|
DARI REDAKSI
"Gagasan
Kelas Internasional sebagai Alternatif"
| Dibandingkan
dengan perguruan tinggi umum (PTU), dunia perguruan
tinggi agama Islam (PTAI) banyak tertinggal. Salah
satunya adalah tentang pentingnya meningkatkan mutu
pendidikan bertaraf internasional. Di PTU, sebut saja
UGM Yogyakarta dan UI Jakarta, program kelas internasional
sudah lama digagas, bahkan sudah diimplementasikan.
|
Kampus
UIN Jakarta |
Di
PTAI sendiri, sebenarnya, gagasan tersebut sudah lama muncul.
Tepatnya, ketika Menteri Agama RI dijabat oleh Munawir Sjadzali.
Hanya saja, ide Munawir saat itu belum sempat menjadi kebijakan.
Meski demikian, salah satu kebijakan Munawir yang bisa dikatakan
signifikan bagi perkembangan PTAI masa kini adalah usahanya
untuk menggeser kiblat studi Islam dari Timur Tengah ke
Barat. Caranya adalah dengan mengirim dosen-dosen IAIN untuk
mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat, seperti
MCGill University, Kanada. Kebijakan Munawir inilah yang
di kemudian hari melahirkan dosen-dosen berwawasan internasional
(Barat?) dan mentransformasikannya ke dalam PTAI, tak terkecuali
gagasan kelas internasional yang sekarang sedang hangat
dibicarakan di lingkungan Depag.

Laboratorium
UIN Malang |
Kita
memang tidak terlalu setuju adanya dikotomi Barat
dan Timur sebagai poros studi Islam. Keduanya sama-sama
memiliki kekuatan dan kelemahan. Barat kaya dengan
metodologi, sementara Timur kaya dengan penguasaan
khazanah Islam. Karena itu, jika kelas internasional
akan dibuka di PTAI kita mengusulkan agar sistem dan
orientasi studi Islam di Barat dan Timur bisa dipadukan.
|
Kesimpulan
ini dibuat juga berdasarkan atas analisis penyelenggaraan
program rintisan kelas internasional yang selama ini sudah
ada di beberapa PTAI. Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta,
misalnya, alih-alih ingin mengembangkan yang lebih baik
dari Universitas al-Azhar, ternyata masih jauh dari yang
diharapkan. Demikian juga dengan program studi Interdisciplinary
Islamic Studies UIN Jakarta yang tampaknya ingin memindahkan
McGill University di Indonesia masih terjebak pada pendekatan
Barat yang empiris, historis, dan sosiologis. Padahal, studi
Islam juga memerlukan penguasaan sumber-sumber Islam yang
paling otentik, yang tentu saja dapat dilakukan dengan penguasaan
bahasa Arab yang mumpuni. Bukan saja aspek metodologi yang
penting dalam setiap pendidikan Islam, tetapi penguasaan
dasar keislaman perlu terus diupayakan secara meyakinkan.
Tentu
saja, kesimpulan-kesimpulan tersebut baru kesimpulan sementara.
Terpenting bagi kita sekarang, sejauhmana gagasan kelas
internasional dapat menjawab keinginan PTAI merebut poros
studi Islam yang belakangan tampak marak di luar kampus.
Satu lagi PR kita belum terjawab. Semoga.
|