Banner Swara Ditpertais
Menu Utama
Menu Utama
 
  M E N U
Dewan Redaksi
No.27 Th. III, 02 Mei 2005
No.25 Th. III, 15 Maret 2005
No.24 Th. III, 03 Feb 2005
No.23 Th. III, 01 Jan 2005
No.22 Th. II, 23 Des 2004
No.21 Th. II, 18 Des 2004
No.20 Th. II, 30 Nov 2004
No.19 Th. II, 15 Nov 2004
No.18 Th. II, 30 Okt 2004
No.17 Th. II, 15 Okt 2004
No.16 Th. II, 30 Sep 2004
No.15 Th. II, 17 Sep 2004
No.14 Th. II, 31 Ags 2004
No.13 Th. II, 15 Ags 2004
No.12 Th. II, 31 Juli 2004
No.11 Th. II, 17 Juli 2004
No.10 Th. II, 26 Jun 2004
No.9 Th. II, 15 Jun 2004
No.8 Th. II, 12 Mei 2004
No.7 Th. II, 17 Apr 2004
No.6 Th. II, 6 Apr 2004
No.5 Th. II, 24 Feb 2004
No. 4 Th. I, 6 Des 2003
No. 3 Th. I, 6 Nov 2003
   

 

 

 

 

 

 

 

Penyempurnaan Rancangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) PTAI oleh Team Pakar

Swara Ditpertais: No. 10 Th. II, 15 Juni 2004

MELIHAT PROSPEK PTAI KE DEPAN:TUNTUTAN,
TANTANGAN, DAN KESEMPATAN
(Refleksi Diri Atas Reposisi PTAI)

Mengadakan evaluasi adalah bagian penting dari upaya untuk selalu melihat apa yang telah dilakukan dan bagaimana rencana yang terbaik ke depan. Dalam bahasa lain konsep tersebut seringkali disebut sebagai muhasabah, demikian butir-butir yang disampaikan oleh Prof. A. Qodri Azizy, Ph.D yang disampaikan dalam pertemuan Rektor UIN, IAIN dan Ketua STAIN baru-baru ini di Palu (4-6 Juni 2004). Terhadap kenyataan PTAIN yang sudah ada, beliau mengingatkan agar kita semua kembali kepada “ide dasar” pendirian perguruan tinggi. Di antara main idea, perguruan tinggi adalah, sebagai wahana pembelajaran, (tertiary education), pemersiapan sumber daya manusia (SDM) dan oleh karena itu harus mampu membedakan diri dengan institusi lain seperti pesantren atau madrasah. Dan yang terpenting lagi adalah harus difikirkan bahwa pada umumnya, alumninya akan menggunakan ijazahnya untuk dapat dipergunakan kaitannya dengan pekerjaan.

Berangkat dari asumsi ide dasar perguruan tinggi sebagaimana tersebut di atas, tujuan yang selama ini diagung-agungkan, yakni memperdalam ilmu agama (mencetak ulama’) patutlah untuk dikritisi kembali. Apakah benar semuanya diorientasikan untuk menjadi ulama’ (ahli agama)?. Padahal kalau kita kembalikan penafsiran ayat al-Qurán surat Al-Tawbah, kata tha’ifah sebagaimana tersebut menurut al-Faruqi diartikan sebagai : one in each township or circle, atau dalam bahasa lain yakni al-Thabari menyatakan; min al-firqah al-sakinin fi al bilad, thai’fah ila hadhrat al rasul li-yatafaqqahu fi al-din. Jadi yang perlu atau (wajib) untuk mendalami agama itu adalah thaífaah min kull al-firqah. Ini berarti hanya sebagian kecil saja atau secukupnya, sekiranya dapat secara proporsional untuk menjelaskan agama. Namun untuk amaliah fard ‘ayn (individu) sifatnya setiap pribadi, bukannya sebagai “ahli”. Dengan demikian sebagai implikasinya, kita harus mengevaluasi kembali apakah semuanya harus menjadi ahli agama? Begitu pula secara bersamaan, kita harus profesional dan proporsional, yakni tidak boleh memaksakan-- sarjana fakultas Ushuluddin, Syari’ah atapun Dakwah, misalnya—mengajar matematika, IPA, Ekonomi dan lain sejenisnya. Bukankah kalau itu dipaksakan sama saja masuk dalam kategorisasi kaidah “wusida ila ghayr ahlih” atau “ wadh ‘u al-syay’ fi gayr mahallih”?, tegas Pak Qodri.

Memasuki era yang semakin kompetitif seperti sekarang ini PTAI dihadapkan pada tantangan yang begitu pelik, terutama mutu lulusan dan kualitas PTAI itu sendiri (mengenai tantangan ini selanjutnya bisa dilihat dari Hong Tan (World Bank Institute). Selain itu PTAI juga dihadapkan pada persoalan untuk dapat mencetak tenaga sesuai dengan lapangan kerja termasuk kreatifitas untuk dapat menciptakannya. Untuk itu saat ini quality control dan quality assurance menjadi persoalan penting. Orientasi lebih kepada kualitas, bukan justru mencari kuantitas (jumlah) mahasiswa yang ujung-ujungnya adalah duit dan tidak boleh sembarang (ingat kaidah ghayr mahllih dan ghayr ahlih). Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah membenahi disiplin ilmu yang diajarkan, prodi-prodi diluruskan (termasuk didalamnya adalah mengecek nama-nama prodi), dan tidak boleh sampai merugikan mahasiswa. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini PTAI harus berorientasi pada penyiapan SDM untuk kehidupan yang lebih baik (for a better life).

Di hadapan para Rektor UIN, IAIN dan Ketua STAIN Dirjen Bagais mengingatkan agar idealnya kita mampu “mengekspor” tenaga terdidik ahli keilmuan Islam, bukan seperti TKW/TKI (karena berdasarkan pengalaman pahit yang ada TKW adalah ibarat menjual orang saja). Untuk menciptakan tenaga terdidik sebagaimana tersebut di atas, maka perlu ada beberapa langkah progresif sebagai berikut, antara lain dengan melakukan pembenahan secara komprehensif, seperti kurikulum, pengelompokkan ilmu-ilmu keislaman, perubahan ke arah universitas (bagi yang memenuhi syarat), termasuk menjadi BHN, melakukan likuidasi bagi yang tidak mampu dan merger guna memperkuat eksistensi PTAI yang bersangkutan, sebagaimana yang terjadi di dunia bisnis dan perbankan. Begitu pula mengadakan studi di beberapa negara yang mayoritas Islam, seminar/workshop dan mencari funding lembaga internasional.

Demikianlah arti pentingnya muhasabah, koreksi diri (what we have done) dan apa saja hasil yang telah dicapai (the results). Memang sangatlah naif anggaran-- yang kita tahu semua tahu dari uang rakyat--, kita gunakan terus-menerus, akan tetapi tidak pernah mendapatkan capaian yang bagus. Oleh karena itu sudah saatnya perlu adanya produk inovasi dan penemuan (discovery), bukan hanya sekedar berlomba-lomba mencari untuk mendapatkan mahasiswa an sich. Semoga. (M.Adib,Gja).