Menu Utama
Bar Menu

Bar Menu


 
Bar Menu
 

 

Ekspektasi Mahasiswa Setelah Lulus dari PTAI


Ekspektasi Mahasiswa Setelah Lulus dari PTAI

Sejak semester pertama para mahasiswa sudah mempunyai ekspektasi yang variatif. Ekspektasi yang dimaksud adalah profesi yang diharapkan mahasiswa setelah lulus dari PTAI. Oleh karena itu, ketika sebagian besar mahasiswa memilih program studi/jurusan, pemilihan mereka dikaitkan dengan profesi yang akan dilakukan. Meskipun, sebagian mahasiswa yang lain memilih program studi/jurusan tanpa cita-cita. Fenomena ini tampak pada tabel berikut ini:

Tabel 3

Ekspektasi Profesi Mahasiswa Setelah Lulus

No

Pilihan Profesi

Fakultas/Jurusan

Jumlah

Tarbiyah

Dakwah

Syariah

Ushuluddin

Adab

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

1

Mubaligh

133

36.6

38

35.5

54

36.7

29

28.16

17

16.8

271

33.01

2

PNS

89

24.5

22

20.6

25

17

20

19.42

20

19.8

176

21.44

3

Politikus

38

10.5

4

3.74

8

5.44

11

10.68

11

10.9

72

8.77

4

Wartawan/Penulis

32

8.82

19

17.8

15

10.2

13

12.68

15

14.9

94

11.45

5

Wiraswastawan

57

15.7

14

13.1

25

17

22

21.36

17

16.8

135

16.44

6

Lain-lain

14

3.86

10

9.35

20

13.6

8

7.767

21

20.8

73

8.892

JUMLAH

363

100

107

100

147

100

103

100

101

101

821

100

       

Berdasarkan tabel di atas, persentase terbesar atas ekspektasi profesi setelah lulus adalah menjadi mubâligh [271/33,01%]. Mubâligh adalah tidak terbatas pada juru dakwah atau penceramah saja, akan tetapi juga penyampai syariat Islam pada masyarakat luas. Meskipun, pilihan sebagai alternatif, tetapi sebagian mahasiswa menolak jika profesi mubâligh dikaitkan dengan pekerjaan. Karenanya, sebagian mahasiswa yang memilih profesi tersebut tetapi mereka memilih juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) [176/21.44%], meskipun pilihan PNS tersebut tidak berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. Dalam konteks ini PNS masih menjadi ekspektasi banyak mahasiswa, karena mereka memandang PNS merupakan profesi stabil dan memperoleh jaminan di hari tua nanti. Selanjutnya, sebagian mahasiswa memilih profesi yang lain.   

Selanjutnya, peneliti dapat menjelaskan persoalan “kenapa mahasiswa memilih ekspektasi profesi tidak berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama kuliah?” Sebagaimana tampak pada tabel tentang relevansi mata kuliah dalam program studi/jurusan dengan ekspektasi profesi di bawah ini:

 Tabel 4

Relevansi Mata Kuliah dalam Program Studi/Jurusan dengan Ekspektasi Profesi

No

Tingkat Relevansi

Fakultas/Jurusan

Jumlah

Tarbiyah

Dakwah

Syariah

Ushuluddin

Adab

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

1

Sangat Tinggi

31

8.9

13

12

43

27

17

17

14

14

118

14.4

2

Tinggi

46

13

24

22

41

25

18

17

19

19

148

18

3

Sedang

142

41

32

30

41

25

32

31

29

29

276

33.6

4

Kurang

62

18

17

16

26

16

19

18

27

27

151

18.4

5

Sangat Rendah

67

19

21

20

11

6.8

17

17

12

12

128

15.6

JUMLAH

348

100

107

100

162

100

103

100

101

100

821

100

 

Berdasarkan tabel tersebut, adalah suatu kenyataan yang dihadapi PTAI, tidak ada hubungan (link and match) antara ekspektasi profesi dengan mata kuliah dalam program studi/jurusan yang dipilih sebagian mahasiswa saat kuliah [276/33.6%]. Karena, mata kuliah dalam program studi/jurusan tidak diorientasikan kepada suatu profesi tertentu. Dengan kata lain, program studi/jurusan tidak ditangani secara profesional, tidak ada relevansinya dengan kesempatan kerja yang dibutuhkan masyarakat saat ini

Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti memberikan suatu alternatif pemecahan persoalan tersebut dengan cara membuka program studi/jurusan baru yang beroreintasi pada bidang pendidikan umum. Ternyata, alternatif pemecahan persoalan ini mendapat dukungan dari sebagian besar mahasiswa [481/58.6%]. Sebagaimana tampak pada tabel berikut ini:

    Tabel 5

Sikap Mahasiswa terhadap Program Studi/Jurusan Baru yang berorientasi pada Bidang Pendidikan Umum

No

Tingkat Relevansi

Fakultas/Jurusan

Jumlah

Tarbiyah

Dakwah

Syariah

Ushuluddin

Adab

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

1

Mendukung

226

65

61

57

88

54

57

55

49

49

481

58.6

2

Tidak Mendukung

47

14

14

13

19

12

29

28

31

31

140

17.1

3

Terkesan dipaksakan

19

5.5

16

15

27

17

11

11

18

18

91

11.1

4

Tidak berkomentar

56

16

16

15

28

17

6

5.8

3

3

109

13.3

JUMLAH

348

100

107

100

162

100

103

100

101

100

821

100

 

Dengan melihat persentase sebagian besar mahasiswa mendukung terhadap pembukaan program studi/jurusan baru yang berorientasi pada bidang pendidikan umum. Kiranya, PTAI dan Direktorat Perguruan Tinggi Islam Departemen Agama RI perlu melakukan serangkaian kajian berkaitan dengan persoalan tersebut. Alternatif ini didasarkan pada pemikiran, bahwa dengan adanya program studi/jurusan baru standar kelayakan PTAI dapat terpenuhi. 

 

PENUTUP

Berdasarkan pemaparan di atas peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1.     Kondisi PTAI di wilayah DKI Jakarta pada umumnya memiliki keunggulan, karena adanya kiprah sosial para alumninya. Tetapi, juga memiliki kelemahan yang sangat menonjol, yaitu keterbatasan sarana proses belajar mengajar. Mahasiswa sebagian besar telah memahami visi dan misi PTAI di tempat mereka studi. Sedangkan, terhadap program studi/jurusan yang mereka tempuh masih terdapat beberapa mahasiswa yang kurang memahami dan bahkan masih ada yang tidak memahaminya. Beberapa mata kuliah yang ditawarkan di PTAI juga sangat disukai oleh responden dengan alasan dosen pengampunya dianggap berkualitas. Beberapa mata kuliah lagi tidak disukai oleh mahasiswa, karena mereka merasa terlalu berat untuk mempelajarinya. Pembelajaran di PTAI menurut sebagian besar responden sudah dirasakan efektif, karena didukung oleh penerapan metode yang agak bervariasi, pemberian contoh-conoh yang aktual berkaitan dengan pokok bahasan, tetapi pembelajaran yang dilaksanakan belum secara optimal merangsang pemikiran dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis mahasiswa. Suatu kendala dalam proses pembelajaran adalah kurang daya dukung terhadap sarana prasarana pembelajaran termasuk dalam hal laboratorium bahasa dan komputer. Kendala lain, adalah berkaitan pelayanan akademik. Beberapa pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran di PTAI belum sepenuhnya memahami esensi akademik.

2.     Profesi yang diharapkan setelah lulus dari PTAI seagian besar menginginkan sebagai mubâligh dan pegawai negeri sipil. Mubâligh dalam pengertian profesi yang menghasilkan uang, tetapi lebih merupakan sebagai konsekuensi setelah belajar dan mendalami pengetahuan agama Islam. Sedangkan, profesi yang berkaitan dengan mendapatkan penghasilan, pegawai negeri sipil masih merupakan tumpuan. Relevansi beberapa mata kuliah yang dilaksanakan di PTAI dengan profesi yang diharapkan mahasiswa dirasakan masih kurang. Fenomena ini diperparah dengan program studi atau jurusan yang lebih mengarah pada penguasaan akademik dibandingkan dengan penyiapan mahasiswa menjadi seorang yang profesional. Akibatnya, meskipun sebagian kecewa melihat profesi lulusan PTAI yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, namun sebagian dapat menyetujui dengan berbagai alasan. Oleh karena itu, banyak mahasiswa PTAI banyak yang menyetujui dan mendukung dibukanya program studi/jurusan baru dengan alasan supaya lulusannya tidak banyak yang menganggur, tidak tertinggal dengan PTU dan tidak ada dikotomi pendidikan agama dan umum.

Dari kesimpulan tersebut, peneliti memberi saran dan rekomendasi berikut ini:

1.     Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Oleh karena itu, temuan-temuan yang disajikan secara deskriptif masih berupa kecenderungan-kecenderungan yang ditujukkan dengan proporsi presentase. Dari kajian ini tergambar fenomena menonjol pada tiap-tiap aspek. Untuk memperoleh informasi yang komprehensif dan mendalam terhadap fenomena tersebut, penelitian ini perlu dilanjutkan dengan pendekatan kualitatif. Dengan pendekatan ini terjadi secara mendalam setiap fenomena yang muncul dan menarik baik menurut perspektif etik maupun emik. Karena itu, penelitian berikutnya diharapkan juga dapat mengkaji jejak alumni berupa penelusuran terhadap peran dan kiprah sosial para alumni. Dengan kegiatan studi penelusuran (trace study) ini, upaya untuk melihat kebermaknaan studi yang diperoleh di PTAI dengan profesi yang dijalani saat ini semakin jelas. Tema penelitian sangat penting mengingat pada penelitian baru terungkap bagian-bagian permukaan saja.

2.     Adanya sikap inferior civitas akademika PTAI, apabila dikaitkan dengan PTU dan profesi yang akan dijalani setelah lulus PTAI menyebabkan kecenderungan PTAI melakukan berbagai perubahan. Kecenderungan tersebut tampak pada upaya PTAI membuka program studi/jurusan baru yang dianggap relevan dengan dunia kerja. Berdasarkan penelitian ini upaya PTAI tersebut cukup mendapat dukungan responden. Agar pembukaan program studi/jurusan baru tidak terkesan ikut-ikutan, pihak PTAI dan Direktorat Perguruan Tinggi Departemen Agama RI harus melakukan serangkaian kajian yang berkaitan dengan masalah tersebut. Di satu pihak PTAI harus melakukan studi kelayakan terhadap jurusan atau program studi yang akan dibuka dengan serius dan cermat, sehingga memiliki nilai akurasi, daya saing, daya tahan dan daya jual yang tinggi. Di lain pihak, Ditperta Depag RI harus bersikap tegas untuk memberikan dukungan dan penolakan terhadap program studi/jurusan baru yang akan dibuka. Apabila dari hasil studi kelayakan dipandang tepat, Ditperta Depag RI dengan sepenuh kewenangan untuk membantu. Demikian pula sebaliknya, apabila dari hasil studi kelayakan dipandang tidak tepat, maka pihak Ditperta Depag RI harus menolak dengan tegas supaya di kemudian hari tidak terjadi “bom waktu” akibat tindakan tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdurrahman, Ma’sud, Menggagas Format Pendidikan Non-Dikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Gama Media, Yogyakarta, 2002.

A.M., Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1986.

Andrias, Harefa, Pembelajaran di Era Serba Otonomi, Kompas, Jakarta, 2001.

Anonim, Sistem Pendidikan Nasional, CV. Aneka, Solo, 1995.

______, Analisis dan Interpretasi Data Pendidikan: Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri IAIN & STAIN di Indonesia, Emis PTAIS, Jakarta, 2001.

Budiono, Pendidikan dan Perubahan Sosial Ekonomi, Aditya Media, Yogyakarta, 1997.

Chanco, Paul and Brandt, What is Instrinsic Motivotion,  http://seamonkey.ed.asu.edu/jimbo/Ribary/Problem.htm.

Crow, Lester D. and Alice D. Crow, Psikologi Pendidikan, terj. Rahaman Abror, Nur Cahaya, Yogyakarta, 1989.

Dardjowidjoyo, Soejono, Pedoman Pendidikan Tinggi, Gramedia Widiasarana, Jakarta, 1991.

Danim, Sudarwan, Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Pustaka Setia, Bandung, 2002.

De Ceco, John P., The Psychology of Learning and Introduction Educational Psychology, Englewood Cliffs, New Jersey, 1968.

Faisal, Yusuf Amir, Reorientasi Pendidikan Islam, Gema Insani Press, Jakarta, 1995.

Fear, Richard S., The Evaluation Interview, McGraw-Hill Book Company, New York, t.t.

Feldman, Robert S., Essential of Understanding Psychology, McGraw-Hill Inc., New York, 1989.

Gagne, Robert M. dan Leslie J. Briggs, Principle of Instructional Design, Holt, Rineharta and Winston, United States of Amarica, 1974.

Gay, L.R., Educational Research: Competencies for Analysis and Application, Second Edition, A Bell & Howell Company, Colombus, 1981.

Getzel, J.W. and E.G. Guba, “Social Behavior and the Administrative Process,” School Review, 1975.

Good, Thomas L. and Jeremy E. Brophy, Educational Psychology, Longman, New York, 1990.

Harahap, Syahrin, Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1998.

Hidayat, Komaruddin, “Dosen juga Peneliti,” Jurnal PERTA, Vol. IV, No. 01, Jakarta, 2001.

­­­­­Hidayat, Komaruddin dan Hendro Prasetyom (eds.), Problem dan Prospek IAIN: Antologi Pendidikan Tinggi Islam, Ditbinperta Dirjen Binbagais Depag RI, Jakarta, 2000. 

Hisyam, dkk., Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi, Center for Teaching Staff Development, Yogyakarta, 2002.

Irfan, H.M. (ed.), Kompetensi Perguruan Tinggi Islam Swasta dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua, Unisma-Bekasi PTAIS dan Tiara Wacana, Yogyakarta, 1993.

Jalal, Fasri dan Dedi Supriadi (eds.), Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, Depdiknas, Bappenas dan Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, 2001.

Kimble, Gregori A., Introduction to Theories of Learning, Prentice-Hall International Inc., New Jersey, t.t.

Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam, Pustaka Al-Husna, Jakarta, 1983.

Nawawi, Hadari, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Basis yang Kompetitif, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1997.

______________, Metode Penelitian Bidang Sosial, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1983.

Notodihardjo, Hardjono, Pendidikan Tinggi dan Tenaga Kerja Tingkat Tinggi di Indonesia, UI Press, Jakarta, 1990.

Maslow, Abraham H., Motivation and Personality, Harper and Row Publiser, New York, 1970.

McBeatch, Ron (ed.), Instructing and Evaluating in Higher Education: A Guidebook for Planning Outcomes, Educational Technology Publication Inc., New Jersey, 1992.

McClelland, David C., The Achievement Motive, Irvington Publishers Inc., New York, 1975.

Moh. Amin, “Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi,” Bahan Penataran untuk Latihan Pra Jabatan Golongan III IKIP Yogyakarta, Depdikbud IKIP Yogyakarta, Yogyakarta, 1995.

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995.

Morgan, Introduction to Psychology, McGraw-Hill Book Company, New York, 1986.

Morris, Charlea G., Psychology, Prentice-Hall International Inc., New Jersey, 1990.

Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 1990.

Regeluth, Charles M., Instructional Theories in Action, Lawrence Erlbaum Associates Inc., United States of America, 1987.

Rudimin dkk., Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II: Kurikulum untuk Abad 21, Gramedia Widiasarana, Jakarta, 1995.

Ryans, D.G., System Analysis in Education Planning, Routledge & Kegan Paul, London, 1982.

Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung, 1994.

Semiawan, Conny R., Pendidikan Tinggi: Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayat Seoptimal Mungkin, Grasindo, Jakarta, 1999.

Suhendra, Bambang, Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Penjang 1996-2005, Depdikbud Dikti, Jakarta, 1996.

Sunaryo, Endang, Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem, Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, 2000.

Suparman, Atwi, Desain Instruksinal, Dirjen Dikti Depdiknas, Jakarta, 1999. 

Suryadi, Ace dan H.A.R Tilaar, Analisis Kebijakan Pendidikan: Suatu Pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1993.

Tilaar, H.A.R., Manajemen Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1992.

___________, Membenahi Pendidikan Nasional, Rineka Cipta, Jakarta, 2002. 

Winkel, W.S., Psikologi Pengajaran, Grasindo, Jakarta, 1991.