Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

ERA GLOBALISASI DAN INFORMASI: PELUANG DAN ANCAMANNYA BAGI LULUSAN PTAI


Swara Ditpertais
: No. 11 Th. II, 17 Juli 2004

ERA GLOBALISASI DAN INFORMASI: PELUANG DAN ANCAMANNYA BAGI LULUSAN PTAI
H. Arief Furqan, MA, Ph.D

Untuk dapat ‘survive’ dalam era perdagangan bebas, suatu negara harus mempunyai SDM berkualitas dalam jumlah yang cukup banyak. Di sinilah pentingnya posisi dan peran pendidikan nasional. Karena melalui pendidikan diharapkan akan dihasilkan kualitas SDM yang mumpuni.

Dalam kaitannya dengan PTAI sebagai lembaga pendidikan Islam, maka pertanyaan yang muncul adalah “bagaimana format pendidikan di PTAI agar ia dapat tetap bertahan hidup dan ikut memberi sumbangan yang berarti bagi penyiapan SDM yang siap hidup dan memanfaatkan peluang yang ditimbulkan oleh perdagangan bebas?”

Syarat agar PTAI dan lulusannya dapat survive di era perdagangan bebas:

1. Harus dapat merebut ‘pasar’ dalam dan luar negeri;
2. Dalam melaksankan program pendidikannya, wawasan (outlook) PTAI dan lulusannya harus tidak terbatas pada pasar dalam negeri saja tetapi juga pasar luar negeri (kawasan ASEAN di tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik di tahun 2010). Artinya, PTAI harus berkeinginan dan berusaha agar orang asing berminat untuk belajar di PTAI dan lulusan PTAI juga harus berkeinginan dan berusaha untuk bekerja di luar negeri.
3. Harus jeli melihat peluang yang muncul, baik di dalam maupun di luar negeri.
4. Harus mengutamakan mutu yang memenuhi standar masyarakat internasional.

Mungkinkah itu dilakukan?

Di zaman yang makin mengarah kepada industrialisasi ini, mungkinkah PTAI masih diminati oleh masyarakat yang juga makin cenderung untuk mengkaitkan pendidikan dengan pekerjaan di masa depan? Haruskah PTAI mengubah dirinya menjadi Universitas sehingga dapat membuka Fakultas Teknologi dan Ekonomi yang sedang laris?
Menurut saya, tanpa mengubah main business PTAI, yakni menyiapkan ahli agama, pun akan tetap dapat survive dan memiliki segmen pasar di pentas dunia. Alasannya:
• Agama (terlebih Islam) masih akan tetap dibutuhkan oleh manusia di negara mana pun dan dalam era atau situasi apapun.
• Pasar di luar negeri saat ini masih terbuka luas, baik di tingkat ASEAN maupun di Asia, Pasifik, dan Eropa. Kebutuhan akan pendidik agama Islam, da’i, imam masjid, imam tentara, dan ahli tentang Islam di negeri Barat (seperti di AS dan Eropa) saat ini makin meningkat dan mungkin akan terus meningkat seiring dengan makin banyaknya pemeluk agama Islam di negeri tersebut. Demikian pula di negeri ASEAN.
• Dalam hal persaingan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu, Islam Indonesia memiliki kelebihan (competitive advantage) karena dikenal sebagai Islam yang lebih sejuk jika dibandingkan dengan Islam dari Timur Tengah (faktor budaya bangsa).

Langkah yang perlu dilakukan PTAI

Untuk mewujudkan kemungkinan seperti di atas, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh PTAI:
1. Menetapkan sasaran (tujuan) yang ingin dicapai secara jelas. Ada lima kriteria bagi perumusan tujuan yang efektif: (a) specific; (b) measurable; (c) challenging; (d) realistic; (e) stated completion date. Contoh: “dalam jangka lima tahun mendatang, 50% dari alumni PTAI mampu membaca kitab kuning tanpa banyak kesulitan.” Atau, “dalam waktu tujuh tahun mendatang, sedikitnya ada seorang lulusan PTAI yang dapat bekerja sebagai ahli agama di Malaysia.”
2. Setelah tujuan itu ditetapkan dengan jelas, maka langkah berikutnya adalah membuat rencana untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dalam penyusunan rencana ini, kita menghitung ‘kekuatan’ dan ‘kelemahan’ kita dalam hal SDM, dana, fasilitas, dsb. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan kita, maka kita dapat mengusahakan untuk mengoptimalkan kekuatan kita itu dan meminimalkan pengaruh kelemahan kita. Sesudah itu kita membuat program pencapaian tujuan berdasarkan analisa kelemahan dan kekuatan itu. Dalam pendidikan, program pencapaian tujuan ini biasanya berupa kurikulum. Program pendidikan ini meliputi semua kegiatan, baik yang di dalam kelas maupun yang di luar kelas (termasuk kegiatan intra-organisasi mahasiswa). Semua kegiatan ini harus disinergikan guna mencapai tujuan yang diinginkan.3. Untuk menghadapi era pasar bebas, kurikulum PTAI harus diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang berwawasan global dan siap bertarung dalam kancah persaingan global. Untuk dapat menjadi lulusan seperti itu, maka lulusan PTAI di masa depan harus:
• Mampu menggunakan Bahasa Arab, Inggris, dan bahasa internasional lain sebagai alat komunikasi antar bangsa;
• Menguasai ilmu keislaman secara mantap dan komprehensif dengan standar yang diinginkan oleh masyarakat internasional;
• Memiliki wawasan dan sikap keilmuan yang mantap, mengingat pendektan ilmiah kini telah menjadi bahasa pemikiran internasional;
• Memiliki wawasan global;
• Memiliki sikap kemandirian dan kewirausahaan (entrepreneurship);
• Professional dalam bidangnya

Mungkinkah langkah itu dapat dilakukan?

Kenyataan yang sering terjadi adalah banyak saran yang bagus dan diterima oleh para penentu kebijakan di PTAI dan Depag tetapi ketika sampai pada tahap pelaksanaan, biasanya saran itu tidak ketahuan rimbanya karena kendala birokrasi. Apakah saran tersebut realistis? Tidak sekedar utopia, impian muluk yang tak akan pernah dapat direalisasikan?Menurut saya, hal itu dapat dilaksanakan asal ada ‘kemauan’ dari fihak tri-sivitas akademika PTAI.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan

1. Perlunya standarisasi kualitas
Sederet nama matakuliah yang bagus tidak akan ada artinya kalau kualitasnya tidak memenuhi standar yang diinginkan masyarakat. Oleh karena itu, perlu ditetapkan standar yang mantap untuk semua mata kuliah yang diberikan. Misalnya, apa standar penguasaan ilmu-ilmu Al-Qur’an (Ulumul Qur’an) yang diinginkan (yang dijanjikan kepada) masyarakat untuk tingkat S-1, S-2, dan S-3.? Standar penguasaan ilmu yang jelas dan dapat diukur (measurable) akan memudahkan PTAI untuk mengukur apakah usaha mereka telah berhasil atau belum dan, kalau belum, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kinerjanya itu?

2. Perlunya prinsip efisiensi
Efisien berarti mencapai tujuan dengan penggunaan daya (tenaga, fikiran, waktu, dan dana) yang sehemat mungkin. Mengingat jumlah sks dalam kurikulum itu terbatas dan waktu studi juga terbatas (diusahakan sebagian besar mahasiswa dapat selesai dalam 8 semester), maka harus diusahakan agar tidak ada isi mata kuliah yang tumpang tindih dan berulang dalam beberapa mata kuliah yang berbeda (bersinggungan dengan sudut tinjauan yang berbeda diperbolehkan). Prinsip belajar tuntas juga mengharuskan kita mengusahakan agar seluruh cakupan materi dalam suatu ilmu dapat diselesaikan secara tuntas dalam perkuliahan satu semester (jangan satu materi di bagi menjadi beberapa semester tanpa kesatuan unit yang jelas). Pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh mahasiswa hendaknya dapat dituntaskan dalam matakuliah kurikulum nasional sehingga kurikulum lokal dapat digunakan untuk program remedial, pendalaman, dan pengayaan (pemberian nilai tambah seperti yang tersebut di atas).

3. Perlunya mempertahankan relevansi kurikulum
Kurikulum PTAI harus diusahakan agar tetap relevan dengan kebutuhan riil masyarakat. Untuk ini perlu sering dilakukan ‘penelitian pasar’ atau ‘need assessment’. Hal ini dimaksudkan agar PTAI tetap relevan keberadaannya di masyarakat umum. Konsekuensinya, isi kurikulum PTAI akan selalu berubah sesuai dengan perubahan kebutuhan (tuntutan) masyarakat.

4. Perlu ada reformasi PBM (Proses Belajar Mengajar)
PBM di PTAI harus diorientasikan ke ‘mengajari mahasiswa mengail ikan’ bukan ‘memberi ikan kepada mahasiswa.’ Dosen harus lebih bersikap dan berfungsi sebagai trainer daripada pemberi informasi (itu fungsi guru SD!).
Untuk ‘melatih mahasiswa mengail ikan (d.h.i. mencari ilmu), mahasiswa harus dilatih untuk mencari dan mengolah informasi guna menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu fikiran mereka (ingin mereka ketahui). Ini adalah proses research. Dosen harus bertindak sebagai penggelitik rasa ingin tahu mahasiswa, motivator mahasiswa untuk mencari dan mengolah informasi yang telah tersedia, dan pemberi umpan balik atas hasil usaha mahasiswa itu. PBM di PTAI harus diubah dari ‘classroom centered’ menjadi ‘library centered’. Ini tentunya memerlukan perpustakaan yang cukup lengkap, nyaman, dan user friendly.

5. Perlunya menciptakan lingkungan akademis yang mendukung
Untuk mendukung prestasi akademis mahasiswa, PTAI perlu menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar mengajar yang dapat mempermudah tercapainya sasaran di atas. Hal ini meliputi:
• Sikap dan perilaku dosen. Dosen adalah ujung tombak yang amat menentukan keberhasilan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Mereka harus memiliki kompetensi dosen. Untuk meningkatkan kompetensi dosen ini perlu diadakan penataran-penataran dan peraturan-peraturan.
• Manajemen PTAI.
• Perpustakaan.
• Kegiatan ilmiah: diskusi dosen dan mahasiswa harus banyak dan bermutu (bukan sekedar ada).
• Perilaku akhlaq karimah warga kampus.
• Kebersihan dan keindahan lingkungan fisik kampus.
• Biro bantuan informasi lowongan kerja di dalam dan di luar negeri.
• Sikap dan wawsan mahasiswa harus diusahakan agar berorientasi ke depan, global, keilmuan, keislaman, dsb.

Kendala yang mungkin menghadang

Kendala yang diperkirakan akan menghambat usaha reformasi program pendidikan di PTAI adalah:

1. Etos kerja pegawai negeri yang umumnya tidak optimal. Pegawai negeri umumnya bekerja untuk cari nafkah dan baru bergerak kalau ada dana. Padahal, kalau mereka bekerja di lembaga pendidikan islam swasta, kadang-kadang mereka mau berkorban.
2. Budaya mudah menyerah kepada keadaan, merasa tidak berdaya. Bagaimana mungkin orang yang tidak berdaya menghadapi keadaan yang ada dapat memberdayakan orang lain (mahasiswa)?
3. Budaya tidak sampai hati untuk menindak bawahan yang tidak melakukan tugas dan fungsinya dengan semestinya (memenuhi standar). Sikap tenggang rasa penuh rasa kasihan ini memang menguntungkan bagi para bawahan (sesama pegawai negeri yang rata-rata gajinya kecil) akan tetapi mengorbankan orang lain (mahasiswa yang, notabene, membuat mereka mempunyai pekerjaan).
4. Lingkungan PTAI yang selama ini tidak mementingkan visi ke depan, keilmuan, penghayatan dan pengamalan perilaku islami, dan profesionalisme.