|
LAPORAN UTAMA
Studi
Agama dan Lintas Budaya UGM
Alternatif Kelas Internasional di Indonesia?
Program
Studi (prodi) Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious
and Cross-Cultural Studies (CRCS) merupakan program baru
di lingkungan Program Pascasarjana UGM. Prodi ini merupakan
salah satu program studi internasional yang dimiliki oleh
Pascasarjana UGM. Namun berbeda dengan prodi-prodi lainnya,
CRCS merupakan satu-satunya prodi yang sejak kelahirannya
memang dimaksudkan sebagai prodi internasional.
Berdiri sejak tahun 2000, prodi ini awalnya bernama Ilmu
Perbandingan Agama. Adalah Prof. Dr. John C. Raines --seorang
Guru Besar Temple University USA— tokoh yang menjadi
pemicu awal munculnya gagasan berdirinya program tersebut.
Dalam kunjungannya ke Indonesia pada tahun 1999 --ketika
konflik antar-agama sedang marak di Indonesia-- ia berkeinginan
agar para mahasiswa Indonesia dapat belajar tentang perbandingan
agama di negaranya. Dengan studi di Amerika, ia berharap
bahwa wawasan para mahasiswa Indonesia semakin luas dalam
memandang persoalan konflik antar-agama.
Melalaui John C. Raines pulalah prodi Ilmu Perbandingan
Agama banyak dibantu dalam pengadaan staf pengajar dari
perguruan tinggi di Amerika, di antaranya dari Temple University
dan Florida University. Tercatat nama-nama seperti John
Esposito, John Titaley, dan Mahmoud Mustafa Ayoub ikut mengajar
di CRCS. Begitu juga dalam menjalin kerjasama dengan berbagai
funding internasional, seperti Fulbright Foundation, The
John Templeton Foundation, dan The Asia Foundation. Funding-funding
inilah yang ikut membantu pelaksanaan prodi Agama dan Lintas
Budaya. Maka gayungpun bersambut. Dengan kesepakatan antara
Menteri Luar Negeri, Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri
Agama pada zaman pemerintahan Abdurrahmad Wahid, akhirnya
prodi tersebut dididirikan di UGM.
Sejak di-launching sebagai prodi internasional, CRCS memang
langsung menarik minat para mahasiswa baik dalam dan luar
negeri untuk belajar di program tersebut. Pada tahun keempat
ini, dari sekitar 100 mahasiswa yang mendaftar, hanya 35
mahasiswa saja yang diterima pada program tersebut. Mereka
terdiri dari 2 (dua) mahasiswa beragama Hindu, 5 (lima)
mahasiswa Kristen, dan sisanya beragama Islam.
“Sebagai prodi internasional, CRCS menggunakan pengantar
bahasa Inggris dalam perkuliahannya, didukung oleh pengajar
dari luar negri, memiliki syarat TOEFL khusus bagi peserta
yang mendaftar, serta menerima mahasiswa dari berbagai negara”,
kata Prof. Dr. Mulyadi, Apt., Direktur Program Pascasarjana
UGM.
Dalam perkembangannya, kajian terhadap Perbandingan Agama
saja tidak cukup. Berbagai konflik dan persoalan keagamaan
di Indonesia sangat berkaitan erat dengan berbagai fenomena
kebudayaan yang juga melekat dalam masyarakat Indonesia.
Maka pada tahun kedua sejak dilahirkan, prodi Ilmu Perbandingan
Agama mulai mengenalkan Indigenous Religion atau agama lokal
yang selama ini belum banyak dikaji dalam lingkungan akademis
Indonesia. Dan inilah yang menjadi cikal bakal berubahnya
prodi Ilmu Perbandingan Agama menjadi prodi Agama dan Lintas
Budaya sekaligus juga membedakan dengan prodi-prodi sejenis
di perguruan tinggi lainnya.
Ketika ditanya soal perubahan studi Ilmu Perbandingan Agama
menjadi CRCS, Arqom, sekretaris CRCS, mengatakan perbandingan
agama terlalu sempit, padahal persoalan agama dan budaya
di Indonesia sangat dekat. “Begitupun dengan agama
yang dipengaruhi oleh lokalitas atau budaya lokal. Ke depan,
orang yang ingin tahu agama dan budaya di Indonesia, maka
di sinilah tempatnya”, tegas Arqom.
Menurut Dr. Irwan Abdullah, Direktur CRCS, prodi ini memiliki
2 (dua) kekhususan. Pertama, memberikan perhatian besar
terhadap agama-agama lokal yang tersebar secara luas di
Indonesia, seperti Kaharingan di Bali, Wetu Telu di Lombok,
dan Permalin di Sumatera Utara. Kedua, melihat agama dalam
perspektif cross-cultural. Memahami Islam tidak hanya dalam
konteks masyarakat Islam, tetapi juga memandang Islam di
tengah-tengah penganut non-Islam.
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa CRCS memakai comparative-perspective
dalam melihat agama yang berbeda-beda sekaligus setting
ruangnya yang berbeda-beda pula. Bagaimana melihat perkembangan
agama Hindu yang ada di India dan di Indonesia. Begitu juga
perkembangan Islam di Afrika, Indonesia, maupun Malaysia.
Dalam bidang akademis, CRCS didukung oleh koleksi perpustakaan
yang terdiri dari 2202 judul buku, 68 jurnal nasional dan
internasional, dan 40 koleksi film keagamaan. Bagi mahasiswa
CRCS sendiri, mereka begitu dimanja dengan berbagai fasilitas
yang ada. Ruang kuliah ber-AC dengan dilengkapi audio visual,
kursus bahasa Inggris secara cuma-cuma, akses internet gratis,
photo copy gratis, ngeprint gratis dan berbagai fasilitas
pendukung lainnya.
Selain berbagai fasilitas tersebut, mahasiswa CRCS juga
dibantu dalam memperoleh beasiswa pendidikan. Mahasiswa
yang tidak memperoleh beasiswa dari pemerintah melalui program
BPPS, pengelola CRCS mengusahakan beasiswa dari salah satu
LSM di Libya yang konsen dalam bidang pendidikan.
Ke depan lembaga ini memang diharapkan akan menjadi Pusat
Studi Agama-Agama Lokal se-Asia Tenggara. Hal ini memungkinkan
bagi mahasiswa dari Thailand, Malaysia, maupun Philipina
untuk belajar agama-agama lokal di Indonesia. Pemahaman
terhadap Indigenous Religion di Indonesia akan berguna dalam
memahami persoalan toleransi lebih mendalam. Toleransi tidak
hanya sebatas antar-agama tapi juga antar-kepercayaan dan
varian-varian yang ada dalam agama-agama lokal tersebut.
Dibanding dengan prodi Perbandingan Agama di IAIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, studi di CRCS memang berbeda. “Kalau
di IAIN sudah tidak diajarkan lagi dasar-dasar agama Islam,
Kristen, Budha, maupun Hindu. Mahasiswa yang masuk sudah
dianggap paham terhadap dasar-dasar agama tersebut. Sedang
di CRCS masih diajarkan dasar-dasar agama tersebut. Dengan
demikian, dalam beberapa hal wacana di IAIN lebih mendalam
dibanding di CRCS”, kata Zul Hilmiyasri, mahasiaswa
CRCS yang juga double di prodi Perbandingan Agama IAIN.
[Faishol Adib]
|