|
Swara Ditpertais: No.
11 Th. II, 17 Juli 2004
|
ERA
GLOBALISASI DAN INFORMASI: PELUANG DAN ANCAMANNYA BAGI LULUSAN PTAI
H. Arief Furqan, MA, Ph.D
Untuk
dapat ‘survive’ dalam era perdagangan bebas, suatu negara
harus mempunyai SDM berkualitas dalam jumlah yang cukup banyak. Di sinilah
pentingnya posisi dan peran pendidikan nasional. Karena melalui pendidikan
diharapkan akan dihasilkan kualitas SDM yang mumpuni.
Dalam
kaitannya dengan PTAI sebagai lembaga pendidikan Islam, maka pertanyaan
yang muncul adalah “bagaimana format pendidikan di PTAI agar ia
dapat tetap bertahan hidup dan ikut memberi sumbangan yang berarti bagi
penyiapan SDM yang siap hidup dan memanfaatkan peluang yang ditimbulkan
oleh perdagangan bebas?”
Syarat
agar PTAI dan lulusannya dapat survive di era perdagangan bebas:
1.
Harus dapat merebut ‘pasar’ dalam dan luar negeri;
2. Dalam melaksankan program pendidikannya, wawasan (outlook) PTAI dan
lulusannya harus tidak terbatas pada pasar dalam negeri saja tetapi juga
pasar luar negeri (kawasan ASEAN di tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik
di tahun 2010). Artinya, PTAI harus berkeinginan dan berusaha agar orang
asing berminat untuk belajar di PTAI dan lulusan PTAI juga harus berkeinginan
dan berusaha untuk bekerja di luar negeri.
3. Harus jeli melihat peluang yang muncul, baik di dalam maupun di luar
negeri.
4. Harus mengutamakan mutu yang memenuhi standar masyarakat internasional.
Mungkinkah
itu dilakukan?
Di
zaman yang makin mengarah kepada industrialisasi ini, mungkinkah PTAI
masih diminati oleh masyarakat yang juga makin cenderung untuk mengkaitkan
pendidikan dengan pekerjaan di masa depan? Haruskah PTAI mengubah dirinya
menjadi Universitas sehingga dapat membuka Fakultas Teknologi dan Ekonomi
yang sedang laris?
Menurut saya, tanpa mengubah main business PTAI, yakni menyiapkan ahli
agama, pun akan tetap dapat survive dan memiliki segmen pasar di pentas
dunia. Alasannya:
• Agama (terlebih Islam) masih akan tetap dibutuhkan oleh manusia
di negara mana pun dan dalam era atau situasi apapun.
• Pasar di luar negeri saat ini masih terbuka luas, baik di tingkat
ASEAN maupun di Asia, Pasifik, dan Eropa. Kebutuhan akan pendidik agama
Islam, da’i, imam masjid, imam tentara, dan ahli tentang Islam di
negeri Barat (seperti di AS dan Eropa) saat ini makin meningkat dan mungkin
akan terus meningkat seiring dengan makin banyaknya pemeluk agama Islam
di negeri tersebut. Demikian pula di negeri ASEAN.
• Dalam hal persaingan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu,
Islam Indonesia memiliki kelebihan (competitive advantage) karena dikenal
sebagai Islam yang lebih sejuk jika dibandingkan dengan Islam dari Timur
Tengah (faktor budaya bangsa).
Langkah
yang perlu dilakukan PTAI
Untuk
mewujudkan kemungkinan seperti di atas, ada beberapa langkah yang dapat
dilakukan oleh PTAI:
1. Menetapkan sasaran (tujuan) yang ingin dicapai secara jelas. Ada lima
kriteria bagi perumusan tujuan yang efektif: (a) specific; (b) measurable;
(c) challenging; (d) realistic; (e) stated completion date. Contoh: “dalam
jangka lima tahun mendatang, 50% dari alumni PTAI mampu membaca kitab
kuning tanpa banyak kesulitan.” Atau, “dalam waktu tujuh tahun
mendatang, sedikitnya ada seorang lulusan PTAI yang dapat bekerja sebagai
ahli agama di Malaysia.”
2. Setelah tujuan itu ditetapkan dengan jelas, maka langkah berikutnya
adalah membuat rencana untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dalam penyusunan
rencana ini, kita menghitung ‘kekuatan’ dan ‘kelemahan’
kita dalam hal SDM, dana, fasilitas, dsb. Dengan mengetahui kekuatan dan
kelemahan kita, maka kita dapat mengusahakan untuk mengoptimalkan kekuatan
kita itu dan meminimalkan pengaruh kelemahan kita. Sesudah itu kita membuat
program pencapaian tujuan berdasarkan analisa kelemahan dan kekuatan itu.
Dalam pendidikan, program pencapaian tujuan ini biasanya berupa kurikulum.
Program pendidikan ini meliputi semua kegiatan, baik yang di dalam kelas
maupun yang di luar kelas (termasuk kegiatan intra-organisasi mahasiswa).
Semua kegiatan ini harus disinergikan guna mencapai tujuan yang diinginkan.3.
Untuk menghadapi era pasar bebas, kurikulum PTAI harus diarahkan untuk
menghasilkan lulusan yang berwawasan global dan siap bertarung dalam kancah
persaingan global. Untuk dapat menjadi lulusan seperti itu, maka lulusan
PTAI di masa depan harus:
• Mampu menggunakan Bahasa Arab, Inggris, dan bahasa internasional
lain sebagai alat komunikasi antar bangsa;
• Menguasai ilmu keislaman secara mantap dan komprehensif dengan
standar yang diinginkan oleh masyarakat internasional;
• Memiliki wawasan dan sikap keilmuan yang mantap, mengingat pendektan
ilmiah kini telah menjadi bahasa pemikiran internasional;
• Memiliki wawasan global;
• Memiliki sikap kemandirian dan kewirausahaan (entrepreneurship);
• Professional dalam bidangnya
Mungkinkah
langkah itu dapat dilakukan?
Kenyataan yang sering terjadi adalah banyak saran yang bagus dan diterima
oleh para penentu kebijakan di PTAI dan Depag tetapi ketika sampai pada
tahap pelaksanaan, biasanya saran itu tidak ketahuan rimbanya karena kendala
birokrasi. Apakah saran tersebut realistis? Tidak sekedar utopia, impian
muluk yang tak akan pernah dapat direalisasikan?Menurut saya, hal itu
dapat dilaksanakan asal ada ‘kemauan’ dari fihak tri-sivitas
akademika PTAI.
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan
1.
Perlunya standarisasi kualitas
Sederet nama matakuliah yang bagus tidak akan ada artinya kalau kualitasnya
tidak memenuhi standar yang diinginkan masyarakat. Oleh karena itu, perlu
ditetapkan standar yang mantap untuk semua mata kuliah yang diberikan.
Misalnya, apa standar penguasaan ilmu-ilmu Al-Qur’an (Ulumul Qur’an)
yang diinginkan (yang dijanjikan kepada) masyarakat untuk tingkat S-1,
S-2, dan S-3.? Standar penguasaan ilmu yang jelas dan dapat diukur (measurable)
akan memudahkan PTAI untuk mengukur apakah usaha mereka telah berhasil
atau belum dan, kalau belum, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki
kinerjanya itu?
2.
Perlunya prinsip efisiensi
Efisien berarti mencapai tujuan dengan penggunaan daya (tenaga, fikiran,
waktu, dan dana) yang sehemat mungkin. Mengingat jumlah sks dalam kurikulum
itu terbatas dan waktu studi juga terbatas (diusahakan sebagian besar
mahasiswa dapat selesai dalam 8 semester), maka harus diusahakan agar
tidak ada isi mata kuliah yang tumpang tindih dan berulang dalam beberapa
mata kuliah yang berbeda (bersinggungan dengan sudut tinjauan yang berbeda
diperbolehkan). Prinsip belajar tuntas juga mengharuskan kita mengusahakan
agar seluruh cakupan materi dalam suatu ilmu dapat diselesaikan secara
tuntas dalam perkuliahan satu semester (jangan satu materi di bagi menjadi
beberapa semester tanpa kesatuan unit yang jelas). Pengetahuan dasar yang
harus dimiliki oleh mahasiswa hendaknya dapat dituntaskan dalam matakuliah
kurikulum nasional sehingga kurikulum lokal dapat digunakan untuk program
remedial, pendalaman, dan pengayaan (pemberian nilai tambah seperti yang
tersebut di atas).
3.
Perlunya mempertahankan relevansi kurikulum
Kurikulum PTAI harus diusahakan agar tetap relevan dengan kebutuhan riil
masyarakat. Untuk ini perlu sering dilakukan ‘penelitian pasar’
atau ‘need assessment’. Hal ini dimaksudkan agar PTAI tetap
relevan keberadaannya di masyarakat umum. Konsekuensinya, isi kurikulum
PTAI akan selalu berubah sesuai dengan perubahan kebutuhan (tuntutan)
masyarakat.
4.
Perlu ada reformasi PBM (Proses Belajar Mengajar)
PBM di PTAI harus diorientasikan ke ‘mengajari mahasiswa mengail
ikan’ bukan ‘memberi ikan kepada mahasiswa.’ Dosen harus
lebih bersikap dan berfungsi sebagai trainer daripada pemberi informasi
(itu fungsi guru SD!).
Untuk ‘melatih mahasiswa mengail ikan (d.h.i. mencari ilmu), mahasiswa
harus dilatih untuk mencari dan mengolah informasi guna menemukan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu fikiran mereka (ingin mereka
ketahui). Ini adalah proses research. Dosen harus bertindak sebagai penggelitik
rasa ingin tahu mahasiswa, motivator mahasiswa untuk mencari dan mengolah
informasi yang telah tersedia, dan pemberi umpan balik atas hasil usaha
mahasiswa itu. PBM di PTAI harus diubah dari ‘classroom centered’
menjadi ‘library centered’. Ini tentunya memerlukan perpustakaan
yang cukup lengkap, nyaman, dan user friendly.
5.
Perlunya menciptakan lingkungan akademis yang mendukung
Untuk mendukung prestasi akademis mahasiswa, PTAI perlu menciptakan lingkungan
yang mendukung proses belajar mengajar yang dapat mempermudah tercapainya
sasaran di atas. Hal ini meliputi:
• Sikap dan perilaku dosen. Dosen adalah ujung tombak yang amat
menentukan keberhasilan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Mereka
harus memiliki kompetensi dosen. Untuk meningkatkan kompetensi dosen ini
perlu diadakan penataran-penataran dan peraturan-peraturan.
• Manajemen PTAI.
• Perpustakaan.
• Kegiatan ilmiah: diskusi dosen dan mahasiswa harus banyak dan
bermutu (bukan sekedar ada).
• Perilaku akhlaq karimah warga kampus.
• Kebersihan dan keindahan lingkungan fisik kampus.
• Biro bantuan informasi lowongan kerja di dalam dan di luar negeri.
• Sikap dan wawsan mahasiswa harus diusahakan agar berorientasi
ke depan, global, keilmuan, keislaman, dsb.
Kendala
yang mungkin menghadang
Kendala
yang diperkirakan akan menghambat usaha reformasi program pendidikan di
PTAI adalah:
1.
Etos kerja pegawai negeri yang umumnya tidak optimal. Pegawai negeri umumnya
bekerja untuk cari nafkah dan baru bergerak kalau ada dana. Padahal, kalau
mereka bekerja di lembaga pendidikan islam swasta, kadang-kadang mereka
mau berkorban.
2. Budaya mudah menyerah kepada keadaan, merasa tidak berdaya. Bagaimana
mungkin orang yang tidak berdaya menghadapi keadaan yang ada dapat memberdayakan
orang lain (mahasiswa)?
3. Budaya tidak sampai hati untuk menindak bawahan yang tidak melakukan
tugas dan fungsinya dengan semestinya (memenuhi standar). Sikap tenggang
rasa penuh rasa kasihan ini memang menguntungkan bagi para bawahan (sesama
pegawai negeri yang rata-rata gajinya kecil) akan tetapi mengorbankan
orang lain (mahasiswa yang, notabene, membuat mereka mempunyai pekerjaan).
4. Lingkungan PTAI yang selama ini tidak mementingkan visi ke depan, keilmuan,
penghayatan dan pengamalan perilaku islami, dan profesionalisme.
|