Menu Utama
Bar Menu

Menu Utama
 
 


Dewan Redaksi
Vol. VI/No. 02/2003
Vol. VI/No. 01/2003
Vol. V/No. 01/2002
Vol. III/No. 02/200
   
   
   


LAPORAN UTAMA

Studi Agama dan Lintas Budaya UGM
Alternatif Kelas Internasional di Indonesia?

Program Studi (prodi) Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) merupakan program baru di lingkungan Program Pascasarjana UGM. Prodi ini merupakan salah satu program studi internasional yang dimiliki oleh Pascasarjana UGM. Namun berbeda dengan prodi-prodi lainnya, CRCS merupakan satu-satunya prodi yang sejak kelahirannya memang dimaksudkan sebagai prodi internasional.

Berdiri sejak tahun 2000, prodi ini awalnya bernama Ilmu Perbandingan Agama. Adalah Prof. Dr. John C. Raines --seorang Guru Besar Temple University USA— tokoh yang menjadi pemicu awal munculnya gagasan berdirinya program tersebut. Dalam kunjungannya ke Indonesia pada tahun 1999 --ketika konflik antar-agama sedang marak di Indonesia-- ia berkeinginan agar para mahasiswa Indonesia dapat belajar tentang perbandingan agama di negaranya. Dengan studi di Amerika, ia berharap bahwa wawasan para mahasiswa Indonesia semakin luas dalam memandang persoalan konflik antar-agama.

Melalaui John C. Raines pulalah prodi Ilmu Perbandingan Agama banyak dibantu dalam pengadaan staf pengajar dari perguruan tinggi di Amerika, di antaranya dari Temple University dan Florida University. Tercatat nama-nama seperti John Esposito, John Titaley, dan Mahmoud Mustafa Ayoub ikut mengajar di CRCS. Begitu juga dalam menjalin kerjasama dengan berbagai funding internasional, seperti Fulbright Foundation, The John Templeton Foundation, dan The Asia Foundation. Funding-funding inilah yang ikut membantu pelaksanaan prodi Agama dan Lintas Budaya. Maka gayungpun bersambut. Dengan kesepakatan antara Menteri Luar Negeri, Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri Agama pada zaman pemerintahan Abdurrahmad Wahid, akhirnya prodi tersebut dididirikan di UGM.

Sejak di-launching sebagai prodi internasional, CRCS memang langsung menarik minat para mahasiswa baik dalam dan luar negeri untuk belajar di program tersebut. Pada tahun keempat ini, dari sekitar 100 mahasiswa yang mendaftar, hanya 35 mahasiswa saja yang diterima pada program tersebut. Mereka terdiri dari 2 (dua) mahasiswa beragama Hindu, 5 (lima) mahasiswa Kristen, dan sisanya beragama Islam.

“Sebagai prodi internasional, CRCS menggunakan pengantar bahasa Inggris dalam perkuliahannya, didukung oleh pengajar dari luar negri, memiliki syarat TOEFL khusus bagi peserta yang mendaftar, serta menerima mahasiswa dari berbagai negara”, kata Prof. Dr. Mulyadi, Apt., Direktur Program Pascasarjana UGM.

Dalam perkembangannya, kajian terhadap Perbandingan Agama saja tidak cukup. Berbagai konflik dan persoalan keagamaan di Indonesia sangat berkaitan erat dengan berbagai fenomena kebudayaan yang juga melekat dalam masyarakat Indonesia. Maka pada tahun kedua sejak dilahirkan, prodi Ilmu Perbandingan Agama mulai mengenalkan Indigenous Religion atau agama lokal yang selama ini belum banyak dikaji dalam lingkungan akademis Indonesia. Dan inilah yang menjadi cikal bakal berubahnya prodi Ilmu Perbandingan Agama menjadi prodi Agama dan Lintas Budaya sekaligus juga membedakan dengan prodi-prodi sejenis di perguruan tinggi lainnya.

Ketika ditanya soal perubahan studi Ilmu Perbandingan Agama menjadi CRCS, Arqom, sekretaris CRCS, mengatakan perbandingan agama terlalu sempit, padahal persoalan agama dan budaya di Indonesia sangat dekat. “Begitupun dengan agama yang dipengaruhi oleh lokalitas atau budaya lokal. Ke depan, orang yang ingin tahu agama dan budaya di Indonesia, maka di sinilah tempatnya”, tegas Arqom.

Menurut Dr. Irwan Abdullah, Direktur CRCS, prodi ini memiliki 2 (dua) kekhususan. Pertama, memberikan perhatian besar terhadap agama-agama lokal yang tersebar secara luas di Indonesia, seperti Kaharingan di Bali, Wetu Telu di Lombok, dan Permalin di Sumatera Utara. Kedua, melihat agama dalam perspektif cross-cultural. Memahami Islam tidak hanya dalam konteks masyarakat Islam, tetapi juga memandang Islam di tengah-tengah penganut non-Islam.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa CRCS memakai comparative-perspective dalam melihat agama yang berbeda-beda sekaligus setting ruangnya yang berbeda-beda pula. Bagaimana melihat perkembangan agama Hindu yang ada di India dan di Indonesia. Begitu juga perkembangan Islam di Afrika, Indonesia, maupun Malaysia.

Dalam bidang akademis, CRCS didukung oleh koleksi perpustakaan yang terdiri dari 2202 judul buku, 68 jurnal nasional dan internasional, dan 40 koleksi film keagamaan. Bagi mahasiswa CRCS sendiri, mereka begitu dimanja dengan berbagai fasilitas yang ada. Ruang kuliah ber-AC dengan dilengkapi audio visual, kursus bahasa Inggris secara cuma-cuma, akses internet gratis, photo copy gratis, ngeprint gratis dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Selain berbagai fasilitas tersebut, mahasiswa CRCS juga dibantu dalam memperoleh beasiswa pendidikan. Mahasiswa yang tidak memperoleh beasiswa dari pemerintah melalui program BPPS, pengelola CRCS mengusahakan beasiswa dari salah satu LSM di Libya yang konsen dalam bidang pendidikan.

Ke depan lembaga ini memang diharapkan akan menjadi Pusat Studi Agama-Agama Lokal se-Asia Tenggara. Hal ini memungkinkan bagi mahasiswa dari Thailand, Malaysia, maupun Philipina untuk belajar agama-agama lokal di Indonesia. Pemahaman terhadap Indigenous Religion di Indonesia akan berguna dalam memahami persoalan toleransi lebih mendalam. Toleransi tidak hanya sebatas antar-agama tapi juga antar-kepercayaan dan varian-varian yang ada dalam agama-agama lokal tersebut.

Dibanding dengan prodi Perbandingan Agama di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, studi di CRCS memang berbeda. “Kalau di IAIN sudah tidak diajarkan lagi dasar-dasar agama Islam, Kristen, Budha, maupun Hindu. Mahasiswa yang masuk sudah dianggap paham terhadap dasar-dasar agama tersebut. Sedang di CRCS masih diajarkan dasar-dasar agama tersebut. Dengan demikian, dalam beberapa hal wacana di IAIN lebih mendalam dibanding di CRCS”, kata Zul Hilmiyasri, mahasiaswa CRCS yang juga double di prodi Perbandingan Agama IAIN. [Faishol Adib]