|
LAPORAN UTAMA
DEPAG
BUKA KELAS INTERNASIONAL DI PTAI
Pembenahan
PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) ke arah yang lebih baik
tampahnya terus menjadi perhatian para pengambil kebijakan
dan pimpinan perguruan tinggi di lingkungan Departemen Agama
RI. Salah satu gagasan yang sedang hangat dibicarakan adalah
rncana pembukaan kelas internasional di PTAI. LAngkah ini
diyakini sebagai langkah alternatif PTAI menjadi lembaga
studi Islam terkemuka di Indonesia.
Maklum
saja, belakangan ini PTAI banyak mendapat kritik tajam dari
berbagai pihak berkaitan dengan posisi dan peran PTAI dalam
mengembangkan kajian Islam di Indonesia. Terlebih lagi dalam
era globalisasi sekarang ini, PTAI tidak hanya bersaing
dengan perguruan tinggi dalam negeri, tetapi juga dengan
perguruan tinggi seluruh dunia. Saat ini saja, sudah banyak
perguruan tinggi luar negeri yang mencari mahasiswa di Indonesia.
Diperkirakan,
jika kelas internasional ini jadi dibuka di PTAI, maka akan
banyak calon mahasiswa asing yang berminat. Apalagi, biaya
pendidikan di Indonesia dinilai murah karena nilai tukar
rupiah yang rendah. Jelas, ini aspek kapital yang diharapkan
bisa menyumbang devisa negara.
"Undang-Undang
Pendidika kita (UU Sisdiknas - red) sudah mengharuskan kita
menuju ke arah sana, jadi tidak ada alasan untuk mengelak.
Yang perlu kita lakukan adalah persiapan-persiapan yang
matang. Kita tidak ingin pendidikan kita tertinggal jauh
dari perkembangan yang ada di luar negeri. Langkah ini merupakan
salah satu terobosan yang sedang dikaji dan dilakukan,"
demikian penegasan yang disampaikan Prof. Dr. Qodri A. Azizy,
Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama Republik
Indonesia.
Hal
senada juga diungkapkan oleh Arief Furqan, Direktur Perguruan
Tingi Agama Islam, Departemen Agama RI. Arief mengatakan,
"Gagasan pembukaan kelaas baru internasional sebetulnya
mengacu kepada kandungan UU Sistem Pendidikan Nasional kita
yang mengharuskan dan mengarah agar institusi p-endidikan
memiliki jangkauan dan visi yang bertaraf internasional."
Langkah
Rintisan
Beberapa
langkah rintisan ke arah kelas internasional sudah mulai
dilakukan. Diantaranya dimulai dengan membuka program Dirasat
Islamiyah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Program
studi ini diselenggarakan atas kerjasama dengan universitas
al-Azhar, Kairo, Msir. Di Malang, Jawa Timur, keerjasama
pendidikan Indonesia dilakukan oleh Departemen Agama dengan
negara Sudan menghasilkan perubahan status dari STAIN menjadi
Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang.
Selain
kerjasama pendidikan dengan negara-negara Timur-Tengah,
dalam konteks rintisan kelas internasional, Depag juga telah
membuka kelas-kelas khusus di UIN Jakarta dan IAIN Yogyakarta
sebagai bagian dari bentuk kerjasama dengan McGill University
Kanada, yang berasal dari Barat. Di UIN Jakarta telah dibuka
kelas Interdisciplinary Islamic Studies, sementara
di IAIN Yogyakarta dibuka program Social Work. Tahun
ini merupakan tahun pertama dari penyelenggaraan kedua program
tersebut.
Program-program
khusus tersebut, ke depan, diharapkan menjadi contoh cikal
bakal dibukanya kelas internasional di PTAI-PTAI lain di
seluruh Indonesia. Karena itu saat ini pihak Direktorat
Perguruan Tinggi Agama Islam, Departemen Agama RI, sedang
giat melakukan penjajakan dan promosi kelas internasional
ke bebrapa negara baik di Timur Tengah maupun di Barat.
Tetapi,
menurut Arief Furqan, posisi Depag sebenarnya hanya memberikan
motivasi dan membantu aturan-aturan teknis yang dibutuhkan
dalam rangka pembukaan kelas internasional tersebut. "Kita
tidak sedang 'menyetir' atau mendayung dalam arti membiayai.
Kesadaran akan persaingan pendidikan yang semakin mengglobal
dari para pimpinan PTAIN-lah yang paling utama," tegas
Arief.
Sebuah
perkembangan menggembirakan datang dari Sumatera. "Beberapa
IAIN di Sumatera, seperti IAIN Aceh dan Medan, bahkan telah
mampu melakukan bentuk-bentuk kerjasama pendidikan dengan
Malaysia. Ini jelas sesuatu yang menggemberikan", tegas
Affandi Mochtar, Kasubdit Kerjasama Luar Negeri dan Publikasi,
Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam RI.
Mencari
Konsep Yang Pas
"Gagasan
kelas internasional sebenarnya bukanlah gagasan baru",
demikian menurut Akh. Minhaji, guru besar IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta ketika ditemui PERTA di kediamannya (13/12/2003).
Lebih lanjut Minhaji mengatakan, gagasan kelas internasional
sudah ada sejak Munawir Sjadzali menjabat Menteri Agama
RI. Hanya saja, saat itu, gagasan tersebut realisasinya
belum serius dan sistematis sehingga tinggal wacana. Karena
itu, kalau gagasan tersebut ingin diwujudkan maka harus
dipersiapkan konsep dan paradigmanya terlebih dahulu. Tanpa
itu semua, gagasan kelas internasional akan kembali menjadi
wacana. "Membuat kurikulum Nasional untuk IAIN saja
kita kesulitan, apalagi menyusun kurikulum internasional,"
Minhaji mencontohkan kesulitan mewujudkan gagasan ini dalam
bangunan akademik PTAI.
Atas
situasi sperti ini, sebagai jalan keluar, Minhaji mengusulkan
agar dibentuk satu tim yang tangguh dan serius untuk memikirkan
sejak konsep sampai operasionalnya. "Saya optimis jika
tim ini berhasil dibuat dan diberi wewenang yang luas maka
gagasan kelas internasional bukan sekadar wacana tapi menjadi
langkah penting bagi PTAI dalam berhadapan dengan dunia
global", Minhaji tegas.
Usul Minhaji ini bukanlah mengada-ada. Menurutnya, pengalaman
sebagai Ketua Tim penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi
untuk IAIN dan Ketua Tim pendirian Program Studi Social
Work IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah banyak memberi
pelajaran berharga. "Saya beradu argumen dengan profesor-profesor
McGill University di Kanada selama 12 hari untuk mempertahankan
konsep program studi Social Work IAIN Sunan Kalijaga",
katanya. Beruntung, dia dan anggota timnya telah menyediakan
argumen dan jawaban yang kuat.
Ketika
ditanya kerjasama dengan dunia pendidikan manakah yang sebaiknya
dilakukan PTAI untuk membuka kelas internasional, Minhaji
lebih cenderung memilih kerjasama dengan dunia pendidikan
Barat. "Mungkin ini bias, tapi saya kira, Barat memiliki
kelebihan aspek metodologi yang selama ini menjadi kelemahan
mendasar dunia pendidikan di Timur Tengah", jawab Minhaji
yang alumnus McGill University itu.
Sementara
itu, Masri Elmahsyar Bidin, Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah
UIN Jakarta, kepada PERTA (30/12/2003) mengatakan, pusat
Studi Islam ada di Timur Tengah. Salah satunya adalah Universitas
Al-Azhar di Kairo, Mesir. Karena itu, lanjut Masri, adalah
tepat jika UIN melakukan kerjasama pendidikan dengan Al-Azhar.
"Semua
tahu, bahwa pusat keunggulan studi Islam adalah Timur Tengah,
tepatnya Universitas Al-Azhar, Kairo. Karena, universitas
ini, banyak dijadikan pola atau model studi Islam dalam
lembaga pendidikan Islam di dunia. Tidak saja di Timur Tengah
bahkan di Amerika, tepatnya di New York, juga mengadopsi
pola studi yang ada di sana", jelas Masri.
Lepas
dari apakah Timur atau Barat, sebenarnya, kedua poros atau
pusat keunggulan studi Islam tersebut sama-sama memiliki
keunggulan dan kelemahan. Studi Islam di Timur Tengah kaya
dengan khazanah Islam, sementara di Barat kaya akan metodologi.
Jika keduanya digabung, maka dapat menjawab kekurangan masing-masing
orientasi, yakni menguasai khazanah intelektual Islam yang
paling dasar dan otentik, juga menguasai metodologi yang
dapat digunakan untuk memecah masalah yang dihadapi di tengah-tengah
masyarakat.
Inilah
barangkali yang menjadi dasar pemikiran Ditperta berencana
mendirikan kelas internasional. "Barat atau Timur itu
tidak terlalu penting", kata Affandi menjawab PERTA.
"Yang jelas, kelas internasional itu nantinya akan
diorientasikan sepenuhnya pada bagaimana para lulusan mampu
merespon dan memecahkan persoalan-persoalan sosial-kemasyarakatan,
mampu mengembangkan ilmu-ilmu keislaman, dan sekaligus memiliki
kemampuan professional yang mutunya tidak kalah dibanding
dengan lulusan perguruan tinggi di negara-negara maju",
papar Affandi.
Untuk
mencapai target tersebut, cara yang akan ditempuh salah
satunya adalah dengan menuntut komitmen dosen untuk sepenuhnya
melakukan tugas-tugas akademik. "Selama ini, fungsi
dosen belum seratus persen. Ini bisa dipahami, barangkali,
karena kesejahteraan mereka kurang terjamin", lanjut
Affandi. Affandi, merencanakan dosen nantinya akan dikontrak
selama tiga tahun. Pertama, seorang dosen harus masuk kampus
secara full-time, tidak boleh ada kegiatan lain selain di
kampus. Kedua, dia harus mampu merancang perkuliahan yang
bermutu. Ketiga, dia harus melakukan fungsi-fungsi bimbingan
sesuai dengan aspirasi dan minat mahasiswa.
Bagaimana
dengan kekhawatiran jika dosen nantinya seperti "katak
dalam tempurung" jika dia tidak boleh melakukan aktivitas
di luar kampus? Menjawab ini, Affandi mengatakan, "jika
sudah tiga tahun dikontrak, maka selama satu semester, dosen
yang bersangkutan akan diberi sejumlah fasilitas akademik".
Fasilitas yang dimaksud Affandi, di antaranya, dosen tersebut
akan dibebaskan dari beban mengajar, dan sebagai gantinya,
dia diberi kesempatan ke luar negeri untuk studi banding.
Selain itu, dosen tersebut diwajibkan melakukan penelitian
dan mempublikasikan karya-karya atau tulisannya ke media
atau publik, serta ceramah dan membangun jaringan dengan
lembaga-lembaga kajian dan penelitian terkemuka baik di
Indonesia, Barat maupun Timur.
Tentu
saja, sebagaimana diakui Affandi sendiri, faktor dosen bukan
satu-satunya faktor utama keberhasilan kelas internasional.
Masih terdapat banyak faktor lainnya, seperti infrastruktur,
rekruitmen mahasiswa, perpustakaan, dan lain-lain. "Naif,
jika kita hanya mengandalkan faktor dosen", Affandi
tegas.
Kesiapan
PTAI
Apakah
pihak PTAI sudah siap menyambut gagasan kelas internasional?
Pertanyaan ini penting diajukan karena pembukaan kelas internasional
mengandaikan adanya keunggulan-keunggulan tertentu. Sebut
saja, di antaranya, adalah bahasa pengantar yang digunakan
dalam kelas Internasional adalah bahasa asing yaitu Inggris
atau Arab; pengembangan metode pengajaran yang optimal,
efisien dan efektif sehingga setiap kelas tersedia peralatan
seperti audio visual, overhead projector, alat peraga yang
siap digunakan serta didukung dengan perpustakaan dan ruang
diskusi; kurikulum yang dipergunakan berbasis kepada kompetensi
internasional yang dipadukan dengan kompetensi nasional;
tenaga pengajar yang profesional, berpengalaman serta memiliki
wawasan internasional, dan lain-lain.
Menjawab
pertanyaan ini, Minhaji selaku Pembantu Rektor I IAIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta mengatakan, "dilihat dari aspek
tenaga pengajar, meski tidak semuanya, kualitas dosen-dosen
PTAI sebenarnya sudah cukup bisa diandalkan". Hal itu,
menurutnya, terbukti dengan kekaguman beberapa mahasiswa
asal Aljazair yang mengambil program pascasarjana di IAIN
Sunan Kalijaga. Pada umumnya, mahasiswa asing tersebut merasa
kaget dengan wawasan yang dimiliki dosen-dosen pasca IAIN
Yogyakarta yang dianggapnya sedikit lebih maju dibanding
dosen-dosen di universitas yang ada di Aljazair.
Meski
suara mahasiswa Aljazair tersebut baru sebatas opini, bukan
berdasarkan hasil penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan,
tetapi melihat banyaknya dosen IAIN yang belajar ke luar
negeri terutama ke Barat dalam duapuluh tahun terakhir ini,
nampaknya kesimpulan tersebut cukup beralasan. "Sekarang,
kita sudah relatif punya banyak doktor yang bisa diandalkan.
Dengan kata lain, secara individu-individu dosen, tampaknya
PTAI khususnya IAIN Yogyakarta sudah siap membuka kelas
internasional. Tinggal bagaimana konsep dan sistemnya digodok
sematang mungkin. Ini yang penting", tegas Minhaji.
Hal
senada juga diungkapkan Affandi. Menurutnya, Beberapa IAIN
sudah cukup bisa dikatakan siap membuka kelas internasional,
terutama UIN Jakarta dan IAIN Yogyakarta yang selama ini
menjadi pilot project program kerjasama dengan McGill University.
"Yang jelas, Depag akan berusaha semaksimal mungkin
memfasilitasi berbagai kesiapan internal dan eksternal yang
dibutuhkan PTAI dalam rangka pembukaan kelas internasional
tersebut, termasuk aspek pendanaan dan sarana fisik",
lanjut Affandi.
Program
Studi
Secara
umum, barangkali bisa dikatakan, program studi (prodi) yang
sekarang diselenggarakan di PTAI bisa menjadi kelas internasional.
Hanya saja, dalam menentukan pilihan, hal itu tetap harus
didasarkan pada penelitian yang seksama. Jangan sampai,
suatu program studi bertaraf internasional terkesan asal
ada dan tidak mempertimbangkan aspek kebutuhan, tuntutan
dan tantangan yang dihadapi PTAI secara khusus, dan umat
Islam Indonesia pada umumnya.
Jika
menilik pada perguruan tinggi umum, sekarang ini, sudah
banyak dibuka kelas internasional dari bermacam-macam jurusan.
Sebut saja, misalnya, di UI ada Fakultas Kedokteran (bekerjasama
dengan The University of Melbourne, Australia), Fakultas
Teknik (bekerjasama dengan Faculty of Built Environment
and Engineering Queensland University of Technology, Australia),
Fakultas Psikologi (bekerjasama dengan The University of
Queensland Australia), dan lain-lain. Di Yogyakarta, UGM
juga telah berhasil melakukan kerja sama dengan Rijk Universiteit
Groningen (RUG) Belanda dan meluncurkan International Master
Program (IMP) untuk menghasilkan lulusan yang mampu berkompitisi
di tingkat global. Program IMP ini ingin mewujudkan visi
world class education. Untuk tahap awal, program studi yang
dibuka adalah Ilmu Biomedis dan Kesehatan Masyarakat. Dan
masih banyak lagi prodi dan universitas yang telah membuka
kelas internasional tapi belum disebutkan.
Bagaimana
dengan PTAI? Ide yang dilontarkan Lies Marcus Natsir, seorang
aktifis perempuan terkemuka yang juga alumni Universiteit
van Amsterdam (UVA), Belanda, agar PTAI membuka program
studi Islam dan Perempuan bisa menjadi salah satu alternatif
prodi kelas internasional untuk PTAI dewasa ini.
Lebih
jauh, Lies menilai kuno PTAI jika tidak mengikuti isu perempuan.
Menurut Lies, kajian Islam dan Perempuan menjadi penting
dalam konteks umat Islam Indonesia yang memiliki wawasan
moderat. Pendapat Lies ini, sebagaimana diakuinya sendiri,
terinspirasi oleh gagasan mantan duta besar Indonesia di
Pakistan, Chamberline, yang menyatakan bahwa satu-satunya
yang membedakan kajian Islam di Indonesia dengan dunia internasional
adalah kajian perempuan.
Kajian
perempuan sendiri, di Indonesia sebenarnya sudah ada, yaitu
di Program Pascasarjana Studi Kajian Wanita, Universitas
Indonesia (UI). Awalnya, kajian ini bekerja sama dengan
Kanada melalui proyek CIDA (Canada-International Development
Agency). Hingga kini perkembangan kajian wanita di UI
cukup pesat.
Namun
demikian, tutur Lies, bukan berarti peluang PTAI membuka
program kajian wanita menjadi tertutup. Bahkan, menurutnya,
PTAI justru sangat eksotik.
"Bila studi Islam ingin menonjol di Indonesia, maka
Studi Islam dan perempuanlah yang bisa diandalkan. Dan ini
harus dibuktikan di PTAI", papar Lies.
Gagasan
yang dilontarkan Lies di atas patut menjadi wacana di lingkungan
akademisi dan para pengambil kebijakan di PTAI maupun Depag.
Karena, bagaimanapun, sebagaimana dikatakan Lies, dari segi
pendanaan, wacana, dan paradigma, isu perempuan tetap pavorit.
Membuka program studi Islam dan Perempuan di PTAI? Why
not? [Musoffa Basyir-Rasyad]
|