Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Penyempurnaan Rancangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) PTAI oleh Team Pakar


Swara Ditpertais
: No. 11 Th. II, 17 Juli 2004

KIAT PTAI DALAM MENGHADAPAI ARUS PERUBAHAN SOSIAL
(Revitalisasi dan Sinergitas Tri Dharma Perguruan Tinggi)

Keberadaan perguruan Tinggi termasuk perguruan Tinggi Islam, mempunyai kedudukan dan fungsi penting dalam perkembangan suatu masyarakat. Proses perubahan sosial (social change) di masyarakat yang begitu cepat, menuntut agar kedudukan dan fungsi perguruan tinggi itu benar-benar mewujud dalam peran yang nyata. Pada umumnya peran perguruan tinggi itu diharapkan tertuang dalam pelaksanaan Tri dharma perguruan tinggi, yaitu : dharma pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Dengan dharma pendidikan, perguruan tinggi diharapkan melakukan peran pencerdasan masyarakat dan transmisi budaya. Dengan dharma penelitian, perguruan tinggi diharapkan melakukan temuan-temuan baru ilmu pengetahuan dan inovasi kebudayaan. Dengan dharma pengabdian pada masyarakat, perguruan tinggi diharapkan melakukan pelayanan masyarakat untuk ikut mempercepat proses peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat.Melalui dharma pengabdian pada masyarakat in, perguruan tinggi juga akan memperoleh feedback dari masyarakat tentang tingkat kemajuan dan relevansi ilmu yang dikembangkan perguruan tinggi itu.

Idealnya ketiga peran dharma perguruan tinggi itu tersebut, berjalan serempak dan saling terkait (sinergis), sehingga secara teoritik suatu peguruan tingi tidak boleh hanya berperan dalam sebagian dharma dan meninggalkan yang lain. Namun di dalam kenyataannya ketidakseimbangan peran itu seringkali terjadi. Umpamanya ketika suatu perguruan tinggi hanya melakukan peran pendidikan dan melupakan sama sekali dua dharma yang lain, maka perguruan tinggi itu sebenarnya sedang berperan seperti sekolah, demikian ditegaskan oleh Prof. Dr. Atho’Mudzhar dalam memberikan pemikirannya di IAIN Antasari baru-bariu ini. Demikian pula umpamanya jika suatu perguruan tinggi lebih condong dan banyak melakukan peran dalam dharma pengabdian pada masyarakat maka peguruan tinggi itu, jika perguruan tinggi Islam, seolah-olah sedang berperan sebagai organisasi sosial atau lembaga dakwah. Karena itu, mencari perimbangan pelaksanaan ketiga dharma itu menjadi sesuatu yang sangat penting.

Dalam realisasi pelaksanaan dharma pendidikan tinggi perlu memenuhi beberapa persyaratan, antara lain ; materinya mempunyai cakupan dan batas-batas yang jelas (wilayah epistemologi), relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan dinamis sesuai dengan dinamika kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang yang bersangkutan. Dengan materi yang jelas batas-batasnya dimaksudkan agar suatu mata kuliah atau bidang studi atau suatu program studi jelas perbedaannya dengan mata kuliah atau program studi lain, tidak tumpang tindih (overlapping) dan rancu. Persamaan dan perbedaan antar berbagai mata kuliah dan program studi tentu dapat diidentifikasi, tetapi arah masing-masingnya tetap jelas. Dengan relevan dimaksudkan bahwa setiap bidang ilmu atau program studi yang dikembangkan jelas kegunaanya bagi pengembangan masyarakat. Sebagai implikasinya bidang-bidang studi Islam yang tekstual dan klasik, harus selalu didekati dan dipahami dengan keperluan-keperluan pertanyaan jaman sekarang, sehingga akan tidak mengalami “beban aktualitas”. Ini adalah tantangan yang tidak ringan, karena memerlukan sinergi antara mahasiswa dan dosen yang kreatif dan kritis.

Dewasa ini masih terasa bahwa ada bidang atau program studi dipertahankan karena kekuasaan atau kepentingan subyektif dosen pengampunya. Demikian pula bidang studi baru tidak kunjung muncul karena lemahnya kreatifitas, seperti tiadanya bidang studi yang memahami kajian Islam kawasan dan pergumulan Islam dan budaya lokal. Adapun tentang syarat dinamis sesuai kemajuan ilmu pengetahuan maksudnya adalah bahwa setiap bidang studi Islam harus terus berkembang dalam teori dan metodologinya dan itu terjadi bukan hanya pada bidang studi yang kebetulan disebut perkembangan modern dalam Islam.Adapun yang dimaksud sesuai kemajuan ilmu pengetahuan adalah bahwa bidang kajian Islam yang umumnya berada dalam lingkup kajian ilmu budaya dan ilmu-ilmu sosial diharapkan mampu menyerap dan mengkaitkan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Kemudian diatas ketiga syarat diatas, idang studi dan program studi harus dilandasi dan diperlengkapi dengan logika dan metodologi yang kuat.

Menurut Prof. Atho’dalam pelaksanaan dharma penelitian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Penelitian diperguruan tinggi yang dilakukan oleh para dosen adalah guna mengembangkan pemahaman mereka sendiri mengenai bidang yang bersangkutan, sehingga sekaligus mengembangkan dan memperbaiki mutu bahan perkuliahan.
  2. Penelitian oleh para dosen juga berperan mengembangkan teori-teori dalam bidang yang bersangkutan terutama pada penelitian-penelitian murni.
  3. Penelitian oleh para dosen dan staf perguruan tinggi juga dapat bersifat terapan untuk melayani masyarakat luas baik masyarakat pasar, konsumen, maupun lainnya. Penelitian bentuk terakhir ini sebenarnya juga salah satu bentuk pengabdian pada masyarakat. Semakin banyak dan tinggi mutu penelitian suatu perguruan tinggi, semakin tinggi pula derajat perguruan tinggi itu dalam dunia ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian masyarakat menyebut diri sebagai research university.

Lebih lanjut menurut kepala Litbang Depag RI ini bahwa dalam pelaksanaan dharma pengabdian kepada masyarakat dapat berupa publikasi hasil-hasil penelitian dan dapat pula berbentuk kegiatan-kegiatan pelayanan kepada masyarakat seperti layanan kesehatan Rumah Sakit Perguruan Tinggi, atau kuliah kerja nyata mahasiswa. Kedua jenis pengabdian pada masyarakat ini sama-sama diperlukan, tetapi volumenya tidak boleh melebihi volume kegiatan dharma pendidikan dan penelitian.

Dengan paradigma pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi seperti tersebut diatas, maka sekarang perhatian harus ditujukan kepada sistem perubahan masyarakat sejaumanakah pergerakan perubahan social masyarakat tersebut terjadi. Perubahan sosial dapat didefinisikan sebagai “the alteration of patterns of culture, social structures, and social behaviors over time”(perubahan social ialah perubahan pola-pola budaya (tata nilai), struktur-struktur sosial, dan perilaku sosial pada jangka waktu tertentu). Dengan definisi itu, kita dapat mengamati sejauhmanakah pergeseran yang terjadi di masyarakat seperti pergeseran tatanilai dari memandang sesuatu yang kurang baik menjadi sesuatu yang biasa saja, dari komunalisme menjadi individualisme, dari kebiasaan berinteraksi tanpa pamrih menjadi interaksi materialistik dan seterusnya.

Dalam bidang stuktur sosial, apakah telah terjadi pergeseran kaum elit dari turun temurun menjadi sistem merit yang demokratis, pergeseran kedudukan ekonomi penduduk pendatang dan warga setempat, pergeseran dari desa ke kota, pergeseran wilayah peran pemuka agama dari mencakup semua hal kehidupan kepada mengkhusus kepada soal-soal agama atau sebaliknya. Dalam bidang prilaku sosial, perlu dicermati misalnya apakah masyarakat mengalami pergeseran-pergeseran perilaku, cara berpakaian masyarakat, cara masyarakat bertegur sapa satu sama lain, cara bertransportasi, bahkan cara menyelesaikan masalah ketika di antara mereka terjadi benturan kepentingan misalnya, dari sikap lembut dan santun menjadi kurang lembut, atau sebaliknya, dan seterusnya.

Khusus dalam bidang kehidupan keagamaan, terdapat sejumlah kecendrungan perubahan sosial yang perlu mendapatkan perhatian kalangan perguruan tinggi Islam, diantaranya:

  1. Pembangunan khususnya kota-kota yang telah membawa perkembangan dan dinamika yang heterogen, komposisi penduduk semakin beragam karena semakin bertambahnya para pendatang baik dari daerah-daerah dipedalaman. Apabila mereka itu kurang mampu beradaptasi dengan tradisi dan budaya setempat, sehingga keragaman ini jika tidak mampu dikelola dengan baik maka pada waktunya akan berkembang kearah yang tidak menguntungkan. Ini harus didekati dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  2. Masalah ekonomi masyarakat, khususnya yang terkait dengan pergeseran-pergeseran hak pemilikan tanah, baik antara penduduk setempat maupun antara penduduk setempat dan pendatang, dapat mengarah kepada keresahan masyarakat apabila pergeseran hak kepemilikan itu atau pemanfaatan tanah itu kemudian ditenggarai berkaitan dengan symbol-simbol kelompok sosial, budaya, atau agama tertentu. Ini tentu perlu dikelola dengan baik dan juga harus didekati melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  3. Tradisi atau kearifan local (local wisdom) yang secara turun temurun mentradisi dalam kehidupan. Dalam kehidupan masyarakat yang telah berfungsi dengan baik dalam membangun harmonis sosial perlu terus dikaji, diinventarisir, dianalisi hubunganya dengan nilai ajaran agama, dan disosialisasikan. Konsep-konsep seperti “kayuh baimbai” (kerjasama),”gawisabumi (gotong-royong), basusun sirih (kesetaraan), menyisir sisi tapih (introspeksi), rumah betang (kasih sayang dan persaudaraan), handep atau habaring hurung (gotong-royong), juga harus didekati dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  4. Forum-forum komunikasi antar umat beragama yang merupakan bentuk kearifan lokal hasil kesepakatan zaman ini, juga perlu didekati Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  5. Masalah kemiskinan akibat semakin kurangnya lahan hutan dan pertanian, dan perpindahan tenaga kerja tidak terampil dari desa ke kota sehingga menambah angka pengangguran dikota, serta bagaimana mekanisme yang ada dalam masyarakat mengatasi masalah-masalah itu, adalah juga hal yang perlu didekati dengan tridharma perguruan tinggi. Apalagi karena hal tersebut sebagian besar menyangkut warga masyarakat beragama islam.
  6. Masalah kebodohan dan keterbelakangan yang masih melilit sebagian masyarakat, baik karena pandangan dikotomis ilmu agama dan umum, maupun karena keterpencilan geografis atau kemiskinan, serta mekanisme sosial yang ada mengatasi hal itu, perlu didekati dengan Tridharma perguruan tinggi.
  7. Demikian beberapa butir yang dapat dikembangkan posisi dan peran PTAI dalam mensikapi arus perubahan sosial. Karena perubahan sosial itu sendiri pada hakekatnya merupakan suatu proses yang tidak berujung (social change is never ending process), maka kreatifitas PTAI dengan lebih mensinegrikan tri dharma-nya menjadi sebuah keniscayaan, yakni tri dharma yang selalu mengakomodir perubahan social yang terjadi di masyarakat. (Disarikan dari paper Prof Atho’Mudzhar, M.A, Ph.D sewaktu acara di IAIN Antasari edited by M. Adib, Gja, Alvan)