EKSPEKTASI
MAHASISWA ISLAM
Studi
Kasus Perguruan Tinggi Agama Islam di Jakarta
Ringkasan Laporan Hasil Penelitian Kompetitif Tahun
2002
Ketua Peneliti: Drs. H.M. Anis Agus
Anggota Peneliti: Drs. H. Zaeni Dahla, M. Ag.,
Drs. Sigit Muryono, M. Pd., dan Drs. Imam Syafi’i,
M. Pd.,
Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an Jakarta
Editor & Peringkas: Masykur Afuy
PENDAHULUAN
Pada era globalisasi manusia hidup dalam dunia yang terbuka.
Keterbukaan ini melingkupi segala bidang kehidupan
manusia. Dalam bidang pendidikan keterbukaan
sangat berkaitan dengan penyelenggaraan institusi yang dituntut untuk
berkompetisi antar institusi sejenis. Dengan demikian, eksistensi perguruan tinggi sebagai institusi perlu
ditinjau kembali dalam konteks globalisasi ini.
Dewasa
ini sebagian besar Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) menghadapi
kendala utama yang sama, yaitu input
mahasiswa yang menurun. Karena, minat mahasiswa untuk belajar di PTAI berkurang. Persoalan
ini muncul dengan asumsi, bahwa PTAI tidak dapat memberikan prospek
masa depan yang diharapkan. Asumsi ini muncul, karena
civitas akademika PTAI sendiri bersikap inferior. Selain
itu, seringkali pengguna lulusan perguruan tinggi memperlakukan lulusannya
secara diskriminatif. Apabila persoalan tersebut tidak segera
dicarikan alternatif pemecahannya, maka tidak mustahil PTAI akan
menjadi “kering,” dan akhirnya akan “ambruk.”
PTAI yang kering jelas menghasilkan lulusan yang tidak bermutu.
Hal ini menimbulkan kesan bahwa pendirian PTAI tampak
asal-asalan, tidak ada penelitian penjajagan terlebih dahulu terhadap
program studi atau jurusan. Padahal, dalam mengembangkan program
studi PTAI harus mempertimbangkan kemaslahatan civitas akademika dan
masa depan lulusannya. Kondisi ini diperparah lagi dengan proses pembelajaran
pada PTAI yang tidak seimbang. Sebenarnya penyelenggaraan perguruan
tinggi harus memenuhi persyaratan berikut ini: 1] Kurikulum dan proses
pembelajaran yang relevan dan bermutu. 2] Manajemen program dan sumber
daya yang efektif dan efisien.
Dengan
demikian, berdasarkan persoalan-persoalan di atas peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian yang difokuskan pada permasalahan ekspektasi
mahasiswa setelah lulus dari PTAI di wilayah
DKI Jakarta. Selain itu, peneliti juga menjelaskan motivasi mahasiswa belajar dan
iklim pembelajaran pada PTAI sebagai faktor pendukung.
Penelitian
ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang didukung
dengan penelitian kepustakaan. Untuk mengumpulkan data di lapangan,
peneliti menggunakan metode penyebaran angket dan metode wawancara
mendalam, yang diperkuat dengan metode dokumentasi. Metode penyebaran
angket ini digunakan untuk mengumpulkan data primer. Sementara itu,
metode wawancara mendalam dan dokumenter digunakan untuk mengumpulkan
data sekunder. Dengan terkumpulnya data tersebut, peneliti menganalisisnya
dengan metode analisis deskriptif kuantitatif dalam bentuk distribusi
frekuensi dan persentase.
Teknisnya,
penelitian ini dilaksanakan pada 10 PTAI di Jakarta, yang terdiri
dari: 2 PTAI di Jakarta Utara, 7 PTAI di Jakarta Selatan dan 2 PTAI
di Jakarta Timur. Dari jumlah 11 PTAI tersebut, satu adalah PTAIN
dan lainnya adalah PTAIS. Diketahui bahwa mahasiswa PTAI di DKI Jakarta
berjumlah sekitar 12.948 orang yang tersebar pada 36 PTAIS dan berjumlah
4.906 orang yang ada pada 1 PTAIN.Karena itu, populasi mahasiswa dalam penelitian ini adalah
10 PTAIS. Sedangkan, sampel yang digunakan, berjumlah 6.797 orang.
Dengan demikian, jumlah populasi dalam penelitian ini berjumlah 11.703
orang.
Sebagai data primer adalah mahasiswa PTAI di DKI Jakarta.
Penetapan sampel dilakukan dengan cara acak
stratifikasi (statified random sampling). Sebagaimana, dikatakan
oleh Sugiyono, bahwa ukuran populasi yang berjumlah 10.000 responden,
pada confidence level = 95 % jumlah sampel yang diperlukan
berjumlah 369 responden. Oleh karena itu, dengan jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak
11.703 orang, sampel ditetapkan berjumlah 821 responden. Berdasarkan
kenyataan, bahwa jumlah mahasiswa pada setiap PTAI sangat bervariatif,
tentunya sampel yang ditetapkan akan bermacam-macam
juga.
Penetapan instrumen angket dilakukan dengan uji coba yang menitikberatkan
pada ketercakupan, keterpahaman dan keterbacaan instrumen oleh responden.
Karena, tujuan uji coba instrumen bukan test untuk
mengetahui tingkat pemahaman responden terhadap instrumen.
Angket yang telah diujicobakan, kemudian disebarkan kepada responden
yang telah ditetapkan. Bentuk angket adalah
angket tertutup dan angket terbuka. Dengan
demikian, responden diminta hanya memilih jawaban alternatif yang
tersedia dengan angket tertutup. Sedangkan,
pada angket tertutup responden hanya memberikan tanda silang pada
jawaban yang tersedia.
Fenomena
PTAI di Jakarta
Iklim perguruan tinggi merupakan fungsi interaksi seluruh komponen di perguruan
tinggi. Komponen-komponen yang signifikan, yaitu dosen, mahasiswa, para penyelenggara,
sarana fisik dan kegiatan administrasi. Seluruh komponen ini
baik secara individual ataupun kolektif akan
menentukan keunggulan dan kelemahan perguruan tinggi sebagai sebuah
institusi.
Secara substansial keunggulan PTAI merupakan kekhasan dari PTAI yang
dimiliki. Berdasarkan pendapat sebagian besar
mahasiswa, kiprah sosial lulusan adalah kekhasan yang paling diunggulkan
[271/33.01%]. Penilaian ini tepat jika dilihat
secara real kebutuhan masyarakat. Karena,
dewasa ini kegiatan masyarakat masih penuh dengan muatan ritual keagamaan
yang selalu menampilkan para lulusan PTAI. Popularitas
pimpinan juga mendapat penilaian yang dominan dari sebagian mahasiswa
[219/26%]. Pendapat kedua ini pun merupakan masih realistis bagi masyarakat Jakarta.
Karena, ternyata popularitas pimpinan ini masih mempengaruhi reputasi
PTAI di Jakarta. Seperti tampak pada tabel di bawah ini:
Tabel
1
Keunggulan
Perguruan Tinggi Agama Islam di Jakarta
| No |
Pilihan
Profesi |
Fakultas/Jurusan |
Jumlah |
| Tarbiyah |
Dakwah |
Syariah |
Ushuluddin |
Adab |
| F |
% |
F |
% |
F |
% |
F |
% |
F |
% |
F |
% |
| 1 |
Prestasi Mahasiswa |
72 |
20.7 |
30 |
28 |
58 |
35.8 |
22 |
21.36 |
18 |
17.8 |
200 |
24.36 |
| 2 |
Popularitas Pimpinan |
113 |
32.5 |
25 |
23.4 |
25 |
15.4 |
25 |
24.27 |
31 |
30.7 |
219 |
26.67 |
| 3 |
Kiprah Sosial Lulusan |
130 |
37.4 |
36 |
33.6 |
51 |
31.5 |
31 |
30.1 |
23 |
22.8 |
271 |
33.01 |
| 4 |
Bagunan Fisik Kampus |
19 |
5.46 |
10 |
9.35 |
16 |
9.88 |
15 |
14.56 |
14 |
13.9 |
74 |
9.013 |
| 5 |
Lain-lain |
14 |
4.02 |
6 |
5.61 |
12 |
7.41 |
10 |
9.709 |
15 |
14.9 |
57 |
6.943 |
| JUMLAH |
348 |
100 |
107 |
100 |
162 |
100 |
103 |
100 |
101 |
100 |
821 |
100 |
Di
samping itu, sebagian mahasiswa juga menilai, bahwa keterbatasan sarana
yang mendudung proses belajar mengajar (PMB) merupakan faktor yang
paling lemah di dalam kelemahan PTAI sekarang ini [341/41.53%]. Selanjutnya,
input mahasiswa yang tidak diterima pada Perguruan Tinggi Umum
Negeri (PTUN) favorit merupakan faktor kedua yang perlu diperhatikan
bagi PTAI [145/17.66%]. Kelemahan demikian ini tampak pada
tabel di bawah ini:
Tabel
2
Kelemahan
Perguruan Tinggi Agama Islam di Jakarta
| No |
Pilihan
Profesi |
Fakultas/Jurusan |
Jumlah |
| Tarbiyah |
Dakwah |
Syariah |
Ushuluddin |
Adab |
| F |
% |
F |
% |
F |
% |
F |
% |
F |
% |
F |
% |
| 1 |
Input Mahasiswa |
62 |
17.8 |
18 |
16.8 |
29 |
17.9 |
21 |
20.39 |
15 |
14.9 |
145 |
17.66 |
| 2 |
Dosen Kurang Berkualitas |
42 |
12.1 |
17 |
15.9 |
28 |
17.3 |
12 |
11.65 |
18 |
17.8 |
117 |
14.25 |
| 3 |
Keterbatasan Sarana PBM |
168 |
48.3 |
52 |
48.6 |
55 |
34 |
39 |
37.86 |
27 |
26.7 |
341 |
41.53 |
| 4 |
Lokasi Kampus Tdk Strategis
|
38 |
10.9 |
12 |
11.2 |
15 |
9.26 |
11 |
10.68 |
22 |
21.8 |
98 |
11.94 |
| 5 |
Latar Belakang Ekonomi |
33 |
9.48 |
3 |
2.8 |
25 |
15.4 |
13 |
12.62 |
12 |
11.9 |
86 |
10.48 |
| 6 |
Lain-lain |
5 |
1.44 |
5 |
4.67 |
10 |
6.17 |
7 |
6.796 |
7 |
6.93 |
34 |
4.141 |
| JUMLAH |
348 |
100 |
107 |
100 |
162 |
100 |
103 |
100 |
101 |
100 |
821 |
100 |
Ekspektasi
Mahasiswa Selelah Lulus dari PTAI
Sejak semester pertama para mahasiswa .....
(ke halaman berikutnya)