Menu Utama
Bar Menu

Menu Utama
 
 


Dewan Redaksi
Vol. VI/No. 02/2003
Vol. VI/No. 01/2003
Vol. V/No. 01/2002
Vol. III/No. 02/200
   
   
   


RISET KITA

Benarkah PTAI Mengalami Kendala Serius

Bagi Mahasiswa dan Alumninya?

Review Hasil Penelitian Kompetitif PTAI 2002/2003

 

Judul: Iklim Pembelajaran dan Ekspektasi Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama    Islam (PTAI) di Jakarta

Tim Peneliti: Drs. HM. Anis Agus, Drs. H. Zaeni Dahlan, M.Ag., Drs. Sigit Muryono, M.Pd., dan Drs. Imam Syafi’i, M.Pd

Lembaga Peneliti: Institut PTIQ Jakarta

Tebal: v + 84 halaman (tidak termasuk lampiran).

 

 

KINI, sebagian besar PTAI menghadapi kendala utama yang sama yaitu menurunnya input mahasiswa di PTAI. Hal tersebut ditengarai karena kurangnya minat mereka untuk belajar di PTAI. Asumsinya, PTAI tidak bisa memberikan prospek masa depan yang baik. Ada dua sebab mengapa demikian; pertama, sikap inferioritas dari civitas akademika; kedua, perlakuan administratif dari pengguna lulusan PTAI yang sering memperlakukan tidak adil terhadap lulusan PTAI.  Kondisi tersebut, diperparah dengan tidak diimbanginnya proses pembelajaran di PTAI yang lebih baik. Jika masalah-masalah semacam ini tidak segera dicarikan alternatif pemecahannya, maka tidak mustahil PTAI akan menjadi “kering” dan pada akhirnya, akan “mati”.

Dalam konteks tersebut, sosialisasi visi dan misi PTAI sangat penting, lebih utama bagi civitas akademika. Berhasil tidaknya suatu PTAI sangat terkait dengan visi dan misi lembaganya. Jika visi dan misinya jelas, maka eksistensi PTAI akan dapat dipertahankan dan dikembangkan, begitu juga sebaliknya. Karena itu, visi dan misi PTAI harus dipahami dan diketahui secara terbuka. Terlebih untuk mendapatkan kualitas alumni dan mutu mahasiswa yang capable. Hal ini sejalan dengan implementasi PP 60 tahun 1999, seperti diungkapkan Arief Furqan tentang tujuan PTAI. Sekurangnya, ada dua hal, pertama menghasilkan lulusan yang bermutu secara akademik dan, atau profesional di bidang ilmu agama dan kebudayaan Islam serta akan bermanfaat bagi masyarakat. Kedua, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu agama dan kebudayaan Islam bagi kemaslahatan masyarakat (Arief Furqan, 2002).

Richard S. Fear mengemukakan bahwa motivasi yang dimiliki seseorang akan menentukan keberhasilan suatu pekerjaan, sekalipun aktifitas tersebut ditunjuk oleh pembawaan, bakat dan keterampilan. Crow and Crow menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan timbulnya minat dalam belajar dan kemudian, sampai menjadi dasar bagi belajar (Lester D. Crow and Alice D. Crow, dalam Abd. Rahman Abror, 1989). Menurut D.C. Mclelland, ada 4 (empat) teori motivasi: pertama, the survival model, bertolak dari teori evolusi, individu mempunyai dorongan untuk mempertahnkan kelangsungan hidupnya. Motivasi tidak lain adalah suatu dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan. Kedua, the stimulus intensity model, motivasi merupakan suatu perangsang yang kuat yang mendorong suatu tingkah laku. Ketiga, the stimulus pattern model, motivasi muncul karena suatu keinginan untuk mencapai keseimbangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang diterim/dialami. Kesenjangan yang relatif sedang, akan lebih memacu motivasi dibanding kesenjangan yang lebih besar atau lebih kecil. Terakhir, the affective arousal model, model ini bertolak dari situasi yang mengandung suasana afektif. Motivasi merupakan suatu pengalaman belajar yang terletak dalam situasi yang mengandung suasana afektif melalui pertanyaan-pertanyaan isyarat. Pengalaman tersebut mendorong individu untuk berbuat. (David C. Mclelland, et. al., 1975). 

Penelitian para dosen Institut PTIQ Jakarta ini mencoba mengangkat dan mempersoalkan latar belakang mahasiswa, motivasi masuk ke PTAI, iklim belajarnya, dan ekpektasi (harapan) setelah menyelesaikan studinya di PTAI. Tujuan dari penelitian deskriptif ini, setelah mengetahui pendapat para mahasiswa di PTAI yang diteliti, adalah dapat memberikan alternatif pengembangan, penambahan dan pembukaan program studi, jurusan, dan mata kuliah yang dibutuhkan oleh mahasiswa demi masa depan yang dicita- citakan untuk generasi berikutnya.

Penelitian ini dilaksanakan pada 11 (sebelas) PTAI se-wilayah DKI Jakarta; 2 (dua) PTAI di Jakarta Utara, lalu 7 (tujuh) lainnya di Jakarta Selatan, dan 2 (dua) PTAI di Jakarta Timur. Di antara ke-11 PTAI tersebut, 1 (satu) di antaranya adalah PTAIN dan selebihnya PTAIS. Waktu penelitian dilaksanakan sejak September hingga Desember 2002.

Dari jumlah populasi sebanyak 11.703 mahasiswa, dengan penetapan sampel sebanyak 821 responden, penelitian ini berkesimpulan; pertama, latar belakang responden secara umum mayoritas berusia 17-22 tahun dengan daerah asal sebagian Jakarta dan sebagian lagi dari luar Jakarta. Tempat tinggalnya, sebagian mereka di rumah kost, rumah saudara, dan kontrak. Lelaki dan perempuan yang diteliti jumlahnya sebanding, dan latar belakang pendidikan sebagian besar dari Madrasah Aliyah.

Kedua, motivasi masuk PTAI, pada umumnya telah tumbuh sejak di bangku SMU (SLTA). Alasan yang dominan mereka adalah ingin memperdalam Ilmu Agama Islam dan atas kemauan sendiri. Sebab, sebagian mereka telah menguasai keilmuannya. Dan harapannya, setelah lulus PTAI menjadi muballigh dan pegawai negeri. Profesi muballigh, bagi mereka bukan dalam arti menghasilkan uang, tetapi lebih merupakan sebagai konsekuensi belajar dan mendalami pengetahuan agama Islam.

Ketiga, kondisi PTAI di Jakarta pada umumnya memiliki keunggulan dari kiprah sosial para alumninya. Kelemahannya adalah keterbatasan sarana proses belajar mengajar. Beberapa tawaran mata kuliah PTAI, ternyata disukai mahasiswa karena dosen pengampunya dianggap berkualitas. Sedang mata kuliah yang dianggap tidak disukai, karena berat mempelajarinya. Namun untuk mendalaminya, seperti dengan kursus bahasa masih diselenggarakan oleh pihak di luar kampus. Di sinilah kemudian berakibat pada proses pembelajaran, yakni kurang daya dukung pada sarana prasaran pembelajaran, seperti laboratorium bahasa, komputer, dan pelayanan akademik. Walaupun, menurut sebagian besar responden, proses itu sudah dirasakan efektif, karena didukung penerapan metode yang agak bervariasi atau pemberian contoh-contoh aktual berkaitan dengan pokok bahasan. Namun, harus diperhatikan juga bahwa proses pembelajarannya sendiri belum optimal merangsang pemikiran dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis mahasiswa.

Selaras dengan hasil riset tersebut, ada suatu fenomena mutakhir yang menarik dari perkembangan PTAI. Yakni, suatu kecenderungan PTAI membuka program studi/jurusan baru yang dianggap relevan dengan dunia kerja. Menurut para peneliti, dengan meng-amini para responden, fenomena semacam itu perlu mendapat dukungan dari pihak PTAI lain dan Ditperta Depag RI, agar tidak terkesan mengikuti pasar semata-mata. Makanya, baik PTAI atau Depag perlu secepatnya membuat kebijakan yang tepat berkaitan dengan fenomena tersebut.

Ikhtiar tim Institut PTIQ di atas, cukup baik juga untuk menangkap dan merangsang PTAI di luar DKI Jakarta dalam rangka pengembangan dan relevansinya sesuai dengan situasi sosial ekonomi budaya dan politik yang mengitarinya. Terlebih, PTAI dapat mengisi peluang dan kesempatan seiring dengan otonomi daerah. Jadi, bukan semata-mata keinginan dari para mahasiswanya semata, tetapi bagi daerah atau masyarakatnya juga. Sehingga lokalitas sebagai bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan tetap dapat dirasakan eksistensinya.

Motivasi masuk ke PTAI, ternyata karena banyak faktor. Bahkan, sejak SMU sudah mulai ditanamkan dalam diri calon mahasiswa. Hal ini sangat penting bagi PTAI untuk merancang bangunan sistem pendidikannya ke depan. Pun demikian bagi calon mahasiswa sebelum masuk PTAI.  Semestinya, ada korelasi positif, antara harapan mahasiswa dan setelah menjadi mahasiswa, serta lulus dari PTAI. Di sini, kemudian alumni menjadi harapan utama PTAI. Visi misi PTAI, masih cukup signifikan bagi para alumninya. Artinya, wajah PTAI dapat pula dilihat dari kiprah alumni atau sebaliknya, sampai sejauhmana perhatian alumni terhadap PTAI, khususnya dalam dinamika pembelajaran yang ada di PTAI. [Mahrus eL-Mawa]