|
LAPORAN UTAMA
"PUSAT
STUDI ISLAM ADA DI AL-AZHAR"
Wawancara dengan
Dr. H. Masri Elmahsyar Bidin, MA
Apa
dasar pemikiran pendirian Fakultas Dirasat Islamiyah?
Alasan
pendirian fakultas ini tidak lepas dari arus Globalsasi,
yaitu sebuah era yang sarat dengan persaingan, kompetisi.
Tidak bisa tidak, dalam iklim seperti itu, yang dituntut
adalah persaingan mutu, kualitas sebuah produk. Dalam konteks
ini, mengacu pada hasil penelitian di Asia pada tahun 1997,
kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari memuaskan.
Survey tersebut berkesimpulan perguruan tinggi Indonesia,
baik swasta maupun negeri, tidak ada yang masuk dalam rangking
perguruan tinggi yang berkualitas di wilayah Asia. Kita
berada di bawah Vietnam yang nota bene merdeka setelah Indonesia.
Dihadapkan
pada arus globalisasi di era millenium ketiga ini, di mana
aspek mutu dari sebuah produk sangat dikedepankan, tidak
ada pilihan lain bagi kita kecuali menyelaraskan diri dengan
tuntutan tersebut. UIN Jakarta sekarang bertekad menjadi
sebuah lembaga pendidikan level perguruan tinggi yang handal.
Yaitu lembaga pendidikan yang lebih menonjolkan academic
expectations dan bisa menjadi center of excellence di level
perguruan tinggi pada umumnya.
Selain
itu juga dipandang perlu untuk memandang pusat-pusat keunggulan
pendidikan di luar negeri untuk kemudian melakukan penjajakan
kemungkinan menjalin sebuah kerjasama. Dan semua tahu, bahwa
pusat keunggulan studi Islam adalah di Timur Tengah, tepatnya
Universitas Al-Azhar Kairo. Karena universitas ini banyak
dijadikan pola atau model studi Islam dalam lembaga pendidikan
Islam di dunia. Tidak saja di Timur Tengah bahkan di Amerika,
tepatnya di New York, juga mengadopsi pola studi yang ada
di sana.
Persis
dalam kerangka inilah pada tahun 1999, Depag melalui UIN
Jakarta membuat sebuah MoU dengan Al-Azhar di bidang kerjasama
pendidikan. Kemudian, melalui SK Dirjen Bimbaga no. E/321/1999
akhirnya disepakati untuk menyelenggarakan Program Internasional
Dirasat Islamiyah (PIDI) dengan standar mutu akademik Universitas
Al-Azhar yang pelaksanaannya diamanatkan kepada UIN Jakarta.
Program
tersebut tentunya mengharapkan sayap intelektual dengan
basis studi Islam Timur Tengah tetap dipertahankan keberadaannya.
Bagaimana bentuk kurikulumnya? Apakah meniru sepenuhnya
seperti di Al-Azhar Kairo? Adakah kurikulum lokal dan nasional?
Kurikulum
di sini hampir tidak ada bedanya dengan kurikulum yang digunakan
di Universitas Al-Azhar. Kita sepenuhnya mengadopsi dari
sana. Demikian juga dengan silabus, persyaratan masuk, jam
belajar, dan literatur. Khusus mengenai literatur, kita
juga mengacu pada pedoman al-ashalah wa al-mu'ashirah (orisinalitas
dan kemodernan --red.). Dengan kata lain, tidak hanya soal
orisinalitas saja yang ditekankan, kemodernan juga penting.
Misalnya, kalau kita berbicara tentang al-Ghazali, maka
kita harus baca bukunya al-Ghazali, bukan buku orang lain
tentang al-Ghazali. Karena itu, pelajaran tauhid, misanya,
dipelajari langsung dari kitab al-i'tiqad wa al-ihtishad
karangan al-Ghazali sendiri, bukan dari buku-buku terjemahan
atau interpretasi orang-orang terhadap buku tersebut. Di
samping itu buku-buku modern juga kami pilih sebagai referensi.
Dengan begitu mahasiswa bisa memiliki sumber pemahaman yang
komprehensif.
Selain
itu, kami juga menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK). Ciri kurikulum ini, antara lain, teori dan praktikum
atau tathbiqat sama jumlah jamnya. Sebagai contoh, mata
kuliah Ulumul Hadits, 50 menit pertama penyampaian teori
dan 50 menit kemudian untuk tathbiqat. Bentuk praktikumnya,
para mahasiswa melakukan pembacaan sumber asli mata kuliah
tersebut. Mereka ditemani para tutor, biasanya dua orang,
terkadang dosennya sendiri langsung ikut memonitornya. Kami
juga memperbantukan alumni S2 Timur Tengah dan alumni S1
terbaik untuk memonitor jalannya praktikum.
Menurut
mahasiswa, metode pembelajaran yang dominan digunakan di
Fakultas Dirasat Islamiyah adalah metode ceramah. Ini umumnya
banyak dipakai pengajar yang notabene didatangkan dari luar
negeri seperti Mesir atau Sudan. Ada penilaian, metode ini
kurang relevan bahkan cenderung melawan iklim pendidikan
yang kini sedang mengedepankan bentuk pembelajaran diskusi.
Tanggapan Anda?
Ya,
hingga kini itu memang masih menjadi problem. Perlu diketahui,
kita tidak mungkin mengubah metode pengajaran mereka. Karena
kita tidak bisa langsung frontal meminta mereka mengubah
gayanya. Gaya mereka yang seperti itu tidak lepas dari pengaruh
selama mereka mengampu studi. Namun demikian, kami akan
berusaha mengubahnya secara bertahap. Saya sendiri ebih
cenderung dan sepakat menggunakan metode diskusi karena
dengan metode itu mahasiswa dituntut lebih aktif dan partisipatif.
Awal
September 2003, untuk pertama kalinya, program ini meluluskan
sarjana angkatan pertama sebanyak 14 orang. Setelah ini
adakah evaluasi menyangkut kualitas alumninya? Bagaimana
juga peran mereka dalam bursa wacana pemikiran yang ramai
dipertunjukkan oleh banyak kalangan?
Ya,
yang namanya hasil dari sebuah kerja awal, kita tidak bisa
mengingkari adanya kelemahan-kelemahan. Namun kita juga
tidak bisa sama sekali dikatakan buruk. Pada akhirnya masyarakat
jualah yang akan memberikan penilaian produk kami. Satu
hal yang kami akui sebagai kelemahan adalah kami belum mampu
menyediakan wadah bagi para alumni program ini. Kesulitan
itu, antara lain, karena kami menginginkan mereka bisa mengaktualisasikan
hasil studinya di sebuah lembaga yang memakai bahasa Arab
sebagai bahasa utama dalam komunikasinya. Paling banter
ke kedutaan-kedutaan asing negara Timur Tengah. Sebagai
upaya sementara yang sudah kami lakukan antara lain, memperbantukan
alumni yang ada untuk mejadi tutor dalam kelompok-kelompok
studi dan menyarankan mereka kembali ke pesantren asalnya.
Kalaupun alumni itu kemudian dipertanyakan kualitasnya,
saya menyerahkannya pada masyarakat untuk menilainya. [M.
Nurdin]
|