Menu Utama
Bar Menu

Menu Utama
 
 


Dewan Redaksi
Vol. VI/No. 02/2003
Vol. VI/No. 01/2003
Vol. V/No. 01/2002
Vol. III/No. 02/200
   
   
   


KEBIJAKAN
 

 

Dapat dikatakan, rencana pembukaan kelas internasional yang sekarang sedang digagas oleh Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, Departemen Agama RI merupakan langkah terobosan dalam rangka membenahi dan meningkatkan kualitas mutu perguruan tinggi di lingkungan Departemen Agama. Langkah ini diambil selain sebagai upaya PTAI merebut poros studi Islam, juga merupakan bagian integral dari tantangan dunia yang semakin mengglobal. Sebagaimana diketahui, kompetisi merupakan kata kunci di era globalisasi, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Supaya bobot pendidikan kita ini tidak seperti "katak dalam tempurung" maka perlu adanya kearifan, bahkan keharusan untuk melihat dunia luar. Karena, jangan-jangan apa yang telah anggap sudah bagus dan mutakhir, ternyata sudah tidak up to date lagi alias ketinggalan zaman. Untuk mengetahui lebih jauh gagasan tersebut, dan kebijakan apa yang sudah diambil oleh Depag RI, berikut petikan wawancara M. Adib Abdushomad, MA, dari PERTA dengan Dirjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, Prof. Dr. A. Qodri Azizy, M.A, dan Direktur Pertais H. Arief Furqon, M.A, Ph.D.

"Kita Tidak Ingin Tertinggal Jauh dengan Pendidikan di Luar Negeri"
Prof. Dr. A. Qodri Azizy, M.A
Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI

Pembukaan kelas Internasional ditengarai sebagai bagian dari mandat UU Sisdiknas yang mengharuskan adanya kesadaran persaingan global dalam pendidikan. Menurut Anda bagaimana?

Kalau boleh saya cerita, pada saat penyusunan UU Sisdiknas, saya ikut memberikan masukan-masukan pada waktu itu, bahwa istilah internasional berasal dari perdebatan mengenai adanya kompetisi global. Saya sempat mengajukan usul perlu adanya institusi pendidikan yang mampu berkompetisi dalam skala internasional. Namun istilah kompetisi sempat diinterupsi, karena dianggap berbau barat (western terminology). Saya jawab bahwa istilah kompetisi tidak selalu identik dengan Barat. Karena dalam Islam itu sendiri secara tegas juga mengajarkan adanya kompetisi secara jelas.

Di lingkungan PTAI, persiapan-persiapan apa sajakah yang telah dilakukan?

Ya…sambil berjalan, apalagi kalau nanti langkah ini benar-benar di-back up, dukungan, dengan anggaran pendidikan nasional yang jumlahnya mencapai 20%. Dengan demikian gagasan tersebut sangat mungkin akan cepat terwujud.

Apa perlu proyek percontohan?

saya kira bisa, karena dengan anggaran sebesar itu, pemerintah mungkin dapat menjadikannya semacam pilot project, sehingga program ini akan cepat terealisir.

Apa yang menjadi target dan sasaran dari pembukaan kelas Internasional?

Adanya kesadaran akan globalisasi dalam segala kehidupan. Untuk itu kita harus mempersiapkan kelas yang mempunyai standar internasional?

Apakah standar internasional yang dimaksud adalah bahasa pengantar dalam perkuliahannya menggunakan bahasa Arab dan Inggris?

Tidak sesempit itu. Artinya, kelas internasional tidak hanya karena faktor bahasa pengantarnya saja, akan tetapi lebih dari itu, yakni aturan-aturan yang dipakai juga bertaraf internasional.

Dalam pertememuan Rektor dan Direktur Pascasarjana PTAIN beberapa waktu yang lalu di IAIN Walisongo Semarang, percontohan untuk kelas internasional disepakati hanya untuk program pasacasarjana. Bagaimana dengan program sarjana (S1)? Persiapan material apa saja yang perlu dilakukan?

Untuk S1 kelas Internasional, kita telah memiliki contoh di UIN Jakarta. Di sana, kita telah bekerjasama dengan Al-Azhar, Kairo. Dan, ini terbuka bagi siapa saja yang telah siap, mungkin STAIN Malang, dan lain sebagainya, untuk membuka program kelas Internasional. Kesadaran dan keuletan pimpinan dan stafnya masing-masing menjadi kata kunci di sini. Net working dan kerjasama yang menguntungkan dengan pendidikan di luar negeri bisa dilakukan. Untuk persiapannya bisa dimulai dengan menterjemahkan dan menseleksi buku-buku yang berkualitas, dosen yang berkualitas atau bertaraf internasional. Saya kira kita memiliki banyak stok dosen yang bagus, seperti Azyumardi Azra, Quraish Shihab, Nur Cholish Madjid, dan lain sebagainya yang sudah diakui dunia luar akan kompetensi keilmuwannya.

Apakah Anda optimis dengan upaya pembukaan program kelas Internasional ini?

Undang-Undang Pendidikan kita sudah mengharuskan menuju ke arah ke sana, jadi tidak ada alasan untuk mengelak. Apa yang perlu kita lakukan adalah persiapan-persiapan yang matang. Kita tidak ingin pendidikan kita tertinggal jauh dari perkembangan yang ada di luar, langkah ini merupakan salah satu terobosan yang sedang dikaji dan dilakukan.


"Harus Berani Kampanye ke Luar Negeri"
Wawancara dengan
H. Arief Furqan, MA, PhD.
Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, Departemen Agama RI

Bagaimana awal mula gagasan kelas internasional muncul?

Gagasan pembukaan kelas Internasional sebetulnya mengacu kepada kandungan UU Sistem Pendidikan Nasional kita yang mengharuskan dan mengarahkan agar institusi pendidikan memiliki jangkauan dan visi yang bertaraf internasional.

Dalam konteks PTAIN, langkah-langkah persiapan apa yang sudah dilakukan?
Kita berada pada posisi memberikan motivasi dan membantu aturan-aturan teknis yang dibutuhkan dalam rangka pembukaan kelas internasional tersebut. Jadi, kita tidak sedang "menyetir" atau mendayung dalam arti membiayai. Kesadaran akan persaingan pendidikan yang semakin mengglobal dari para pimpinan PTAIN-lah yang paling utama.

Apakah itu bisa diharapkan dapat berhasil? Pasalnya, untuk mengelola yang sudah ada saja masih jauh dari apa yang diharapkan, apalagi membuka kelas internasional. Komentar Anda?

Itu semua sangat tergantung bagaimana pihak pengelola PTAI mampu "mengemas" dan menawarkan progamnya atau tidak. Mereka harus berani kampanye ke luar negeri tentang track record, kompetensi dan kualitas kelas internasional yang dimaksud. Untuk itu, kelas yang dibuka harus mempunyai spesifikasi dan keunggulan tertentu.

Sebenarnya, apa tolak ukur kelas internasional?

Paling tidak, bahasa pengantar dalam perkuliahannya menggunakan bahasa internasional, Arab atau Inggris. Dan tidak hanya itu, "standar"-nya pun bertaraf internasional.

Apa harapan Anda terhadap out put kelas Internasional yang bakal dihasilkan kelak?

Saya kira lulusan kelas internasional, nantinya bisa diminati, baik di dalam dan luar negeri.

Langkah-langkah apa sajakah yang telah ditempuh?

Tadi sudah saya katakan, kita berada pada posisi memberikan motivasi dan memberikan aturan-aturan teknis yang diperlukan. Kesadaran dari para pimpinan PTAI sekali lagi amatlah penting. Silahkan berkompetisi, fastabiq al-khairat, mana yang terbaik. Apalagi UU pendidikan kita telah men-support untuk itu.***