang juga belum berfungsi sebagaimana mestinya. Perguruan tinggi masih berfungsi sebagai wahana untuk mengajar, belum sampai pada tahap Research University.

Direktur membandingkan ketika melakukan kunjungan ke Canada beberapa waktu yang lalu, dosen yang ada disana betul-betul menampilkan dirinya sebagai researcher (peneliti) dan pengajar secara bersamaan. Apa yang diberikan kepada mahasiswa adalah hasil pengembangan keilmuan, bukan sekedar mentransfer buku sebagaimana yang terjadi disini, apalagi menghafalkan “diktat” seorang dosen. Mereka bangga dengan hasil temuan yang mereka lakukan, bahkan dalam setiap mengajar mereka diharuskan mengambil referensi dari karya oramg lain.

Memang perguruan tinggi idealnya mampu menjadi problem solver terhadap problematika yang terjadi di masyarakat. Disinilah penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal dapat menjadi media untuk mengaktualisasikan diri dalam pengembangan keilmuan. Untuk mengelola jurnal agar --paling tidak terakreditasi--dibutuhkan keseriusan. Kita seringkali terjebak oleh cover yang bagus tapi lupa isinya. Semoga pertemuan konsultasi ini akan membawa manfaat bersama, khususnya perkembangan jurnal di masing-masing PTAI (Adib, Gja).