Menu Utama
Bar Menu

Menu Utama
 
 


Dewan Redaksi
Vol. VI/No. 02/2003
Vol. VI/No. 01/2003
Vol. V/No. 01/2002
Vol. III/No. 02/200
   
   
   


WACANA

PTAI DALAM PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM: MEMPERTANYAKAN KONTRIBUSI

 

Marzuki Wahid

Kepala Seksi Penelitian

Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Depag RI

 

Perkembangan pemikiran Islam di Indonesia tidak bisa dikatakan mandeg. Akhir-akhir ini dinamika pemikirannya sangat pesat. Pertarungannya sangat dahsyat, bukan saja menyangkut aspek substansi pemikiran melainkan juga strategi pelembagaan politiknya. Akan tetapi perkembangan ini selalu saja menggambarkan dua kecenderungan gerakan yang bersebarangan. Sehingga ragam pemikiran Islam yang demikian variatif itu hanya disederhanakan menjadi dua kategori yang dipertentangkan: “Islam liberal” dan “Islam fundamentalis” atau “Islam kiri” dan “Islam kanan”. Tentu ini suatu perkembangan yang membanggakan sekaligus juga disayangkan karena terjadi simplifikasi. Masalah pokok yang ingin dikembangkan dalam tulisan ini adalah di mana posisi PTAI dalam konstelasi perkembangan pemikiran ini? Apa yang bisa dilakukan dan disumbangkan PTAI dalam dinamika pemikiran itu? 

 

Apa Sumbangan PTAI?

Sebelum menjawab pertanyaan mendasar ini, saya ingin memaparkan suatu perbincangan yang pernah saya lakukan dengan beberapa kawan di Jakarta. Pada suatu refleksi, saya ditanya: “Apa yang telah disumbangkan PTAI kepada bangsa dan kepada ilmu pengetahuan?” Saya balik bertanya dengan suatu ujian, “Apa ada keharusan PTAI untuk memberikan kontribusi kepada bangsa dan juga kepada ilmu pengetahuan?”

Mendengar pertanyaan ini, teman saya menjawab dengan nada tinggi, “Ya jelas ada dan harus! PTAI harus bertanggungjawab dan memberikan kontribusi kepada bangsa dan juga kepada ilmu pengetahuan. Karena PTAI, terutama yang negeri, hidup dan berkembang dari uang rakyat. Semua dosen dan karyawan PTAI negeri tiap bulan dibayar oleh uang rakyat. Fasilitas belajar dibangun dan dilengkapi dengan uang rakyat. Mahasiswa yang belajar di PTAI negeri juga disubsidi oleh uang rakyat. Lalu, konsekuensi dari semua itu adalah apa yang bisa diberikan PTAI kepada rakyat?”

Dengan sedikit apalogetik, saya menjawab, “Ya banyak. Pertama, PTAI telah menghasilkan sejumlah sarjana agama. Coba Anda hitung berapa sarjana yang telah dihasilkan oleh PTAI. Semua sarjana itu kan diserahkan kembali kepada rakyat. Tugas PTAI menggodok dan mencetak sarjana agama untuk rakyat. Kedua, PTAI telah menghasilkan banyak buku, diktat, dan karya tulis ilmiah. Buku-buku dan tulisan-tulisan itu dicetak, diterbitkan, kemudian dipasarkan kepada rakyat. Mau digunakan untuk apa oleh rakyat dan bangsa ini, terserah saja. Ketiga, dosen-dosen dan mahasiswa secara reguler melakukan pengabdian pada masyarakat, mengisi khutbah, ceramah, membina kegiatan keagamaan, dan berdemonstrasi membela kepentingan rakyat. Semua itu juga bagian dari sumbangan PTAI  kepada rakyat. Lalu apa lagi yang mau dituntut? Saya kira itu yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi. Anda jangan menuntut PTAI seperti LSM yang langsung bergelut dengan rakyat, atau seperti Departemen Teknis yang langsung membagi-bagikan uang dan peluang pekerjaan kepada rakyat. Beda dong! PTAI itu lembaga ilmiah, masyarakatnya pun masyarakat ilmiah; karena itu ia tidak harus bersentuhan langsung dengan rakyat. Kita hanya mengajarkan mahasiswa, memproduksi teori dan pengetahuan, dan membuat prediksi-prediksi ilmiah ke depan. Itu yang bisa diberikan kepada rakyat.”

Mendengar penjelasanku, dengan berang dia membantah keras sembari memaparkan pandangan-pandangan subyektifnya, “Kok Anda membandingkan PTAI dengan LSM. LSM itu mestinya tidak ada keharusan bergelut dengan rakyat, karena uang yang mereka peroleh bukan uang rakyat Indonesia, tapi dia melakukannya. Itu kan luar biasa. Justru PTAI yang dibiayai oleh rakyat, seharusnyalah bergelut dan memberikan sumbangannya kepada rakyat. Terus terang saja, selama ini saya belum melihat sumbangan yang nyata dari PTAI kepada rakyat. Apalagi kepada ilmu pengetahuan dan keagamaan.  Apa yang Anda sebut tadi, coba pikirkan kembali secara cermat: Apa betul semua itu untuk rakyat? Bukan untuk kepentingan yang lain atau kepentingan diri sendiri? Coba kita preteli (bahas satu per satu). Pertama, soal lulusan PTAI yang Anda banggakan. Pertanyaan saya: Apakah semua sarjana yang dihasilkan oleh PTAI telah memenuhi harapan rakyat? Saya kira jawabannya: tidak! Kalau hanya menghasilkan sarjana, kemudian tidak mempertimbangkan kemanfaatan dan keterpenuhan kebutuhan rakyat, itu sih namanya tidak bertanggungjawab. Sebab nanti akan lahir banyak sarjana yang nganggur dan jadi sampah masyarakat. Bukan membantu rakyat, malah menjadi beban sosial. Ditambah lagi dalam amatan saya, lulusan PTAI yang pinter-pinter itu pada umumnya bekerja bukan kepada dan untuk rakyat. Mereka rata-rata bekerja lebih mempertimbangkan kepentingan diri sendiri, keluarga, baru kemudian kepentingan rakyat. Mereka pada umumnya bekerja di birokrasi, perusahaan, dan lembaga lain yang tidak secara langsung bersentuhan dengan kepentingan rakyat. Tidak sedikit mereka malah bekerja untuk membela kapitalisme, kaum pemodal, dan kelas penguasa. Kadangkala sudah di birokrasi dan diberi kewenangan mengurus uang rakyat, malah uang rakyat dikorupsi. Ini artinya lulusan yang dihasilkan PTAI tidak selalu—bahkan langka yang—secara sadar berpihak kepada rakyat. Lalu, kapan untuk rakyatnya?  Kedua, soal karya tulis yang dihasilkan oleh dosen PTAI yang tadi Anda kemukakan. Pertanyaan saya: Untuk kepentingan siapa sebetulnya karya tulis itu dibuat: apakah betul untuk rakyat? Ataukah kepentingan penulis sendiri untuk menghasilkan uang dan menaikkan pangkat, ataukah kepentingan orang lain yang memesan karya tulis itu? Seberapa banyak karya tulis dosen PTAI yang berpihak, turut mencerdaskan, dan memberikan informasi dan pengetahuan yang membebaskan bagi rakyat? Bukankah karya tulis itu hanya mengulang-ulang informasi dan pengetahuan masa lalu, bahkan memapankannnya, dan menjadikannya sebagai ideologi yang memberangus berfikir kritis? Lalu, apa sumbangan yang terbaru dari karya-karya tulis itu terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan keagamaan? Alih-alih menciptakan inovasi ilmu pengetahuan, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer dan pemikiran Islam kontemporer saja, dalam amatan saya, dosen PTAI mengalami keterlambatan/ketertinggalan apabila dibandingkan dengan lembaga pengkajian/penelitian lain  di luar PTAI. Ini kan tragis dan ironik. Coba Anda tunjukkan ke saya: PTAI mana yang appreciate terhadap perkembangan pemikiran Islam kontemporer dan Islam kritis, kemudian giat melakukan kajian, kritik, dan mensosialisasikannya kepada publik? Jujur saya katakan, sulit untuk menyebut nama PTAI itu, karena sebagian besar mereka adalah konsumen informasi tentang perkembangan pemikiran Islam kontemporer itu. Belum lagi dalam soal keagamaan, mana PTAI yang mampu menawarkan ijtihad-ijtihad baru dari hasil penelitiannya kepada rakyat? Alih-alih menawarkan hasil ijtihad baru, menjadi rujukan bagi rakyat untuk menanyakan masalah-masalah keagamaan saja masih sulit terjadi. Jujur saya katakan, dalam soal keagamaan peran PTAI masih kalah jauh dengan MUI, NU,  Muhammadiyyah, Persis, al-Washliyyah, dan lain sebagainya. Suatu contoh, fatwa MUI tentang keharaman bunga bank konvensional, apakah ada PTAI yang mampu mengcounter, memberikan catatan kritis, atau menawarkan fatwa baru? Di sinilah, bahwa banyaknya karya tulis ilmiah tidak menjamin dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan keagamaan, apalagi berpihak kepada rakyat. Ini karena motif produksinya lebih didasarkan pada kepentingan pribadi, keluarga, atau bahkan kapitalisme, pesanan pasar. Yang ketiga, dalam soal kiprah dosen dan mahasiswa PTAI kepada rakyat. Saya kira itu satu kredit poin. Tetapi pertanyaan saya: Sejauhmanakah kiprah itu mampu mentransformasikan pengetahuan dan kehidupan  masyarakat? Saya menduga, kiprah yang selama ini dilakukan oleh dosen dan mahasiswa PTAI tidak sampai mentransformasikan kehidupan, malah cenderung memapankan pengetahuan masa lalu dan melanggengkan realitas sosial yang timpang dan tidak adil melalui justifikasi agama. Bahwa itu bermanfaat bagi masyarakat, saya kira benar, tetapi masih perlu ditingkatkan lebih lanjut ke proses transformasi. Itu yang saya baca dari kiprah PTAI selama ini. Pemaparan ini mungkin berbeda dengan Anda karena cara pandang yang berbeda.”

 

Penelitian yang Lemah

Itulah sedikit perbincangan reflektif yang saya lakukan dengan teman saya. Sengaja saya paparkan dalam tulisan ini sekadar untuk menjelaskan bacaan lain tentang PTAI dari yang selama ini ada. Meski ada beberapa parameter yang berbeda digunakan untuk mengukur suatu keberhasilan, tetapi “gugatan” teman saya barangkali tidak terlalu melenceng jauh.  Sejauh yang saya baca dari sejumlah hasil penelitian dosen PTAI yang masuk di Ditpertais, memang sulit ditemukan hasil penelitian yang mampu menyajikan pemikiran baru, membuat analisis baru, atau mengcounter hasil penelitian terdahulu dalam pemikiran sosial dan keagamaan sehingga dapat dicatat sebagai cakrawala baru dari perkembangan pemikiran sosial dan keagamaan kontemporer. Alih-alih berharap hasil penelitian seperti itu, menemukan proposal penelitian yang meyakinkan untuk memperoleh hasil yang bermutu juga agaknya sulit diperoleh. Ada sejumlah proposal penelitian yang dinilai baik dan diharapkan mampu menghasilkan rumusan-rumusan yang baru dan berbobot, tetapi karena tidak dikerjakan secara sungguh-sungguh dan berdedikasi sehingga harapan itu tidak terwujud.

Di sinilah etos untuk meneliti menjadi sangat berharga bagi dosen PTAI untuk memperoleh hasil yang bermutu. Tidak ada jaminan bahwa proposal penelitian yang baik bisa memperoleh hasil yang bermutu tanpa disertai dengan etos meneliti yang tinggi. Malah sebaliknya, proposal penelitian yang biasa-biasa saja ada kemungkinan memperoleh hasil yang bermutu jika penelitian itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berdedikasi.

Kami menyadari bahwa proposal dan hasil penelitian yang masuk ke Ditpertais tidak mencerminkan realitas keseluruhan dosen PTAI. Proposal dan hasil penelitian dosen PTAI tidak selalu dikirim dan diajukan ke Ditpertais, tetapi juga diajukan ke Balitbang Depag RI, LIPI, Diknas, dan lembaga donor lain seperti JICA, Ford Foundation, Toyota Foundation, dan lain-lain. Oleh karena itu, bisa jadi realitas dan peta hasil penelitian tersebut tidak mewakili potret perkembangan pemikiran Islam di PTAI. Tetapi dari pengamatan proposal dan hasil penelitian yang ada dapat menggambarkan sedikit wajah PTAI dalam lapangan keilmuan dan keagamaan yang terkesan konservatif dan tidak berani keluar dari kungkungan logosentrisme.

 

Ketimpangan Tri Dharma

Diakui atau tidak, kenyataan ini sebetulnya menunjukkan ketimpangan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, pengabdian pada masyarakat, dan kemahasiswaan). Meski tidak harus sama, tetapi tiga dharma ini seharusnya memperoleh porsi anggaran dan pengelolaan yang berimbang dan setara untuk mewujudkan PTAI sebagai institusi ilmiah. Fokus kegiatan PTAI selama ini, terus terang saja, lebih tertumpu pada pengelolaan kegiatan belajar mengajar ketimbang kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Program penelitian dalam pengelolaan ini kurang memperoleh perhatian dari pimpinan PTAI, sehingga alokasi anggaran dan penyediaan infrastruktur pun kurang memadai. Akibatnya gairah meneliti di kalangan dosen PTAI tidak setinggi semangatnya ketika harus mengajar setiap hari, karena konstruksi lingkungan akademik yang kurang mendukung ke arah budaya meneliti.

Karena lemahnya tradisi penelitian di PTAI dan langkanya temuan-temuan baru yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan keagamaan menyebabkan PTAI ibarat “lembaga dakwah” yang bertugas menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada mahasiswa dan mengkhotbahkan “kebenaran” doktrin keagamaan kepada masyarakat. Dosen dalam posisi ini ibarat pengkhotbah. Dalam tugasnya, perubahan penafsiran doktrin dan temuan-temuan baru tidak begitu diperlukan oleh dosen. Oleh karena itu, orientasi pembelajarannya bukan pada perubahan berfikir dan munculnya pemikiran-pemikiran baru dalam keagamaan, melainkan sejauhmana mahasiswa dapat memahami ajaran-ajaran keagamaan dan bisa mengamalkannya. Target ranah apeksi dan psikomotorik menjadi jauh lebih dominan ketimbang aspek kognisi.

Dari kebijakan akademik semacam ini bisa dipahami jika PTAI tertinggal dalam mengikuti perkembangan ilmu-ilmu sosial dan pemikiran Islam kontemporer, karena kebaruan informasi dan pengetahuan belum dianggap sebagai kebutuhan dan konsumsi utama (primer). Bahkan tidak jarang pemikiran baru yang menggugat pemikiran yang mapan dan cenderung kontroversial dinyatakan sebagai pemikiran yang berbahaya dan keluar dari Islam. Akibatnya, jangankan diajarkan kepada mahasiswa, kemunculan pemikiran-pemikiran baru itu malah cenderung “dicacimaki” dan “dijauhi” oleh civitas akademika.

 

Penelitian sebagai basis akademik

Membaca potret perkembangan PTAI seperti digambarkan di atas, saatnya kita memikirkan kembali desain akademik yang menjadikan penelitian sebagai basis PTAI. Dalam desain ini, semua kebijakan akademik harus dibuat dari kesimpulan penelitian yang dilakukan secara serius. Demikian juga kegiatan pengabdian pada masyarakat dilakukan sebagai tindak lanjut dari rekomendasi penelitian dan inovasi pendidikan. Begitu juga sebaliknya, agar topik-topik penelitian mengena dan menjawab kebutuhan sosial dan akademik, maka rumusan  permasalahan penelitian seyogyanya dimunculkan dari permasalahan pendidikan dan pengalaman dalam pengabdian masyarakat. Dengan demikian, keseimbangan dan kesetaraan tiga dharma dari Tri Dharma Perguruan Tinggi penting dilakukan dalam setiap program akademik.

Pembukaan kelas internasional yang tengah direncanakan oleh sejumlah PTAI kiranya juga perlu memperhatikan desain akademik ini. Penelitian menjadi kata kunci bagi pengembangan akademik dalam kelas internasional. Tanpa penelitian, kehidupan akademik sulit berkembang. Melalui pengembangan akademik, kita dapat menggali dan mengkaji realitas keindonesiaan sebagai sasaran penelitian untuk dapat mempromosikan tipologi Indonesian Islamic Studies ke dalam masyarakat akademik internasional.

Serangkaian kenyataan ini mendorong kita untuk memikirkan kembali desain akademik PTAI berbasis penelitian dan menjadikan penelitian sebagai ruh kehidupan PTAI.

Gagasan research university tanpa memperhatikan desain akademik ini hanyalah mimpi.***