|
Swara Ditpertais: No.
11 Th. II, 17 Juli 2004
|
MELIHAT
LEBIH DEKAT SISTEM EVALUASI PRODI
(Khusus PTAI dengan Wider Mandate)
Persoalan
laporan dan bagaimana mengolahnya seringkali kurang mendapatkan perhatian
yang cukup serius. Padahal bahan laporan akan sangat berguna sebagai pijakan
untuk melakukan evaluasi. Banyak hal yang berkaitan dengan persoalan laporan,
seperti laporan prodi, data perkembangan mahasiswa, dosen, tingkat pendidikan
dan lain sebagainya. Urgensi pelaporan sebetulnya telah diatur dalam KMA
dan SK Dirjen. Dan berkali-kali kita diminta untuk mengadakan evaluasi
terhadap izin yang telah diberikan.
Izin
yang diberikan semestinya haruslah dimaknai sebagai “dampingan”,
agar supaya penyelenggaraan yang diberikan, dapatlah memenuhi syarat,
syukur-syukur dapat bermutu. Hanya saja sampai detik ini karena Ditjen
Bagais, belum memiliki mekanisme sistem evaluasi penyelanggaraan Prodi
pada PTAI yang sistematis, terarah, terukur dan objektif, untuk sementara
pelaksanaanya masih mengacu kepada pelaksanaan keputusan Ditjen Dikti
Nomor 034/DIKTI/Kep/2002, yakni penerapan suatu sistem data base yang
dapat menjaring data prodi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Dengan sistem ini, akan mempermudah kerja kita karena akan dapat memproses
sekian ribu prodi dengan memanfaatkan kemajuan tehnologi. Kita mesti belajar,
disamping karena merupakan ilmu empirik, peraturan mengharuskan kita melakukannya,--
demi perbaikan dan mutu pendidikan--, demikian apa yang diungkapkan Direktur
Pertais H. Arief Furqan, M.A, Ph.D dalam pertemuan pelatihan dan presentasi
program evaluasi sistem prodi akhir bulan juni yang lalu.
Pelaksanaan
sistem evaluasi prodi ini masih diterapkan secara terbatas, yakni bagi
Perguruan Tinggi Agama Islam yang sudah memiliki prodi diluar Islamic
Studies , seperti di UIN atau yang telah melaksanakan wider mandate. Sebagian
besar peserta adalah IAIN dan STAIN. Kegiatan ini menurut penjelasan Bapak
Nifasri, M. Pd merupakan follow up dari pelatihan sebelumnya yakni TOT
(Training of Trainers), evaluasi data PTAIS yang merupakan evaluasi terhadap
prodi PTAIS dengan menggunakan database. Dengan sistem ini dapat digunakan
sebagai bahan evaluasi sehingga dapat dihasilkan laporan yang lebih akurat,
efektif dan efisisen mengenai prodi.. Kegiatan ini bertujuan agar prodi
di luar Islamic Studies akan dapat memenuhi “standar” penyelenggaraan
prodi skala Nasional (Diknas). Untuk mempermudah kegiatan evaluasi prodi
ini, maka pemahaman terhadap sistem evaluasi yang diberlakukan oleh Ditjen
Dikti Depdiknas menjadi sebuah keharusan. Oleh karena itu, dalam rangka
membekali ketrampilan (skill) para pegawai Ditpertais, diadakanlah pelatihan
sistem evaluasi ini. Direncanakan, sebelum bahan laporan evaluasi dikirimkan
ke Ditjen Dikti Depdiknas, laporan tersebut akan diverifikasi lebih dahulu
oleh Ditpertais, apakah sudah memenuhi syarat atau belum.
Kegiatan
ini dimulai dengan pengarahan oleh para tehnisi komputer dan Ditjen Dikti
Dpediknas di ruang Dirjen Bagais, dilanjutkan dengan praktek langsung
di ruang TU Ditpertais. Praktek ini sengaja dilaksanakan di ruang TU,
karena masing-masing orang dapat berhadapan dan menggunakan perangkat
komputer secara langsung. Di ruang ini penjelasan dimulai dengan bagaimana
cara meng-install program dilanjutkan dengan cara menggunakkan total commander.
Sebuah “program bantu” yang akan dapat mempermudah dan mempercepat
pekerjaan evaluasi. Penjelasan dimulai dengan bagaimana operasi dasar
dalam program total commander, cara meng-aktifkan, membuat folder, membuat
Zip file dan Unzip file berikut dengan foldernya dan beberapa penjelasan
lain yang bersifat teknis dan trik-trik operasionalisasi yang cepat dan
efisien terhadap program yang dimaksud.
Diharapkan
setelah mengikuti pelatihan ini, mereka akan dapat segera mempraktekannya.
Dengan demikian, maka evaluasi prodi bagi PTAI dengan wider mandate, akan
segera dapat direalisir.
Persiapan
bagi Prodi dalam rumpun Islamic Studies
Setelah sukses dengan pemahaman sistem evaluasi prodi yang diberlakukan
oleh Ditjen Dikti Depdiknas bagi PTAI yang memiliki prodi diluar Islamic
Studies, seperti di UIN atau yang telah melaksanakan wider mandate, maka
pertanyaan lebih lanjut adalah bagaimana dengan nasib evaluasi prodi untuk
rumpun Islamic Studies? Pertanyaan ini sangatlah wajar, di tengah-tengah
pemberlakuan sistem evaluasi Prodi oleh Ditjen Dikti Depdiknas, yang sudah
tidak dapat ditunda-tunda lagi (point of no return). Dalam rangka mengantisipasi
keadaan ini subdit akademik dan kelembagaan mengadakan inisiatif, dengan
mengundang lagi para pakar yang berkompeten dalam bidangnya untuk memberikan
presentasi sistem evaluasi prodi bagi rumpun Islamic Studies di ruang
sidang Ditjen Bagais.
Prensentasi
sistem ini dilaksanakan untuk mengadakan semacam “uji kelayakan”
bagi PTAI, khusus untuk prodi agama (islamic studies). Kalau ternyata
dapat diterapkan, maka sistem ini nantinya akan dipakai sebagai bahan
“acuan” untuk melakukan evaluasi prodi islamic studies di
lingkungan PTAI, baik negeri maupun swasta. Dengan demikian, seandainya
sistem ini ternyata bisa diterapkan- aplicable atau cocok untuk prodi
dalam rumpun Islamic Studies, maka menurut keterangan Bapak Nifasri, M.Pd,
segera akan dilakukan pelatihan Sistem Evaluasi Prodi di tiga wilayah
untuk rumpun prodi Islamic Studies.
Keberhasilan
untuk mengintegrasikan penggunaan sistem ini,-- khususnya bagi prodi Islamic
Studies—jelas merupakan langkah maju yang ditempuh oleh Ditpertais.
Dan pelatihan itu sendiri merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh
untuk memperkenalkan penggunaan sistem ini bagi PTAI, baik negeri mapun
swasta (Adib-Gja).
|