SEKAPUR SIRIH
PENELITIAN ISLAM INDONESIA
Sungguh
membesarkan hati kami, peluncuran edisi perdana jurnal ISTiQRO’
setahun yang lalu ternyata memperoleh respon yang cukup baik dari
masyarakat akademis. Setidak-tidaknya respon dan apresiasi yang disampaikan
oleh dosen Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia. Bagi kami,
ini sebuah dukungan sekaligus juga legitimasi bahwa yang apa yang kami
lakukan memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak keliru. Oleh karena
itu, dengan berbagai keterbatasan yang ada, pada edisi ini kami berusaha
untuk tampil lebih baik dari sebelumnya, baik pada sisi kemasan maupun
substansi tulisan yang dimuat. Tentu saja harapannya agar lebih dapat
diminati dan menjadi rujukan yang berarti, baik untuk kepentingan pengembangan
keilmuan maupun untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan sosial yang nyata dihadapi
oleh masyarakat.
Ada beberapa perubahan pada edisi ini yang perlu kami sampaikan
kepada peminat jurnal ilmiah yang budiman. Perubahan yang mendasar terjadi
pada visi jurnal ini. Pada edisi perdana, di dalam cover depan
tertulis “ISTiQRO’ Jurnal Penelitian Direktorat
Perguruan Tinggi Agama Islam”. Saat itu, keberadaan ISTiQRO’
memang dimaksudkan sebagai sarana publikasi hasil-hasil penelitian
dosen PTAI, terutama penelitian yang dibiayai oleh Departemen Agama c.q.
Ditjen Kelembagaan Agama Islam. Akan tetapi, setelah melalui diskusi yang
panjang, pada edisi ini visi tadi dirubah menjadi “ISTiQRO’
Jurnal Penelitian Islam Indonesia”. Dalam perubahan ini sebetulnya
kami ingin menegaskan jati diri bahwa kehadiran ISTiQRO’
bukan semata-mata dari dan untuk dosen PTAI belaka, melainkan
juga terbuka bagi siapa saja yang memiliki hasil penelitian tentang “Islam
Indonesia” atau “Islam Lokal” yang patut dipublikasikan.
Terma “Penelitian
Islam Indonesia” menjadi kata kunci di sini. Artinya, Jurnal ISTiQRO’
hanya akan memuat ringkasan hasil-hasil penelitian yang mencerminkan
realitas dan wacana keislaman dan keindonesiaan sekaligus. Yakni, suatu
realitas atau wacana tentang Islam yang bercorak keindonesiaan dengan
berbagai multikultur dan multietniknya dan suatu realitas atau wacana
tentang Indonesia yang bernuansa keislaman dengan berbagai nilai, pandangan,
dan cita-cita kebudayaannya. Ini penting kami tegaskan karena penerbitan
ISTiQRO’ diharapkan bisa memberikan sumbangan yang
berarti bagi konstruksi “Islam Indonesia” baik sebagai ilmu, pengetahuan,
maupun kenyataan.
Konstruksi
“Islam Indonesia” terus terang saja sampai hari ini masih berupa gagasan-gagasan
yang abstrak dan berserakan di mana-mana, belum menjadi sebuah bangunan
pengetahuan atau keilmuan yang utuh dan jelas. Ini tidak lain karena tidak
pernah ada perhatian ilmiah yang serius dari para pengkaji Islam, termasuk
dari Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia sendiri. Islam yang kita
anut, kaji, ajarkan, dan amalkan sehari-hari masih berkiblat pada Islam
Arab dan Islam Timur Tengah. Arabisme menjadi sangat dominan dalam pemahaman
kita tentang Islam. Hampir semua rujukan yang dijadikan dasar (ajaran)
dalam mengamalkan Islam adalah pengalaman dan pengetahuan yang ditulis
oleh orang-orang yang berasal atau berpendidikan dari Arab dan Timur Tengah.
Kalaupun ada rujukan wacana keislaman dari Barat atau Indonesia, misalnya,
selalu diposisikan sebagai informasi, pengetahuan dan bagian dari perkembangan
pemikiran, bukan sebagai dasar (ajaran) untuk mempraktikkan Islam sehari-hari.
Membaca kenyataan itu, maka
tugas ilmiah kita dewasa ini semestinya bukan lagi “membumikan Islam di
Indonesia”, melainkan menggali, mengkaji, hingga akhirnya menemukan warna,
watak, atau corak Islam yang lahir dari bumi Indonesia sendiri dengan
berbagi budaya, tradisi, lokalitas, dan pengalaman-pengalamannya yang
unik. Temuan pemikiran dan pengetahuan Islam yang terlahir dari bumi Indonesia
ini pada akhirnya perlu menjadi dasar dan rujukan bagi kita sendiri untuk
mengamalkan Islam di Indonesia. Agenda ini agaknya masih jauh dari perhatian
para ulama dan pengkaji Islam di sini.
Ada studi kawasan tentang Islam Indonesia, tetapi yang dominan
dalam studi itu adalah aspek politik Islam dalam panggung politik Indonesia.
Aspek pemikiran fiqh, tasawuf, dan kalam yang bercorak dan berasal dari
khazanah pemikiran dan pengalaman Indonesia masih belum terungkap dengan
jelas. Demikian juga aspek ekonomi dan kebudayaan Indonesia yang bercorak
atau bernuansa keislaman belum terumuskan secara baik, dan semua itu belum
menjadi bagian dari kajian Islam Indonesia dalam studi kawasan.
Visi ISTiQRO’
yang demikian ini sebetulnya juga merupakan ajakan kami kepada
PTAI untuk kembali kepada “Islam Indonesia” dan secara bersama-sama mewujudkan
bangunan keilmuan “Islam Indonesia” itu, sehingga kita mempunyai landasan
teologis dan sosio-antropologis yang kokoh tentang Islam Nusantara di
sini dengan segala kekhasan etnik, kultur, tradisi, dan lokalitasnya.
Demikian,
semoga bermanfaat dan selamat membaca!
Marzuki Wahid
|