Swara Ditpertais: No. 15 Th. II, 31 September 2004
Salam
Redaksi
Edisi
kali ini Swara Ditpertais banyak melaporkan suntingan tulisan yang dihimpun
dari berbagai kegiatan seminar dan workshop Ditpertais kerjasama dengan
PTAI. Dalam banyak hal edisi ini banyak menyoroti keberadaan PTAIS yang
seringkali mendaptkan perhatian yang kurang proporsional dibandingkan
PTAIN. Sebaliknya teropongan terhadap PTAIS ini akan dapat menjadi bahan
renungan dan evaluasi terhadap PTAIN untuk lebih giat dan bertanggungjawab
terhadap mengelola pendidikan, apalagi telah mendapatkan anggaran tetap
dari pemerintah. Untuk itu fenomena “rebutan” kursi jabatan,
haruslah diubah menjadi kompetisi menuju universitas terkenal dan berkualitas.
Memiliki rasa bersalah (sense of guilty), malu (al-khya’) kalau
PTAIN yang dipimpinnya tidak maju dan berkembang haruslah lebih dikedepankan.
Melengkapi
berita tersebut, kita sajikan analisa Prof. Imam Suprayogo yang mencoba
menguraikan “benang kusut” problem PTAI dari lingkaran setan
menuju lingkaran malaikat. Di samping itu, ada elaborasi pesan dari Dirjen
Bagais Prof. A. Qodri Azizy, Ph.D yang memandang bahwa pendidikan adalah
sebagai human capital dan harus mampu dikaitkan dengan perubahan
masa depan bangsa. Melengkapi edisi kali ini kita juga tampilkan rekaman
kegiatan TOT di UIN Yogya bekerjasama dengan Ditpertais bagi calon dosen
PTAIN, yakni wacana menejemen berbasis kampus. Selamat membaca. (Adib,
Gja)