PTAI DALAM PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM: MEMPERTANYAKAN
KONTRIBUSI
Marzuki Wahid
Kepala
Seksi Penelitian
Direktorat
Perguruan Tinggi Agama Islam Depag RI
Perkembangan
pemikiran Islam di Indonesia tidak bisa dikatakan mandeg.
Akhir-akhir ini dinamika pemikirannya sangat pesat. Pertarungannya
sangat dahsyat, bukan saja menyangkut aspek substansi
pemikiran melainkan juga strategi pelembagaan politiknya.
Akan tetapi perkembangan ini selalu saja menggambarkan
dua kecenderungan gerakan yang bersebarangan. Sehingga
ragam pemikiran Islam yang demikian variatif itu hanya
disederhanakan menjadi dua kategori yang dipertentangkan:
“Islam liberal” dan “Islam fundamentalis” atau “Islam
kiri” dan “Islam kanan”. Tentu ini suatu perkembangan
yang membanggakan sekaligus juga disayangkan karena terjadi
simplifikasi. Masalah pokok yang ingin dikembangkan dalam
tulisan ini adalah di mana posisi PTAI dalam konstelasi
perkembangan pemikiran ini? Apa yang bisa dilakukan dan
disumbangkan PTAI dalam dinamika pemikiran itu?
Apa Sumbangan PTAI?
Sebelum menjawab pertanyaan mendasar ini, saya ingin
memaparkan suatu perbincangan yang pernah saya lakukan
dengan beberapa kawan di Jakarta. Pada suatu refleksi,
saya ditanya: “Apa yang telah disumbangkan PTAI kepada
bangsa dan kepada ilmu pengetahuan?” Saya balik bertanya
dengan suatu ujian, “Apa ada keharusan PTAI untuk memberikan
kontribusi kepada bangsa dan juga kepada ilmu pengetahuan?”
Mendengar pertanyaan ini, teman saya menjawab dengan
nada tinggi, “Ya jelas ada dan harus! PTAI harus bertanggungjawab
dan memberikan kontribusi kepada bangsa dan juga kepada
ilmu pengetahuan. Karena PTAI, terutama yang negeri, hidup
dan berkembang dari uang rakyat. Semua dosen dan karyawan
PTAI negeri tiap bulan dibayar oleh uang rakyat. Fasilitas
belajar dibangun dan dilengkapi dengan uang rakyat. Mahasiswa
yang belajar di PTAI negeri juga disubsidi oleh uang rakyat.
Lalu, konsekuensi dari semua itu adalah apa yang bisa
diberikan PTAI kepada rakyat?”
Dengan sedikit apalogetik,
saya menjawab, “Ya banyak. Pertama, PTAI
telah menghasilkan sejumlah sarjana agama. Coba Anda hitung
berapa sarjana yang telah dihasilkan oleh PTAI. Semua
sarjana itu kan diserahkan kembali kepada rakyat.
Tugas PTAI menggodok dan mencetak sarjana agama untuk
rakyat. Kedua, PTAI telah menghasilkan banyak buku,
diktat, dan karya tulis ilmiah. Buku-buku dan tulisan-tulisan
itu dicetak, diterbitkan, kemudian dipasarkan kepada rakyat.
Mau digunakan untuk apa oleh rakyat dan bangsa ini, terserah
saja. Ketiga, dosen-dosen dan mahasiswa secara
reguler melakukan pengabdian pada masyarakat, mengisi
khutbah, ceramah, membina kegiatan keagamaan, dan berdemonstrasi
membela kepentingan rakyat. Semua itu juga bagian dari
sumbangan PTAI kepada rakyat. Lalu apa lagi yang mau dituntut?
Saya kira itu yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi.
Anda jangan menuntut PTAI seperti LSM yang langsung bergelut
dengan rakyat, atau seperti Departemen Teknis yang langsung
membagi-bagikan uang dan peluang pekerjaan kepada rakyat.
Beda dong! PTAI itu lembaga ilmiah, masyarakatnya
pun masyarakat ilmiah; karena itu ia tidak harus bersentuhan
langsung dengan rakyat. Kita hanya mengajarkan mahasiswa,
memproduksi teori dan pengetahuan, dan membuat prediksi-prediksi
ilmiah ke depan. Itu yang bisa diberikan kepada rakyat.”
Mendengar penjelasanku, dengan berang dia membantah
keras sembari memaparkan pandangan-pandangan subyektifnya,
“Kok Anda membandingkan PTAI dengan LSM. LSM itu mestinya
tidak ada keharusan bergelut dengan rakyat, karena uang
yang mereka peroleh bukan uang rakyat Indonesia, tapi
dia melakukannya. Itu kan luar biasa. Justru PTAI
yang dibiayai oleh rakyat, seharusnyalah bergelut dan
memberikan sumbangannya kepada rakyat. Terus terang saja,
selama ini saya belum melihat sumbangan yang nyata dari
PTAI kepada rakyat. Apalagi kepada ilmu pengetahuan dan
keagamaan. Apa yang Anda sebut tadi, coba pikirkan kembali
secara cermat: Apa betul semua itu untuk rakyat? Bukan
untuk kepentingan yang lain atau kepentingan diri sendiri?
Coba kita preteli (bahas satu per satu). Pertama,
soal lulusan PTAI yang Anda banggakan. Pertanyaan saya:
Apakah semua sarjana yang dihasilkan oleh PTAI telah memenuhi
harapan rakyat? Saya kira jawabannya: tidak! Kalau hanya
menghasilkan sarjana, kemudian tidak mempertimbangkan
kemanfaatan dan keterpenuhan kebutuhan rakyat, itu sih
namanya tidak bertanggungjawab. Sebab nanti akan lahir
banyak sarjana yang nganggur dan jadi sampah masyarakat.
Bukan membantu rakyat, malah menjadi beban sosial. Ditambah
lagi dalam amatan saya, lulusan PTAI yang pinter-pinter
itu pada umumnya bekerja bukan kepada dan untuk rakyat.
Mereka rata-rata bekerja lebih mempertimbangkan kepentingan
diri sendiri, keluarga, baru kemudian kepentingan rakyat.
Mereka pada umumnya bekerja di birokrasi, perusahaan,
dan lembaga lain yang tidak secara langsung bersentuhan
dengan kepentingan rakyat. Tidak sedikit mereka malah
bekerja untuk membela kapitalisme, kaum pemodal, dan kelas
penguasa. Kadangkala sudah di birokrasi dan diberi kewenangan
mengurus uang rakyat, malah uang rakyat dikorupsi. Ini
artinya lulusan yang dihasilkan PTAI tidak selalu—bahkan
langka yang—secara sadar berpihak kepada rakyat. Lalu,
kapan untuk rakyatnya? Kedua, soal karya tulis yang dihasilkan oleh dosen PTAI yang
tadi Anda kemukakan. Pertanyaan saya: Untuk kepentingan
siapa sebetulnya karya tulis itu dibuat: apakah betul
untuk rakyat? Ataukah kepentingan penulis sendiri untuk
menghasilkan uang dan menaikkan pangkat, ataukah kepentingan
orang lain yang memesan karya tulis itu? Seberapa banyak
karya tulis dosen PTAI yang berpihak, turut mencerdaskan,
dan memberikan informasi dan pengetahuan yang membebaskan
bagi rakyat? Bukankah karya tulis itu hanya mengulang-ulang
informasi dan pengetahuan masa lalu, bahkan memapankannnya,
dan menjadikannya sebagai ideologi yang memberangus berfikir
kritis? Lalu, apa sumbangan yang terbaru dari karya-karya
tulis itu terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan keagamaan?
Alih-alih menciptakan inovasi ilmu pengetahuan, mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer dan pemikiran
Islam kontemporer saja, dalam amatan saya, dosen PTAI
mengalami keterlambatan/ketertinggalan apabila dibandingkan
dengan lembaga pengkajian/penelitian lain di luar PTAI. Ini kan tragis dan ironik.
Coba Anda tunjukkan ke saya: PTAI mana yang appreciate
terhadap perkembangan pemikiran Islam kontemporer
dan Islam kritis, kemudian giat melakukan kajian, kritik,
dan mensosialisasikannya kepada publik? Jujur saya katakan,
sulit untuk menyebut nama PTAI itu, karena sebagian besar
mereka adalah konsumen informasi tentang perkembangan
pemikiran Islam kontemporer itu. Belum lagi dalam soal
keagamaan, mana PTAI yang mampu menawarkan ijtihad-ijtihad
baru dari hasil penelitiannya kepada rakyat? Alih-alih
menawarkan hasil ijtihad baru, menjadi rujukan bagi rakyat
untuk menanyakan masalah-masalah keagamaan saja masih
sulit terjadi. Jujur saya katakan, dalam soal keagamaan
peran PTAI masih kalah jauh dengan MUI, NU, Muhammadiyyah, Persis, al-Washliyyah, dan lain
sebagainya. Suatu contoh, fatwa MUI tentang keharaman
bunga bank konvensional, apakah ada PTAI yang mampu mengcounter,
memberikan catatan kritis, atau menawarkan fatwa baru?
Di sinilah, bahwa banyaknya karya tulis ilmiah tidak menjamin
dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dan keagamaan, apalagi berpihak kepada
rakyat. Ini karena motif produksinya lebih didasarkan
pada kepentingan pribadi, keluarga, atau bahkan kapitalisme,
pesanan pasar. Yang ketiga, dalam soal kiprah dosen
dan mahasiswa PTAI kepada rakyat. Saya kira itu satu kredit
poin. Tetapi pertanyaan saya: Sejauhmanakah kiprah itu
mampu mentransformasikan pengetahuan dan kehidupan
masyarakat? Saya menduga, kiprah yang selama ini
dilakukan oleh dosen dan mahasiswa PTAI tidak sampai mentransformasikan
kehidupan, malah cenderung memapankan pengetahuan masa
lalu dan melanggengkan realitas sosial yang timpang dan
tidak adil melalui justifikasi agama. Bahwa itu bermanfaat
bagi masyarakat, saya kira benar, tetapi masih perlu ditingkatkan
lebih lanjut ke proses transformasi. Itu yang saya baca
dari kiprah PTAI selama ini. Pemaparan ini mungkin berbeda
dengan Anda karena cara pandang yang berbeda.”
Penelitian
yang Lemah
Itulah
sedikit perbincangan reflektif yang saya lakukan dengan
teman saya. Sengaja saya paparkan dalam tulisan ini sekadar
untuk menjelaskan bacaan lain tentang PTAI dari yang selama
ini ada. Meski ada beberapa parameter yang berbeda digunakan
untuk mengukur suatu keberhasilan, tetapi “gugatan” teman
saya barangkali tidak terlalu melenceng jauh.
Sejauh yang saya baca dari sejumlah hasil penelitian
dosen PTAI yang masuk di Ditpertais, memang sulit ditemukan
hasil penelitian yang mampu menyajikan pemikiran baru,
membuat analisis baru, atau mengcounter hasil penelitian
terdahulu dalam pemikiran sosial dan keagamaan sehingga
dapat dicatat sebagai cakrawala baru dari perkembangan
pemikiran sosial dan keagamaan kontemporer. Alih-alih
berharap hasil penelitian seperti itu, menemukan proposal
penelitian yang meyakinkan untuk memperoleh hasil yang
bermutu juga agaknya sulit diperoleh. Ada sejumlah proposal
penelitian yang dinilai baik dan diharapkan mampu menghasilkan
rumusan-rumusan yang baru dan berbobot, tetapi karena
tidak dikerjakan secara sungguh-sungguh dan berdedikasi
sehingga harapan itu tidak terwujud.
Di sinilah
etos untuk meneliti menjadi sangat berharga bagi dosen
PTAI untuk memperoleh hasil yang bermutu. Tidak ada jaminan
bahwa proposal penelitian yang baik bisa memperoleh hasil
yang bermutu tanpa disertai dengan etos meneliti yang
tinggi. Malah sebaliknya, proposal penelitian yang biasa-biasa
saja ada kemungkinan memperoleh hasil yang bermutu jika
penelitian itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berdedikasi.
Kami menyadari
bahwa proposal dan hasil penelitian yang masuk ke Ditpertais
tidak mencerminkan realitas keseluruhan dosen PTAI. Proposal
dan hasil penelitian dosen PTAI tidak selalu dikirim dan
diajukan ke Ditpertais, tetapi juga diajukan ke Balitbang
Depag RI, LIPI, Diknas, dan lembaga donor lain seperti
JICA, Ford Foundation, Toyota Foundation, dan lain-lain.
Oleh karena itu, bisa jadi realitas dan peta hasil penelitian
tersebut tidak mewakili potret perkembangan pemikiran
Islam di PTAI. Tetapi dari pengamatan proposal dan hasil
penelitian yang ada dapat menggambarkan sedikit wajah
PTAI dalam lapangan keilmuan dan keagamaan yang terkesan
konservatif dan tidak berani keluar dari kungkungan logosentrisme.
Ketimpangan Tri Dharma
Diakui atau tidak, kenyataan ini
sebetulnya menunjukkan ketimpangan implementasi Tri Dharma
Perguruan Tinggi (pendidikan, pengabdian pada masyarakat,
dan kemahasiswaan). Meski tidak harus sama, tetapi tiga
dharma ini seharusnya memperoleh porsi anggaran dan pengelolaan
yang berimbang dan setara untuk mewujudkan PTAI sebagai
institusi ilmiah. Fokus kegiatan PTAI selama ini, terus
terang saja, lebih tertumpu pada pengelolaan kegiatan
belajar mengajar ketimbang kegiatan penelitian dan pengabdian
pada masyarakat. Program penelitian dalam pengelolaan
ini kurang memperoleh perhatian dari pimpinan PTAI, sehingga
alokasi anggaran dan penyediaan infrastruktur pun kurang
memadai. Akibatnya gairah meneliti di kalangan dosen PTAI
tidak setinggi semangatnya ketika harus mengajar setiap
hari, karena konstruksi lingkungan akademik yang kurang
mendukung ke arah budaya meneliti.
Karena lemahnya tradisi penelitian
di PTAI dan langkanya temuan-temuan baru yang mendorong
perkembangan ilmu pengetahuan dan keagamaan menyebabkan
PTAI ibarat “lembaga dakwah” yang bertugas menyampaikan
informasi dan pengetahuan kepada mahasiswa dan mengkhotbahkan
“kebenaran” doktrin keagamaan kepada masyarakat. Dosen dalam posisi ini ibarat pengkhotbah. Dalam tugasnya,
perubahan penafsiran doktrin dan temuan-temuan baru tidak
begitu diperlukan oleh dosen. Oleh karena itu, orientasi
pembelajarannya bukan pada perubahan berfikir dan munculnya
pemikiran-pemikiran baru dalam keagamaan, melainkan sejauhmana
mahasiswa dapat memahami ajaran-ajaran keagamaan dan bisa
mengamalkannya. Target ranah apeksi dan psikomotorik menjadi
jauh lebih dominan ketimbang aspek kognisi.
Dari
kebijakan akademik semacam ini bisa dipahami jika PTAI
tertinggal dalam mengikuti perkembangan ilmu-ilmu sosial
dan pemikiran Islam kontemporer, karena kebaruan informasi
dan pengetahuan belum dianggap sebagai kebutuhan dan konsumsi
utama (primer). Bahkan tidak jarang pemikiran baru yang
menggugat pemikiran yang mapan dan cenderung kontroversial
dinyatakan sebagai pemikiran yang berbahaya dan keluar
dari Islam. Akibatnya, jangankan diajarkan kepada mahasiswa,
kemunculan pemikiran-pemikiran baru itu malah cenderung
“dicacimaki” dan “dijauhi” oleh civitas akademika.
Penelitian sebagai basis akademik
Membaca potret perkembangan PTAI
seperti digambarkan di atas, saatnya kita memikirkan kembali
desain akademik yang menjadikan penelitian sebagai basis
PTAI. Dalam desain ini, semua kebijakan akademik harus
dibuat dari kesimpulan penelitian yang dilakukan secara
serius. Demikian juga kegiatan pengabdian pada masyarakat
dilakukan sebagai tindak lanjut dari rekomendasi penelitian
dan inovasi pendidikan. Begitu juga sebaliknya, agar topik-topik
penelitian mengena dan menjawab kebutuhan sosial dan akademik,
maka rumusan permasalahan
penelitian seyogyanya dimunculkan dari permasalahan pendidikan
dan pengalaman dalam pengabdian masyarakat. Dengan demikian,
keseimbangan dan kesetaraan tiga dharma dari Tri Dharma
Perguruan Tinggi penting dilakukan dalam setiap program
akademik.
Pembukaan kelas internasional yang
tengah direncanakan oleh sejumlah PTAI kiranya juga perlu
memperhatikan desain akademik ini. Penelitian menjadi
kata kunci bagi pengembangan akademik dalam kelas internasional.
Tanpa penelitian, kehidupan akademik sulit berkembang.
Melalui pengembangan akademik, kita dapat menggali dan
mengkaji realitas keindonesiaan sebagai sasaran penelitian
untuk dapat mempromosikan tipologi Indonesian Islamic
Studies ke dalam masyarakat akademik internasional.
Serangkaian kenyataan ini mendorong
kita untuk memikirkan kembali desain akademik PTAI berbasis
penelitian dan menjadikan penelitian sebagai ruh kehidupan
PTAI.
Gagasan research university
tanpa memperhatikan desain akademik ini hanyalah mimpi.***