Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Penyempurnaan Rancangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) PTAI oleh Team Pakar


Swara Ditpertais
: No. 11 Th. II, 17 Juli 2004

MENEROPONG PETA GERAKAN ISLAM DI INDONESIA

Agama Islam sebagaimana secara eksplisit disebut dalam al-Qurán mempunyai misi sebagai pembawa kedamaian bagi alam semesta (rahmatan lil alamin). Komitmen ini juga dipertegas lagi dengan obsesinya yang berusaha membebaskan manusia dari kegelapan menuju pencerahan (liyukhrijahum min al-dzulumat ila al nur). Dalam konteks inilah banyak diantara para pemikir Islam yang dalam menuangkan gagasannya mengarah kepada upaya yang dimaksud. Untuk menyebut beberapa tokoh tersebut antara lain, Ali Asghar Engineer dengan konsep Islam agama yang membebaskan. Konsep agama yang membebaskan ini dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan ajaran Islam yang masih disalahpahami menjadi agama yang “membelenggu” dan membatasi ruang gerak. Perlunya pelurusan pemahaman keagamaan juga dikampanyekan oleh Prof. A. Qodri Azizy, Ph.D. Menurutnya keterbelakangan umat Islam (ta’akhara al muslimun) bukan karena ajarannya yang salah, tapi pemahaman terhadapnya yang dalam banyak hal perlu untuk diluruskan.

Namun, sayang sekali wajah Islam sebagai penyelemat, pembawa pencerahan dan pembawa keadilan, seringkali dinodai dengan adanya realitas empirik di masyarakat yang berbalik. Adanya gerakan Islam fundamentalisme, tekstualisme Islam sampai pada aksi terorisme telah “menciderai” nama baik Islam sebagai pembawa misi rahmatan lil alamin. Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satunya adalah sebagai akibat dari feed back dari cara mereka memahami ajaran Islam. Ketika Islam dipahami secara tekstual, maka pemaknaan jihad, misalnya menjadi sangat sempit, yakni berperang ansich. Ketika Islam dilihat aspek kelahiran yang ada di dunia Arab sana, maka Islam yang dibawa adalah arabisasi kultur masyarakat Arab. Implikasi lanjutannya adalah Islam ditangkap secara simbolis, seperti berjenggot, berpakaian ala arab dan cara tangkapan lain sebagainya.

Kecenderungan tersebut di atas, telah menjauhkan kehadiran Islam sebagai pemecah masalah (problem solver), akan tetapi justru menjadi bagian dari problem itu sendiri. Praktek keagamaan semacam inilah yang sesungguhnya telah menyebabkan Islam dalam berabad-abad lamanya kehilangan spirit religiusnya yang murni, sebagai kekuatan pembebas (liberating force). Di beberapa PTAI upaya untuk memberikan pencerahan telah dilakukan, mulai dari simposium pemikiran Islam kontemporer di STAIN Bengkulu sampai dengan Seminar Nasional “Quo Vadis Gerakan Islam Indonesia” di STAIN Pekalongan baru-baru ini.

Acara seminar nasional ini mempunyai beberapa sasaran tujuan antara lain; berupaya menggali dan mengeksplorasi nalar dasar agama yang kehadirannya ingin memecahkan problem-problem umat manusia. Disamping itu diharapkan akan memberikan gambaran tentang peta gerakan Islam di Indonesia. Pembicara yang tampil dalam seminar ini antara lain, Masdar F. Masúdi, M.A yang menyampaikan gagasan paradigma dan metodologi Islam Emansipatoris, Dr. Abdul Muhayya (Pascasarjana IAIN Semarang) dan koordinator jaringan Islam Liberal Zuhairi Misrawi, Lc, M.A. Memang tidak cukup untuk memberikan pencerahan lewat acara seminar dengan audiens dan komunitas terbatas, namun impact yang diharapkan akan dapat menyadarkan peran dan posisi umat Islam sebagai penerjemah agama dalam menyelesaikan problem-probemnya. (Adib, Gja)