LATAR BELAKANG HUBUNGAN KERJASAMA IAIN-McGILL

HUBUNGAN KERJASAMA antara IAIN dan Departemen Agama RI di satu pihak dengan McGill di lain pihak dimulai sekitar 50 tahun yang lalu ketika McGill's Institute of Islamic Studies (MIIS) pertama kali didirikan. Di antara lulusan pertama MIIS adalah Prof. Dr. Harun Nasution. yang kemudian mendirikan Fakultas Pascasarjana di IAIN dengan mengikuti model McGill. Tokoh-tokoh lain yang pernah belajar di MIIS pada tahun 50-an antara lain adalah Prof. Mukti Ali, MA dan Prof. Dr. Mohammad Rasjidi, keduanya pernah menjadi Menteri Agama. Pada tahun 1970an, 17 dosen dari beberapa IAIN mendapatkan beasiswa dari CIDA dan Hazen Foundation untuk belajar di MIIS. Setelah tamat, mereka kembali ke tanah air dengan menduduki posisi penting baik di Departemen Agama maupun di IAIN.

Kerjasama Bilateral -- Fase 1 dan Fase 2

Peran McGill melalui program bilateral CIDA dalam ikut serta mengembangkan kapasitas internal IAIN diakui cukup signifikan, terutama dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Proyek kerjasama IAIN-McGill (Fase 1 dan 2) telah berhasil memberikan beasiswa dosen-dosen IAIN ke McGill Graduate Studies dan lebih dari 1.400 menerima pelatihan-pelatihan mengajar, riset, managemen, dan belajar Islamic studies, religious studies, serta library and information studies. Bantuan teknis yang diberikan oleh staff McGill juga merupakan andil yang cukup besar dalam pengembangan kapasitas IAIN.

Fase ke-1 dari kerjasama CIDA-DEPAG tertutama dirancang sebagai bentuk program beasiswa untuk meningkatkan kualifikasi tenaga-tenaga akademik di 14 IAIN di seluruh Indonesia. Proyek kerjasama fase ke-1 ini telah berhasil memberikan beasiswa kepada 50 dosen IAIN, terdiri dari 44 untuk tingkat master dan 6 untuk tingkat doktoral. Dari jumlah alumni McGill yang relatif banyak ini kemudian terbentuklah jaringan yang sering disebut sebagai "McGill Mafia."

Fase ke-2 dirancang sebagai proyek pengembangan institusi bagi dua IAIN tertua di Indonesia, yaitu IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Melalui pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan kegiatan-kegiatan pemberdayaan institusi, proyek ICIHEP diakui berpengaruh cukup signifikan terhadap kemajuan-kemajuan terakhir yang dicapai oleh kedua institusi tersebut, yaitu berupa:

• terbentuknya dan/atau semakin menguatnya pusat-pusat penelitian, pengajaran, managemen dan kesetaraan jender,

• perkembangan automatisasi dan koleksi kepustakaan di perpustakaan kedua IAIN,

• peningkatan kualifikasi 344 staf pengajar di kedua IAIN,

• Pengembangan program studi-studi agama (religious studies) dan hubungan antar agama (inter-religious studies),

• peningkatan system pengajaran dan kapasitas pengembangan program di IAIN,

• pengembangan keahlian managemen, baik pada level administrasi/tata usaha, pusat-pusat penelitian, dan LPIU (Local Project Implementing Unit),

• hasil-hasil penelitian dan penyebarannya (berupa buku, jurnal IAIN, jurnal Internasional, dan konferensi)

• penguatan kerjasama antar-institusi IAIN yang ada,

• pemantapan hubungan antara McGill, Departemen Agama RI dan IAIN,

Selama bertahun-tahun hubungan McGill/Depag/IAIN, lebih dari seribu orang Indonesia dan Kanada terlibat dalam proses kerjasama dan belajar bersama. Sebagai hasilnya, McGill cukup dikenal di Indonesia, dan staff McGill menikmati hubungan profesional yang akrab dengan teman sejawat mereka dari Indonesia, demikian juga sebaliknya, sehingga memungkinkan meraka mengembangkan kemitraan lebih lanjut. Selama Fase ke-2 ini, perencanaan participatory dan managemen mulai diperkenalkan. Ini berarti bahwa para dosen McGill dan IAIN, serta para tenaga administratif Departemen Agama dan IAIN dilibatkan bersama staff managemen Proyek dalam implementasi kegiatan-kegiatan Proyek.

Terbentuknya IISEP

Puncak akhir dari hubungan kerjasama ini adalah terbentuknya IISEP (IAIN Indonesia Social Equity Project), yang mencoba membangun kemitraan yang mantap antara McGill, Departemen Agama dan kedua IAIN Jakarta dan Yogyakarta. Proyek baru ini dirancang untuk membantu rencana-rencana terperinci yang dikembangkan oleh kedua institusi tersebut dalam upayanya untuk mengembangkan diri menjadi universitas. Dengan hasil-hasil yang dicapai relartif solid dan cepat dalam Proyek ini, kedua institusi pendidikan tinggi Islam ini akan mampu meneruskan upaya mereka untuk mengembangkan institusi tanpa lagi mendapatkan bantuan dari CIDA.