Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

PERAN METODOLOGI PENELITIAN DALAM CORAK PENELITIAN BERPRESPEKTIF GENDER


Swara Ditpertais
: No. 12 Th. II, 31 Juli 2004

PERAN METODOLOGI PENELITIAN DALAM CORAK PENELITIAN BERPRESPEKTIF GENDER

Gerakan gender (gender movement) tidaklah monopoli kepentingan kaum perempuan semata. Hal ini bisa dilihat dari side effect terjadinya ketidakadilan gender yang nantinya akan merupakan persoalan bersama. Disamping itu dinafikannya persoalan gender sebagai bagian dari problem berbangsa dan bernegara akan semakin menjauhkan kita dari tatanan keadilan sosial. Untuk konteks Indonesia peningkatan intensitas dan keseriusan dalam menangani ketidakadilan gender dewasa ini telah menjadi masalah yang amat mendesak. Hal tersebut didasari sinyalemen para pengamat perkembangan transformasi gender—diawali sekitar tahun 1970-an— dimana terdapat suatu kecenderungan bahwa gerakan transformasi gender sedang memasuki titik kulminasinya. Ada kecenderungan ke arah anggapan bahwa persoalan gender tidak lagi dipandang sebagai persoalan yang relevan dengan masalah-masalah kemasyarakatan, yang pada gilirannya mengarah kepada upaya mengabaikan isu-isu gende. Untuk itu upaya untuk selalu menggugah sensifitas gender perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Kondisi yang disinyalir oleh para pengamat sebagaimana dikemukakan diatas, sangat boleh jadi disebabkan oleh kompleksitas problematika yang dihadapi oleh bangsa Indonesia di era krisis multidimensional seperti sekarang ini, yang karenanya, barangkali kemudian muncul anggapan bahwa masih banyak masalah-masalah yang lebih besar ketimbang mengurusi isu-isu gender. Selain itu, fenomena ini menandakan semakin menurunnya sensitifitas gender sebagai akibat dari terjadinya stagnasi paradigmatis dalam kajian dan penelitian gender, yang pada gilirannya menyebabkan terjadinya kejenuhan di kalangan para pengkaji isu-isu gender, sehingga analisis gender menjadi kehilangan signifikansi dan daya jelajahnya dalam upayanya meraih tatanan yang berkeadilan.

Jika hal tersebut tidak segera diantisipasi atau ditanggulangi, kemungkinan besar marginalisasi isu-isu gender akan terus berlangsung seiring dengan kompleksitas dan problematika krisis yang sedang melanda bangsa ini. Dengan demikian, lama-kelamaan isu gender-pun sudah tidak relevan dan tidak terdengar lagi. Salah satu upaya untuk menempatkan gender agar mendapatkan perhatian publik adalah dengan memberikan artikulasinya melalui media penelitian, terutama memberikan bekal metodologi penelitian berprespektif gender.

Metodologi penelitian sebagaimana diketahui adalah alat untuk melakukan penelitian (How are you going to go about it). Melalui elaborasi metodologi penelitian yang memiliki pendekatan gender, setidaknya akan banyak menambah khazanah dan literatur kajian yang dimaksud. Gagasan untuk mengadakan ini telah dilakukan oleh pihak STAIN Purwokerto kerjasama dengan Ditpertais Depag RI yang secara bersamaan merupakan media komunikasi bertemunya pusat jaringan gender di seluruh PTAI (Adib, IM).