Menu Utama
Bar Menu

Menu Utama
 
 


Dewan Redaksi
Vol. VI/No. 02/2003
Vol. VI/No. 01/2003
Vol. V/No. 01/2002
Vol. III/No. 02/200
   
   
   


DARI REDAKSI

"Gagasan Kelas Internasional sebagai Alternatif"

Dibandingkan dengan perguruan tinggi umum (PTU), dunia perguruan tinggi agama Islam (PTAI) banyak tertinggal. Salah satunya adalah tentang pentingnya meningkatkan mutu pendidikan bertaraf internasional. Di PTU, sebut saja UGM Yogyakarta dan UI Jakarta, program kelas internasional sudah lama digagas, bahkan sudah diimplementasikan.


Kampus UIN Jakarta

Di PTAI sendiri, sebenarnya, gagasan tersebut sudah lama muncul. Tepatnya, ketika Menteri Agama RI dijabat oleh Munawir Sjadzali. Hanya saja, ide Munawir saat itu belum sempat menjadi kebijakan. Meski demikian, salah satu kebijakan Munawir yang bisa dikatakan signifikan bagi perkembangan PTAI masa kini adalah usahanya untuk menggeser kiblat studi Islam dari Timur Tengah ke Barat. Caranya adalah dengan mengirim dosen-dosen IAIN untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat, seperti MCGill University, Kanada. Kebijakan Munawir inilah yang di kemudian hari melahirkan dosen-dosen berwawasan internasional (Barat?) dan mentransformasikannya ke dalam PTAI, tak terkecuali gagasan kelas internasional yang sekarang sedang hangat dibicarakan di lingkungan Depag.


Laboratorium UIN Malang

Kita memang tidak terlalu setuju adanya dikotomi Barat dan Timur sebagai poros studi Islam. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan dan kelemahan. Barat kaya dengan metodologi, sementara Timur kaya dengan penguasaan khazanah Islam. Karena itu, jika kelas internasional akan dibuka di PTAI kita mengusulkan agar sistem dan orientasi studi Islam di Barat dan Timur bisa dipadukan.

Kesimpulan ini dibuat juga berdasarkan atas analisis penyelenggaraan program rintisan kelas internasional yang selama ini sudah ada di beberapa PTAI. Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta, misalnya, alih-alih ingin mengembangkan yang lebih baik dari Universitas al-Azhar, ternyata masih jauh dari yang diharapkan. Demikian juga dengan program studi Interdisciplinary Islamic Studies UIN Jakarta yang tampaknya ingin memindahkan McGill University di Indonesia masih terjebak pada pendekatan Barat yang empiris, historis, dan sosiologis. Padahal, studi Islam juga memerlukan penguasaan sumber-sumber Islam yang paling otentik, yang tentu saja dapat dilakukan dengan penguasaan bahasa Arab yang mumpuni. Bukan saja aspek metodologi yang penting dalam setiap pendidikan Islam, tetapi penguasaan dasar keislaman perlu terus diupayakan secara meyakinkan.

Tentu saja, kesimpulan-kesimpulan tersebut baru kesimpulan sementara. Terpenting bagi kita sekarang, sejauhmana gagasan kelas internasional dapat menjawab keinginan PTAI merebut poros studi Islam yang belakangan tampak marak di luar kampus. Satu lagi PR kita belum terjawab. Semoga.

Redaksi