|
LAPORAN UTAMA
“Kuno,
Jika Tidak Mengikuti Isu Perempuan”
Wawancara
dengan Lies Marcus Natsir
Aktifis Perempuan dan Alumni Universiteit van Amsterdam,
Belanda.
Bagaimana
Anda melihat gagasan PTAI membuka kelas internasional, terutama
jika program studinya adalah Islam dan Perempuan?
Ada dua hal. Pertama, bagus, artinya gagasan tersebut mengindikasikan
telah munculnya semacam desakralisasi terhadap ikon-ikon
internasional, seperti studi-studi tertentu yang ada di
Harvard, Ohio, McGill, dan lain-lain. Dengan kata lain,
kuliah di universitas-universitas terkemuka di luar negeri
akan menjadi biasa-biasa saja. Kita, di Indonesia bisa melaksanakan
studi-studi tersebut dengan kualitas mutu yang sama baiknya
atau se-level.
Kedua, dengan gagasan tersebut berarti telah ada upaya-upaya
yang bersifat empowerment. Cara ini merupakan sebuah terobosan
terhadap kebekuan dan kebuntuan antara dunia perguruan tinggi
dengan LSM perempuan, termasuk dalam hal pendanaan. Selain
itu, gagasan tersebut juga dapat menyelesaikan prustasi
yang dihadapi ke dua belah pihak. Prustasi yang dimaksud,
misalnya, betapa banyak kita menemukan orang-orang yang
genuine, lokal, yang sebenarnya memiliki tingkat kualitas
yang sama dengan para expert dan akademisi yang tertib sekolahnya.
KH. Husein Muhammad misalnya, dapat saja disandingkan dengan
Farid Essak, hanya karena Kyai Husein pendidikannya tidak
tertib (hanya lulusan pesantren dan S1, tidak S-2 atau S-3
–red.), seringkali kurang mendapat penghargaan yang
sama. Dalam konteks ini, orang semacam Kyai Husein dapat
saja melakukan akreditasi secara internasional.
Melihat
dinamika PTAI beberapa tahun terakhir ini, apakah gagasan
tersebut tidak terlalu optimis dan utopis?
Saya tidak terlalu mengikuti dinamika itu. Tetapi, jika
kita melihat program Cross Religion Studies di UGM, tampaknya
gagasan tersebut akan menjadi istimewa. Program tersebut
dikelola oleh para ahli di bidangnya, seperti aktifis LSM
dalam interfeith. Secara academic-experience, sebetulnya,
mereka sudah cukup lama menggarap. Ternyata, seperti yang
saya dengar dari Dr. Irwan Abdullah (Direktur Program Studi
Agama dan Lintas Agama UGM —red.), hasilnya bagus
sekali. Bahkan, gagasan mereka tersebut mirip seperti S-2
di luar negeri.
Jika pengalaman ini bisa dilakukan di PTAI, maka menurut
saya akan sangat bagus. Sebab, dengan demikian, para aktifis
akan mendapatkan ruang (forum—red.) di dunia perguruan
tinggi. Sekali lagi, pengalaman UGM ini cukup bagus, seperti
halnya di UI dalam masalah Reproductive Health. Yakni, para
aktifis yang konsen terhadap masalah angka kematian ibu,
family planning, dan lain-lain, juga mendapat tempat yang
istimewa di sana. Dengan demikian, kelompok aktifis bisa
bertemu satu sama lain di universitas, berangkat dari temuan-temuan
di lapangan. Seperti halnya saya sewaktu S-2 di Amsterdam
juga mengalaminya. Semester I cukup sulit untuk menyesuaikan
diri, karena full teoritical tentang antropologi yang sama
sekali tidak saya kenal sejak awalnya. Pada semester II
dan seterusnya saya merasa sudah selevel dengan mereka,
para jebolan sekolah tersebut. Di sini, ada upaya-upaya
affirmative oleh lembaga-lembaga tersebut.
Bagaimana
dengan Islamic studies?
Saya rasa sama saja. Baru-baru ini saya telah mengikuti
workshop “Fiqh Demokrasi” di Cirebon, khusus
membahas metodologi. Nampak sekali isu-isu Islam dalam kitab
kuning sangat kaya. Ada semacam perpaduan dari keduanya,
yakni kelompok pesantren murni dengan kelompok yang telah
mengenal kitab-kitab putih, seperti karya al-Jabiri, Mohammad
Arkoun, dan seterusnya. Baik kitab kuning maupun putih,
keduanya dapat bertemu dengan baik. Dalam konteks kualitas,
barangkali tidak ada masalah. Kecuali jika karena standar
internasional harus berbahasa Inggris atau Arab misalnya,
itu lain soal. Itu harus ada affirmative.
Bagaimana
dengan sarana dan prasarana, cukup optimiskah?
Aku juga optimis. Maksudnya, pada tahun 80-an, perguruan
tinggi aktif mengirimkan para dosen-dosen ke luar negeri.
Sebagian mereka, sekarang sudah mulai pulang, baik Ph.D.
ataupun Magister. Dari segi SDM (Sumber Daya Manusia) mereka
sudah cukup. Hal ini juga dapat dijadikan sarana bagi mereka
sebagai pengembangan diri dan untuk bereksperimen sesuai
dengan pengalaman-pengalamannya. Lalu, sudah saatnya bagi
bangsa Indonesia yang Islamnya terbesar di dunia ini membangun
juga wacana secara internasional. Inilah saatnya PTAI membuktikan
diri. Sudah saatnya kita seperti yang terjadi di Thailand,
Filipina, dan lain-lain, termasuk dalam bidang Reproductive
Health.
Dalam
konteks tersebut, bagaimana peluang kajian perempuan?
Besar sekali peluangnya. Karena memang dari segi pendanaan,
wacana, dan paradigma, isu perempuan itu tetap pavorit.
Jadi, istilahnya, kuno jika tidak mengikuti isu perempuan.
Ini peluang yang cukup baik.
Bagaimana
dengan UI yang telah lebih dulu membuka Program Pascasarjana
Studi Kajian Wanita?
Program itu awalnya berasal dari Kanada melalui program
CIDA. Jadi, jelas ada hubungan dengan kelas internasional.
Kurikulumnya, juga termasuk yang dibicarakan dengan mereka.
Bagaimana
jika PTAI juga ikut membuka program tersebut?
Bagus sekali. Beberapa saat lalu, ketika saya diundang makan
oleh Chamberline, mantan Dubes Indonesia di Pakistan, dia
menyatakan, satu-satunya yang membedakan kajian Islam di
Indonesia dengan dunia internasional adalah kajian perempuan.
Ini sangat bermanfaat sekali.
Kira-kira,
PTAI mana yang sudah siap?
Menurut saya UIN Jakarta. Adapun dari segi locus (lokasi)
mungkin Jogjakarta, karena ada UGM, non-muslim dan support-nya
sukup banyak. Dari segi Fasilitas memang UIN Jakarta. Ini
seandainya dibuka. Itu cukup besar sekali peluangnya.
Dibanding
UI, tampaknya PTAI belum cukup lebih siap. Komentar Anda?
Menurut saya, dengan mengacu pada pernyataan Chamberline
di atas, PTAI justru sangat eksotik. Bila studi Islam ingin
menonjol di Indonesia, maka Studi Islam dan perempuanlah
yang bisa diandalkan. Karena, fakta sosialnya, Islam Indonesia
adalah sangat toleran terhadap perempuan. Dan ini harus
dibuktikan di PTAI. [Mahrus El-Mawa]
|