|
Swara Ditpertais: No.
12 Th. II, 31 Juli 2004
|
PERSOALAN
UTAMA YANG HARUS DIPECAHKAN DI BIDANG PENDIDIKAN TINGGI AGAMA ISLAM
Pengantar:
Tulisan berikut ini merupakan hasil elaborasi dari pemikiran Direktur
Perguruan Tinggi Agama Islam (Ditpertais), H. Arief Furqan, M.A, Ph.D
yang menyoroti persoalan utama yang dihadapi PTAI. Sebagian besar merupakan
hasil suntingan dari naskah buku yang berjudul “Memetakan Persoalan
di Perguruan Tinggi Agama Islam”.
Kalau
kita ingin melihat antomi keberadaan dan persoalan apa yang sedang dihadapi
oleh PTAI, maka memotret kondisi obyektif saat ini sangatlah penting untuk
dilakukan. Karena dengan mendiagnosa penyakit apa yang sedang dihadapi,
baru akan dapat diputuskan obat apa yang tepat untuk diberikan. Di sinilah
pesan dari Bapak Dirjen Bagais, agar kita selalu mengadakan muhasabah
tepat kiranya untuk dicermati.
Perkembangan
perguruan tinggi agama Islam dewasa ini sudah pada tahap yang cukup menggembirakan.
Jumlah perguruan tinggi agama Islam Negeri, yang semula hanya satu kini
sudah menjadi 47, 12 berbentuk Institut, 33 berbentuk sekolah Tinggi,
dan 3 berbentuk Universitas. Bahkan beberapa STAIN sudah mulai “ancang-ancang”
untuk berubah menjadi Institut, demikian pula pada saat yang sama sejumlah
Insitut juga telah mempersiapkan diri untuk berubah menjadi universitas
Islam terkemuka di daerahnya masing- masing. Kalau dilihat dari sisi lokasi,
maka terlihat distribusi perguruan Tinggi agama Islam negeri ini juga
cukup merata di seluruh penjuru tanah air. Jumlah Perguruan Tinggi Agama
Islam Swasta pun meningkat dengan cepat dari tahun ke tahun.
Jurusan
yang diselenggarakan di perguruan tinggi agama Islampun semakin bertambah
jumlahnya. Berdasarkan data statistik tahun 2002, tercatat 99 jurusan
diseluruh IAIN dan UIN serta 42 jurusan di seluruh STAIN. Jumlah Mahasiswa
dan Dosenpun meningkat dengan pesat. Berdasakan statistik tahun 2002,
jumlah mahasiswa yang terdaftar pada tahun akademik 2001/2002 diseluruh
PTAIN ada 80.694 orang dengan jumlah dosen tetap 6.778 orang.
Begitupula hampir di seluruh IAIN dan UIN telah memiliki program Pascasarjana
Strata 2, bahkan beberapa diantaranya sudah memiliki program Doktor (S.3).
Di kalangan STAIN, sudah ada satu STAIN yang memiliki program pascasarjana
(S.2), bahkan yang lain telah mempersiapkan diri untuk membuka program
S.2.
Namun,
tanpa merendahkan nilai prestasi kemajuan yang telah dicapai selama ini,
masih ada juga persoalan-persoalan utama yang dihadapi oleh PTAI dan memerlukan
pemecahan yang bersifat segera antara lain, mutu lulusan, sumbangan PTAI
terhadap pengembangan keilmuan, adanya berbagai “mal-praktik”
dalam penyelenggaran di PTAI dan perlunya pencermatan terhadap pendidkan
agama Islam yang berada di Perguruan Tinggi Umum. Untuk penjelasannya
akan kami uraikan sebagaimana tersebut dibawah ini.
Persoalan
utama yang dihadapi PTAI
Persoalan
utama yang dihadapi oleh perguruan tinggi Agama Islam (PTAI) saat ini
adalah kekurang berhasilannya dalam mencapai dua tujuan pokok pendidikan
tinggi seperti yang termaktub dalam PP 60 tahun 1999, yaitu masalah kualitas
lulusan yang dihasilkannya dan sumbangan PTAI pada pengembangan Ilmu,
dalam hal ini ilmu Agama Islam.
Masalah
Mutu Lulusan
Kendati
secara kuantitas, jumlah lulusan PTAI sudah cukup besar, secara kualitas
kondisinya masih jauh dari memuaskan. Mutu kebanyakan lulusan PTAI masih
dianggap belum memenuhi harapan masyarakat. Keluhan seperti ini sering
disuarakan oleh anggota masyarakat melalui berbagai forum dan media. Keluhan
ini meliputi berbagai hal, mulai dari kompetensi yang paling dasar seperti
kemampuan membaca Al-Qurán secara Tartil, menjadi Khatib Jumát,
perilaku sehari-hari (Akhlaq), sampai ke Profesionalitas mereka dalam
melakukan pekerjaan sesuai dengan jurusan yang mereka ambil di PTAI :
sebagai guru Agama Islam, daí, pemuka Agama, Hakim Agama, Pegawia
DEPAG dsb. Kondisi ini dianggap merupakan salah satu penyebab masih banyaknya
lulusan PTAI yang belum/tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga
banyak diantara mereka yang masih menganggur.
Peningkatan
jumlah mahasiswa memang akan meningktkan Angka Partisipasi Kasar (APK)
dijenjang pendidikan tinggi dan meningkatkan jumlah lulusan. Namun, apabila
tidak disertai dengan kualitas yang tinggi, sebagian besar dari mereka
akan selalu kalah dalam memperoleh persaingan memperoleh pekerjaan dimasyarakat
sehingga menambah jumlah penganguran sarjana yang akan membebani masyarakat
dan pemerintah.
Masalah
Sumbangan PTAI terhadap Pengembangan Ilmu
Sumbangan
PTAI terhadap pengembangan ilmu, teknologi, seni, dan udaya yang bernafaskan
Islam juga dinilai masyarakat masih kurang siginifikan. Masyarakat belum
melihat PTAI sebagai pusat kajian ilmu Agama tempat mereka menoleh apabila
ada persoalan-persoalan yang menyangkut agama, apalagi dibidang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, dan budaya yang bernafaskan Islam. Dalam masalah-masalah
agama misalnya, masyarakat masih lebih suka menoleh kelembaga keagamaan
lain diluar PTAI, seperti Majelis Ulama, Majelis Tarjih Muhammadiyah,
Syuriah NU dsb. Hasil penelitian PTAI tentang masalah keagamaan yang terkait
dengan masalah kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan tidak banyak diketahui
oleh masyarakat. Mungki karena memang tidak ada, kebanyakan dianggap tidak
bermutu, atau karenan kurangnya penyebarluasan hasil penelitia itu kemasyarakat.
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan PTAI sebagai salah satu tri
darma perguruan tinggi juga dikaitkan dengan hasil penelitian dan hasil
pendidikan yang telah dilakukan PTAI. Ini mengakibatkan relevansi, manfaat,
dan sumbangan nyata hasil penelitian yang dilakukan PTAI bagi masyarakat
mejadi kurang tampak.
Dampak
Negatif Kekurang-berhasilan Ini
Rendahnya
mutu kebanyakan lulusan PTAI dalam menerapkan hasil studinya di PTAI demi
kemaslahatan masyarakat dapat menimbulkan citra bahwa mutu program pendidikan
di PTAI memang kurang/tidak bermutu sehingga tidak dapat menghasilkan
lulusan-lulusan yang bermutu sesuai dengan harapan masyarakat. Dampak
ikutannya dapat berupa anggapan bahwa ahli pendidikan Islam di PTAI memang
tidak mampu membuat program pendidikan Islam yang bermutu dan dapat menghasilkan
lulusan yang memenuhi harapan masyarakat. Yang lebih parah adalah jika
sampai timbul angapan dimasyarakat, setelah melihat prestasi alumni PTAI
yang hanya begitu-begitu saja, bahwa memang ilmu agama Islam itu hanya
sebegitu saja dan, karenanya, jangan banyak mengharap darinya.
Faktor
Penyebab
Kekurang
berhasilan PTAI dalam menunaikan tugas pokoknya tersebut mungkin disebabkan
oleh berbagai factor, ekternal, maupun internal. Untuk faktir ekternal
dapat disebutkan antara lain:
1. Bergesernya aspirasi pendidikan masyarakat (Ummat Islam) yang dulu
lebih mementingkan pendidikan agama ke ilmu umum seiring dengan laju pembangunan
bangsa.
2. Semakin sempitnya peluang lulusan PTAI untuk bekerja sebagai pegawai
negeri sebagai akibat zero growth (atau bahkan minus growth) pemerintah
dibidang kepegawaian. Sementara itu, pekerjaan disektor swasta tidak memberikan
imbalan yang cukup menarik bagi lulusan PTAI.
3. Banyaknya lulusan PTAI yang tidak segera mendapatkan pekerjaan yang
diinginkan menyebabkan berkurangnya minat calon mahasiswa untuk belajar
di PTAI. PTAI dianggap sebagai perguruan tinggi yang tidak menjanjikan
prospek masa depan cerah. Lulusan SLTA yang mempunyai potensi akademik
tinggi cenderung memilih perguruan Tinggi selain PTAI, yang dianggapnya
lebih menjanjikan.
4. Beratnya tantangan yang harus dihadapi oleh ahli agama dalam profesinya
mungkin juga membuat sebagian calon mahasiswa kurang berminat untuk menjadi
ahli agama.
5. Kurangnya minat lulusan SLTA yang memiliki potensi akademik tinggi
untuk belajar di PTAI menyebabkan mutu kebanyakan mahasiswa PTAI menjadi
kurang ideal. Banyak PTAI yang terpaksa harus menerima dengan mutu kurang
ideal ini karena merreka takut kekurangan mahasiswa apabila mereka terlalu
selktif dalam memilih mahasiswa.
6. Input mahasiswa yang kurang ideal ini menyebabkan sulitnya PTAI menghasilkan
lulusan yang bermutu sesuai dengan harapan masyarakat.
Untuk
faktor internal dapat disebutkan, antara lain:
1.
Manajemen dan kepemimpinan: banyak PTAI yang masih dikelola secara tradisional
dan dengan modal semangat berjuang tanpa disertai kemampuan mengelola
sebuah perguruan tinggi secara modern.
2. Kurikulum : kelemahan utama kurikulum PTAI yang digunakan saat ini
adalah kurang komunikatifnya kurikulum itu bagi semua fihak yang terkait.
3. Dosen : kebanyakan dosen PTAI adalah lulusan PTAI sendiri dengan berbagai
jurusannya. Kecuali mereka yang berasal dari Fakultas Tarbiyah, kebanyakan
dosen PTAI tidak memperoleh latihan kependidikan. Kendati kebanyakan mereka
kini sudah menyelesaikan pendidikan S2 namun disayangkan ada sebagian
PTAI yang loebih mementingkan formalitas pendidikan S2 dosennya daripada
mutunya.
4. Proses belajar mengajar : proses belajar mengajar yang dilaksanakan
oleh PTAI kebanyakan masih bersifat tradisional dan formalistis. Mungkin
hal ini adalah akibat kurang jelas (komunikatif) nya kurikulum PTAI saat
ini sehingga arah pendidikan disuatu PTAI kurang dipahami oleh pelaksana
pendidikan dilapangan.
5. Input mahasiswa : sebagai akibat kurangnya minat lulusan SLTA yang
berkualitas masuk PTAI maka mutu input mahasiswa PTAI menjadi kurang bagus.
Di samping itu, kesiapan mereka untuk mengikuti perkuliahan di PTAI juga
beragam akibat beragamnya asal sekolah menengah mereka. Mereka yang berasal
dari Madrasah Aliyah (MA) umumnya mempunyai pengetahuan Agama dan kemampuan
bahasa Arab yang bagus, sementara mereka yang berasal dari sekolah menengah
Umum (SMU) dan sekolah Menengah Ketrampilan (SMK) umumnya mempunyai dasar
pengetahuan agama dan kemampuan bahasa Arab yang kurang bagus. Sayangnya,
kebanyakan PTAI tidak menyelenggarakan program penyiapan (program matrikulasi)
untuk calon mahasiswa yang mutunya kurang bagus ini. Ini menambah kesulitan
PTAI untuk dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.
6. Fasilitas belajar : terutama untuk PTAIS, fasilitas belajar ini sangat
minim berupa uang kuliah dan perkantoran yang sederhana. Dibeberapa PTAIN
yang dibiayai pemerintah pun tampaknya fasilitas belajar ini (laboratorium,
perpustakaan, dsb) kurang mendapatkan perhatian. Beberapa PTAI lebih mementingkan
tampilan fisik kantor pimpinan daripada pembangunan laboratorium ataupun
penyediaan buku perpustakaan yang lengkap.
7. Lingkungan belajar : untuk mendukung proses pendidikan calon ilmuwan
dan ahli agama Islam yang memiliki integritas, akhlak mulia, dan profesional
diperlukan suasana kampus yang ilmiah dan Islami dimana nilai-nilai dan
norma-norma ilmiah Islam dijunjung tinggi. Namun hal ini belum memperoleh
perhatian yang cukup dari pimpinan kebanyakan PTAI.
8. Dana operasional. Dana operasional yang cukup diperlukan guna menjamin
lancarnya kegiatan proses belajar mengajar guna menghasilkan lulusan yang
bermutu dan berguna bagi masyarakat.
9. Rendahnya kemampuan dosen PTAI dalam melakukan penelitian ilmiah. Kelemahan
ini akan mengakibatkan rendahnya mutu hasil penelitian yang mereka lakukan
sehingga tidak digunakan oleh masyarakat sebagai acuan. Kita juga tidak
mengharapkan dosen seperti ini akan menghasilkan lulusan yang mampu dan
terampil dalam melakukan penelitian.
10. Rendahnya kemampuan dosen PTAI dalam menulis laporan penelitian atau
artikel yang berdasarkan hasil penelitian yang menarik. Kelemahan ini
menyebabkan kurangnya pasokan artikel dijurnal-jurnal ilmiah yag diterbitkan
PTAI sehingga dapat menyebabkan dimuatnya artikel-artikel yang tak terseleksi
sehingga dapat menurunkan mutu dan kredibilitas jurnal yang bersangkutan.
11. Kurangnya perhatian pimpinan PTAI untuk menyebarluaskan hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh dosen dan mahasiswanya. Hal ini tampak dari
kecilnya dana yang dialokasikan untuk penerbitan jurnal ilmiah dikampusnya.
12. Kurang terkaitnya kegiatan program pengabdian kepada masyarakat dengan
hasil penelitian. Kebanyakan kegiatan program pengabdian kepada masyarakat
yang dilakukan oleh PTAI digabungkan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata
yang seringakali tidak merupakan penerapan hasil penelitian di bidang
agama.
Untuk
meneropong persoalan utama yang masih “tersisa”, yakni adanya
mal-praktek dalam dunia pendidikan, khususnya di PTAi dan pencermatan
terhadap pendidikan agama Islam di Perguan Tinggi Umum (PAI di PTU), maka
akan disampaikan pada edisi berikutnya (Adib, Gja).
|