|
LAPORAN UTAMA
“Memahami
Islam Tidak Cukup Hanya dalam Konteks Masyarakat Islam”
Wawancara dengan
Irwan Abdullah
Direktur Center for Religious and Cross-Cultural Studies
(CRCS) UGM Jogjakarta
Apa perbedaan CRCS dengan Studi Perbandingan Agama
di Perguruan Tinggi lain?
Studi agama itu banyak, tapi yang membedakan CRCS dengan
lainnya, ada dua kekhususan. Pertama, memberikan perhatian
besar terhadap agama-agama lokal yang tersebar secara luas
di Indonesia, seperti Kaharingan di Bali, Wetu Telu di Lombok,
Permalin di Sumatera Utara.
Kedua, melihat agama dalam perspektif cross-cultural, jadi
memahami Islam tidak hanya dalam konteks masyarakat Islam,
tetapi juga memandang Islam di tengah-tengah penganut non-Islam,
juga Islam di luar Indonesai sendiri. Yang dipelajari bukan
Islam saja tetapi komunitas-komunitas muslim yang ada di
Afrika dan lain-lain. Begitu juga Hindu.
Jadi comparative-perspective ini kita pakai dalam melihat
agama yang berbeda-beda juga, setting ruangnya yang berbeda-beda
pula. Hindu di India dan di Indonesia. Begitu juga Islam
di Afrika, Indonesia, Malaysia, bukan saja memiliki sejarah
yang berbeda-beda tetapi juga ekspresi-ekspresi dalam bentuk
praktek-praktek sosial keagamaan yang berbeda-beda pula
bahkan praktek ekonomi, sosial yang berbeda-beda. Ini yang
kita maksudkan dengan Cross-Cultural Perspective (CCP).
Bagaimana
rencana CRCS ke depan?
Ke depan diharapkan agar orang-orang dari negara-negara
lain, khususnya Asia, dapat mengambil gelar master di lembaga
ini karena di sini dikembangkan satu proses pendidikan yang
multikultural dengan menggunakan CCP. Hal ini memungkinkan
bagi orang-orang Thailand, Malaysia dan lainnya untuk belajar
agama-agama lokal/indigenous religion. Karena itu juga berguna
untuk mereka tentang pemahamana akan toleransi. Toleransi
tidak hanya sebatas antar-agama tapi juga antar-kepercayaan
dalam agama tertentu. Antar-varian di dalam agama itu juga
harus dimasuki sebagai salah satu bidang kajian akademis
yang penting supaya hal itu bisa memberikan semacam sumber
bagi kita untuk penataan-penataan sosial kepada penataan-penataan
masyarakat yang lebih baik. Tidak hanya saat ini, tapi ke
depan kita akan menghadapai persoalan disintegrasi dan konflik
keagamaan yang begitu besar, bahaya lahirnya kaum fundamentaslime
baru. Ini harus direspon tidak sekadar dalam tataran strategis-praktis
tapi juga harus direspon secara akademis supaya kita mempunyai
sumber pengetahuan yang cukup untuk merumuskan kebijakan-kebijakan
kehidupan umat manusia lebih baik dan demokratis.
Apakah
Indgenous Religion-nya yang ada di Indonesai saja?
Mainly. Agama-agama lokal di Indonesia yang kita explore,
tapi kita juga melihat yang ada di sekitar kita. Bagaimana
misalnya varian tertentu dalam Islam itu bisa lahir di Malaysia,
keyakinan-keyakinan tertentu di daerah Sabah, Serawak, begitu
juga keyakinan yang ada di sana juga kita pelajari, tapi
fokusnya indigenous religion atau local religion yang menjadi
fokusnya.
Bagaimana
CRCS menjalin kerjasama dengan komunitas dan lembaga lain?
Selama ini kita telah menjalin kerjasama dengan IAIN yang
juga punya kajian perbandingan agama, begitu juga dengan
lembaga Islam dan NGO. Mahasiswa di sini juga aktivis yang
militan, cerdas, dan mereka yang akan membawa misi lembaga
ini. Kita juga membangun kerjasama dengan lembaga dalam
dan luar negeri, tidak hanya membangun lembaga ini tapi
bersama-sama melalui lembaga CRCS membangun masyarakat.
Kita kerjasama dengan Radar Jogja, TVRI untuk desiminasi.
Dalam waktu dekat kita akan bekerjasama dengan asosiasi
berbagai agama di berbagai tempat untuk membagun suatu ide
tentang toleransi.
Apa
langkah-langkah yang dilakukan dalam upaya melakukan kajian
terhadap Indeginious Religion?
Yang pertama kita bangun pemahaman tentang keberadaan dan
pemahaman tentang nilai-nilai dan ide-ide dalam agama itu
indeginious religion (IR). IR itu mempunyai satu kerangka
dan paradigma di dalam melihat masyarakat, melihat proses-proses
perubahan di dalam masyarakat, bagaimana respon itu harus
diberikan untuk memenuhi kepentingan, tuntutan dan kebutuhan
masyarakat seperti apa. Nah kita harus tahu betul tentang
itu sehingga kita bisa mengetahui logika-logika yang ada
di belakang itu untuk secara comparative bisa membangun
sebuah sistem demokrasi yang lebih kontekstual, membangun
pola kepemimpinan yang kontekstual, artinya kontekstual
yang bias diterima secara umum. Pemahaman-pemahaman itu
membuat kita lebih kaya dan memberikan sumber yang lengkap
untuk men-support dalam upaya membangun masyarakat yang
lebih baik. [Faisol Adib]
|