|
Swara Ditpertais: No.
11 Th. II, 17 Juli 2004
|
MENEROPONG
PETA GERAKAN ISLAM DI INDONESIA
Agama
Islam sebagaimana secara eksplisit disebut dalam al-Qurán mempunyai
misi sebagai pembawa kedamaian bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).
Komitmen ini juga dipertegas lagi dengan obsesinya yang berusaha membebaskan
manusia dari kegelapan menuju pencerahan (liyukhrijahum min al-dzulumat
ila al nur). Dalam konteks inilah banyak diantara para pemikir Islam yang
dalam menuangkan gagasannya mengarah kepada upaya yang dimaksud. Untuk
menyebut beberapa tokoh tersebut antara lain, Ali Asghar Engineer dengan
konsep Islam agama yang membebaskan. Konsep agama yang membebaskan ini
dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan ajaran Islam yang masih disalahpahami
menjadi agama yang “membelenggu” dan membatasi ruang gerak.
Perlunya pelurusan pemahaman keagamaan juga dikampanyekan oleh Prof. A.
Qodri Azizy, Ph.D. Menurutnya keterbelakangan umat Islam (ta’akhara
al muslimun) bukan karena ajarannya yang salah, tapi pemahaman terhadapnya
yang dalam banyak hal perlu untuk diluruskan.
Namun,
sayang sekali wajah Islam sebagai penyelemat, pembawa pencerahan dan pembawa
keadilan, seringkali dinodai dengan adanya realitas empirik di masyarakat
yang berbalik. Adanya gerakan Islam fundamentalisme, tekstualisme Islam
sampai pada aksi terorisme telah “menciderai” nama baik Islam
sebagai pembawa misi rahmatan lil alamin. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Salah satunya adalah sebagai akibat dari feed back dari cara mereka memahami
ajaran Islam. Ketika Islam dipahami secara tekstual, maka pemaknaan jihad,
misalnya menjadi sangat sempit, yakni berperang ansich. Ketika Islam dilihat
aspek kelahiran yang ada di dunia Arab sana, maka Islam yang dibawa adalah
arabisasi kultur masyarakat Arab. Implikasi lanjutannya adalah Islam ditangkap
secara simbolis, seperti berjenggot, berpakaian ala arab dan cara tangkapan
lain sebagainya.
Kecenderungan
tersebut di atas, telah menjauhkan kehadiran Islam sebagai pemecah masalah
(problem solver), akan tetapi justru menjadi bagian dari problem itu sendiri.
Praktek keagamaan semacam inilah yang sesungguhnya telah menyebabkan Islam
dalam berabad-abad lamanya kehilangan spirit religiusnya yang murni, sebagai
kekuatan pembebas (liberating force). Di beberapa PTAI upaya untuk memberikan
pencerahan telah dilakukan, mulai dari simposium pemikiran Islam kontemporer
di STAIN Bengkulu sampai dengan Seminar Nasional “Quo Vadis Gerakan
Islam Indonesia” di STAIN Pekalongan baru-baru ini.
Acara
seminar nasional ini mempunyai beberapa sasaran tujuan antara lain; berupaya
menggali dan mengeksplorasi nalar dasar agama yang kehadirannya ingin
memecahkan problem-problem umat manusia. Disamping itu diharapkan akan
memberikan gambaran tentang peta gerakan Islam di Indonesia. Pembicara
yang tampil dalam seminar ini antara lain, Masdar F. Masúdi, M.A
yang menyampaikan gagasan paradigma dan metodologi Islam Emansipatoris,
Dr. Abdul Muhayya (Pascasarjana IAIN Semarang) dan koordinator jaringan
Islam Liberal Zuhairi Misrawi, Lc, M.A. Memang tidak cukup untuk memberikan
pencerahan lewat acara seminar dengan audiens dan komunitas terbatas,
namun impact yang diharapkan akan dapat menyadarkan peran dan posisi umat
Islam sebagai penerjemah agama dalam menyelesaikan problem-probemnya.
(Adib, Gja)
|