Menu Utama
Bar Menu

Menu Utama
 
 


Dewan Redaksi
Vol. VI/No. 02/2003
Vol. VI/No. 01/2003
Vol. V/No. 01/2002
Vol. III/No. 02/200
   
   
   


LAPORAN UTAMA

"PUSAT STUDI ISLAM ADA DI AL-AZHAR"
Wawancara dengan Dr. H. Masri Elmahsyar Bidin, MA

Apa dasar pemikiran pendirian Fakultas Dirasat Islamiyah?

Alasan pendirian fakultas ini tidak lepas dari arus Globalsasi, yaitu sebuah era yang sarat dengan persaingan, kompetisi. Tidak bisa tidak, dalam iklim seperti itu, yang dituntut adalah persaingan mutu, kualitas sebuah produk. Dalam konteks ini, mengacu pada hasil penelitian di Asia pada tahun 1997, kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari memuaskan. Survey tersebut berkesimpulan perguruan tinggi Indonesia, baik swasta maupun negeri, tidak ada yang masuk dalam rangking perguruan tinggi yang berkualitas di wilayah Asia. Kita berada di bawah Vietnam yang nota bene merdeka setelah Indonesia.

Dihadapkan pada arus globalisasi di era millenium ketiga ini, di mana aspek mutu dari sebuah produk sangat dikedepankan, tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menyelaraskan diri dengan tuntutan tersebut. UIN Jakarta sekarang bertekad menjadi sebuah lembaga pendidikan level perguruan tinggi yang handal. Yaitu lembaga pendidikan yang lebih menonjolkan academic expectations dan bisa menjadi center of excellence di level perguruan tinggi pada umumnya.

Selain itu juga dipandang perlu untuk memandang pusat-pusat keunggulan pendidikan di luar negeri untuk kemudian melakukan penjajakan kemungkinan menjalin sebuah kerjasama. Dan semua tahu, bahwa pusat keunggulan studi Islam adalah di Timur Tengah, tepatnya Universitas Al-Azhar Kairo. Karena universitas ini banyak dijadikan pola atau model studi Islam dalam lembaga pendidikan Islam di dunia. Tidak saja di Timur Tengah bahkan di Amerika, tepatnya di New York, juga mengadopsi pola studi yang ada di sana.

Persis dalam kerangka inilah pada tahun 1999, Depag melalui UIN Jakarta membuat sebuah MoU dengan Al-Azhar di bidang kerjasama pendidikan. Kemudian, melalui SK Dirjen Bimbaga no. E/321/1999 akhirnya disepakati untuk menyelenggarakan Program Internasional Dirasat Islamiyah (PIDI) dengan standar mutu akademik Universitas Al-Azhar yang pelaksanaannya diamanatkan kepada UIN Jakarta.

Program tersebut tentunya mengharapkan sayap intelektual dengan basis studi Islam Timur Tengah tetap dipertahankan keberadaannya. Bagaimana bentuk kurikulumnya? Apakah meniru sepenuhnya seperti di Al-Azhar Kairo? Adakah kurikulum lokal dan nasional?

Kurikulum di sini hampir tidak ada bedanya dengan kurikulum yang digunakan di Universitas Al-Azhar. Kita sepenuhnya mengadopsi dari sana. Demikian juga dengan silabus, persyaratan masuk, jam belajar, dan literatur. Khusus mengenai literatur, kita juga mengacu pada pedoman al-ashalah wa al-mu'ashirah (orisinalitas dan kemodernan --red.). Dengan kata lain, tidak hanya soal orisinalitas saja yang ditekankan, kemodernan juga penting. Misalnya, kalau kita berbicara tentang al-Ghazali, maka kita harus baca bukunya al-Ghazali, bukan buku orang lain tentang al-Ghazali. Karena itu, pelajaran tauhid, misanya, dipelajari langsung dari kitab al-i'tiqad wa al-ihtishad karangan al-Ghazali sendiri, bukan dari buku-buku terjemahan atau interpretasi orang-orang terhadap buku tersebut. Di samping itu buku-buku modern juga kami pilih sebagai referensi. Dengan begitu mahasiswa bisa memiliki sumber pemahaman yang komprehensif.

Selain itu, kami juga menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Ciri kurikulum ini, antara lain, teori dan praktikum atau tathbiqat sama jumlah jamnya. Sebagai contoh, mata kuliah Ulumul Hadits, 50 menit pertama penyampaian teori dan 50 menit kemudian untuk tathbiqat. Bentuk praktikumnya, para mahasiswa melakukan pembacaan sumber asli mata kuliah tersebut. Mereka ditemani para tutor, biasanya dua orang, terkadang dosennya sendiri langsung ikut memonitornya. Kami juga memperbantukan alumni S2 Timur Tengah dan alumni S1 terbaik untuk memonitor jalannya praktikum.

Menurut mahasiswa, metode pembelajaran yang dominan digunakan di Fakultas Dirasat Islamiyah adalah metode ceramah. Ini umumnya banyak dipakai pengajar yang notabene didatangkan dari luar negeri seperti Mesir atau Sudan. Ada penilaian, metode ini kurang relevan bahkan cenderung melawan iklim pendidikan yang kini sedang mengedepankan bentuk pembelajaran diskusi. Tanggapan Anda?

Ya, hingga kini itu memang masih menjadi problem. Perlu diketahui, kita tidak mungkin mengubah metode pengajaran mereka. Karena kita tidak bisa langsung frontal meminta mereka mengubah gayanya. Gaya mereka yang seperti itu tidak lepas dari pengaruh selama mereka mengampu studi. Namun demikian, kami akan berusaha mengubahnya secara bertahap. Saya sendiri ebih cenderung dan sepakat menggunakan metode diskusi karena dengan metode itu mahasiswa dituntut lebih aktif dan partisipatif.

Awal September 2003, untuk pertama kalinya, program ini meluluskan sarjana angkatan pertama sebanyak 14 orang. Setelah ini adakah evaluasi menyangkut kualitas alumninya? Bagaimana juga peran mereka dalam bursa wacana pemikiran yang ramai dipertunjukkan oleh banyak kalangan?

Ya, yang namanya hasil dari sebuah kerja awal, kita tidak bisa mengingkari adanya kelemahan-kelemahan. Namun kita juga tidak bisa sama sekali dikatakan buruk. Pada akhirnya masyarakat jualah yang akan memberikan penilaian produk kami. Satu hal yang kami akui sebagai kelemahan adalah kami belum mampu menyediakan wadah bagi para alumni program ini. Kesulitan itu, antara lain, karena kami menginginkan mereka bisa mengaktualisasikan hasil studinya di sebuah lembaga yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa utama dalam komunikasinya. Paling banter ke kedutaan-kedutaan asing negara Timur Tengah. Sebagai upaya sementara yang sudah kami lakukan antara lain, memperbantukan alumni yang ada untuk mejadi tutor dalam kelompok-kelompok studi dan menyarankan mereka kembali ke pesantren asalnya. Kalaupun alumni itu kemudian dipertanyakan kualitasnya, saya menyerahkannya pada masyarakat untuk menilainya. [M. Nurdin]